Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 26


__ADS_3

Siti sudah kembali ke kamarnya. Di sana sudah ada mama dan papa mertuanya dan juga pamannya yang entah tahu dari mana kalau Siti sedang di rawat.


"Ayo kamu tiduran!" Titah Rey sambil membopong Siti ke tempat tidur lalu di tutupi selimut. "Hmm,kamu belum makan apa-apa dari tadi ya?" Tanyanya lagi sambil menatap ke istrinya. Siti hanya diam menunduk.


"Kamu dari mana saja,Siti? Sedang sakit kok malah kemana-mana?" Tanya mama dengan ketus yang langsung di senggol papa sambil menggelengkan kepala.


"Siti kamu makan yang banyak biar cepat pulih! Kamu tidak mau kan berlama-lama di Rumah Sakit?" Nasehat dari paman Supri.


"Hmm,iya paman. Paman tahu dari mana kalau Siti sakit?" Tanya Siti.


"Paman telepon Rey menanyakan kabar kamu,eh ternyata kamu sedang di rawat di sini." Jawab Paman.


"Nih,makan dulu!" Rey menyuapi Siti.


"Kalau begitu mama sama papa pulang dulu,Rey,Siti!" Pamit papa.


"Iya pa." Jawab Rey.


"Iya. Terimakasih ma,pa sudah jenguk saya." Ucap Siti.


"Iya. Kamu cepat sehat!" Ucap mama.


"Paman juga pulang ya. Kamu baik-baik sama suami dan mertua kamu!" Paman ikutan pamit pulang.


Kini tinggal mereka berdua. Siti sudah menghabiskan makannya atas paksaan suaminya. " Kalau tidak di habiskan,saya tidak mau menemani kamu tidur di sini!" Ancam Rey yang membuat Siti tidak bisa membantah.


"Saya belum sholat." Ucap Siti selesai makan.


"Ayo saya bantu ke kamar mandi." Ucap Rey. "Kita sholat bareng!" Ucapnya lagi membuat hati Siti terasa damai. Mereka pun sholat berjamaah.


"Kamu sudah ngantuk,hmm? Nanti sebelum tidur,obat yang terakhir jangan lupa di minum!"Titah Rey yang penuh perhatian.


Siti tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Wajahnya berseri-seri. "Saya belum ngantuk!" Jawabnya. Saya ingin berlama-lama merasakan saat-saat seperti ini. Ucapnya dalam hati.


"Kamu tidak mau berlama-lama di sini kan? Mau lekas sembuh kan? Jadi harus nurut sama saya!" Ucap Rey sambil membereskan nakas dari alat makan Siti.


Kalau kamu seperti ini terus,saya tidak mau sembuh! Batin Siti,dia tersenyum-senyum sendiri tanpa di sadari.


"Di tanyain kok malah senyum-senyum!" Rey meliriknya.


"Eehh,hmm mau kok!" Jawab Siti salah tingkah.


"Mau apa?"


"Hmm,mau lekas sembuh!"

__ADS_1


"Kamu itu ternyata manja juga,hmm! Sakit maunya di tungguin terus!"


"Hmm. . ." Siti menunduk malu.


"Nanti kalau sudah sehat kamu harus balas semua yang saya lakukan untuk kamu!"


"Eehh,hmm maksudnya? Balas apa?" Siti jadi gugup dan bingung apa maksud suaminya itu.


Rey mendekati hingga jarak mereka hanya beberapa inci saja" Gantian kamu yang melayani saya!" Bisiknya membuat Siti bersemu.


"Kamu ingat kan apa mau mama?"


"Mau mama?"


"Iya mau mama! Kamu lupa?"


"Hmm,saya cepat sembuh?" Pikiran Siti belum sampai ke maksud suaminya.


"Ya sudah lupakan saja! Kamu istirahat saja sekarang sudah malam!" Titah Rey akhirnya. Dia beranjak dari tempat tidur Siti.


"Ma mau kemana?" Tanya Siti melihat Rey hendak pergi.


"Tidur! Ngantuk!" Jawab Rey. Dia segera membaringkan tubuhnya di kasur yang satunya dengan tangan di lipat di atas kepala.


"Habis ini,gantian saya yang akan merepotkan kamu!" Jawab Rey sambil menyunggingkan senyum tipis.


"Hmm,iya. Terserah mau bagaimana!" Ucap Siti.


Rey menoleh ke arahnya tepat saat Siti pun sedang menatap ke arahnya. Pandangan mereka terkunci hingga beberapa detik sampai Siti memalingkan wajahnya karena malu.


"Saya ingat janji kamu! Kamu jangan sampai lupa!" Tegas Rey. "Ya sudah sekarang tidurlah! kalau butuh apa-apa banguni saya." Ucapnya lagi sambil menarik selimut.


