
Siti dan Rey sedang dalam perjalanan pulang dari kantor. Mereka mampir ke kafe karena Siti ingin makan baso besar.
"Kamu jangan sering-sering makan seperti ini yank,sambelnya terlalu banyak!" Protes Rey melihat istrinya menuangkan banyak sambel ke mangkok basonya.
"Sudah lama tidak makan begini,mas! Di desa malah tidak pernah kan!" Siti membela diri.
Hhhh. Rey hanya bisa menghela nafas.
Sampai di rumah,sudah ada mama dan papanya yang menunggu di ruang keluarga.
"Siti. . .!" Panggil mama.
Siti mendekati mertuanya lalu ikut duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. "Iya ma."
"Bagaimana kandungan kamu? Selama di desa apa kamu periksakan?"
"Hmm,belum sempat ma!" Ucap Siti takut-takut mamanya marah.
"Kalau begitu nanti sore saja sama mama periksa kandungan kamu ke dokter Laily!"
"Hmm,iya ma."
"Ya sudah istirahatlah dulu! Jangan capek-capek!" Titah mama.
Siti pun lalu pamit ke kamarnya di ikuti Rey.
"Mas nanti sore ikut juga kan ke dokter Layli?" Tanya Siti saat mereka sudah di dalam kamar.
"Iya donk! Mas kan ingin tahu juga bagaimana perkembangan calon anak kita!" Jawab Rey.
Siti tersenyum sambil mengusap perutnya yang mulai sedikit menonjol.
***
Siti bersama suami dan mama mertuanya sedang menunggu di ruang tunggu sebuah klinik bersalin langganan mereka. Tidak perlu menunggu lama,nama Siti pun di panggil.
Untuk kedua kalinya mereka menatap dengan takjub janin yang ada di layar monitor.
"Usia janinnya sudah masuk dua belas minggu ya! Ini minggu terakhir trimester pertama. Janin sudah terbentuk sempurna. Bisa dengar ya suara detak jantungnya?" Terang dokter Layli. Rey hanya bisa memandang dengan takjub sambil mengusap pucuk kepala istrinya yang sama-sama takjub melihat buah hati mereka.
"Sehat semua ya dok?" Tanya mama.
"Alhamdulillah semua sehat!" Jawab dokter Layli. "Saya kasih resep vitamin lagi ya." Ucapnya kemudian.
Mama tersenyum bahagia. "Alhamdulillah!" Ucapnya.
Pulang dari klinik,hari sudah hampir maghrib jadi mereka langsung pulang. "Susu hamil kamu masih ada kan,Siti?" Tanya mama saat mereka sudah sampai di rumah.
"Masih ada dua kotak lagi ma." Jawab Siti.
__ADS_1
"Oh iya,jangan lupa tiap hari di minum!" Titah mama.
***
Satu bulan berlalu begitu saja. Tak terasa kandungan Siti memasuki minggu ke enambelas yang artinya telah empat bulan janin yang di kandung Siti. Mama berencana mengadakan syukuran empat bulanan beberapa hari kedepan. Dan mama papa akan mengundang tetangga,sodara dan juga kenalan mereka.
"Mas,kira-kira undangannya ada berapa ya? Mas juga mengundang kenalan mas?" Tanya Siti.
"Hmm,mas tidak mengundang siapa-siapa. Semua undangan mama dan papa yang urus. Memangnya kenapa? Ada yang ingin kamu undang juga?"
"Saya undang bu Ranti sama karyawannya boleh kan mas?"
"Tentu saja boleh sayang!"
"Hmm,saya juga boleh undang keluarga paman Supri mas?" Tanya Siti takut-takut.
"Kamu mau undang bibi kamu juga?" Tanya Rey dengan nada mulai tinggi membuat Siti kaget.
"Hmm,ya sudah mas kalau tidak boleh." Jawab Siti lirih.
Hhh! Rey menghela nafas berat. Dia mendekat ke istrinya lalu duduk bersebelahan. "Kamu tidak lupa kan apa yang telah di lakukan bibi kamu?" Tanya Rey lembut.
Siti mengangguk. "Kalau paman Supri juga tidak boleh mas?"
"Hmm,ya sudah tidak apa-apa kamu undang paman!"
"Kalau Rania mas? Saya kangen Rania mas. Dia baik kok selama saya tinggal di rumah paman." Siti memohon.
"Terimakasih mas!" Ucapnya.
"Nih!" Titah Rey sambil menunjuk bibirnya.
