Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 6


__ADS_3

Siti dan Reynan sudah di dalam mobil. Mereka tidak ada yang bicara. Siti ingin memulai obrolan tapi terasa sungkan. Di liriknya Reynan seperti hanya fokus ke jalanan. Mungkinkah dia kesal karena harus mengantar saya? Siti hanya bisa bertanya dalam hati. Pria ini sungguh dingin. Tapi jika dia diam saja bagaimana pria ini akan tahu rumahnya.


"Hmm,pak Reynan,saya turun di sini saja!" Akhirnya Siti memberanikan diri bertanya. Tapi lalu dia tersadar dengan ucapan nya sendiri. Bagaimana jika Reynan benar-benar akan menurunkan nya di jalan? Sementara dia juga tidak mengerti jalan. Yang dia ingat hanya jalan masuk ke komplek perumahan paman nya saja. Siti sungguh dilema.


"Saya antarkan sampai rumah!" Jawab Rey datar.


Siti bersorak dalam hati. Bersyukur pria di sampingnya ini masih punya hati tidak menurunkan nya di jalan. Walau sikap nya dingin tapi dia berhati baik.


Kembali hening,hanya deru mobil yang terdengar. Siti tidak menyangka jika dia bisa naik mobil semewah ini.


Setelah masuk ke dalam komplek perumahan. " "Rumah nya blok berapa? Nomor rumah nya berapa?" Rey bertanya tanpa ekspresi. Datar dan dingin. Itu yang Siti rasakan. Sungguh terpaksakah dia mengantar? Siti bertanya dalam hati. Akhirnya Siti memberitahukan di mana letak rumah nya.


Situasi rumah sangat lengang seperti tidak berpenghuni. Siti turun dari mobil setelah mengucapkan terimakasih.


Siti berjalan pelan ke rumah. Dia kembali menoleh ke arah mobil Rey. Ternyata pria itu masih di sana. Mungkin menunggu sampai Siti masuk ke rumah. Pikir Siti.


Tok tok. . .


Siti mengetuk pintu. Sepi. Siti coba ketuk lagi. Setelah lebih dari tiga kali,baru ada yang membukakan pintu.


Ceklek!


"Mbak Siti. . .!" Seru seseorang dari balik pintu. Rania. Gadis itu langsung memeluk Siti erat-erat


"Maafin Rania mbak! Rania tidak bermaksud meninggalkan mbak!" Rania menangis penuh penyesalan tanpa melepaskan pelukan nya.


"Iya tidak apa-apa Rania! Sudah tidak usah menangis!" Hibur Siti. "Ayo masuk,kita cerita di dalam saja!" Ajak Siti.


Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Siti segera menutup pintu namun sebelum nya dia melihat ke arah mobil Reynan,mobil itu baru saja pergi. Hmm,dia pergi setelah memastikan saya benar-benar masuk ke rumah. Batin Siti. Dia tersenyum.


"Mbak,kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Rania yang heran melihat Siti.


"Tidak apa-apa Rania!" Jawab Siti singkat.


Mereka lalu duduk di depan tv,di mana Siti biasa tidur. "Mbak,tidur di kamar Rania saja yuk!" Ajak Rania. Dia menarik tangan Siti.

__ADS_1


"Tidak usah Rania! Mbak tidak masalah tidur di sini!" Tolak Siti.


"Ayo mbak,kasur Rania cukup kok untuk berdua!" Rania memaksa. "Kita bisa sambil cerita!"


Paman keluar dari kamarnya. "Kamu dari mana Siti? Kenapa baru pulang?" Tanya paman khawatir.


"Mulai bertingkah kamu ya!" Bibi Rena ikut keluar dari kamarnya.


"Mama,Rania yang salah sudah meninggalkan mbak Siti di Mal sendirian! Ini juga gara-gara pak Agus itu!" Rania menimpali.


"Diam kamu! Tidak usah membela dia!" Bentak bi Rena pada Rania.


"Mama apa-apaan sih! Yang di katakan Rania itu benar! Kalau bukan karena pak Agus,mereka tidak akan terpisah! Dan Siti tidak akan pulang larut!" Paman ikut membela Siti.


"Kalian sama saja!" Bi Rena makin emosi. Dia kembali masuk ke kamar.


