
Setelah mengantarkan Siti pulang ke rumah,Rey langsung mencari Cinta. Pertama dia mencari ke rumah orang yang mengenalkannya pada Ratna tapi orang itu tidak tau di mana Ratna. Rumah orang tua Ratna pun di desa,dia hanya mengontrak rumah kecil. Rey pun mencoba mencari ke rumah kontrakan Ratna tapi gadis itu tidak ada di sana.
Rey lalu meminta tolong kenalannya untuk mencari keberadaan mobil Cinta. Setelah satu jam,mobil Cinta di temukan terparkir di pinggir jalan.
Rey memeriksa isi mobil. Ada dua buah paper bag berlabel toko babyshop.
Rey lalu melapor ke polisi,walau belum dua puluh empat jam. Karena bukti mobil yang di tinggalkan begitu saja di jalan tanpa di kunci.
Rey lalu memberitahukan tentang hilangnya Cinta pada ayahnya. Fadil.
"Maksudnya Cinta hilang?"
"Iya. Mobilnya ada di pinggir jalan. Cinta dan Ratna tidak bisa di hubungi. Saya masih akan mencarinya. Tolong beritahu saja sama bundanya."
"Hmm,saya akan mencarinya juga. Tapi ini sudah hampir malam,kemana Cinta sebenarnya."
Rey kembali naik ke mobilnya. Dia mengusap wajahnya kasar. "Kamu di mana,nak?" Gumam Rey.
Tanpa peduli hari makin malam,Rey terus mencari putrinya itu. Aaron. Tiba-tiba Rey teringat Aaron. "Apa Cinta di bawa oleh Aaron ya. Anak itu akhir-akhir ini terlihat aneh begitupun dengan Cinta. Aaron yang selalu memaksa untuk bertemu sementara Cinta yang selalu menghindar.
Rey lalu mencoba menghubungi bagian HRD di perusahaannya untuk menanyakan di mana alamat rumah Aaron. Tapi karena hari sudah malam,Rey tidak bisa menghubunginya.
***
Sementara itu di sebuah rumah mewah berlantai tiga. Seorang laki-laki muda sedang duduk di balkon kamarnya. Dia sedang asik memandangi handphonenya.
"Aku kangen banget sama kamu. Kamu kapan mau menghubungi aku lagi?" Lirihnya.
Tiba-tiba dia melihat seorang laki-laki yang dia tau adalah salah satu pekerja di perusahaan keluarganya. Biasa membantu abangnya setiap hari,semacam asisten pribadi. Laki-laki itu sedang menggendong seseorang dan membawanya masuk ke faviliun di dekat kolam renang. Orang yang di gendongnya itu telihat kecil mungkin hanya setengah dari besar badan laki-laki itu. Dan yang membuat Aaron kaget,orang yang di gendong itu berambut panjang dan memakai rok sampai kaki.
Aaron berdiri dari duduknya. "Siapa yang dia bawa?" Gumamnya.
Aaron lalu turun ke lantai bawah. Ternyata di bawah ada abangnya yang baru saja menelpon seseorang.
"Bang?" Aaron menatap abangnya penuh selidik.
"Kamu? Kenapa belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur. Tadi aku lihat si Budi menggendong seseorang dan membawanya masuk ke faviliun kita. Siapa orang itu,bang?"
Romi terlihat kaget dan gugup tapi dia berusaha menutupinya. "Kamu salah lihat kali?"
"Mataku masih normal bang. Tidak pake kacamata!"
"Hmm,kamu tanya saja sama orangnya langsung. Abang tidak tau!" Romi berlalu meninggalkan Aaron yang masih terus mendesaknya tapi Aaron buru-buru menyusulnya.
"Bang!" Seru Aaron.
"Sudah malam tidurlah."
"Baik. Kalau abang tidak mau kasih tau aku,biar aku lihat sendiri." Aaron hendak keluar dari rumah.
"Mau apa kamu ke sana? Mungkin Budi membawa pacarnya yang mabuk."
"Apa,bang? Memangnya rumah kita ini hotel ya bang?"
"Kamu tidak usah urusi urusan orang! Sana pergi tidur!" Titah Romi.
"Aku tidak akan biarkan rumah kita ini di jadikan hotel,bang!"
"Terserah kamu saja." Lansung pergi meninggalkan Aaron lalu naik ke atas.
Aku harus lihat sendiri. Batin Aaron. Aaron lalu pergi ke ke faviliun tempat seseorang itu di bawa. Ternyata,di depan pintu faviliun ada Budi yang sedang merokok.
"Aaron?" Budi terlihat kaget.
"Mana kuncinya?" Pinta Aaron seraya menadahkan tangannya.
__ADS_1
"Kunci apa?"
"Kunci pintu faviliun ini!"
Budi terlihat salah tingkah. "Hmm. . ."
"Ayo mana?"
"Tapi?"
"Berikan!"
"Untuk apa? Tidak ada apa-apa di dalam. Saya hanya duduk-duduk di sini mencari angin." Kilahnya.
