
Sehabis sholat subuh,Ratna membereskan pakaiannya lalu memasukkan ke dalam tas. Dia berencana akan pergi ke kota pukul tujuh pagi,berbarengan dengan tetangganya yang juga akan ke kota.
"Kamu sudah siap-siap,nak?" Tanya ibu yang muncul di depan pintu kamar Ratna.
"Iya,bu. Kata bude Nani,berangkat jam tujuh."
"Ooh,iya. Lebih baik bareng sama bude Nani saja biar kamu aman di jalan. Nanti tidak usah minta antar ke rumah suami kamu ya,tidak enak kalau terlalu merepotkan."
"Iya,bu."
"Sekarang kamu sarapan dulu,ibu sudah masak sayur kesukaan kamu tuh." titah ibu kemudian segera berlalu meninggalkan Ratna di kamar sendirian.
Sejam kemudian Ratna sudah bersiap di depan rumah agar bude Nani tidak perlu lagi memanggilnya.
Tak lama kemudian bude Nani memangginya. Setelah berpamitan dengan ayah dan ibunya,Ratna lalu naik ke mobil bude Nani.
"Rumah suami kamu di daerah mana,Ratna?" tanya Bude.
"Hhmm,di jalan XX1,bude." jawab Ratna asal karena dia juga tidak memperhatikan alamat rumah Romi.
"Oohh,nanti bude anter ke sana ya." tawar bude.
Ratna menggeleng cepat. "Tidak usah,bude. Aku turun di terminal saja." tolak Ratna halus.
"Loh,kenapa?"
Hhmm,kasih alasan apa ya agar bude tidak curiga. Aku tidak mau kembali ke rumah bang Romi. Batin Ŕatna. "Hhm,tidak apa-apa,bude. Aku,hmm. Aku mau mampir ke kantornya dulu."
"Oh,kalau gitu biar bude anter ke kantor suami kamu ya!"
Ratna langsung menelan salivanya kasar. Bagaimana ini?
Mereka kembali diam. Ratna pasrah saja saat mobil bude Nani melaju ke arah kantor Romi.
"Itu ya kantor suami kamu,Ratna? Hebat kamu ya punya suami orang kaya. Bude doakan semoga suami kamu kembali bisa berjalan dan kalian segera mendapatkan momongan." doa bude Nani tulus.
Ratna hanya tersenyum tipis. Hanya ayah dan ibunya saja yang tau rahasia kenapa Ratna bisa menikah dengan Romi.
Mobil bude Nani berhenti di depan kantor Romi. Kantor yang berada di dalam gedung dengan sembilan lantai itu berdiri kokoh di tengah kota. Ratna buru-buru turun dari mobil setelah berpamitan dengan bude Nani dan keluarganya.
"Kita antar sampai sini saja ya,Ratna, " ucap bude Nani saat Ratna sudah turun dari mobil.
"Iya,bude tidak apa-apa. Terimakasih banyak sudah memberikan tumpangan sama aku, " sahut Ratna.
Mobil bude Nani lalu meninggalkan Ratna seorang diri di sana. Setelah mobil bude sudah tidak terlihat lagi,Ratna buru-buru pergi dari sana sebelum ada yang mengenalinya.
Ratna lalu naik mobil taxi yang kebetulan lewat di depannya.
"Mau kemana,mbak?" tanya supir taxi.
__ADS_1
"Hhmm,jalan saja dulu,pak." jawab Ratna bingung.
Hhhh,Ratna menarik nafasnya berat. Aku mau kemana ya? Oh iya,ke kost bu Wati saja deh. Semoga masih ada yang kosong.
"Pak,kita ke jalan GG,ya." pinta Ratna pada pak sopir. Mobil taxi pun melaju ke jalan GG.
Hampir satu jam,Ratna baru sampai ke kost bu Wati. "Hh,untung uang yang dari Aaron masih ada,bisa aku pakai untuk bayar kost dan makan beberapa hari. Aku akan cari pekerjaan." gumam Ratna.
Ratna lalu turun dari taxi setelah membayar ongkosnya. Dia lalu berjalan beberapa rumah untuk mencapai kost-kostan yang dulu pernah dia temapati saat pertama kali datang ke kota.
