
Pagi-pagi Aaron sudah sibuk berkemas karena abangnya akan pulang ke rumah. Setelah membantu abangnya membersihkan diri gantian dia yang membersihkan diri.
"Pakde bawa separuh barang-barang ke mobil ya nak Aaron?" Tanya pakde.
"Iya,pakde. Ini kunci mobilnya." Jawab Aaron seraya menyerahkan kunci mobilnya pada pakde Arman.
Dengan memakai kursi roda,Romi keluar dari kamar ranapnya bersama Aaron lalu berpamitan dengan suster yang berjaga.
Pakde sudah menunggu di dekat mobil. Bersama pakde,Aaron menggotong Romi naik ke mobil. Aaron segera menghidupkan mesin mobilnya lalu meninggalkan Rumah Sakit.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah. Di rumah ada om Adi dan juga anak istrinya.
"Kenapa mereka ada di sini?" Tanya Romi kaget.
"Kan aku sudah bilang kalau om Adit yang pegang perusahaan yang biasa abang pegang." Sahut Aaron.
"Hmm,kenapa keluarganya harus ikut tinggal di sini?" Tanya Romi dengan nada tidak suka.
"Abang tanya saja sama om Adit. Dia tidak peduli kalau aku yang ngomong."
"Huuhh."
Aaron lalu mendorong kursi roda Romi masuk ke dalam rumah.
"Romi,selamat datang di rumah ini." Ucap istrinya om Adit.
"Ini rumahku sendiri tidak perlu mengucapkan selamat datang." Sahut Romi ketus.
"Romi,tante kamu hanya ingin bersikap ramah." Om Adit berusaha membela istrinya yang langsung terdiam mendengar ucapan Romi.
"Ayo Aaron,langsung ke kamar abang!" Titah Romi.
"Abang sementara tidur di kamar tamu di bawah ya,supaya lebih mudah dan aman." Terang Aaron.
"Apa kamu bilang? Abang tidur di kamar tamu?" Protes Romi.
"Sementara saja bang. Kamar abang tetap aman. Sudah aku kunci."
"Huuhh,kamu itu bilang saja tidak mau repot membantu abang naik turun tangga." Sahut Romi sinis.
"Biar aman juga bang. Abang mau di gotong-gotong naik tangga? Tidak takut jatuh? Aku membayangkannya saja takut."
"Hhuuhh!" Romi akhirnya pasrah saja saat Aaron mendorong kursi rodanya masuk ke kamar tamu.
Ceklek. Pintu kamar di buka oleh Aaron.
"Kamar sempit begini." Gerutu Romi.
"Tidak terlalu sempit kok,bang. Abang mau cari aman tidak sih?"
"Terserah kamulah. Sudah tinggalkan abang sendiri!" Usir Romi.
"Abang mau minta di masakin apa?"
"Abang tidak lapar!"
"Hhh,ya sudah. Aku tinggal dulu. Kalau ada perlu apa-apa telpon saja aku atau pakde Arman. Dia yang akan membantu aku mengurus abang." Ucap Aaron lalu keluar dari kamar Romi.
Di ruang keluarga,ada om Adit dengan istri dan anaknya.
"Aaron." Panggil om Adit.
"Ada apa,om?"
"Bilang sama abang kamu untuk bersikap sopan sama tante Dilla. Dia itu istri om. Harus juga dia hormati."
"Hhmm,masalah itu om bilang saja sama abang. Dia sedang kesal denganku jadi tidak akan mungkin mau mendengar omonganku." Sahut Aaron.
"Kamu itu."
__ADS_1
"Aaron ke kamar dulu,om. Om tidak ke kantor hari ini?"
"Sebentar lagi." Jawab om Adit.
"Keponakan mas itu tidak tau sopan sama orang tua, sombong-sombong. Apa tidak di ajarkan sama orang tuanya?" Ucap istrinya om Adit sinis.
"Sudahlah,ma. Aku kerja dulu sudah kesiangan ini."
"Iya kesiangan gara-gara menyambut kepulangan keponakan mas yang tidak tau diri itu."
"Sudah,biarkan saja. Anak itu memang begitu. Mas pergi dulu." Pamit om Adit pada istrinya.
Aaron masuk ke dalam kamar Romi untuk mengambil surat-surat penting untuk mendaftarkan pernikahan Romi dua minggu lagi. Setelah semua siap,Aaron segera keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana,Aaron?" Tanya istri Adit.
"Aku ada urusan tan." Jawab Aaron yang segera berlalu dari hadapan tantenya.
