Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 67


__ADS_3

Siti memegangi perutnya. Dia merasa perutnya sangat keras dan kram tidak seperti biasa. Siti memejamkan matanya menahan sakit.


"Uuhh!" Gumamnya menahan sakit sambil mengusap perutnya.


"Yank,tidurlah katanya sudah ngantuk!" Ucap Rey lirih sambil matanya terpejam.


Siti gelisah,membolak-balikkan badannya.


"Yank,jangan banyak gerak!" Ucap Rey lagi dan makin mengeratkan pelukannya.


Lama-lama Siti makin kesakitan. "Mas. . ." Desisnya.


"Hmm,yank. Katanya tadi ngantuk! Tumben kamu mau lagi!" Rey membuka matanya hendak mencium istrinya tapi dia langsung kaget demi melihat istrinya yang berkeringat sambil memegangi perutnya. "Kamu kenapa yank?"


"Hmff,Sakit mas!"


Rey ikut memegang perut istrinya. "Kok keras gini yank?" Rey pun mulai panik. Di lihatnya jam menunjukkan pukul satu dini hari.


Siti masih menahan sakit.


"Mas tanya mama dulu!" Rey hendak turun dari kasur.


"Mas,mau kemana?" Tanya Siti yang melihat suaminya bergegas mengenakan lagi pakaiannya.


"Mau ke kamar mama,yank! Biar mama lihat keadaan kamu!"


"Pakaian saya mana mas?"


"Oh iya mas lupa! Kamu bisa pakai sendiri,hmm?" Siti mengangguk.


Rey lalu keluar dari kamarnya menuju kamar orangtuanya.


Siti di kamar masih menahan sakit. Sambil membaca doa,dia usap-usap perutnya. "Sayang,kamu kenapa nak? Baik-baik di dalam ya!"


Tak lama kemudian mama mertuanya datang.


"Siti,perut kamu kenapa?" Tanya mama yang juga terlihat cemas. Dia menempelkan tangannya di perut Siti.


" Sakit ma. . ." Ucap Siti lirih.


"Kok bisa keras begini? Sudah berapa lama?" Tanya mama.


"Lebih sepuluh menit ma!" Jawab Siti.


"Kamu tadi tidak ngapa-ngapain kan? Tidak kecapekan kan?" Tanya mama. "Kamu tadi kan lama di kamar adik kamu!"


Rey dan Siti saling pandang.


"Saya hanya ngobrol sama Seno,ma." Jawab Siti.


"Hmm,mama telpon dokter Layli saja!" Ucap mama lalu mulai menelpon.


Rey menahan tangan mamanya. Setelah beberapa detik. "Kita,kita tadi habis hubungan ma!" Ucap Rey malu-malu. "Dua kali!" Ucapnya lagi tanpa mau menatap mamanya.


Mama langsung mematikan telponnya yang belum tersambung lalu menatap anak dan menantunya bergantian.


"Kamu itu Rey!" Ucap mama kesal. Rey masih menunduk. "Coba kamu pijat punggung istri kamu!" Titahnya.


Dengan cepat Rey langsung memijat punggung istrinya.


Mama masih terlihat kesal. "Siti,kalau kamu merasa tidak nyaman,jangan mau kalau suami kamu minta! Jangan terlalu sering sampai keras begitu!" Gerutu mama.

__ADS_1


"Hmm,i iya ma."Jawab Siti malu-malu. Rey masih terus memijat lembut punggung Siti.


"Bagaimana masih kram?"


"Sudah berkurang ma." Jawab Siti.


"Ya sudah mama tinggal dulu. Rey,kamu libur dulu beberapa hari!"


"Besok Rey banyak kerjaan ma."


"Hmm,libur menyentuh istri kamu Rey!" Terang mama dengan penekanan,membuat wajah Siti dan Rey memerah karena malu.


"Ya sudah mama tinggal dulu,ngantuk. Kalian langsung tidur!" Mama lalu keluar dari kamar Rey.


"Masih sakit yank? Maafin mas ya." Ucap Rey penuh penyesalan sambil mengusap perut Siti yang sudah berkurang kramnya.


Siti menggelengkan kepalanya. "Hmm,mas! Mas tidak salah kok!" Siti mencoba menghibur suaminya yang terlihat sedih.


"Mas susah menahan godaan kalau dekat kamu. Apalagi kamu habis dari salon lagi!" Ucap Rey sambil mengusap wajah istrinya.


"Hmm,saya justru takut kalau mas sudah tidak tergoda lagi!" Ucap Siti sambil menunduk.


Rey lalu memeluk istrinya lembut. "Mas akan selalu tergoda sama kamu,yank!" Bisik Rey. "Mas tidur di sofa lagi deh!"


Siti langsung menggeleng. "Jangan mas! Masa saya tidur sendirian!" Siti cemberut.


