Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 66 ( S2 )


__ADS_3

Dinda dan Seno baru selesai sholat maghrib. Dinda duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut panjangnya. Sesekali dia mengusap-usap pipinya sendiri.


"Sudah cantik kok,mas saja makin cinta!" Goda Seno.


"Sepertinya wajahku sedikit pucat ya mas?" Tanya Dinda.


"Iyalah,kan kamu sedang hamil,yank!" Jawab Seno.


"Aku juga sekarang sering di rumah terus sih. Lama-lama bosan,mas!" Keluh Dinda.


"Mas kan sekarang pulang cepat terus yank."


"Hmm,iya sih. Maksud aku tuh kalau pagi tidak ada yang di kerjakan itu rasanya sangat membosankan,mas!"


"Hmm,jadi mau bagaimana?"


"Sesekali boleh donk,aku ikut mas kerja?"


Hhhh. Seno menghela nafasnya berat. Dia juga bingung. Mau ajak istrinya kerja tapi dia khawatir ada apa-apa di jalan. Takut kejadian waktu itu terulang lagi. "Hmm,baiklah. Sesekali ya?"


Dinda berdiri lalu menghampiri suaminya duduk di sisi tempat tidur. "Beneran,mas?" Tanya Dinda dengan wajah semringah. Seno menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih ya mas!" Dinda langsung memeluk suaminya.


"Tapi bukan besok ya!" Ucap Seno lagi.


"Hmm,iya deh." Dinda melepaskan pelukannya.


"Kamu sudah laper belum? Hari ini sudah makan berapa kali?"


"Aku sudah makan tiga kali,mas. Pagi,siang sama tadi sore sebelum mas pulang kerja. Hmm,mas kok aku tiba-tiba ingin makan pecel lele yang di pinggir jalan itu loh mas. Kalau lihat orang makan di sana sepertinya enak."


"Apa? Pecel lele pinggir jalan?" Tanya Seno kaget dan heran. Sejak kapan istrinya itu suka makan di sana. Batinnya.


"Iya mas. Memangnya kenapa?"


"Sejak kapan kamu suka makan di sana,hmm?" Tanya Seno.


"Ya belum pernah sih. Aku hanya ingin coba,mas." Jawab Dinda.


"Hmm,"


"Mas,tidak masalah kan makan di tempat seperti itu? Banyak kok yang suka makan di sana?"


"Bukan masalah tempatnya,yank. Ini sudah malam."


"Hmm,kan memang bukanya malam hari,mas." Dinda mulai cemberut.


"Hhh,mas khawatir yank!" Tegas Seno.


Dinda langsung berbaring,meringkuk membelakangi suaminya. "Kenapa sekarang hidup jadi tidak tenang?" Gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Seno.


"Hmm,mas hanya khawatirin kamu! Mas yang beli,kamu tunggu di rumah ya?" Tanya Seno yang tidak ingin membuat sedih istrinya.


"Aku mau makan sama mas!"


"Iya,kita makan berdua tapi di rumah saja. Bagaimana,hmm?"


"Hmm,mas. Rasanya pasti beda kalau di bawa pulang!"


"Mas suapin pasti rasanya makin enak! Kamu kan malu kalau di suapin di tempat umum,hmm?" Seno berusaha membujuk istrinya.


Dinda kembali duduk menghadap suaminya. Mereka saling bersitatap. "Hmm,iya deh. Makan di kamar,mas suapin sampai habis!" Ucap Dinda.


"Iya,istriku sayang!" Seno mencubit mesra pipi Dinda.


"Hhm,ngerayu!"


"Ngerayu istri sendiri dapat pahala!"


"Hmm," Wajah Dinda memerah.


"Mas pergi sekarang ya?"


"Hmm,mas. Mas hati-hati di jalan ya? Minta temani pak Udin saja ya?"

__ADS_1


"Pak Udin kan jaga,yank." Tolak Seno.


"Hmm,sebentar saja. Aku yang bilang ya." Dinda segera bangun.


Mereka lalu turun ke bawah. Di bawah tidak ada siapa-siapa.


"Mami sama papi mana yank,kok sepi?" Tanya Seno.


"Mungkin di kamar,mas. Aku lihat dulu ya." Jawab Dinda.


Dinda lalu pergi ke kamar orang tuanya sementara Seno menunggu di ruang keluarga.


Beberapa menit kemudian. "Mami belum pulang mas. Yuk,aku bilang sama pak Udin dulu."


