
"Kamu bersiap-siaplah!" Titah Rey tiba-tiba saat Siti sedang melamun di balkon. Lalu dia kembali masuk ke kamar.
"Hmm,ki ta mau ke mana?" Siti memberanikan diri bertanya dengan terbata-bata.
"Kita pulang!" Jawab Rey singkat dari dalam kamar.
Siti masuk ke kamar dan mengunci pintu yang mau ke balkon. Dia ke ruang ganti lalu ke kamar mandi. Tidak sampai setengah jam,dia keluar sudah mengenakan pakaian yang baru dengan hijab. Semua sudah tersedia di lemari yang ada di ruang ganti. Hanya ada beberapa potong pakaian di sana.
Siti memasukkan pakaian kotornya ke dalam kantong plastik,berniat membawanya pulang.
"Untuk apa itu di bawa? Tinggalkan saja di sini!" Titah Rey.
"Tapi ini kotor,biar nanti saya cuci sendiri!" Ucap Siti.
"Tidak perlu. Nanti ada orang yang akan membersihkan kamar ini." Terang Rey.
Siti hanya menurut saja.
Mereka lalu keluar dari kamar menuju lift. Keadaan di luar kamar masih sepi seperti kemarin. Siti ingin bertanya tapi di urungkannya.
Lift berhenti. Rey keluar lebih dulu di ikuti Siti dari belakang. Siti baru tahu ternyata mereka dari kemarin berada di hotel. Sampai di lobi,ada seorang pria yang menyambut mereka. Menuntun mereka ke sebuah mobil. Mobil yang kemarin mereka pakai.
Rey membukakan pintu untuk Siti lalu berputar dan ikut masuk ke dalam mobil. Rey mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan. Tak ada yang bicara. Rey fokus menyetir dan Siti hanya memandang keluar di sisi kiri jalan. Jalanan belum ramai karena masih pagi sekali.
Memakan waktu lebih satu jam,mereka akhirnya sampai di rumah besar Rey. Rumah yang hanya di tempati oleh mama,papa dan dirinya beserta para asisten rumah tangga. Kakak perempuannya jarang sekali pulang dari luar negeri.
Rey keluar lalu membukakan pintu untuk Siti. Siti menatap rumah besar itu dengan takjub. Seperti rumah-rumah orang kaya yang ada di sinetron.
"Ayo!" Ajak Rey. Dia menggandeng tangan Siti dengan mesra tidak seperti saat mereka keluar dari hotel. Siti menurut saja apa yang di lakukan oleh suaminya itu.
Tiba di depan rumah,mereka di sambut oleh seorang wanita separuh baya. "Selamat datang tuan muda,nona." Sapa wanita itu dengan ramah sambil menundukkan sedikit kepalanya.
"Terimakasih. . ." Siti membalas dengan senyuman. Rey hanya berdehem saja.
Memasuki ruang tamu,tidak ada siapa pun mungkin karena masih pagi. "Ayo kita ke atas!" Ajak Rey.
__ADS_1
Mereka menaiki tangga dengan Rey tetap menggandeng tangan Siti. Siti tersenyum tipis,dia merasakan kenyamanan dengan perlakuan suaminya. Hey,jangan besar kepala,Siti! Mungkin suamimu sedang berakting! Hatinya memperingatkan.
Setelah sampai di atas tangga,Rey melepaskan tangannya dari Siti dan berjalan mendahuluinya membuat Siti terhenyak. Dia diam terpaku sesaat di tempatnya berdiri sambil menatap sendu ke arah suaminya.
Ketika Rey membuka pintu kamar,dia menoleh ke belakang. Dia terkejut demi melihat Siti berdiri diam jauh di belakangnya. Siti yang menyadari suaminya sedang menatapnya buru-buru berjalan menghampiri.
"Silahkan masuk! Ini kamar saya,kamu bisa istirahat di sini!" Titah Rey. Setelahnya dia berlalu entah kemana meninggalkan Siti yang masih diam di depan pintu.
Siti pun masuk lalu di tutupnya rapat pintu. Dia memandang sekeliling kamar. Kamar nya tidak jauh beda dari kamar hotel tempat mereka menginap semalam. Besar dan mewah tapi kamar Rey bernuansa maskulin. Siti berjalan mencari dimana letak kamar mandi. Dia lalu masuk. Kamar mandi nya pun tak kalah mewah. Siti keluar. Dia lalu berjalan mengitari kamar. Di dekat kamar mandi terdapat satu pintu lagi,Siti membukanya. Terdapat dua lemari besar dan cermin kaca yang setinggi dinding. Siti ingin membuka lemari tapi dia berani.
Akhirnya Siti duduk di sofa yang ada di kamar. Tidak tahu harus melakukan apa. Cinta yang biasanya menginap di rumah papanya pun tidak terlihat.