Aaron segera melajukan mobilnya ke kantor Rey untuk menyerahkan berkas yang berisi syarat untuk mendaftarkan pernikahan Romi.
Setelah memarkirkan mobilnya,Aaron langsung menuju ruangan Rey.
Tok tok
"Masuk. ." Sahut Rey dari dalam.
Ceklek. Pintu terbuka. Aaron berdiri di depan pintu.
"Assalammualaikum. . " Ucap Aaron.
"Wa alaikumsalam." Jawab Rey.
Aaron berjalan menghampiri Rey. "Pak,saya bawa surat-surat milik bang Romi untuk di pakai mendaftarkan pernikahannya dengan kak Ratna." Terang Aaron seraya meletakan berkasnya di atas meja Rey.
"Abangmu sudah setuju?" Tanya Rey seraya membuka berkas yang di berikan oleh Aaron lalu membacanya.
"Hhmm,awalnya dia keberatan tapi akhirnya dia menurut saja." Terang Aaron.
"Iya,pak. Saya akan segera memberitahukan tentang rencana pernikahan bang Romi."
"Hhmm."
"Kalau begitu,saya permisi dulu pak." Pamit Aaron. Aaron lalu keluar dari ruangan Rey.
Aaron kembali melajukan kendaraannya. Kali ini dia mengarahkan mobilnya ke arah kampus tempat dia kuliah.
***
Setelah mendapatkan surat-surat kelengkapan data diri milik Romi,Rey segera pulang. Dia ingin mendaftarkan pernikahan Ratna dan Romi secepatnya.
Rey masuk ruangan Seno.
"Seno,mas sekarang mau pulang. Kamu bisa sendiri kan?"
"Hhmm,mas sudah mau pulang?"
"Iya. Mas mau mengurus pendaftaran pernikahan Ratna dan Romi agar bisa secepatnya di langsungkan." Terang Rey.
"Alhamdulillah,mas. Semoga mereka benar-benar berjodoh."
"Aamiin. Mas tinggal dulu ya." Pamit Rey.
Rey lalu turun ke bawah menuju parkiran. Rey melajukan mobilnya ke rumah untuk mengambul data diri Ratna.
Satu jam kemudian Rey sampai di rumah.
"Mas,kok sudah pulang?" Tanya Siti heran seraya mencium punggung tangan Rey.
"Mas mau ketemu Ratna. Apa dia ada di kamarnya?"
__ADS_1
"Setelah makan siang,dia di kamar terus,mas. Mungkin dia ingin makan sesuatu tapi tidak mau mengatakannya."
"Hhmm,ayo temani mas ke kamarnya." Ajak Rey.
Tok tok.
Siti mengetuk pintu kamar Ratna.
Tak lama,pintu kamar Ratna terbuka.
"Bu,pak Rey?" Dahi Ratna berkerut melihat Rey yang berdiri di belakang Siti.
"Boleh kita masuk?" Tanya Siti."
"Oohh,silahkan masuk." Jawab Ratna lalu duduk di sisi tempat tidur. Siti ikut duduk di sebelah Ratna.
"Kamu masih demam?" Tanya Siti.
"Sudah tidak lagi,bu."
"Masih muntah-muntah?"
"Masih kalau pagi saja,kalau sore sampai malam hanya mual sedikit." Jawab Ratna.
"Syukurlah. Lama-lama mualnya akan berkurang dan hilang sendiri setelah lewat trimester pertama." Terang Siti.
"Iya,bu."
"Hhmm,Ratna. Kamu punya kartu tanda pengenal dan kartu keluarga? Foto? Akta lahir?" Tanya Rey.
"Untuk apa ya,pak? Saya hanya bawa fotokopinya saja itupun hanya satu lembar karena sudah saya gunakan untuk melamar kerja saat pertama kali datang ke kota."
"Ooh,tidak apa-apa. Nanti saya perbanyak sendiri."
"Tapi untuk apa,pak?" Tanya Ratna heran.
"Untuk mendaftarkan pernikahan kamu dan juga Romi. Saya akan daftarkan pakai alamat sini saja." Terang Rey.
"Menikah? Saya mau di nikahkan dengan dia?" Tanya Ratna kaget.
"Iya,Ratna. Kamu mau bayi kamu punya bapak kan?"
Ratna hanya diam. Pandangannya kosong Menikah dengan laki-laki yang telah menghamilinya tanpa cinta. Bagaimana kehidupan pernikahanku kelak. Batinnya.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
__ADS_1
.
1000