
Sudah lebih satu bulan sejak Ratna kembali di kehidupan Romi. Hubungan mereka makin baik dan romantis seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Romi sedang duduk di meja makan. Dia sedang menunggu istrinya memasakkan sup kesukaannya. Ratna kok belum hamil lagi,ya? Pikir Romi seraya terus mengamati setiap gerak gerik istrinya itu. Romi mulai sering meminta istrinya itu untuk memasakan sesuatu untuknya. Dan apa yang di masak oleh Ratna selalu sesuai dengan seleranya. Makin hari rasa cinta untuk istrinya itu makin bertambah. Belum lagi Ratna yang selalu setia dan ada untuknya.
"Bang,ini supnya sudah jadi," ucap Ratna mengagetkannya yang sedang melamun. Semangkuk sup hangat sekarang ada di hadapannya.
"Terimakasih,sayang," ucap Romi mesra. Ratna tersenyum malu. Rasanya seperti mimpi melihat sikap manis yang di tunjukkan oleh suaminya sekarang.
Romi mulai menyuap sup ke mulutnya. "Ehmm,lezat," pujinya seraya menatap istrinya penuh cinta.
"Abang suka?" tanya Ratna.
"Tentu saja. Masakan istrinya abang selalu lezat. Abang jadi malas makan di luar."
"Hhmm,abang bisa saja," ucap Ratna tersipu.
"Abang suapin,ya?" ucap Romi yang langsung menyuapi istrinya tanpa menunggu jawaban. Ratna lalu membuka mulutnya.
"Eehmm,enaknya yang suap-suapan. Mau juga,donk!" goda Aaron yang tiba-tiba datang lantas langsung duduk di sebelah abangnya.
"Apaan sih kamu,ganggu saja. Sana!" usir Romi ketus.
"Jahat banget sih bang sama adik sendiri," gerutu Aaron.
"Makanya buruan nikah!"
"Iihh,sombong amat,bang. Kalau aku nikah seusia abang berarti masih tujuh tahun lagi."
"Silahkan saja nikah tujuh tahun lagi! Bisa di tinggal nikah kamu sama si Cinta."
"Tidak bakalan lah. Cinta nikahnya pasti sama aku." ucap Aaron percaya diri.
"Hiiihh,iya kalau kalian jodoh." sinis Romi sambil terus makan dan terkadang menyuapi istrinya juga.
"Doain yang baik-baik,bang. Begini juga aku adikmu,bang. Satu-satunya," Aaron tak kalah sinis.
"Aaron mau kakak masakin juga?" tawar Ratna.
Wajah Aaron langsung semringah, "Waahh,ini baru kakak ipar idaman. Aku mau yang gampang saja,kak. Masakin mie kuah pakai sayur dan telur,ya."
"Kamu itu,bukannya masak sendiri. Lagian kenapa makan mie? Itu tidak sehat buat lambung kamu!"
"Yah abang. Kan kak Ratna sendiri yang menawari masa di tolak,rugi donk. Sesekali tidak apalah makan mie,"
"Huuhh," Romi terus melanjutkan makannya.
"Semoga saja nanti Cinta juga bisa masakin aku,ya," gumam Aaron sambil menopang dagu.
"Mana bisa dia masakin kamu,"
"Kenapa tidak bisa,bang?"
"Yah,masuk dapur saja tidak pernah bagaimana dia bisa masak?"
"Tau dari mana abang kalau Cintaku itu tidak pernah masuk dapur. Abang sok tau."
"Biasanya anak-anak orang kaya ya begitu."
"Hhh,kan biasanya. Nah,Cintaku itu luar biasa,bang!"
__ADS_1
"Huuhh,dasar bucin!"
"Biarin! Sedang apa ya Cintaku sekarang? Mungkin sedang ngelamunin aku juga."
"Menghayal saja kerjanya," ucap Romi seraya menggelengkan kepalanya.
***
Pagi hari di kediaman Rey. Setelah sarapan bersama,Siti berniat membuat kue untuk cemilan keluarga. Hari minggu di manfaatkannya untuk membuat kue sendiri di bantu putrinya,Cinta.
"Ma,bahannya sudah lengkap,ya?" tanya Cinta.
"Iya,sayang. Kamu undang Aaron sana,biar rame."
Cinta menatap mamanya kaget. Mengundang Aaron? Tidak perlu lah, "Hhmm,tidak usah ma. Mungkin dia sudah ada acara di rumahnya," tolak Cinta.
"Hhmm."
Pukul delapan,kue buatan mereka sudah matang. Cinta dan mamanya selesai membuat dua macam kue dan ada juga puding. Cinta menyusun kuenya di piring.
"Pudingnya kamu simpan di meja dulu ya kan masih cair."
"Iya ma. Ternyata mudah ya ma bikinnya."
