
Setelah bicara berdua,Aaron akhirnya menerima keputusan Cinta. Dia berusaha mengerti dan tidak akan memaksa daripada Cinta nanti benar-benar akan menjauhinya. Kini Ratna dan Aaron sudah bersiap untuk pulang. Mereka sudah di teras menunggu mamanya Cinta datang.
"Cin,kakak masih boleh kan main ke sini?" Tanya Ratna.
"Tentu saja boleh kak." Jawab Cinta cepat.
"Hhmm,walaupun Aaron yang anter kakak?"
"Hhmm. I-iya terserah kakak." Jawab Cinta bingung.
Aaron tersenyum dalam hati. Terimakasih kak Ratna. Walau hanya melihat dari jauh pun tak mengapa. Batin Aaron.
"Loh,kok sudah mau pulang?" Tanya Siti yang sudah berdiri di antara mereka.
"Iya,bu. Sudah sore. Takutnya bang Romi nungguin."
"Iya sudah. Kalian hati-hati di jalan ya." Ucap Siti seraya mengedarkan pandangannya ke halaman rumah mereka. "Loh,mobil Aaron mana?" Tanya Siti heran.
"Kita naik taxi,bu. Tadi ke kantor bareng jadi mobil masih di tinggal di kantor." Jawab Aaron.
Siti menganggukkan kepalanya. "Oohh begitu."
"Iya,bu. Kita pulang dulu. Assalammu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Sahut Siti.
Ratna dan Aaron pun segera pulang karena taxi yang Aaron pesan sudah datang setelah sebelumnya Aaron menoleh sekilas ke arah Cinta yang juga tengah melihat ke arahnya.
"Aaron,kamu sabar ya. Dia masih sangat muda. Kakak mengerti ketakutan Cinta. Kamu mengerti kan?"
"Iya,kak. Mungkin Cinta takut aku akan merusaknya!" Sahut Aaron lirih.
"Hhh,bukan begitu. Dia juga takut pada dirinya sendiri. Takut kalau sampai kalian lupa diri. Apa kamu tidak merasa kalau perasaan kalian sama?"
"Entahlah kak. Terkadang aku merasa kalau perasaan kami sama tapi terkadang aku merasa kalau dia tidak memiliki perasaan yang sama dengan ku."
"Biar waktu yang jawab ya. Semoga kalian berjodoh kelak."
"Hhh,aamiin."
"Kita langsung pulang ya kok lewat sini?" Tanya Siti heran melihat jalan yang mereka lalui.
"Iya kak,kita langsung pulang." Tegas Aaron.
"Loh,nanti bang Romi nungguin kakak. Bisa-bisa dia marah lagi." Ucap Ratna khawatir.
"Bang Romi sudah sampai rumah,kak."
"A-apa?" Ratna langsung kaget.
__ADS_1
"Sudah,kakak tidak usah khawatir." Ucap Aaron berusaha menenangkan Ratna yang mulai terlihat gelisah.
Tak terasa mobil taxi online yang mereka tumpangi sudah tiba dan berhenti di depan pagar rumah mewah Aaron. Ratna ragu-ragu untuk turun. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Bang Romi pasti marah banget. Batinnya.
"Kak,ayo turun!" Ajak Aaron saat melihat Ratna yang masih belum bergerak turun.
"Hhmm,i-ya." Ratna turun dari mobil seraya matanya menatap nanar rumah mewah di depannya.
"Kakak tidak usah khawatir,aku akan jelasin sama bang Romi." Bisik Aaron saat mereka melangkahkan kakinya di halaman rumah.
Di teras ada pakde Arman sedang ngobrol sama bibi yang sedang menyiram bunga.
Aaron mengantar Ratna sampai ke pintu kamar. Tok tok. Aaron mengetuk pintu lalu meraih handle pintu. Ceklek. Pintu kamar terbuka.
"Ayo,kak." Ajak Aaron.
Di dalam kamar,terlihat Romi sedang duduk di kursi rodanya yang menghadap tv.
"Assalammu'alaikum." Ucap Ratna setengah berbisik.
"Bang." Sapa Aaron lalu duduk di sofa di samping Romi. Romi hanya menoleh sekilas.
"Maaf bang,aku tadi ajak kak Ratna ke rumah Cinta. Kalau aku datang sendiri,dia tidak akan mau ketemu aku. Tolong jangan abang marahi kakakku itu ya." Terang Aaron lalu bangkit dari duduknya. "Aku ke kamarku dulu." Tambahnya kemudian segera berlalu meninggalkan Ratna dan Romi yang masih belum saling bicara.
