
Lima bulan kemudian,saat Ratna dan Romi sedang berada di kantornya setelah pulang dari periksa kandungan sekaligus terapi.
"Alhamdulillah,bang," ucap Ratna saat melihat suaminya yang makin lancar berjalan tanpa bantuan tongkat lagi.
"Ini juga berkat doa dan dukungan dari kamu,sayang!" ucap Romi seraya memeluk mesra istrinya.
"Aawwh!" Ratna meringis menahan sakit di perutnya karena suaminya yang memeluk terlalu kuat.
Gegas Romi melepas pelukannya, "Kamu kenapa?" tanyanya cemas.
"Perutku,bang. Abang meluk terlalu kuat,"
"Maaf-maaf," ucap Romi seraya mengusap lembut perut istrinya yang buncit lalu menciumnya penuh kasih sayang.
"Duduk yuk,bang," ajak Ratna yang di berikan anggukan suaminya.
Mereka lalu berjalan menuju sofa. Kandungan Ratna yang sudah menginjak bulan ke enam membuatnya mudah lelah tapi tetap setiap hari selalu ikut suaminya ke kantor walau kerjanya hanya duduk-duduk dan tiduran saja.
"Kamu capek,hmm?" tanya Romi saat mereka sudah sama-sama duduk."
Ratna mengangguk, "Iya,bang. Pinggangku kadang suka pegal-pegal," terang Ratna.
"Ya sudah kamu tiduran saja,ya. Abang mau periksa berkas-berkas dulu. Apa kamu mau tidur di kamar?"
"Aku tiduran di sofa saja,bang," tolak Ratna halus.
"Baiklah."
Romi bangkit berdiri menuju meja kerjanya. Dia mulai sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali melirik istrinya yang mulai terlelap.
"Alhamdulillah,akhirnya aku bisa kembali berjalan walau belum selancar seperti sebelum kecelakaan. Hhmm,hidupku sekarang terasa lebih berarti. Semoga hubunganku makin baik dan makin mencintainya," gumam Romi seraya menatap istrinya lekat-lekat.
***
Kandungan Ratna sudah menginjak bulan ke sembilan. Tinggal menghitung hari saja,bayinya akan lahir ke dunia. Semua persiapan menyambut bayi mereka sudah lengkap dari pakaian hingga box bayi.
Saat Ratna dan Romi baru saja selesai sarapan,Ratna merasakan perutnya sedikit mules walau hanya sesekali saja. Wajahnya menegang menahan nyeri.
"Kamu kenapa,yank?"
"Bang,perutku mules," jawab Ratna lirih.
"Ya sudah kamu ke toilet."
Ratna menggelengkan kepalanya, "Sekarang sudah tidak terasa lagi,bang."
"Syukurlah kalau gitu. Kamu tiduran saja,ya."
"Hhmm,bang. Aku boleh di rumah saja? Tidak ikut abang ke kantor?"
Romi menggelengkan kepalanya, "Hhmm,abang tidak mau meninggalkan kamu sendirian di rumah,yank!"
"Hhmm,"
"Abang akan suruh Aaron saja yang ke kantor. Dua bulan ini dia kan sudah abang ajarin bagaimana cara mengurus pekerjaan abang."
"Hhmm,abang tanya dulu bisa apa tidak. Takutnya dia banyak tugas kuliah."
__ADS_1
"Iya. Oh iya,kapan ibu mau datang? Kamu sudah kasih kabar kan ke desa?"
"Iya sudah,bang. Kalau sempat nanti siang ibu sama ayah datang. Paling telat besok pagi."
"Syukurlah kalau begitu. Nanti abang suruh bibi siapkan kamar tamu di sebelah kamar kita saja biar dekat.
"Iya,bang."
"Abang mau panggil Aaron dulu. Kamu istirahatlah,ya," ucap Romi seraya mengusap lembut pucuk kepala istrinya lalu keluar dari kamar.
"Bi,tolong panggilkan Aaron,ya. Suruh ke ruang kerja sekarang!" titah Romi pada asisten rumah tangganya. Romi lalu pergi ke ruang kerjanya menunggu Aaron di sana.
Lima menit kemudian Aaron masuk ke ruang kerja, "Ada apa,bang?"
"Kamu sibuk hari ini?" tanya Romi.
Aaron menggelengkan kepalanya, "Abang mau ajarin aku lagi? Aku sudah pintar,bang. Tidak perlu menunggu lulus kuliah,aku sudah bisa. Hanya kalau di suruh mimpin rapat,aku masih belum percaya diri."
"Bagus kalau kamu sudah pintar. Sekarang kamu pakai pakaian yang rapi,siap-siap ke kantor!"