"Iya. Kamu ingat-ingat bahannya. Nanti kalau kamu sudah berkeluarga bisa bikin untuk keluarga kecil kamu."
"Iihh,mama. Masih lama Cinta berkeluarga," sahut Cinta dengan wajah merona malu.
Mamanya hanya tersenyum. Iya,In Sya Allah dua tahun lagi mama akan melepas kamu untuk suami kamu. Semoga di lancarkan. Aamiin. Ucap Siti dalam hati.
Mereka lalu membawa kue ke dekat kolam renang. Pagi hari enak berjemur di dekat kolam renang sambil bersantai bersama keluarga.
Ada suami dan kedua buah hatinya yang sedang bermain bercanda. Ada juga oma dan opa yang asik duduk di ayunan sambil berjemur.
"Wah,sepertinya enak tuh".
"Pasti donk,oma." sahut Cinta.
"Oma cicipin,ya," ucap oma seraya mengambil sepotong kue. "Oh iya Siti,kandungan kamu sudah masuk HPL,belum?"
"Kalau kata dokter,HPLnya satu dua hari ini,ma," jawab Siti.
"Hhmm,kamu sudah mempersiapkan semua keperluan untuk di Rumah Sakit?"
Siti mengangguk, "Sudah kok,ma. Semua sudah aku masukin ke dalam koper," terang Siti.
***
Menjelang malam,saat semua keluarga sedang nonton tv,Siti terlihat gelisah. "Kamu kenapa,yank?" tanya Rey heran.
"Hhmm,perutku,mas. Kadang nyeri kadang berhenti," terang Siti seraya mengernyitkan dahinya menahan nyeri.
Rey lalu duduk di sebelah Siti lalu mengusap perut buncit istrinya itu, "Geraknya aktip banget,yank. Sakit,ya?"
Siti mengangguk seraya ikut mengusap perutnya.
Oma yang mendengar obrolan anak dan mantunya lalu menoleh, "Kamu kenapa,Siti?"
"Hhmm,perutku,ma. Sakit," jawab Siti.
__ADS_1
"Jangan-jangan sudah waktunya kamu melahirkan."
"Aku tidak tau,ma," jawab Siti. Karena Siti belum berpengalaman melahirkan secara notmal.
"Kalau sakitnya makin sering,kamu kasih tau mama,ya!"
"Hhmm,ini sudah sering ma. Sebenernya dari siang sudah sakit dikit-dikit," terang Siti sambil terus mengusap-usap perut dan pinggangnya.
"Aku pijat punggungnya boleh,ma?" tanya Rey pada mamanya. Dia terlihat mulai khawatir.
"Usap-usap saja pelan!"
"Ehhmm,sa-kit," gumam Siti. Keringat mulai membasahi wajahnya.
"Bagaimana ini,ma? Kita ke klinik saja sekarang,ya!" ucap Rey panik.
"Ya sudah,kalau Siti sudah tidak kuat. Perjalanan juga lebih setengah jam,itupun kalau tidak macet."
"Iya,ma. Aku ambil koper dulu di atas," ucap Rey lalu naik ke lantai atas mengambil koper di kamarnya. Tak lama kemudian dia turun dengan membawa koper dan juga tas kecil milik istrinya.
"Anak-anak sama opa dulu ya. Cinta,tolong jagain adik-adik kamu!"
Siti lalu duduk di kursi belakang bersama oma. Rey yang menyetir duduk sendirian di depan. Sesekali menengok istrinya di belakang dengan wajah khawatir. Setengah jam lebih,mereka baru sampai di klinik dokter Layli.
Siti lalu naik ke brankar,langsung di bawa ke ruang tindakan. Rey meminta ijin untuk menemani istrinya itu.
Siti lalu di periksa oleh bidan jaga," Baru bukaan empat ya,bu," terang bu bidan.
"Tidak lama lagi kan,bu?" tanya Rey.
"Bisa cepat bisa juga lebih lama. Tidak mesti."
"Duuhh," Rey bertambah khawatir.
"Saya tinggal dulu ke sebelah,ya," pamit bu bidan.
"Yank,caecar lagi saja,ya?" bujuknya seraya menggenggam erat jemari tangan istrinya yang terasa dingin.
Siti menggeleng cepat, "Aku ingin merasakan melahirkan secara normal,mas!" ucapnya pelan namun dengan penekanan.
"Tapi mas tidak tega kamu kesakitan begini,yank!"
"Tidak terlalu sakit kok,mas," ucap Siti bohong. Dia berusaha sekuat tenaga menahan sakit agar suaminya tidak cemas.
"Tapi sayang?"
"Ssssttt. Mas sudah,tenanglah agar aku juga bisa rileks," pinta Siti.
"Hhumm,baiklah."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
21