Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 34


__ADS_3

Sepulang dari Rumah Sakit,Siti bersama Rey langsung menuju klinik dokter kandungan kenalan mama Rey yang bernama dokter Layli. Mama telah lebih dulu sampai di klinik karena ingin menemani menantunya periksa kandungannya.


Sampai di klinik,Siti langsung masuk ke ruangan periksa karena telah di daftarkan terlebih dahulu oleh mama. Sekarang mereka sedang menatap ke layar monitor. Rey begitu takjub melihat calon bayinya. Karena ini pengalaman pertamanya. Begitu pun Siti,matanya sampai berkaca-kaca. Buah hati yang dia nantikan.


"Bagaimana kondisi calon cucu saya,dok?" Tanya mama antusias.


"Alhamdulillah semua normal. Ini baru masuk usia enam minggu. Jadi masih sebesar kacang polong ya!" Terang dokter Layli.


"Masih rawan ya dok?" Tanya Rey.


"Iya pak Rey. Jadi harus hati-hati sekali. Tidak boleh melakukan pekerjaan berat!"


"Kalau melakukan perjalanan apa boleh dok?"


"Boleh saja jika mamanya dalam kondisi sehat dan kehamilannya tidak bermasalah. Hanya tetap harus hati-hati!"


"Baik dokter!"


"Nah karena mamanya baru saja mengalami kejadian yang tidak mengenakan,lebih baik bed rest dulu beberapa hari sampai kondisi fisik benar-benar kuat! Luka-lukanya juga belum benar-benar sembuh kan. Tapi mamanya hebat ya,walau badannya penuh luka tapi janinnya tidak bermasalah."


"Iya dok,karena saya hanya melindungi perut saja saat kejadian!"


"Mama yang pintar dan hebat ini!" Puji dokter sambil tersenyum. Rey dan mama pun ikut tersenyum.


"Di kasih penguat kandungan kan dok?" Tanya mama.


"Oh tentu saja! Saya akan kasih obat penguat dan juga vitamin."


Setelah selesai di periksa,mereka pun pamit pulang. Rey mengantri di apotek untuk mengambil obat dan juga vitamin sementara Siti dan mama menunggu di mobil.


"Terimakasih ya Siti,kamu sudah menjaga calon cucu mama! Kamu baik-baik sama Rey. Rey sangat terpukul saat kamu pergi. Dia tiap hari keliling kota mencari kamu sampai larut malam." Ucap mama sambil mengusap bahu Siti. Mama terlihat berbeda sekali tidak seperti biasanya. Mungkin karena Siti akan segera memberinya cucu.


"I iya ma."


Rey masuk ke dalam mobil. "Ini obat sama vitaminnya. "Ucap Rey seraya memberikan kantong plastik berisi obat pada Siti.


"Tiap hari jangan lupa kamu minum ya! Rey,kamu juga harus mengingatkan istri kamu biar tidak sampai lupa!" Mama mengingatkan.


"Beres ma!" Jawab Rey.


"Oh iya kok tadi kamu tanya soal bepergian? Siti jadi ke Singapura?" Tanya mama.


"Siti hanya ingin ke desanya ma. Sudah lama tidak bertemu dengan adiknya!" Jawab Rey.


"Oh begitu. Kamu ajak saja adik kamu tinggal di rumah kita,Siti! Di rumah juga tidak banyak orang." Usul mama.


"Hmm,terimakasih ma. Tapi adik saya masih ingin sekolah di desa sampai lulus SMA."Jawab Siti.


"Sekolah di kota malah lebih bagus. Iya kan Rey?"


"Iya ma. Nanti Rey yang akan membujuk adik Siti untuk tinggal di rumah kita."


"Hmm,tidak usah ma. Merepotkan saja." Siti berusaha menolak.


"Loh tidak merepotkan kok. Lagipula biar kamu ada temannya juga jika Rey sedang sibuk bekerja." Mama beralasan.

__ADS_1


***


"Rey?" mama memanggil dari balik pintu.


"Ya ma."


Ceklek.


Rey membuka pintu kamarny. "Ada apa ma?"


"Di bawah ada dua orang polisi yang waktu itu pernah datang soal kasus Siti!"


"Oh iya ma. Rey akan temui mereka!"


Rey turun ke bawah menemui polisi yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Selamat siang,pak!" Sapa Rey.


"Selamat siang pak Rey. Kami dari kepolisian yang mengusut kasus istri bapak. Berkasnya sudah siap,dan besok sidang pertama. Istri bapak di minta hadir sebagai saksi dan korban!" Terang pak polisi.


"Hmm,saya akan beritahu istri saya. Kapan hari nya pak?"


"Ini pak Rey,surat panggilannya."


