
Hari ini Siti seperti biasa bangun pagi untuk membuat sarapan. Kehamilannya telah memasuki usia tiga bulan,morning sicknessnya sedikit berkurang.
"Mbak sudah tidak muntah-muntah lagi ya?" Tanya Seno saat mereka sedang menyantap sarapannya.
"Iya. Perut mbak sudah sedikit nyaman."
"Mbak tidak periksa kehamilan mbak ke bidan?"
"Belum lagi. Sebelum ke desa,mbak sudah periksa. Mungkin tunggu mas Rey datang mbak akan periksa lagi!"
"Mbak,apa tidak sebaiknya mbak ikut ke kota bersama mas Rey biar saya saja yang ngurusin rumah di sini?" Seno memberikan saran. " Mbak apa hmm. ." Seno menggantung ucapannya.
"Mbak apa?" Siti mengernyitkan dahinya.
"Mbak,suami mbak itu pasti banyak perempuan yang suka. Yang sudah emak-emak saja suka,suka buat di jadikan menantu mereka!"
"Hmm,memang emak-emak siapa maksud kamu?"
"Hmm,masa mbak tidak merasa? Mbak tidak takut ya kehilangan suami mbak?"
"Aahh kamu itu Seno,jangan mikir yang tidak-tidak tentang mas Rey. Dia itu tipe setia!" Siti cemberut.
"Hmm,bukan mas Rey nya mbak! Oke mas Rey setia tapi kalau ada yang nekad,bagaimana?"
"Insya Allah,rumah tangga mbak baik-baik saja,Seno! Buktinya sebelum sama mbak,mas Rey tidak pernah berhubungan dengan perempuan! Hanya saat masih sekolah saja!"
"Mbak ini di bilang bukan tentang suami mbak tapi tentang perempuan di luar sana! Apalagi jaman sekarang,laki orang lebih menarik daripada bujangan!"
"Kamu itu bukannya menenangkan mbak malah bicara ngawur!"
"Maaf mbak,Seno sayang sama mbak. Mbak harus sering-sering komunikasi sama suami mbak ya!" Ucapnya penuh penekanan.
Siti diam. Dia bukan tidak tahu jika tetangga-tetangganya banyak yang membicarakan tentang rumah tangganya terutama tentang suaminya. Bahkan Siti pernah dengar ada yang terang-terangan mau jadi istri kedua suaminya.
Hhh. . . Siti menghela nafasnya berat. Semoga rumah tangga kita selalu baik-baik saja mas. Doanya dalam hati.
"Mbak,mbak melamun?"
Siti menoleh ke arah adiknya yang telah menenteng tas sekolahnya. "Hmm?"
"Seno berangkat sekolah dulu ya! Mbak mau titip apa sama Seno?"
"Nanti mbak WA!" Jawab Siti datar.
Seno duduk di sebelah Siti sambil memegang bahu mbaknya. " Mbak jangan banyak pikiran ya! Maafin Seno!"
"Iya. Sudah kamu berangkat sekolah sana nanti telat!" Usirnya.
"Iya. Assalammualaikum." Seno mencium punggung tangan mbaknya.
"Wa alaikumsalam." Jawab Siti lirih.
Selepas Seno pergi,Siti pergi ke kamarnya. Dia lalu melihat handphonenya berharap suaminya menghubunginya. Siti menyunggingkan senyum saat tahu ada dua pesan masuk dari suaminya.
Siti lalu menekan tombol panggil.
Tuuutt tuuutt.
"Hallo sayang,kamu sudah sarapan belum?" Rey
"Hallo mas. Sudah baru saja. Mas sudah sarapan?" Siti.
"Mas juga sudah sarapan. Kamu sarapan apa? Jangan bilang nasi goreng ya!" Rey.
"Memangnya kenapa kalau nasi goreng?" Siti.
"Sayang,anak kita harus mendapatkan gizi yang cukup! Kamu beli lemari es deh biar bisa stok bahan makanan jadi tidak perlu tunggu orang yang jual sayur lewat!" Rey.
"Hmm,belum perlu mas." Siti
"Siti!" Rey.
"Iihh mas ini!" Siti.
"Makanya nurut donk! Nanti mas kirim uang ke rekening Seno saja ya?" Rey.
"Uang di ATM yang mas kasih juga belum saya pakai mas!" Siti.
__ADS_1
"Hmm,itu untuk keperluan kamu! Sayang,nanti mas telpon lagi ya. Mas ada janji pagi ini sama orang." Rey.
"Hmm iya mas! Mas jangan selingkuh ya!" Siti.
"Hehehe. Kok mikir gitu sih yank?"
"Tidak apa-apa. Mas hati-hati kerjanya. Bawa mobil jangan ngebut!" Siti.
"Iya istri mas tercinta! Kamu juga jaga diri ya! Jaga hati kamu juga untuk mas!" Rey.
"Mas juga donk,jaga hatinya!" Siti.
"Iya sayang! Kiss dulu donk!" Rey.
"Muaahh!" Siti.
"Muuahh! I love you!" Rey.
"I love you juga mas!" Siti.
"Hehehe. Daaahh!"
Telpon sudah di matikan. Siti menyimpan lagi handphonenya di atas meja. Dia lalu keluar melihat apa semua tukang bangunan sudah datang. Kemudian Siti membuatkan kopi dan meletakkannya di meja yang ada di teras.
"Siti?" Panggil istrinya pak Erte. Bu Titin.
"Ya bu."
"Kamu sibuk?"
"Tidak bu. Kenapa ya bu?"