Siti kembali menoleh ke arah suaminya dengan memiringkan badan ke kiri. Lama-lama akhirnya dia tertidur.


***


Sudah hari ke tiga Siti di rawat. Rey dengan setia menungguinya. Kesehatannya sudah mulai membaik. Pagi ini kembali dokter visit ke kamarnya.


"Panasnya sudah turun ya bu. Hari ini infusnya kita lepas. Besok pagi ibu boleh pulang!" Terang dokter.


"Alhamdulillah. . ." Ucap Siti dan Rey hampir berbarengan.


"Nanti suster yang akan lepas infusnya. Kalau begitu saya permisi dulu!" Pamit dokter.


"Terimakasih,dokter!" Ucap mereka.

__ADS_1


***


Malam ini terakhir Siti di Rumah Sakit. Dia bersyukur akhirnya besok bisa pulang. Tiba-tiba dia terbangun. Di lihatnya jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Dia menoleh ke kasur tempat Rey biasa tidur,kosong. Siti menoleh kesana kemari mencari sosok suaminya itu tapi nihil. Siti langsung meringkuk di kasur dengan menutupi tubuhnya hingga leher. Tapi matanya tetap terbuka lebar. Kamu kemana? Tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka. Ceklek. Siti memasang telinganya baik-baik.


"Aahh lega!" Ucap seseorang hampir tidak terdengar.


Siti menoleh ke sumber suara yang amat dia kenal. Ternyata dari arah kamar mandi muncul suaminya.


Siti langsung duduk menatap suaminya yang juga tengah menatapnya. Lalu Rey berjalan mendekat ke arahnya.


"Kenapa bangun? Mau ke kamar mandi?" Tanya Rey.


"Hmm,tidak." Jawab Siti.


"Kebangun gara-gara orang yang tidur di kasur itu tidak ada,hmm?" Tanya Rey lagi. Kali ini sambil mengusap wajah Siti hingga membuat istrinya itu bersemu lalu buru-buru menundukkan kepalanya.


Rey meraih dahu Siti lalu mendekatkan wajah mereka berdua. Sedetik,dua detik berlalu hingga Siti menarik wajahnya karena mulai kesusahan untuk bernafas. Rey bukannya berhenti justru mengulangi lagi dan lagi. Hingga debaran jantung mereka berpacu. Siti pun tidak kuasa menolak. Walau dengan malu-malu dan cenderung pasif tapi reaksi tubuhnya justru kebalikannya. Dia begitu mendamba hingga membuat Rey semakin larut dalam iramanya. Dengan kasur yang hanya cukup untuk satu orang saja justru makin membuat mereka menyatu. Penerimaan satu sama lain menjadikan malam mereka begitu syahdu. Hingga terulang hingga beberapa kali. Mereka lupa jika Siti baru saja sembuh.


Setelah penyatuan untuk terakhir kali,mereka pun tertidur karena kelelahan. Masih di satu ranjang dan selimut yang sama.


***


Sinar matahari mulai masuk diam-diam di balik gorden. Siti mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia merasakan tubuhnya berat sebelah. Setelah membuka matanya lebar-lebar,terlihat sosok yang semalam sudah membawanya terbang sedang tertidur pulas sambil tetap membungkusnya rapat. Aroma khas yang makin membuat Siti tergila-gila. Dia pun membiarkan saja tubuh itu,merasakan berbagai sensasi hingga hormon kebahagiaannya meningkat. Rasanya dia tidak ingin momen itu usai. Dia kembali memejamkan mata menikmati tiap detiknya.


Tok tok. . . Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Siti gelagapan mengingat mereka yang masih polos dan suaminya yang masih belum beranjak.


"Rey. . ." Bisik Siti. "Rey. . ."


Mulai ada pergerakan. Karena masih setengah sadar,hampir saja Rey terjatuh jika Siti tidak menahannya. "Eehh. . .!"


"Hmm," Rey mengerjapkan matanya. Lalu dia melihat seseorang di sebelahnya,dia pun tersenyum.


"Ada yang mengetuk pintu,tadi!" Terang Siti.


"Biarkan saja!" Jawab Rey yang masih enggan beranjak. Malah makin mengeratkan pelukannya dan kembali memejamkan mata.


"Sudah siang." Ucap Siti lirih takut suaminya marah.


"Hmm,baiklah!" Rey bangun dari tidurnya tapi matanya masih menatap ke arah istrinya yang juga tengah menatapnya. Nanti di rumah sambung lagi!" Ucapnya dengan sorot mata yang membuat Siti bergidik tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


NEXT


170421/07.40

__ADS_1


__ADS_2