
Cinta sedang di perjalanan pulang dari sekolahnya. "Yuk kak,jalan."
Ratna langsung menghidupkan mesin mobil. "Kamu mau langsung pulang,Cin?" Tanya Ratna.
"Iya kak. Sebenernya mau lihat adek bayinya tante Dinda sih tapi. . ."
"Tapi kenapa?" Tanya Ratna.
"Tidak enak sendirian."
"Mau kakak temeni?"
"Hhmm,iya deh. Nanti pulang agak sore tidak apa-apa kan kak?"
"Iya,kan kakak memang tugasnya sampai sore. Sampai kamu tiba dengan selamat di rumah."
"Hmm,tapi Cinta mau kasih kado dulu buat adek bayinya. Toko babyshop yang bagus di mana ya?"
"Kakak tidak tau,Cin."
"Hmm,Cinta mau telpon papa dulu deh."
"Kenapa telpon papa kamu?"
"Cinta mau bilang kalau Cinta mau jenguk adek bayinya tante Dinda."
"Hallo pa."
"Cinta mau jenguk adek bayi ya pa?"
"Iya ini baru pulang sekolah sama kak Ratna. Mau cari kado buat adek bayinya dulu,pa."
"Mama juga mau jenguk adek bayi?"
"Iya pa,nanti kita ketemu di klinik ya."
"Sudah dulu ya,pa."
"Daaahh,papa." Cinta lalu memutuskan sambungan telponnya.
"Jadi kemana dulu nih?" Tanya Ratna.
"Cari toko babyshop,kak. Tapi di mana ya?"
"Hmm. . . yaudah kita keliling dulu ya cari tokonya?"
"Γya kak."
Ratna melajukan mobilnya pelan sambil melihat kiri kanan mungkin ada toko babyshop.
"Kak,apa kita cari di Mal saja ya?"
"Mall lama,Cin. Mesti muter-muter juga kan nyari tokonya. Kita cari di pinggir jalan saja ya?"
"Iya deh kak."
Beberapa menit kemudian,Ratna meminggirkan mobilnya di sebuah toko.
"Cin,itu toko babyshop."Tunjuk Ratna.
"Eh iya kak,tapi sepi ya?"
"Iya mungkin karena jam segini orang sedang kerja."
"Iya kak."Cinta lalu membuka pintu mobilnya. "Yuk kak."
"Kamu duluan saja,kakak mau telpon seseorang."
"Oh,ok.deh kak. Cepet susul Cinta ya!" Cinta turun sendirian lalu masuk ke dalam toko.
Toko babyshopnya cukup besar dan komplit. Cinta sampai bingung mau beli kado apa.
Bayinya tante Dinda kan perempuan. Enaknya beliiin pakaian bayi apa aksesoris ya. Batin Cinta seraya melihat-lihat barang yang ada di rak.
Hmm,itu jaket buat bayi perempuan lumayan lucu. Warnanya pink lagi. Batin Cinta. Cinta lalu mengambil jaket bayi yang di gantung di dinding.
"Iihh lucunya." Gumamnya sambil senyum-senyum sendiri. "Ambil ini ah!"
"Cinta kembali keliling di dalam toko. Kak Ratna mana ya kok belum nyusul juga?" Gumam Cinta sambil sesekali menoleh ke pintu masuk.
__ADS_1
Setelah hampir setengah jam menunggu di dalam toko,tapi Ratna belum juga menyusulnya. Cinta segera membayar belanjaannya.
Cinta lalu keluar dari dalam toko,mobilnya masih terparkir di tempatnya.
"Kok kak Ratna tidak nyusul Cinta sih?" Gumamnya.
Cinta lalu membuka pintu mobil yang mesinnya masih hidup. Saat Cinta sudah masuk ke dalam mobil,ternyata Ratna tidak ada. Lalu tiba-tiba ada yang menutup mulutnya dengan sapu tangan yang membuat kesadarannya hilang dalam beberapa detik saja.
***
Rey pulang lebih cepat karena Siti minta di antar menjenguk keponakannya.
"Mas,kita belum beli kado nih buat bayinya Seno."
"Iya. Kamu mau beli apa?"
"Apa ya mas? Mereka belum punya apa ya? Kan mereka belum banyak persiapan karena lahiran mendadak."
"Hmm,kamu telpon saja Seno,yank." Titah Rey.
Siti lalu menelpon Seno.
"Assalammualaikum."
"Hallo dek,kamu sedang apa?"
"Mbak mau ke klinik."
"Iya dek. Kamu butuh apa untuk bayi kamu biar mbak beliin?"