"Iiihh mas ini,mesti deh!" Siti cemberut tapi tetap menuruti mau suaminya." Muah!"
Dari ciuman biasa hingga berlanjut. . .
***
Hari yang di nantikan pun tiba. Siti sedang di kamarnya dengan di bantu satu orang penata rias dan busana untuk mempercantik calon ibu itu. Mertuanya telah mengatur rentetan acara empat bulanan kehamilan Siti dengan di bantu sodara. Siti nantinya hanya menurut saja apa yang harus di lakukan.
Semua tamu undangan telah menunggu. Siti merasakan gugup,jantungnya berdebar-debar. Acara empat bulanan mengundang tamu sebanyak ini. Batinnya. Siti pun tidak berani menatap satu persatu tamu yang hadir. Tiba-tiba manik matanya menangkap sosok cantik yang selama ini membuatnya terbakar cemburu walaupun sebenarnya itu hanya perasaannya saja. Kenapa mas mengundang Cyndia tanpa memberitahu dulu. Batinnya.
Rangkaian acara demi acara telah berjalan dengan lancar. Siti sedikit melupakan sosok yang membuatnya cemburu itu saat acara berlangsung. Dan dia tidak dapat menyembunyikan senyum bahagianya. Terlebih suaminya selalu berada di dekatnya dan tanpa malu menunjukkan kemesraannya di depan semua orang.
"Ooh baru empat bulan ternyata ya!"
"Perutnya masih belum terlalu kelihatan."
"Menantumu makin cantik saja ya jeng?"
__ADS_1
"Biasa aura ibu hamil!"
"Ohh iya bener-bener!"
Celotehan ibu-ibu kenalan mama mertuanya yang hanya di jawab senyuman oleh beliau.
Banyak komentar positif yang di terima Siti. Apalagi saat pernikahan mereka banyak yang menganggap jika Rey menikahi Siti karena telah hamil. Tapi ternyata anggapan itu salah besar. Siti hamil empat bulan di saat usia pernikahan mereka hampir enam bulan. Itu pun karena Rey yang tidak juga mau menyentuhnya di bulan-bulan awal pernikahan mereka.
Acara utama pun telah selesai dengan lancar. Kini saatnya para tamu menikmati hidangan yang telah tersedia.
"Mbak Siti!" Panggil seseorang yang ternyata adalah Rania,anak dari pamannya Supri.
"Rania!" Seru Siti. Mereka pun berpelukan.
"Sama siapa kesini? Papa kamu mana?" Tanya Siti.
"Hmm,papa sedang ada pekerjaan mbak jadi tidak bisa datang. Titip salam saja buat mbak. Moga kehamilan mbak lancar sampai waktu melahirkan."
"Aamiin!"
Di saat Siti sedang asik ngobrol dengan Rania,tiba-tiba manik matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya sesak. Di sudut ruangan,suaminya sedang memberikan segelas air minum pada mantan kekasihnya yang sedang sibuk menggendong bayinya yang tengah rewel. Entah dimana suami mantannya itu.
Mata Siti mulai terasa panas hingga dia tidak fokus dengan apa yang sedang di bicarakan Rania.
"Mbak? Mbak Siti kenapa?" Tanya Rania khawatir melihat wajah Siti yang terlihat pucat
"Hmm,mbak tidak apa-apa kok Rania!" Siti berbohong. "Rania,mbak lelah,mbak ingin ke kamar." Ucap Siti.
"Rania antar ya mbak?" Tawar Rania yang di beri anggukan Siti.
Mereka lalu naik ke atas menuju kamar Siti.
Wah,kamar mbak Siti sangat mewah. Batin Rania.
"Mbak,Rania pulang ya! Mbak istirahat saja!" Pamit Rania.
"Hmm,iya Rania. Terimakasih kamu mau datang"
"Kapan-kapan mbak mainlah ke rumah!" Pinta Rania.
"Iya insya Allah Rania!"
Setelah Rania turun,Siti tidak bisa lagi menahan isak tangisnya. Setelah beberapa saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Lalu,ceklek. Pintu kamar terbuka dan terdengar seseorang sedang berjalan ke arahnya.
"Sayang,Rania bilang kamu kelelahan ya?" Rey masuk ke kamar dan kaget mendengar suara isak tangis. Dia segera mendekat ke arah istrinya yang tengah berbaring dengan membelakanginya.
"Sayang,kamu kenapa?" Tanya Rey seraya meraih bahu Siti.
NEXT
__ADS_1
130521/04.10