***
Rey berjalan ke ruang kerjanya. Di bukanya pintu lalu masuk dan menutup kembali pintu. Menguncinya rapat. Dia sedang tidak ingin di ganggu. Dia lalu duduk di sofa. Aaarrggg! jeritnya tertahan sambil mengusap kasar wajahnya. Semoga keputusannya menikahi Siti adalah yang terbaik. Walau dia tidak mencintai gadis itu toh dia juga tidak mempunyai orang yang dia cintai untuk di jadikan istri. Karena orang yang di cintainya telah jadi milik orang lain.
Setelah lebih satu jam dia merenungi hidupnya,dia kembali mendatangi istrinya di kamar. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih.
Ceklek. Di bukanya pintu kamarnya. Pandangannya langsung tertuju ke arah Siti yang sedang duduk di sofa. Siti pun sedang menatap ke arahnya karena kaget ada yang mengetuk pintu.
Mereka menuruni tangga. Lalu berbelok ke kanan menuju ruang makan. Di tariknya kursi agar Siti duduk. Setelah Siti duduk,dia juga ikut duduk di sebelah Siti.
"Tuan muda,maaf sarapannya belum saya hidangkan. Mohon tunggu sebentar ya tuan." Ucap asisten rumah tangganya gugup sambil menunduk. Rey hanya menjawab dengan deheman.
Tak sampai lima menit,sarapan sudah terhidang rapi di meja makan. "Ayo makanlah!" Titahnya pada Siti tanpa menoleh.
Siti mengangguk. Saat Siti ingin menaruh sarapan di piring Rey,Rey sudah lebih dulu mengambil sendiri sarapannya.
"Kalau ada orang lain yang ikut makan,baru kamu ambilkan untuk saya lebih dulu." Terangnya. Dia langsung memakan sarapannya.
"Hmm,Baiklah." Jawab Siti singkat. Jadi hanya mereka berdua yang sarapan. Kemana yang lain? Orany tuanya? Tanya Siti hanya dalam hati.
Mereka makan dalam diam. Hanya terdengar denting sendok saja. Tidak sampai lima belas menit,mereka sudah selesai makan. Rey berdiri lalu mengulurkan tangannya ke arah Siti. Siti menatapnya bingung. Perlahan dan ragu-ragu Siti meraih tangan Rey,Rey lalu menggandengnya dan membawanya kembali ke kamarnya di atas.
Rey membuka pintu kamarnya. "Ayo masuk!" Titahnya. Siti menurut saja.
__ADS_1
"Saya hari ini mau ke kantor,kamu di kamar saja. Nanti siang bibi akan bawakan makan siang untukmu." Rey lalu berjalan ke arah ruang ganti. Siti mengikuti dari belakang tapi dengan jarak yang jauh.
"Masuklah!" Titah Rey. " Di sini tempat menyimpan pakaian. Lemari putih itu ada pakaian kamu dan semua keperluan kamu. Kalau yang hitam itu lemari pakaian saya." Tunjuk Rey. Siti mengangguk.
"Dan pakaian kotor kamu taruh di sana!" Menunjuk keranjang. "Nanti asisten rumah tangga yang akan mengambil pakaian kotornya. Siti kembali mengangguk.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Hmm maaf,apa saya masih bisa bekerja di toko bu Ranti?" Tanya Siti dengan menunduk tidak berani menatap suaminya.
"Kamu tidak perlu bekerja lagi! Tentang adikmu yang di desa,saya sudah tanyakan pada pamanmu. Dan saya akan mengirimkan uang untuknya tiap bulan."
"Hmm,terimakasih pak Rey." Ucap Siti dengan lega. Dia tidak khawatir lagi tentang adik semata wayangnya itu.
"Mulai sekarang jangan panggil saya pak Rey! Tapi panggil mas!" Titahnya.
"Hmm,m mas." Ucap Siti terbata-bata.
"Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"
"Tidak ada pak,ehh mas." Siti menutup mulutnya
"Baiklah,kamu istirahat saja di kamar. Kalau mau nonton tv silahkan tapi jangan merubah apapun kamar ini!"
"Ba ik mas."
"Sudah jam delapan,saya tinggal dulu." Rey pun berlalu meninggalkan Siti sendirian di kamar. Siti menatap nanar punggung suaminya dari belakang.
Hmmff. . . Siti lalu duduk di pinggir kasur. Tak lama kemudian dia ke kamar mandi. Siti keluar kamar mandi lalu ke ruang ganti mencari alat sholat.
"Syukurlah ada." Gumamnya. Lalu Siti pun mulai membentangkan sajadahnya.
NEXT
020421/ 23.50
__ADS_1