"Oohh begitu. Iya nanti mbak beliin ya!"
"Iya,tidak masalah kok."
"Ya sudah."
"Assalammualaikum."
Siti mematikan panggilan telponnya.
"Cinta sudah sampai klinik belum ya?" Gumam Rey.
"Iya tadi telpon mau ke klinik."
"Hmm,tadi aku tidak tanya sama Seno. Seno juga tidak bilang."
"Mungkin lupa. Jadi mau beli apa?"
"Pakaian bayi saja,mas. Keperluan yang lain sudah di beli sama maminya Dinda."
"Oh ya sudah ayo."
Rey dan Siti mampir ke toko babyshop langganan mereka dulu saat Putri dan Putra masih bayi. Setelah membeli beberapa pakaian,mereka langsung pergi ke klinik.
Setengah jam,mereka sampai di klinik dengan membawa kado untuk bayi Seno. Siti langsung menuju ruang NICU untuk melihat keponakannya. Setelah dari NICU baru mereka pergi ke ruang ranap Dinda.
Tok tok. Ceklek. Pintu terbuka dari dalam.
"Mbak,mas. Silahkan masuk." Ajak Seno.
Siti dan Rey pun masuk. Ternyata Dinda sedang tidur.
"Hmm,Dinda tidur."
"Iya mbak. Baru lima menit yang lalu."
"Kok sepi dek?" Tanya Siti.
"Iya memang terakhir ada tamu yang datang tadi siang. Keluarga dari papinya Dinda." Terang Seno.
"Cinta mana?"
"Cinta?" Seno balik bertanya.
"Cinta belum kesini?" Tanya Rey heran.
"Cinta tidak kesini kok,mas."
"Loh,kemana anak itu? Tadi dia bilang pulang sekolah dan mau ke sini. Ini sudah tiga jam yang lalu." Terang Rey mulai cemas.
__ADS_1
"Telpon saja,mas."
Rey lalu menghubungi nomor kontak Cinta. "Tidak aktif."
"Hmm,Ratna. Coba telpon Ratna,mas."
Rey pun mencoba menghubungi Ratna. "Di luar jangkauan!"
Semua yang ada di ruang ranap Dinda terdiam. Rey lalu menghubungi orang tuanya mungkin Cinta sedang di sana bermain dengan kedua adiknya tapi ternyata putrinya itu juga tidak ada.
Rey pun mencoba menghubungi bunda dan ayahnya Cinta. Tapi jawaban mereka sama. Cinta tidak.ada. Rey mengusap kasar wajahnya. "Kamu dimana,nak." Ucapnya lirih.
"Bagaimana,mas?" Tanya Siti yang aneh melihat raut wajah suaminya.
"Cinta tidak di manapun!"
"A-apa,mas? Coba mas hubungi Cinta lagi."
Berkali-kali Rey mencoba menghubungi putrinya itu tapi nihil. Tetap tidak bisa di hubungi.
"Bagaimana,mas?" Tanya Siti yang juga mulai cemas. Tapi jawaban Rey sungguh membuatnya benar-benar pusing.
"Masih tidak bisa di hubungi."
Mereka lalu diam beberapa saat seperti sedanga berpikir.
"Yank,mas mau cari Cinta dulu. Kamu masih mau di sini saja apa mau mas antar pulang?"
"Mas mau pulang?" Siti balik bertanya.
Rey menganggukkan kepalanya. "Mas mau cari Cinta."
"Aku pulang saja deh mas!" Jawab Siti. "Seno,mas sama mbak pulang dulu ya. Cinta tidak tau dimana."
"Hmm,iya mbak. Moga Cinta sedang di jalan atau sedang ke mall." Sahut Seno.
"Semoga saja. Aamiin. Salam sama Dinda ya. Besok kita ke sini lagi." Pamit Siti.
"Iya mbak. Hati-hati di jalan."
Siti lalu mengikuti langkah kaki suaminya yang berjalan dengan cepat. Rey sudah menghidupkan mesin mobil,Siti baru bisa menyusulnya.
"Hmm,mas." Ucap Siti dengan nafas tersengal karena mengikuti langkah kaki suaminya yang terlalu cepat untuknya.
"Mas,berpikir positif saja." Ucapnya lirih.
Rey mengangguk. "Mas mau cari Cinta sendirian,kamu mas antar pulang ya."
Siti mengangguk. Dia sangat mengerti kecemasan suaminya.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,moga suka. Maaf kalau masih ada typo. Dukung othor terus ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
.
2300
__ADS_1