"Siti,tidak usah di ambil hati ucapan bibi kamu ya!" Paman menghela nafas." Bagaimana kamu bisa pulang? Paman hampir saja menyusul kamu!"


"Iya paman,Siti tidak apa-apa kok! Tadi Siti ketemu sama orang-orang baik. Siti di ajak makan lalu di antarkan pulang!" Jawab Siti.


"Pa,mbak Siti boleh kan tidur di kamar Rania? Kasian tidur di sini terus kan dingin!" Pinta Rania.


"Iya nak,papa juga mau nya begitu! Tapi mama kamu. . ." Paman mengeleng pelan.


"Biar Rania yang nanti bilang sama mama,pa! Kalau mama marah,Rania yang tanggung!" Ucap Rania meyakinkan.


"Tidak Rania,mbak tidak mau kamu bermasalah sama mama kamu! Kita tidak boleh melawan orang tua!" Tolak Siti.


"Tapi mbak,mama sudah keterlaluan! Apa salah nya mbak tidur sama Rania?"


"Ssstt tidak boleh berkata seperti itu tentang mama kamu! Ingat surga di bawah telapak kaki ibu!" Nasihat Siti.


"Iya Siti,kamu tidur di kamar Rania saja!" Tidak baik anak gadis tidur di luar kamar,sendirian lagi! Sudah sana kalian tidur!" Titah paman.


"Tapi paman?" Siti masih menolak.

__ADS_1


"Sudah sana! Rania,ajak mbak Siti ke kamar kamu!" Paman masih memaksa.


Dengan berat,Siti menurut juga perintah pamannya. Dia akhirnya ikut tidur di kamar Rania. Padahal bibi nya jelas-jelas melarang Siti ikut tidur di kamar Rania.


"Mbak Siti cerita donk,bagaimana di Mal tadi. Terus siapa yang antar mbak pulang." Rania penasaran.


Siti akhirnya bercerita tentang pertemuanya dengan gadis kecil yang bernama Cinta hingga dia bisa di antar pulang oleh papa nya Cinta.


"Jadi pria itu papa nya Cinta? Terus Cinta juga punya ayah dan punya bunda? Membingungkan ya mbak! Tapi tak apalah yang penting mbak selamat sampai rumah." Rania memeluk erat Siti.


"Iya Rania,mbak sangat bersyukur bertemu mereka. Mbak tidak bisa membayangkan bagaimana jika tidak bertemu mereka? Bagaimana mbak pulang sementara mbak tidak mengerti jalan dan juga tidak punya uang!"


"Maafin Rania mbak!" Rania kembali sedih.


"Ssstt sudah kok masih sedih! Mbak ngantuk dan capek sekali,Rania. Tidur yuk!" Ajak nya sambil menguap menahan kantuk. Rania pun mengangguk.


***


Warung sepi. Padahal hari sudah hampir siang. Hanya tadi pagi ada satu pembeli,itu pun karena langganan,anak kost yang masih sekolah yang tidak pernah memasak.


Siti melamun,apa lagi yang bisa di kerjakan selain duduk termenung. Semua pekerjaan sudah selesai dia kerjakan. Masakan pun sudah siap di etalase depan.


"Senang kamu ya warung saya sepi dan kamu bisa enak-enakan begini!" Tiba-tiba bibi datang dan marah-marah.


"Hmm,bibi. . .!" Bingung mau ngomong apa. Di jawab salah,diam pun salah kalau berurusan dengan bi Rena.


"Awas saja ya kalau sampai malam,tidak mendapatkan uang minim limaratus ribu! Tahu rasa kamu!" Berlalu sambil menggebrak meja di depan Siti.


Limaratus ribu? Tanya Siti dalam hati. Bagaimana bisa mendapat kan uang sebanyak itu dalam satu hari. Itu kan gaji satu bulan. Batin Siti.


Siti berjalan ke luar. Mata nya menatap jalanan yang sepi. Tiba-tiba manik mata nya menangkap sosok yang sangat dia kenal berdiri di dekat simpang jalan di bawah pohon kelapa sedang menatap ke arahnya dengan senyum menyeringai. Pak Agus.


"Pak Agus,kenapa melihat ke sini terus" Gumam nya. Buru-buru Siti masuk kembali ke warung.


N E X T

__ADS_1


190321/12.20


__ADS_2