Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 89 (S2)


__ADS_3

Rey terus mencoba menghubungi Aaron. Setengah jam kemudian barulah Aaron balik menghubungi Rey.


"Hallo Aaron."


"Kamu bisa ke Rumah Sakit Sahabat sekarang?"


"Hmm,ada abang kamu di sini."


"Kamu ke sini saja dulu. Ini penting."


"Iya saya tau. Kamu ijin sebentar sama suster dan dokter yang jaga di sana."


"Baiklah,saya tunggu."


Rey memutuskan panggilan telponnya.


"Bagaimana,apa Aaron mau datang?" Tanya Fadil penasaran.


"Iya dia mau datang. Awalnya dia menolak karena tidak mau meninggalkan omanya." Jawab Rey.


"Hmm,kasihan juga anak itu." Gumam Fadil.


"Iya. Tapi semua sudah terjadi." Hhh,Rey menghela nafas berat.


"Kita tunggu di ruang OK saja,pak Rey." Ajak Fadil.


"Baiklah."


Rey dan Fadil lalu menyusul pak Santo yang sedang menunggu di depan ruang OK.


"Pak Santo." Sapa Rey.


"Iya pak Rey? Bagaimana apa adiknya mau datang?" Tanya pak Santo.


"Iya,dia sedang dalam perjalanan ke sini." Jawab Rey. Mereka lalu duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang OK.


"Hmm,"


"Apa operasinya sudah di mulai?" Tanya Fadil.


"Sepertinya sudah,pak."


"Hmm,semoga operasinya berhasil." Gumam Rey.


Mereka bertiga kembali diam sambil menghitung waktu,menunggu selesainya operasi.


Satu jam kemudian Aaron tiba di Rumah Sakit. Dia berjalan dengan tergesa-gesa ke arah Rey.


"Maaf,mana bang Romi? Kenapa menunggu di sini?" Tanya Aaron tanpa basa-basi lagi. Matanya menatap pintu ruang OK dengan nanar.


"Kamu duduk dulu!" Titah Rey.


"Saya tidak bisa berlama-lama di sini. Saya harus menunggui oma." Tolak Aaron.


"Hmm,baiklah. Duduk sebentar ya biar enak ngobrolnya." Ucap Rey lembut.


Aaron akhirnya menurut. Dia ikut duduk di dekat Rey.


"Hmm,abang kamu sekarang sedang di dalam. Dokter harus segera melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkannya." Terang Rey hati-hati.

__ADS_1


Aaron bangkit dari duduknya. "Apa? Apa yang terjadi sama abang Romi? Kenapa dia harus di operasi?" Tanya Aaron dengan suara bergetar.


"Hmm,abang kamu kecelakaan saat melarikan diri." Jawab Rey.


"Hhh,apa? Kenapa? Kenapa bisa?" Aaron terlihat frustasi. Dia menarik rambutnya sendiri.


"Kamu duduk dulu. Biar pak Santo menceritakan kejadiannya." Rey membantu agar Aaron mau kembali duduk.


"Baiklah." Sahut pak Santo.


(Pak Santo POV)


Saat saya datang ke rumah Aaron hendak membawa Romi ke kantor polisi,ternyata saya terlebih dahulu bertemu dengan Aaron dan omanya di ruang tamu.


Mendengar namanya di sebut,Romi buru-buru berlari ke garasi dan membawa mobilnya meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi. Saya dan anak buah langsung mengejar Romi.


Saya hanya memikirkan mengejar Romi saja saat itu. Romi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga kami pun sering kali tertinggal jauh. Beberapa kali dia menerobos lampu merah. Beruntungnya saat itu sedang tidak ramai kendaraan. Dia melajukan mobilnya ke luar kota. Dan kecepatan mobilnya bertambah karena jalanan yang makin sepi kendaraan yang lalu lalang.


Saat di pertigaan ada lampu merah,dia tetap menerobos. Saat itulah ada seorang ibu sambil menuntun anaknya yang masih kecil sedang menyeberang jalan. Mungkin ingin menghindari ibu itu,dia membanting setirnya hingga dia tidak bisa lagi mengendalikan mobilnya lalu menabrak tiang reklame.


Karena kecepatan mobilnya tinggi,mobilnya langsung ringsek. Kita langsung mengeluarkannya dari dalam mobil walau sedikit susah karena salah satu kakinya ada yang terjepit. Kami lalu membawanya ke rumah sakit ini dalam keadaan dia sudah tidak sadar.