"Aah,abang. Sudah dulu belajarnya,aku mau ketemu Cinta nanti siang sepulang dia sekolah," tolak Aaron.
"Pacaran terus kamu!"
"Bukan pacaran,bang. Hanya aku harus sering-sering mendekatinya supaya tidak ada yang nikung. Abang tau sendiri kan sekarang jamannya tikung-tikungan!"
"Ahh,alasan saja kamu! Kalau kalian memang jodoh,tidak akan ada yang bisa nikung!"
"Yah,abang. Kan jaga-jaga apa salahnya?"
"Hhh,pagi ini kamu ke kantor dulu. Hanya sedikit pekerjaan. Kak Ratna perutnya sedang sakit,tidak mungkin abang tinggal dan juga dia tidak bisa abang ajak ke kantor," pinta Romi.
"Abang belum tau. Kamu bisa kan urus kantor dulu hari ini? Temui Cinta kan siang saja,setelah itu kamu ke kantor lagi. Kalau ada yang kamu tidak mengerti,kamu telpon atau videocall abang!"
"Hhhmm,baiklah bang. Aku mau demi kak Ratna!"
"Huuhh,jadi kalau demi abang kamu tidak mau?" ucap Romi ketus.
"Yah,tergantung seberapa penting," jawab Aaron seraya mengedikkan bahu.
"Dasar,kamu! Sudah sana pergi bawa mobil sendiri tidak perlu ajak pakde!"
"Iya-iya!" Aaron lalu keluar dari ruang kerja di susul Romi dari belakang.
Romi lalu kembali ke kamarnya. Di lihatnya Ratna sedang berbaring di tempat tidur dengan posisi miring membelakanginya. Tangannya memegangi perut.
Romi lalu menghampirinya,duduk di sisi tempat tidur di sebelah istrinya. Merasa ada pergerakan di sebelahnya,Ratna membalik badannya.
"Bang?"
"Perutnya masih sakit,hmm?" tanya Romi seraya mengusap-usap perut istrinya.
"Kadang-kadang saja,bang."
"Apa sudah waktunya dia lahir?"
"Hhmm,dokter bilang dalam minggu-minggu ini. Bisa maju bisa mundur,bang."
__ADS_1
"Jangan-jangan memang dia mau lahir?"
Ratna menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau,bang?"
"Ya sudah kamu istirahat saja,ya. Kalau sudah tidak kuat,kamu bilang. Abang antar kamu ke dokter."
Ratna mengangguk.
Tidak lama lagi aku akan jadi seorang ayah. Semoga anak dan istriku sehat. Batin Romi. Dia lalu menyunggingkan senyum seraya menatap lembut istrinya.
Satu jam kemudian Ratna terbangun karena merasakan perutnya mules. Dia gelisah dengan berganti-ganti posisi tidur ke kiri ke kanan. Romi yang sedang sibuk dengan handphonenya langsung menoleh.
"Sayang,perut kamu sakit lagi,ya?" tanya Romi cemas.
Ratna mengangguk. Dahinya mulai berkeringat sementara tangannya terasa dingin.
"Kita ke dokter sekarang saja. Kamu bisa jalan sendiri? Kalau tidak bisa biar abang gendong."
"Hmm,aku jalan sendiri saja,bang. Abang kan belum boleh bawa yang berat-berat. Kekuatan kaki abang belum pulih bener," tolak Ratna halus.
"Tapi kamu sudah pucat,yang!" Romi makin khawatir.
"Hhmm,aku pakai kursi roda saja,bang," usul Ratna.
"Hhmm,baiklah. Abang siapkan dulu kursinya. Kamu sabar ya."
Gegas Romi mengambil kursi roda yang ada di sudut kamarnya lalu membantu Ratna untuk duduk di kursi roda.
"Bang,tas yang semalam aku siapin juga di bawa. Ada pakaianku sama pakaian bayi juga," pinta Ratna.
"Oh,iya. Abang bawa juga."
Romi lalu mengambil tas yang istrinya maksud lalu meletakkannya di kursi roda. Gegas Romi mendorong kursi rodanya keluar kamar. Pakde yang sedang duduk ngobrol bersama satpam langsung menghampiri.
"Ada apa,Romi?" tanya pakde cemas melihat Ratna yang kesakitan.
"Sepertinya Ratna mau melahirkan,pakde," jawab Romi.
"Oh,pakde siapin dulu mobilnya,ya,"
Setelah mobil siap,dengan di bantu suaminya,Ratna naik ke mobil. Romi ikut duduk di kursi belakang menjaga istrinya.
.
.
.
.
.
.
20
__ADS_1
.
.Mampir ke karya baru author ya. Makasih π