"Aku tinggal di sini dulu sementara sambil cari kerja." gumamnya.
Ratna lalu membuka pintu pagar kost. Setelah hampir satu tahun dia tidak pernah ke sana,ada yang sedikit berbeda. Kamar kostnya terlihat baru saja di cat ulang.
"Ratna. . ." tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
Ratna langsung menoleh, "Bu Wati?"
"Ratna,kamu kemana saja?"
"Aku kerja,bu."
"Ooh,"
"Bu,apa masih ada kamar yang kosong?" tanya Ratna seraya mengerdarkan pandangannya ke kamar-kamar kost.
"Kamu mau kost di sini lagi,ya?"
"Kebetulan,beberapa hari yang lalu ada yang baru saja pindah. Ayo,ibu antar."
Ratna lalu mengikuti langkah kaki bu Wati menuju kamar kost. Kamar kost sederhana dengan ukuran tiga kali empat meter dengan kamar mandi di dalam. Ratna masuk lalu mengecek isi ruangan.
"Saya mau,bu. Berapa perbulan?"
"Untuk kamu,ibu kasih harga lama saja. Tujuh ratus sebulan." terang bu Wati.
Ratna tersenyum. "Terimakasih,bu. Saya langsung tempati sekarang ya." ucap Ratna seraya menyerahkan uang kertas merah sebanuak tujuh lembar.
"Iya,silahkan. Ibu tinggal dulu ya." pamit bu Wati lalu segera keluar dari kamar Ratna.
Ratna menutup pintu kamarnya lalu pergi ke kamar mandi. Setelah dari kamar mandi,Ratna lalu berbaring di tempat tidur.
"Bang Romi sedang apa ya? Sepertinya dia benar-benar tidak ingat sama aku lagi." gumam Ratna. Ratna mulai sibuk dengan pikirannya sendiri.
***
Aaron sedang di dalam perjalanan menuju desa Ratna. Pukul satu siang,dia sudah sampai di perbatasan desa. Tidak berapa lama,Aaron pun sampai di depan pintu rumah Ratna. Rumah terlihat sepi.
"Kak Ratna sedang apa,ya?" gumam Aaron.
__ADS_1
Aaron lalu mengetuk pintu rumah Ratna. Setelah beberapa kali ketukan,tidak juga ada yang membukakan pintu.
"Cari siapa,nak?" tiba-tiba ibu Ratna menyapa dari samping rumah.
"Hhmm,bu. Saya cari kak Ratna,bu." jelas Aaron.
"Oh,Ratna,ya. Tadi pagi pergi ke kota. Katanya mau pulang ke rumah suaminya." jelas ibunya Ratna.
Aaron membulatkan matanya. "Ibu yakin kalau kak Ratna pulang ke rumah kami?"
"Iya. Tadi dia berangkat bareng tetangga yang juga hendak ke kota."
"Hhmm,baiklah bu. Terimakasih infonya." sahut Aaron.
Aaron merogoh saku celananya untuk mengambil handphone lalu mencoba menghubungi Ratna tapi handphone Ratna tidak aktif.
"Kok tidak aktif ya? Kemana kak Ratna? Ah,semoga saja dia sudah sampai rumah." gumam Aaron.
Aaron lalu menelpon asisten rumah tangganya tapi Ratna belum sampai ke rumah. "Kok belum sampai rumah ya?"
Aaron lalu kembali ke mobilnya. Selama dalam perjalanan pulang,Aaron beberapa kali mencoba menghubungi nomor Ratna tapi masih belum aktif.
"Kasih tau bang Romi sajalah." gumamnya lalu segera menghubungi abangnya.
Tuuuttt. . .
"Hallo."
"Bang,kak Ratna tidak ada di desanya."
"Ibunya tadi bilang kalau kak Ratna tadi pagi berangkat ke kota,ke rumah kita. Tadi aku sudah telpon bibi,katanya kak Ratna tidak ada di rumah."
"Mana aku tau,bang."
"Handphonenya tidak bisa di hubungi."
"Bang! Bang. . . ! Kok di matiin sih." kesal Aaron.
Kak Ratna kemana ya? Apa dia tidak mau lagi pulang ke rumah. Aahh semoga pikiranku salah. . .
.
.
.
.
.
__ADS_1
12