( POV Author)


"Maaf,jika kita tidak bisa menghindari kejadian ini."Ucapnya penuh sesal.


Mata Aaron mulai berkaca-kaca. Kenapa semua terjadi begitu cepat dan di waktu yang hampir bersamaan. Batinnya. Apa yang harus aku lakukan.


Semua kembali diam. Beberapa saat kemudian pintu ruang OK terbuka. Seorang dokter keluar.


"Keluaga pasien Romi?" Tanya dokter.


"Operasi sudah berjalan dengan lancar. Tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan pada pihak keluarga." Ucap dokter dengan hati-hati.


"Iya dok. Saya adiknya."


"Orang tuanya mana?" Tanya dokter seraya menatap mereka satu persatu.


"Orang tua saya sedang di luar negeri,dok. Sekarang hanya saya keluarganya." Terang Aaron.


"Baiklah,bisa ikut saya sebentar?" Pinta dokter.


"Iya bisa dok."


Aaron pun mengikuti langkah kaki dokter menuju ruangannya. Rey mengikuti dari belakang.


Dokter dan Aaron masuk ke dalam ruangannya,Rey menunggu di luar.


Di dalam ruangan dokter.


"Silahkan duduk dulu." Pinta dokter. Aaron pun duduk di kursi yang ada di depan dokter.


"Begini,tadi saya sudah bilang kalau operasi sudah berjalan dengan lancar tapi ada satu kabar tidak baik yang harus saya sampaikan." Ucap dokter.


Deg. Aaron mulai memikirkan hal buruk tentang abangnya.


"Saat kejadian,kaki saudara Romi mengalami luka parah. Tapi tidak sampai harus di amputasi. Hmm,masalahnya,kakinya sekarang mengalami kelumpuhan." Terang dokter dengan hati-hati.


Deg,jantung Aaron berdetak hingga berkali-kali lipat.

__ADS_1


"A-apa tidak bisa di sembuhkan,dok?"


"Kemungkinannya sangat tipis tapi kita jangan putus asa. Jika pasien sudah benar-benar pulih,nanti bisa konsultasikan ke dokter rehab medik." Terang dokter.


Setelah mendengar semua penjelasan dari dokter,Aaron segera keluar.


"Aaron,apa kata dokter?" Tanya Rey penasaran saat Aaron sudah di luar.


"Abang lumpuh." Jawab Aaron datar dan segera berlalu dari sana di ikutin Rey.


Mereka kembali lagi ke depan ruang OK dan duduk menunggu di sana.


Tak berapa lama,pintu ruang OK terbuka. Dua orang suster sedang mendorong brangkar yang di atasnya terbaring seorang pasien dengan banyak perban di tubuhnya.


Aaron berdiri mendekat. "Abang. . ." Ucapnya lirih.


"Pasien akan kita bawa ke ruang ICU karena belum sadar." Terang suster.


Aaron pun mengikuti langkah kaki suster di ikuti Rey,Fadil di belakangnya sementara pak Santo sudah kembali ke kantornya.


Sampai di depan ruang ICU,Rey dan Fadil dudui fi sana. Aaron mengikuti suster masuk


"Apa kata dokter?" Tanya Fadil.


"Romi lumpuh. Hhh,bagaimana ini? Coba saja si Romi tidak melarikan diri,semua tidak akan terjadi." Ucap Rey.


"Semua kejadian di luar perkiraan kita." Sahit Fadil.


"Hmm,sekarang bagaimana? Apa kita pulang saja atau tetap menunggu di sini?"


"Kita tunggu sebentar,mungkin Aaron sebentar lagi keluar."


Sementara di dalam ruang ICU,tampak Aaron duduk di samping abangnya dengan raut wajah sedih.


"Bang,maafin aku. Kenapa abang harus melarikan diri? Coba saja abang mau baik-baik ikut ke kantor polisi,semua tidak akan begini bang." Aaron menggenggam tangan abangnya. "Oma sedang koma,abang pun sekarang sedang koma. Apa yang harus aku lakukan,bang." Matanya mulai berkaca-kaca.


Aaron lalu merebahkan kepalanya di sebelah Romi. Beberapa saat kemudian karena kelelahan,Aaron pun tertidur.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.

__ADS_1


0606


__ADS_2