Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 127 ( S2 )


__ADS_3

Setelah beberapa saat Ratna tersadar dari rasa kagetnya. Dia bangun dengan sedikit susah karena Romi masih memegangi bahunya.


"Ma-af. Aku mau berdiri." Ucap Ratna dengan wajah merah antara malu dan takut jika Romi akan marah.


Romi buru-buru melepaskan pegangan tangannya. "Kamu sengaja,ya? Ayo cepat berdiri!" Ucap Romi dengan nada tinggi.


Ratna akhirnya bisa berdiri lalu membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan. Jantungnya terasa berdegup lebih kencang.


"Aku ingin berbaring! Bukan posisi seperti ini!" Gerutu Romi.


"I-iya." Ratna lalu membetulkan letak posisi Romi. Kedua kaki Romi di angkat ke atas tempat tidur dan Romi bersandar di di ujung tempat tidur. Lagi-lagi posisi mereka sangat berdekatan hampir seperti berpelukan. Sekali lagi Ratna terpaku menatap Romi,pun Romi sebaliknya.


Beberapa detik kemudian. "Kamu sengaja ya biar bisa peluk saya,heehh?" Ucap Romi dengan nada tinggi dan mata menatap Ratna dengan tajam.


Ratna buru-buru bangkit berdiri. "Hhmm ma-maaf. Tidak sengaja." Sahut Ratna sambil menunduk malu.


"Jangan harap aku akan menyentuhmu!"


"Hhhmm. . ."


"Sudah sana,ngapain masih berdiri di sini! Aku mau istirahat!" Usur Romi."


"I-iya." Ratna membalik badannya kemudian langsung berlalu dari hadapan Romi.


"Kenapa aku jadi deg-degan saat tadi dia di atasku ya. Aahh,tidak-tidak!" Romi menepis pikirannga sendiri lalu mulai memejamkan matanya.


"Ε”atna,suami kamu mana?" Tanya ayah Ratna.


"Hhmm,dia sedang istitahat yah. Capek katanya."


"Oohh,ya sudah tidak apa-apa. Ayah sama ibu nanti siang mau pulang. Kamu baik-baik ya disini."


"Iya,yah."


"Mana Romi?" Tiba-tiba papinya Romi sudah berdiri di samping ayah Ratna.


"Ada di kamar sedang istirahat." Jawab Ratna.


"Keluarganya belum pulang kok sudah masuk kamar. Yang mana kamarnya?"


"Hhmm,mari pak saya antar." Tawar Ratna.


Ratna lalu mengantar Rafael ke kamarnya untuj menemui Romi.


Ceklek. Pintu terbuka. Romi ternyata sedang tidur.


"Bisa tinggalkan saya berdua anak saya?" Ucapnya pelan.


"Hhmm,iya pak. Saya tinggal dulu ya." Pamit Ratna lalu segera keluar dari kamar.


Rafael duduk di sisi kasur. "Romi!" Panggilnya.


Romi yang baru saja tertidur jadi bangun. "Pi?" Ucapnya kaget. "Ada apa?"


"Kamu itu,keluarga kamu belum pulang kok malah tidur?"


"Aku hanya istirahat,pi. Nanti aku pulang sama-sama dengan Aaron." Terang Romi.


"Kamu tidak tinggal di sini?"


Dahi Romi berkerut. "Kenapa aku tinggal di sini? Ratna di sini hanya menumpang."


"Huhhh,kalau tau rumah ini bukan rumah istri kamu,tidak akan papi ijinkan kamu menikahinya. Seperti tidak ada perempuan lain saja kamu? Sama pacar kamu yang dulu saja papa kurang suka apalagi yang sekarang. Eehh di jadiin istri lagi."


"Pi,tolong kali ini papi jangan ikut campur urusan pribadi aku. Kalau papi tidak mau aku campuri urusan papi sama istri muda papi itu."


"Kamu ngancam papi?" Nada suara Rafael makin tinggi.


"Aku tidak ngancam papi. Aku hanya tidak ingin papi mencampuri urusan pribadi aku lagi! Sudah cukup,pi."


"Terserah kamu saja!" Ucap Rafael kesal lalu segera keluar dari kamar Ratna.


Sementara Ratna menghampiri keluarganya hanya untuk bercengkrama sebelum keluarganya kembali pulang ke desa. Di luar hanya tinggal keluarga Ratna dan keluarga Romi saja yang belum pulang.


Tak lama keluarga Romi berpamitan pulang,tanpa bicara lagi pada Romi yang masih memilih di kamar saja.

__ADS_1


"Aaron,tolong jagain abang kamu." Bisik Rafael sebelum naik ke mobilnya.


"Papi tidak minta pun sudah aku jagain selama dia sakit." Sahut Aaron sinis.


