
Dengan menahan marah,Anita segera meninggalkan ruangan Seno.
"Cinta,sudah berapa kali paman bilang sama kamu? Panggil aku paman! Atau om,atau apalah tapi jangan panggil aku 'Seno'. Itu tidak sopan. Aku ini paman kamu!" Tegas Seno.
"Hmm,kalau ada orang lain sih oke saja tapi kalau lagi berdua,Cinta tidak mau!"
"Cinta!"
"Kamu itu bukan paman aku. Paman dari mana?"
"Hhh,aku adalah adik kandung dari mama kamu! Apa kamu lupa?"
"Tapi kita tidak punya hubungan darah kan?" Cinta masih bersikukuh.
"Dasar keras kepala!"
"Kita makan siang,yuk! Cinta laper." Ajak Cinta yang tidak peduli kekesalan Seno.
"Paman sudah makan siang tadi." Tolak Seno.
"Iihh,sejak kapan jam segini kamu sudah makan siang? Tidak boleh bohong!" Protes gadis itu.
"Buat apa paman bohong? Tidak ada manfaatnya."
"Hhh,kamu makan siang sama perempuan tadi? Kamu ada hubungan sama dia?" Cecar Cinta sambil menatap lekat le arah Seno.
"Paman banyak pekerjaan,Cin. Paman sibuk,mengertilah." Ucap Seno yang mulai memeriksa berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.
"Ya sudah,Cinta tidak mau makan kalau begitu!" Cinta mulai merajuk.
"Paman tidak suka kalau kamu begitu!" Tegas Seno.
"Makanya temani Cinta makan!"
Seno mengusap kasar wajahnya. Sulit sekali menolak keinginan keponakannya. "Oke,ada syaratnya!"
"Apa?" Cinta kembali bersemangat.
"Panggil aku paman,atau om. Apapun terserah kamu asal jangan panggil 'Seno'. Kamu paham?"
Cinta tersenyum." Terserah kan? Kalau begitu Cinta panggil,Beib!"
"Cinta! Kamu jangan buat paman makin kesal!"
"Kenapa kalau sama Cinta selalu kesal? Cinta salah apa coba?"
"Bersikaplah seperti paman dan keponakan! Baru paman tidak akan merasa kesal sama kamu!"
"Huuhh. . ."
"Oh iya,di sekolah kamu paman pernah lihat ada beberapa teman sekolah kamu yang laki-laki wajahnya tampan-tampan. Jauh lebih tampan di banding papa dan ayah kamu. Apalagi di bandingkan sama paman. Jauh sekali. Teman kamu lebih muda dan. . ."
"Stop! Kenapa selalu mengatakan itu?" Potong Cinta sambil berkacak pinggang. "Cinta sukanya sama kamu!" Ucap Cinta kesal sambil berjalan ke sofa kemudian melemparkan tas sekolahnya dan duduk dengan bertopang dagu.
"Terserah kamu. Bisa diam sebentar kan? Paman mau nelpon orang." Titah Seno kemudian mulai menelpon seseorang.
"Menyebalkan." Gerutu Cinta lalu menaikkan kedua kakinya ke atas sofa. Dia terus menatap pamannya yang sedang sibuk berbicara di telpon.
Selesai menelpon,Seno memeriksa kembali berkas yang sempat dia baca sebelum kedatangan Anita.
"Cinta lapar." Rengek Cinta.
__ADS_1
Seno menoleh. "Beli di kantin saja biar Adi yang beliin. Kamu mau pesan apa."
"Cinta maunya sama kamu!"
"Paman! Kalau Cinta tetap tidak mau panggil 'paman' ya sudah,paman juga tidak mau menuruti mau kamu!" Tegas Seno.
"Hmm,ok ok Cinta panggil 'om'." Ucapnya sebal.
"Bagus!" Sahut Seno.
"Jadi donk temani Cinta makan?"
"Om sibuk,kamu lihat kan? Kalau tidak selesai sampai papa kamu minta,kamu mau tanggung jawab?" Ucap Seno tanpa menoleh.
"Hmm,tadi bilangnya kalau Cinta mau panggil 'om',mau turutin maunya Cinta."
Seno meletakkan bollpoin yang sedari tadi di pegangnya. "Om temani Cinta makan di sini! Om banyak pekerjaan,Cin. . ."
"Hmm,ok. Tapi besok temani Cinta makan di kafe yang biasa." Todongnya.
"Om besok ada urusan di luar. Lain kali saja ya!"
Cinta cemberut. Dia mengambil tasnya kemudian berdiri lalu berjalan ke arah pintu keluar.
Seno yang menyadari Cinta mau keluar dari ruangannya hanya bisa tersenyum lalu menggelengkan kepala. Entah sejak kapan gadis yang baru beranjak remaja itu mulai tidak mau lagi menganggapnya 'paman'.