"Baiklah pak polisi."


"Kalau begitu kita permisi dulu pak Rey!" Kedua polisi itu pun pamit.


***


Dia sudah janji akan menemani Siti di rumah selama masa pemulihan walau Siti sudah menolak.


"Sudah siang nih,yuk kita turun makan siang dulu. Saya sudah lapar!" Ajak Rey setelah selesai dengan handphonenya.


"Jadi kapan kita akan berangkat ke desa?" Siti menagih janji Rey.


"Besok kita ke pengadilan dulu untuk sidang kasus penganiayaan terhadap kamu!" Rey mengingatkan. " Setelah itu kamu istirahat dulu beberapa hari ya. Kan tadi dokter bilang tunggu kamu benar-benar sehat." Jawab Rey.


"Kamu tidak akan ingkar janji kan?" Siti menatap suaminya. Ada keraguan dalam ucapannya.


Rey mendekati Siti,duduk di pinggir kasur. "Insya Allah!"


Siti diam. Entah rasanya dia ragu jika suaminya mau di ajak ke desa. "Jika kamu tidak mau,saya bisa sendiri ke sana!"


Rey tersenyum. "Kamu masih susah untuk percaya sama saya,hmm? Saya ingin menebus waktu kita yg terbuang selama ini!" Ucapnya meyakinkan.


"Tapi urusan pekerjaan kamu jauh lebih penting dari apapun!"


"Hahaha. Kata siapa?" Rey memegang bahu Siti dan menatap mata istrinya itu lekat-lekat. "Dengar,saat ini kamu yang paling penting!"


"Hmm,karena ini kan?" Siti mengusap perutnya.


"Hhh,Siti! Cobalah untuk percaya diri. Yakinlah kalau kamu bisa menjadi orang penting dalam kehidupan orang lain! Jangan selalu minder!"


"Entahlah. Mungkin jika sejak awal kamu menunjukkan jika saya ini penting,saya pasti tidak akan merasa minder!"

__ADS_1


"Setiap orang bisa berubah! Tidak semua orang bisa mengalami cinta pada pandangan pertama!" Rey meraih dagu Siti lalu menyentuh bibirnya dengan lembut. "Saya bukan tipe seperti itu!" Rey tidak bosan-bosannya meyakinkan istrinya itu.


"Katanya lapar?" Siti mengalihkan pembicaraan.


"Yuk. . .!" Ajak Rey. Mereka lalu turun untuk bergabung di meja makan bersama orangtua Rey.


"Makan yang banyak,Siti!" Titah mama.


"Iya ma."


"Kamu tidak mengalami morning sickness kan?"


"Hmm,apa itu ma?"


"Itu,muntah-muntah di pagi hari!"


"Oohh,setiap bangun tidur ma,tapi tidak terlalu parah." Jawab Siti.


"Baguslah. Jadi kamu bisa sarapan yang banyak. Itu sangat penting di usia kehamilan trimester pertama." Terang mama.


"Iya ma."


Tapi baru beberapa suap Siti makan,dia merasakan perutnya tidak nyaman. "Hmm,saya ke kamar mandi dulu. Permisi!" Siti segera berlari ke kamar mandi yang ada di dapur. Rey mengikuti dari belakang. Hoeks,hoeeks!


"Mual sekali ya?" Tanya Rey sambil memijat tengkuk Siti. Siti mengangguk. " Lauknya banyak bawang" Terang Siti.


"Hmm,kamu tidak suka bau bawang ya?" Tanya Rey lagi. Siti hanya mengangguk lemah.


"Bagaimana,masih?"


Siti menggeleng. " Sudah." Mengambil tissu lalu mengusap mulutnya.


Mereka kembali ke meka makan.


"Maaf ma,pa." Ucap Siti setelah kembali duduk.


"Kamu sarapan roti saja kalau begitu!" Saran mama.


Rey lalu mengambilkan Siti roti dan selai coklat. "Kamu makan ini saja!" Rey menyerahkan piring berisi roti dengan selai coklat.


"Hmm,terimakasih!" Ucap Siti.


Setelah selesai makan,mereka duduk-duduk di taman belakang di tempat Siti pernah pingsan.


"Kamu benar tidak ke kantor?" Tanya Siti sambil bermain air kolam.


"Kan mau menemani istri bed rest!" Jawab Rey.


"Pekerjaan kamu sudah lama di tinggal kan? Apa tidak masalah?"


"Tidak apa-apa,sayang!" Jawab Rey dengan penekanan kata 'sayang'.


Siti menyunggingkan senyum tipis. Semua orang berubah menjadi sangat baik. Batinnya.


NEXT

__ADS_1


230421/00.45


__ADS_2