Rafael segera meninggalkan rumah Rey bersama istri mudanya dan juga om dan istrinya. Aaroh langsung kembali masuk ke rumah Rey.


Cinta mana ya dari tadi tidak kelihatan. Batin Aaron sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah.


"Ehhmm. . ." Ratna tiba-tiba datang mengagetkannya. "Nyari siapa?"


Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hhmm,lihat Cintaku kak?"


"Cintaku? Siapa?" Tanya Ratna pura-pura tidak tau.


Aaron tersenyum malu. "Cinta,kak."


Ratna tersenyum. "Kakak juga belum lihat lagi sejak dia kasih kakak ucapan selamat."


"Hhmm,apa dia marah lagi sama aku ya kak?" Tanya Aaron dengan wajah murung.


"Marah kenapa?"


Aaron mengedikkan bahunya. "Aku juga tidak tau. Mungkin saja kak."


"Sudah kamu telpon belum?"


"Hhmm,belum sih. Aku telpon dulu ya kak."


Ratna mengangguk. Aaron lalu mengambil handphonenya di saku celana lalu menghubungi nomor handphone Cinta.


Aaron menggelengkan kepalanya tanpa semangat. "Tidak di angkat,kak."


"Hhmm,apa mungkin dia sedang tidur ya?"


"Masa jam segini sudah tidur kak? Dari tamu makan tadi aku cariin tapi tidak ada."


"Hhmm,kakak ke atas dulu ya. Mungkin dia ada di kamarnya." Pamit Ratna yang di beri anggukan oleh Aaron.


Aaron lalu duduk menunggu di teras dan mencoba lagi menghubungi Cinta tapi tetap tidak ada jawaban.


Sementara Ratna sudah berdiri di depan kamar Cinta.


Setelah lima menit Ratna menunggu sambil sesekali mengetuk pintu,akhinya Cinta mau membuka pintu kamarnya.


"Cinta,kok kamu di kamar?"


"Hhhmm. . ."


"Kakak boleh masuk?"


"Hhhh,iya silahkan masuk kak."


Cinta lalu duduk di sisi tempat tidur di ikuti oleh Ratna yang duduk di sebelahnya. "Kamu sudah makan,Cin?"


Cinta menggelengkan kepalanya. "Belum,kak. Belum lapar."


"Hhhmm. Kamu kenapa di kamar? Aaron nyariin tuh."


"Hhmm,Cinta ngantuk." Jawab Cinta asal.


"Ngantuk?"


"Hhhmm,kakak makanlah. Kasihan dede bayinya lapar."


"Hhmm,makan bareng kakak yuk."


"Kakak makan bareng suami kakak saja. Mungkin dia ingin makan bareng sama kakak."


"Hhh,iya nanti kakak makan bareng suami kakak. Kamu ajak Aaron makan ya,dia mau makan nunguin kamu tuh."


"Tapi Cinta belum lapar."


"Cinta marah sama Aaron apa marah sama kakak?"


"Cinta tidak sedang marah sama siapa-siapa kok."

__ADS_1


"Kakak tau,pasti Cinta menyimpan sesuatu. Tadi pagi ceria banget kok."


"Bukan Cinta yang menyimpan sesuatu tapi orang lain yang menyimpan sesuatu dari Cinta." Tegas Cinta.


"Apa,Cin? Kalau kakak ada salah atau membuat kamu kesal,marah,kakak tidak bermaksud seperti itu."


"Kan Cinta sudah bilang kalau Cinta tidak sedang marah sama siapapun."


"Hhhmmm,kamu membuat kakak sedih." Ratna memasang wajah sedihnya.


"Kenapa kakak mesti sedih. Cinta tidak apa-apa kak."


"Kalau kamu tidak apa-apa,yuk ikut kakak turun. Kita makan bareng untuk terakhir."


"Kok terakhir?"


"Mulai hari ini,kakak tinggal bersama suami kakak di rumahnya." Terang Ratna.


"Kenapa tidak tinggal di sini saja?"


"Kakak kan sudah menikah,punya suami. Jadi kakak akan tinggal bersama suami kakak. Sama seperti mama Siti,tinggal di rumah papa Cinta."


"Hhhmm,begitu."


"Iya. Yuk temani kakak makan."


"Lalu suami kakak makan sama siapa?"


"Dia sedang tidur."


"Apa? Kok tidur sih."


"Mungkin dia capek,Cin."


"Hhh,baiklah."


"Kita makan bareng ya!" Bujuk Ratna.


"hjj,iya deh."


Cinta pun mau mengikuti Ratna.


Mereka memdekati meja yang masih tersedia hidangannya. Tak lama Aaron menyusul.


"Cin? Kamu dari mana?"


Cinta menatap Aaron tanpa ekspresi.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya baik like,komen gift atau kalau mau juga vote. Terimakasih. 😍😍😍


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


1700


__ADS_2