
Siti dan Rey sudah sampai di rumah pak Erte. Selain ingin bertemu Ratna,mereka juga ingin berpamitan pada pak Erte dan juga istrinya pak Erte,bu Titin.
"Waahh,ada nak Rey sama Siti." Ucap pak Erte saat mereka tidak sengaja berpapasan di depan rumahnya. "Ayo masuk!" Ajaknya kemudian.
"Assalammualaikum." Siti dan Rey memberikan salam.
"Wa alaikumsalam. Ayo duduk!"
"Terimakasih pak!"
"Bagaimana apa ada yang bisa bapak bantu?" Tanya pak Erte.
"Kita kesini mau pamitan pak! Besok pagi akan kembali ke kota!" Ucap Rey.
"Loh,bukannya nak Rey sudah ke kota ya?" Tanya pak Erte heran.
"Iya pak tapi siang tadi saya baru datang ke desa mau ajak Siti ikut kembali ke kota!" Terang Rey.
"Ooh begitu! Yah memang sudah seharusnya suami istri tinggal bersama jangan sampai berpisah terlalu lama. Takut soalnya!"
"Takut apa pak? Tanya Siti.
"Takut tidak bisa menahan rindu. Berat! Hahaa!" Ucap pak Erte sambil tertawa.
"Pak Erte bisa saja! Hahahaa!"Rey ikutan tertawa sementara Siti hanya senyum-senyum saja.
"Loh iyo to!" Sambungnya lagi. "Tidak baik untuk kesehatan hati!" Sambil menunjuk dadanya.
"Memang benar pak!" Ucap Rey.
Tiba-tiba dari dalam rumah,keluar Ratna. Dia mematung beberapa saat setelah melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.
"Ratna!" Panggil Siti.
Mau tidak mau Ratna bergabung bersama di ruang tamu. Dia lalu menyalami Rey,suami Siti. "Pak Reynan." Sapa Ratna. Rey hanya tersenyum.
"Loh Rat,kamu kenal suami Siti? Kok kamu panggil pak?" Tanya pak Erte heran.
"Hmm,pak Reynan ini bos Ratna pa!" Terang Ratna.
"Oh ya? Wah kebetulan sekali ya?" Ucap pak Erte.
"Pak Reynan kenal anak saya?" Tanya pak Erte sambil melihat ke arah Rey.
Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jujur saja dia tidak mengenal semua karyawannya apalagi jika hanya karyawan biasa yang jarang dia temui.
"Pak Reynan kan orang sibuk pa,tidak semua karyawan pernah bertatap muka dengan beliau. Kalau semua karyawan pasti tahu siapa bosnya!" Terang Ratna saat menyadari Rey yang terlihat bingung.
"Oohh begitu!" Pak Erte manggut-manggut.
"Pak Reynan ini direktur muda di tempat Ratna bekerja pa. Menggantikan orang tuanya."
"Loh,nak Rey ini direktur tempat kamu kerja?" Pak Erte kaget. "Wah,hebat nak Rey ini!" Sambil menatap kagum pada Rey.
"Biasa saja pak. Itu juga punya keluarga. Saya hanya tinggal meneruskan saja!" Terang Rey.
"Yah tetap saja hebat nak Rey! Siti juga hebat bisa dapat suami seorang direktur! Memang nasib orang siapa yang tahu ya!" Ucap pak Erte.
__ADS_1
Rey dan Siti hanya tersenyum.
Mereka lalu ngobrol kesana kemari hingga tidak terasa sudah hampir maghrib.
"Kita permisi dulu pak Erte,hampir maghrib ini" Pamit Rey.
"Ooh iya nak Rey!"
Siti dan Rey pun pulang dari rumah pak Erte. Sepanjang jalan mereka bergandengan tangan dengan mesra sambil mengobrol hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah.
Mas,pakaian kita tidak usah di bawa ke kota semua ya? Kan kapan-kapan masih mau ke sini?" Tanya Siti saat sedang memasukkan barang-barang mereka ke dalam koper. Rey mengangguk setuju. "Bawa satu koper saja ya?" Rey kembali mengangguk.
Setelah makan malam,mereka sholat isya bersama.
"Seno kok tidak terlihat,kemana sayang?"
"Oh Seno sedang ke rumah temannya mas!" Jawab Siti.
"Setiap malam keluar ya? Sampai jam berapa"
"Hmm,tidak sering sih,paling sampai jam sembilan,mas. Kenapa memangnya?"