"Nanti sore ada acara di rumah ibu,putri ibu si Ratna mau lamaran. Kalian dulu satu esde kan?Kamu mau kan datang temani Ratna?" Terang bu Titin.
"Wah Ratna mau nikah bu? Kok Ratna tidak kasih tahu saya ya?"
"Ratna kan kerja di kota,baru pulang semalam karena mau lamaran. Calon suaminya juga nanti sore baru datang!" Terang bu Titin.
"Oh begitu. Insya Allah nanti selepas ashar saya ke rumah bu Titin!"
"Iya bu."
***
Selepas Ashar,Siti dengan di temani adiknya Seno pergi ke rumah pak Erte. Di rumah pak Erte sudah ada ibu-ibu dan juga para gadis. Melihat kedatangan Siti,ada sebagian dari mereka berbisik-bisik sambil menatapnya dengan tatapan yang aneh. Adiknya Seno pun menyadari hingga dia terlihat tidak bisa menahan emosinya.
"Seno! Biarkan saja!" Titah Siti.
"Tapi mbak?"
"Seno,ini di rumah pak Erte,sedang ada acara pula! Kamu mau ribut di sini,hmm?"
"Saya mau peringatkan mereka saja mbak."
Siti menggeleng. Seno hanya bisa membalas ibu-ibu dan para gadis itu dengan tatapan tajam.
Siti hendak masuk ke rumah pak Erte. "Kamu pulang saja Seno,mbak tidak apa-apa di sini! Nanti kalau mbak mau pulang,mbak hubungi kamu!" Titah Siti pada Seno.
"Tapi mbak?"
"Seno! Tukang di rumah belum pulang kan!"
"Hmm,iya iya Seno pulang! Nanti Seno langsung ke sini lagi!" Seno berlalu meninggalkan mbaknya sambil cemberut.
Siti kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah pun sudah ada ibu-ibu yang sedang mengatur hidangan untuk acara lamaran yang sebentar lagi akan di mulai.
"Siti!" Panggil bu Titin.
"Bu. . ." Siti menyalami bu Titin.
"Kamu sudah lama?"
"Baru saja kok bu!" Jawab Siti.
"Ya sudah,yuk ibu antar kamu ke kamar Ratna. Dia sedang sendirian." Ajak bu Titin. Siti mengikuti dari belakang.
Tok tok. .
__ADS_1
Bu Titin mengetuk pintu kamar Ratna lalu membukanya. "Ratna,ini loh ada Siti!"
"Siti?" Tanya Ratna. "Ajak masuk ma!"
"Yuk Siti,silahkan masuk!"
"Iya bu." Siti pun mengikuti bu Titin masuk ke dalam kamar putrinya Ratna.
"Siti? Kamu Siti kan? Penampilan kamu beda sekarang!" Seru Ratna seraya memeluk Siti. Siti pun membalas pelukan Ratna. "Yuk duduk!
"Kamu cantik sekali,Rat!" Puji Siti yang terpesona melihat tampilan Ratna dengan make up dan gaunnya.
"Kamu juga makin cantik,Siti!" Puji Ratna.
Siti tersenyum.
"Saya dengar dari mama,katanya kamu sudah menikah dengan orang kota ya?" Tanya Ratna penasaran.
"Alhamdulillah,iya Rat!"
"Wah beruntung kamu ya,baru beberapa bulan ke kota langsung dapat jodoh. Sudah berapa lama kamu nikah? Saya yang sudah bertahun-tahun dari kuliah dulu,baru dapat jodohnya sekarang!"
"Saya menikah lima bulan lebih Rat. Jodoh kan Allah yang atur Rat! Kita hanya menunggu saja kapan datangnya!" Ucap Siti.
"Iya sih! Oh ya kata mama suami kamu sekarang sedang ke kota ya? Kamu di tinggal donk!"
"Iya Rat. Ada pekerjaan yang harus di kerjakan!"
"Memangnya suami kamu kerja apa?"
"Kerja kantoran,sama seperti kamu!" Jawab Siti.
"Oh ya! Kenapa kamu malah pulang ke desa? Tidak ikut suami kamu di kota?"
"Saya kangen Seno,kangen rumah,kangen desa! Hanya beberapa bulan saja karena mama mertua saya ingin saya melahirkan di dekatnya."
"Kamu hamil? Kok tidak kelihatan?" Tanya Ratna kaget sambil memperhatikan perut Siti.
"Hehehe. Baru tiga bulanan kok Rat."
"Oh kamu tidak langsung hamil ya!"
Tuuut tuuuuutt
Tiba-tiba handphone Siti berdering. "Sebentar ya Rat,saya jawab telpon dulu!"
"Iya!"
"Halo mas." Siti.
"Sayang,kamu sedang apa? Maaf tadi siang mas sibuk jadi tidak bisa telpon kamu!"
"Tidak apa-apa mas. Saya sedang di rumah pak Erte,anaknya mau lamaran. Teman sekolah saya dulu." Siti.
"Oh ya? Ya sudah nanti malam saja mas telpon lagi ya!" Rey.
"Iya mas!"
Telpon terputus.
"Suami kamu yang telpon ya Siti?" Tanya Ratna.
"Iya Rat!"
"Tadi saya lihat itu foto suami kamu ya?" Tanya Ratna penasaran.
"Oh foto ini?" Siti menunjukkan foto di layar handphonenya pada Ratna.
Ratna mengernyitkan dahinya. "Loh ini suami kamu?"
"Iya,memang kenapa? Kamu kenal ya?" Tanya Siti.
"Ini. . ." Ratna menggantung ucapannya membuat Siti heran.
NEXT
060521/20.00
__ADS_1