Dinda dan Seno menemui pak Udin yang sedang berjaga.


"Pak." Sapa Dinda.


Pak Udin menghampiri mereka." Iya non."


"Pak,tolong temani mas Seno beli pecel lele ya." Pinta Dinda.


"Hmm,baik non. Yang jaga rumah siapa,non?" Tanya pak Udin.


"Hmm,tidak usah di jaga dulu tidak apa-apa pak." Jawab Dinda.


"Tapi,yank? Di rumah hanya ada kamu sama bibi dan anaknya saja." Seno ragu.


"Tidak apa-apa sebentar saja mas. Langsung pulang ya."


"Hmm,pagarnya kamu kunci ya!" Titah Seno.


"Iya sayang. Sudah sana,mas pergi sekarang,bawa mobil saja."


"Hmm,iya."


Setelah Dinda mengunci pagar dan masuk ke dalam rumah,Seno dan pak Udin segera pergi mencari penjual pecel lele.


***


Tidak sampai satu jam tiba-tiba. Tiiinn. . .Terdengar bunyi klakson berkali-kali di luar pagar.


Dinda bangkit dari duduknya.


"Non,biar bibi yang bukain." Ucap bibi,istri dari pak Udin.


"Hhmm,iya bi. Lihat dulu siapa yang datang jangan langsung di buka ya bi."


"Baik,non."


Bibi segera keluar rumah sementara Dinda melihat dari balik pintu.


"Hhh,alhamdulillah." Ucapnya merasa lega melihat mobil suaminya yang datang. Dinda lalu duduk menunggu di ruang tamu.


"Assalammualaikum." Ucap salam Seno.


"Wa alaikumsalam." Sahut Dinda.


"Yank,mas cuci tangan dulu ya." Seno lalu menuju dapur. Bungkusan berisi pecel lele dia letakkan di meja makan.


Dinda mengambil dua bungkus untuk mereka berdua.


"Mas,banyak banget belinya?"


"Tidak apa-apa yank. Kasihin ke pak Udin juga." Titah Seno. " Loh yank,mas tidak beli buat mami sama papi."


"Hmm,iya mas. Mami sama papi tidak makan goreng-gorengan,mas. Jadi tidak mungkin mau pecel lele." Terang ฤŽinda.


"Oh iya ya. Yuk kita makan di atas. Nanti si kecil kelaparan kalau mamanya belum makan." Ajak Seno.


"Iya mas."


Setelah memberikan beberapa bungkus untuk pak Udin sekeluarga,Dinda dan Seno naik ke atas ke kamar mereka.


Dinda meletakkan bungkusan pecel lele ke atas meja di samping sofa. Mereka lalu duduk di sana.

__ADS_1


"Kelihatannya enak ya mas?" Ucap Dinda antusias.


"Iya yank,mas tau dari pak Udin katanya memang di sana yang paling enak dan laris." Terang Seno.


"Iya mas. Aku juga sering lihat di sana ramai pembeli."


"Nih,aaa. . .!" Seno mulai menyuapi istrinya.


"Mmm. . " Dinda mengacungkan jempolnya sambil menganggukkan kepala.


"Enak ya?"


"Mas makan juga." Pinta Dinda.


Seno tersenyum lalu ikut makan.


Tidak sampai setengah jam,dua bungkus pecel lele sudah mereka habiskan berdua.


"Kenyang belum,yank? Kalau belum kita makan lagi di bawah." Tanya Seno yang tau istrinya sejak hamil,makan lebih banyak dari biasanya.


"Hmm,sudah kenyang kok mas." Tolak Dinda lalu segera menghabiskan minumnya.


"Vitaminnya sekalian,yank biar tidak lupa." Titah Seno.


"Hmm,iya mas."


Sehabis makan,mereka menyalakan tv. Dinda bersandar di bahu kokoh suaminya sambil mengusap-usap perutnya.


"Terimakasih ya mas." Ucap Dinda.


"Iya sayang. Tapi tidak boleh sering-sering makan pecel lele ya."


"Hmm,iya mas."


"Hooaaamm!" Dinda menguap.


"Hmm,habis makan ngantuk."


"Hehee,apalagi sambil bersandar di bahu mas,makin cepat ngantuk."


"Kita sholat dulu baru tidur ya."


Dinda mengangguk.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,moga suka yaaa ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.


.


.


.


.


.


.


1919

__ADS_1


__ADS_2