"Kalau setiap malam keluar,kamu sering sendirian donk di rumah! Itu bikin mas selalu kepikiran kamu jika sering di tinggal-tinggal,sampai malam lagi!"
Siti meletakkan kopernya di sudut kamar lalu duduk di sisi kasur di sebelah suaminya. "Kalau tidak ada mas,paling sampai isya sudah pulang kok!" Terang Siti.
"Hmm,makan kamu bagaimana? Kalau tidak mas suapi,apa makanmu banyak?"
"Yah tergantung."
"Tergantung apa?"
"Hmm,lalu anak saya di sini kelaparan donk!" Ucap Rey dengan penekanan sambil meletakkan telapak tangannya di perut Siti. "Selama mas suapi kan banyak terus makan mu!"
Siti senyum-senyum lalu meletakkan kepalanya di paha suaminya. "Mas,kita berapa lama di kota? Di sana juga kalau siang yo sendirian juga!"
"Kamu mau ikut mas kerja,hmm? Nanti bisa ketemu sama si Ratna?"
Siti kembali duduk lalu menatap lekat-lekat suaminya. "Memangnya boleh ikut mas kerja?"
"Ya boleh! Siapa yang larang?"
"Loh boleh ya orang kerja bawa istrinya?"
Rey meraih bahu istrinya lalu memeluknya. "Kamu kan istrinya bos!"
Siti mendongakkan kepalanya. Menatap suaminya dengan pandangan seolah tidak percaya. "Hmm,mas bener-bener direktur ya?"
"Kamu tidak percaya sama mas ya? Sama si Ratna juga?"
"Bu bukan! Tapi rasa sulit di percaya!"
"Hmm?"
"Bi Rena dulu pernah bilang kalau saya tidak mungkin dapat suami direktur!"
"Hmm,kenapa dia bilang begitu?"
__ADS_1
"Kenapa ya?" Siti coba mengingat-ingat. "Hmm,sepertinya karena saya cuma pelayan warung!"
"Hmm,tapi nyatanya?"
"Mas. . . Mas tidak malu punya istri seorang pelayan warung?" Tanya Siti lirih sambil kembali memeluk suaminya. "Padahal banyak wanita cantik yang mau sama mas!"
"Mas hanya mau sama wanita yang mas suka,yang mas cinta! Dan juga yang mencintai mas!"
Siti tersenyum bahagia dalam pelukan suaminya demi mendengar apa yang baru suaminya ucapkan. "Terimakasih ya mas!"
"Hmm,tidur yuk!"
Siti melepas pelukannya. "Mas sudah ngantuk ya?"
"Sedikit sih!"
"Hmm,ya sudah kita tidur sekarang!"
"Seno tadi bawa kunci kan?"
"Bawa kok mas!"
"Baguslah,biar tidak lama nungguin kamu bukain pintu!"
"Iya mas!" Jawab Siti. Dia segera naik ke kasur dan menarik selimutnya sampai perut.
"Sebelum tidur,mas mau nengokin si kecil dulu deh!" Ucap Rey sambil membuka selimut Siti.
Mata Siti membulat. "Mas?"
Mereka kembali memadu kasih hingga kelelahan dan tertidur tanpa menunggu Seno pulang.
***
Pagi-pagi Siti sudah rapi. Semua barang yang akan dia bawa sudah di taruh di mobil oleh Rey. Kini mereka sedang sarapan bersama.
"Seno,mas sama mbak berangkat pagi ini. Kalau kamu mau bisa ikut kita sekalian kan lewat sekolah kamu!" Ucap Rey.
"Hmm,terimakasih mas. Tapi saya bareng teman saya!" Tolak Seno.
"Ajak saja teman kamu bareng kita. Ada berapa orang?"
"Hmm,sepertinya tidak muat mas,ada empat orang. Mobil mas kn hanya cukup untuk lima orang saja."
"Hmm,ya sudah kalau begitu! Kita berangkat tunggu bapak-bapak tukang datang saja!" Ucap Rey.
"Iya mas. Seno berangkat sekolah dulu ya!" Pamit Seno.
"Kunci rumah jangan lupa kamu bawa,mbak juga bawa satu!" Siti mengingatkan.
"Iya mbak. Mbak sama mas hati-hati di jalan ya! Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin Seno!"
Setelah bapak-bapak tukang datang,Siti dan Rey segera berangkat ke kota.
Karena jamnya orang-orang sibuk berangkat kerja,jalan raya cukup padat hingga hampir empat jam mereka baru sampai kota dan hampir satu jam kemudian sampai ke rumah orang tua Rey.
NEXT
__ADS_1
090521.18- -