Cinta melangkahkan kakinya keruangan yang ada di sebelah ruangan Seno,ruangan papanya. Cinta mengetuk pintu lalu langsung masuk.
"Cinta?" Sapa Rey saat anak gadisnya muncul di depan pintu.
Cinta menoleh sebentar. "Ya pa." Sahutnya malas. Dia lalu duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah di tekuk.
"Papa,Cinta boleh menginap di rumah papa malam ini?"
"Tentu saja boleh sayang? Sejak kapan kamu menginap di rumah papa harus ijin dulu,hmm? Putri pasti senang kamu datang." Terang Rey.
"Papa pulang jam berapa?"
"Mungkin sore,nak. Kamu bareng sama papa kan?"
"Kalau se. . Hmm,om Seno pulang jam berapa,pa?"
"Om Seno,papa tidak tahu." Jawab Rey sambil menggeleng.
Hhh. Cinta menarik nafasnya kasar. Dia sangat kesal hari ini. Pertama,karena wanita yang di temuinya di ruangan omnya. Kedua,karena omnya itu tidak mau menemaninya makan siang di restoran langganan mereka.
***
Mobil Rey sudah tiba di halaman rumahnya. Cinta segera turun,tanpa menunggu lagi dia langsung masuk ke rumah.
"Kak Cinta!" Seru Putri dari atas tangga. Gadis kecil itu segera turun kebawah menyambut kakaknya.
"Dek,pelan-pelan turunnya!" Titah Cinta.
Putri langsung memeluk Cinta. "Kakak kok sudah lama tidak main ke sini?"
"Hmm,kakak sibuk dek. Kakak kan baru saja masuk sekolah menengah atas. Sama seperti kamu yang baru saja masuk sekolah dasar." Terang Cinta.
"Iya kak." Mereka lalu duduk di ruang tamu.
"Mama sama adek Putra mana? Oma,opa,hmm?"
__ADS_1
"Mama di kamarnya,kalau adek Putra ikut oma dan opa pergi ke xxmart." Jawab Putri.
Rey masuk ke dalam rumah. "Papa." Seru Putri. Gadis itu langsung memeluk dan mencium punggung tangan papanya.
"Sayang,mama mana? Kok sepi?" Tanya Rey sambil mengedarkan pandangannya ke setiap ruangan.
"Mama ada di kamar,adek Putra ikut oma sama opa ke xxmart,pa."Jawab Putri.
"Yuk ke atas!" Ajak Rey. "Kamu langsung mandi,Cin!" Titah Rey.
"Iya pa." Jawab Cinta.
Mereka lalu sama-sama naik ke atas. Rey masuk ke kamarnya sedangkan Cinta masuk kamarnya yang berada di depan kamar orangtuanya di ikuti oleh Putri.
"Kak Cinta menginap di sini kan?" Tanya Putri.
"Kakak belum tau,dek." Jawab Cinta. Gadis itu langsung meletakkan tas sekolahnya di nakas. "Kakak mandi dulu,ya. Jangan kemana-mana." Pamitnya yang langsung masuk ke kamar mandi.
"Iya kak." Jawab Cinta.
Setelah mandi,Cinta dan Putri duduk di kasur sambil bercerita apa saja sampai menjelang makan malam.
Di kamar Rey. Siti sedang menyiapkan pakaian santai untuk suaminya. Dia menunggu suaminya selesai mandi sambil nonton tv.
"Yank,mana pakaian mas?" Tanya Rey yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Hmm,mas. ini." Ucap Siti yang langsung memberikan pakaian untuk suaminya.
"Yank,anak-anak sudah besar-besar. Sudah pada sekolah." Ucap Rey sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Alhamdulillah ya mas. Anak-anak tumbuh sehat. Terutama Putra,aku tidak menyangka dia bisa melalui masa-masa beratnya walau terkadang dia masih suka sesak nafas." Terang Siti.
"Iya,yank. Kapan Putra harus kontrol lagi?"
"Sekarang kan hanya enam bulan sekali,mas. Jadi ya empat bulan lagi." Jawab Siti.
"Hmm,sepertinya Putra sudah bisa di kasih adik." Ucap Rey sambil menggoda istrinya.
"Iiiihh,istrimu ini sudah tua. Malu ah kalau hamil lagi!" Tolak Siti.
"Setua apa sih istri mas ini,hmm?" Rey membalik badan istrinya agar mereka bisa saling berhadapan. Mereka saling memandang dengan tatapan mesra. Rey menundukkan kepalanya agar sejajar dengan istrinya yang hanya setinggi bahunya itu. Baru saja mereka saling menenggelamkan wajah mereka. . .
Ceklek. "Mama. . . !"
.
.
.
.
NEXT
.
.
.
0507/1818
__ADS_1