"Kalau mau bohong itu harus kompak! Mana kuncinya? Ini rumah keluarga saya,kamu hanya pegawai di sini!"
"Maksud kamu apa?"
"Aaron? Kamu kok malah ke sini?" Tanya Romi yang ikut menyusulnya.
"Aku mau lihat ke dalam,bang! Mana kuncinya?"
"Kan abang sudah bilang jangan ikut campur urusan orang! Sana tidur sudah malam. Anak kecil mau ikut campur urusan orang dewasa!"
"Hehh,aku sudah dewasa!"
"Belum dua puluh tahun kok sudah dewasa."
"Terserah abang ya mau bilang apa. Aku cuma mau kunci!"
Romi dan Budi saling melirik. "Tidurlah! Ayo Budi,ikut aku!" Romi dan Budi bergegas meninggalkan Aaron.
"Tunggu,bang!" Teriak Aaron.
"Huhhh,aku tidak akan diam saja kalian bohongi. Apa aku bobol saja,ya?" Gumam Aaron. "Aahh tapi percuma. Intip dulu deh."
Aaron lalu berlari mencari abangnya. Ternyata abangnya ada di dalam kamar.
"Tok tok tok! Buka bang!"
Seakan tidak mendengar suara ketukan dari luar,orang yang ada di dalam kamar pun tidak menyahut apalagi membukakan pintu.
Aaron terus menggedor-gedor pintu kamar abangnya.
"Aaron,kenapa kamu menggnggu tidur abang kamu?" Tiba-tiba omanya sudah berdiri di sampingnya.
"Aku ada perlu penting sama abang,oma. Tolong bangunkan abang." Pintanya dengan memohon.
"Mungkin abangmu sudah tidur. Ayo kembali ke kamar kamu! "
"Aku tidak mau!"
"Oma tidak bisa istirahat kalau kamu teriak-teriak."
"Hmm,baiklah oma. Aku tidak akan teriak-teriak." Ucap Aaron dengan wajah sedih. Omanya lalu kembali ke kamarnya.
"Bang?" Aaron tidak putus asa terus memanggil abangnya. Dia lalu duduk di depan pintu sambil memandangi benda yang tadi dia temukan di dekat faviliun.
Aaron terus memohon sampai ketiduran di depan pintu kamar abangnya.
Keesokan paginya,saat Aaron masih tertidur,pintu kamar abangnya terbuka.
Aaron kaget dan langsung berlutut memohon pada abangnya.
"Bang,aku mohon berikan aku kuncinya."
"Kamu apa-apaan sih?"
__ADS_1
"Bang,tolong jangan sakiti dia!" Aaron memohon-mohon.
"Kamu ini ngomong apa sih?"
"Aku tau dia ada di dalam faviliun. Aku tau bang!"
"Bicaramu mulai ngawur. Sudah sana istirahat!"
"Bang,kalau abang sayang sama aku tolong berikan kuncinya."
"Abang mau ke kantor. Kamu juga sana mandi,banyak pekerjaan. Papi kamu keenakan dengan istri barunya sampai sudah sebulan berbulan madu tidak juga pulang." Gerutu Romi.
"Aku tidak peduli sama papi. Mana kuncinya,bang!"
Romi malah berlalu meninggalkan Aaron.
"Pergilah,bang! Saat abang kembali,abang hanya akan menemukan jasadku saja!" Ancam Aaron.
Romi menghentikan langkah kakinya. Aaron segera menyusul lalu bersimpuh di kaki abangnya. "Aku tau siapa yang ada di dalam faviliun itu,bang! Aku mohon biarkan dia pergi! Apa salah dia,bang?" Aaron memohon-mohon sampai menitikkan airmata.
"Kamu. Kan semalam sudah abang bilang kalau dia. . ."
"Aku tau siapa dia,bang! Dia itu Cintaku,bang."
"Maksud kamu apa sih?"
"Orang yang semalam di bawa Budi itu adalah Cinta. Dia itu Cintaku bang!"
Deg. Romi kaget. Aaron mengenal Cinta? Kok aku sampai tidak tau? Sial! Batinnya.
"Bang,aku cinta dia bang! Tolong jangan sakiti dia,bang. Aku mohon bebaskan dia. Aku janji ini akan jadi rahasia kita,bang!" Aaron masih terus memohon.
"Hhh,kamu salah lihat. Dia bukan Cinta yang kamu maksud."
Aaron lalu memperlihatkan gantungan kunci yang ada ukiran namanya dan Cinta. "Yang memiliki benda ini hanya aku dan Cinta,bang. Aku memesannya sendiri. Ini aku temukan di dekat faviliun."
Deg. Romi hanya diam saja.
"Baiklah kalau abang masih tidak mau. Aku sudah kehilangan mami,dan sekarang aku akan kehilangan wanita kedua yang aku cintai. Untuk apa aku hidup!" Aaron segera berdiri di pagar pembatas lantai tiga rumahnya.
.
.
.
.
.
.
Next
Selamat membaca,moga suka.Terimkasih. ππ€
.
.
.
.
.
1551
__ADS_1