Ceklek. Suara pintu yang di tutup. Ratna masih berdiri mematung dengan kepala menunduk. "Hhmm,bang. Maaf." Ucapnya pelan.
"Àku sudah dari tadi mau mandi!" Ucap Romi dengan nada tinggi.
"Hmm,abang mau mandi di bathup apa pakai shower?" Tanya Ratna.
"Bathup!"
"Hhmm,baiklah." Ratna lalu mengisi air dan menuangkan sabun ke dalam bathup. Setelah siap,Ratna membukakan pakaian Romi lalu membantunya masuk ke dalam bathup.
"Keluar!" Titah Romi kemudian.
"I-iya bang." Sahut Ratna lalu buru-buru keluar dari kamar mandi.
***
Dua minggu sudah Ratna menjadi istri Romi. Kegiatan setiap harinya yang selalu sama namun dengan sabar dia jalani berharap suaminya itu sedikit berubah menjadi lebih lembut walau tidak mencintainya.
Pagi hari ini Ratna bangun kesiangan. Biasanya dia akan bangun tepat azan subuh tapi hari ini dia terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul lima lebih. Romi terlihat tidak sabar menunggu Ratna yang sedang merapikan alat sholatnya.
"Kamu lambat sekali sih!" Ucap Romi dengan nada tinggi.
"I-iya maaf bang." Sahut Ratna. Ratna lalu membantu Romi untuk naik ke kursi Rodanya.
Tapi belum sempat Romi duduk di kursi roda,tiba-tiba Ratna merasakan perutnya keram yang makin lama makin terasa hingga tanpa sadar satu tangannya yang masih menopang tubuh Romi dia alihkan untuk memegangi perutnya.
__ADS_1
Karena hilang keseimbangan,mereka akhirnya jatuh berdua dengan Ratna menimpa tubuh Romi yang tidak berpegangan apapun selain di bahu Ratna.
"Aaakkhh!" Teriak Ratna menahan sakit di perutnya dan juga sekujur tubuhnya.
"Ratnaa. .!!" Teriak Romi seraya memegangi area pinggangnya yang terasa sakit. "Kamu mau bunuh aku ya?" Romi begitu emosi pada istrinya itu.
Ratna hanya bisa meringis kesakitan tanpa mampu bicara apa-apa. Dia berusaha untuk bisa duduk sambil memegangi perutnya.
"Ratna! Ayo bantu aku!" Teriak Romi lagi tanpa menyadari perubahan di wajah istrinya itu.
"Bang. . ." Ucap Ratna hampir tidak terdengar. Beberapa detik kemudian Ratna sudah terkulai di samping Romi.
Romi langsung kaget. "Ratna!" Dia mencoba untuk membangunkan Ratna dengan menggoyang-goyangkan bahu Ratna tapi istrinya itu tidak bereaksi apa-apa.
Tiba-tiba Romi melihat ada sedikit darah yang mengalir di lantai di bawah tubuh Ratna.
"Darah? Apa itu darah?" Gumam Romi dengan wajah bingung dan mulai panik.
"Ratna! Bangun Ratna!" Panggil Romi lagi. Kenapa wajahnya pucat sekali. Batinnya.
Romi lalu mengulurkan tangannya ke lantai yang ada noda darahnya. "I-ini beneran darah." Romi mengusap wajahnya kasar.
"Aaron! Aaron!" Romi berteriak memanggil adiknya berkali-kali tapi tentu saja tidak akan terdengar oleh Aaron karena Aaron tidur di kamar atas sedangkan Romi di kamar bawah.
Romi berusaha menggeser tubuhnya untuk meraih handphone Ratna yang ada di atas nakas.
"Duuhh,bagaimana ini susah sekali." Keluhnya tidak sabar.
Setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya tangannya bisa menggapai handphone milik Ratna lalu buru-buru menghubungi Aaron.
Tut tuuuttt. Berkali-kali Romi mencoba menghubungi adiknya itu. Setelah beberapa menit barulah Aaron menjawab panggilan telponnya.
"Kak Rat. . ."
"Aaron,cepat ke kamar abang. Sekarang!" Romi langsung memotong ucapan Aaron.
"Abang? Ada apa?" Aaron kaget dan khawatir.
"Ratna berdarah! Ayo cepat ke kamar abang sekarang!" Romi langsung memutuskan panggilan telponnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
19