"Kan masih sekamar yank,tuh sofanya dekat ini!"


Siti kembali menggelengkan kepalanya. "Iihh,pokoknya tidak mau!"


"Nah ini ni bikin tergoda terus,kalau manjanya keluar!"


Wajah Siti memerah.


Siti mengangguk.


"Sekarang kita tidur yuk yank!" Ajak Rey.


"Tidur di sini!" Pinta Siti dengan manja.


"Iya sayang!"


***


Siti terbangun saat matahari mulai menerobos di sela-sela gorden. Dia menggeliat lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Setelah benar-benar terbangun,dia menoleh ke samping dimana suaminya biasa tidur.


Dahi Siti berkerut. "Loh,mas mana?" Biasanya dia terbangun saat suaminya masih memeluknya. Siti melihat jam di dinding sudah pukul tujuh pagi,waktunya sarapan.


Siti bangun lalu duduk di sisi kasur. Apa mas sedang sarapan ya kok saya tidak di banguni? Batin Siti.


Siti lalu ke kamar mandi,mencuci wajahnya lalu segera turun ke bawah.


"Siti,kamu sudah bangun?" Sapa mama dari ruang makan.


"Ehmm,iya ma." Jawab Siti malu karena bangun kesiangan.


"Bagaimana perut kamu?"


"Sudah tidak kram lagi ma!"


"Ya sudah ayo kamu langsung sarapan!" Titah mama.

__ADS_1


Siti pun duduk di meja makan. "Hmm,mas mana ya ma?"


"Suami kamu baru saja berangkat sama adik kamu!"


Hmm,mas kok pergi tidak pamit dulu ya. Batin Siti. Apa jangan-jangan marah ya.


"Siti kok melamun,ayo sarapan anak kamu pasti sudah lapar!"


"I iya ma." Siti mengambil makan dengan pelan sambil memikirkan suaminya. Mama yang melihat mengernyitkan dahinya.


"Kamu makan kok sambil melamun? Mikirin Rey? Tadi dia buru-buru karena kesiangan juga!" Terang mama.


"Iya ma." Siti buru-buru menghabiskan sarapannya agar mamanya tidak banyak bertanya.


"Saya ke atas lagi ma!" Pamit Siti.


"Iya,istirahat saja!" Siti hanya mengangguk.


Siti lalu naik lagi ke atas,ke kamarnya. Dia langsung mandi. Setelah mandi,dia ambil handphonenya lalu menghubungi suaminya.


Tuuutt. Tuuuttt. Beberapa kali Siti menelpon tapi tidak ada jawaban dari suaminya. "Mas ke mana ya?" Gumamnya.


Siti lalu mengusap-usap perutnya lembut. "Sayang,kamu baik-baik ya di dalam! Mama papa sayang kamu!"


***


Hari sudah menjelang sore. Siti sudah selesai mandi dan juga sholat. Kini dia sedang duduk-duduk di balkon sambil memainkan handphonenya. Sesekali dia coba menghubungi suaminya tapi tidak pernah di jawab. Dia lupa untuk menghubungi adiknya padahal sang suami sedang bersama adiknya. Pikirannya hanya tertuju pada suaminya.


"Mas kenapa tidak jawab telponnya sih?" Gerutu Siti yang mulai kesal.


Tunggu di bawah sajalah. Batinnya. Siti pun segera turun ke bawah. Di ruang keluarga ada mama dan papanya yang sedang menonton tv.


"Siti,mau kemana?" Tegur mamanya.


"Hmm,mau duduk-duduk di teras ma." Jawab Siti.


"Kamu nunggu Rey ya?" Tanya mama yang sadar dengan sikap menantunya.


"Rey mungkin pulang malam,Siti. Kamu tunggu di kamar saja!" Titah papa.


"Hmm,iya pa. Siti kembali ke kamar dulu!" Jawab Siti lirih. Dia kembali naik ke lantai atas dengan langkah gontai.


"Menantumu itu sehari tidak bertemu suaminya bisa gelisah begitu." Ucap papa sambil tersenyum menoleh ke arah mama.


"Sama saja pa,anakmu juga. Lihat saja saat pulang nanti."


Siti duduk di sofa sambil menonton tv,mungkin bisa mengalihkan pikirannya terhadap suaminya. Sampai menjelang makan malam,yang di tunggu tidak juga ada kabar.


Siti turun untuk makan malam.


"Mas kok belum pulang juga ya ma?" Siti sudah tidak bisa menahan untuk tidak bertanya. Dia bahkan belum menyentuh makan malamnya.


"Kamu makan dulu,Siti! Sebentar lagi suami kamu pulang kok!" Bujuk mama.


Siti pun makan dengan malas-malasan. Mama dan papa hanya bisa saling pandang.


Siti kembali ke kamarnya dengan menyisakan makan malamnya. Dia tidak berselera makan. Dia tiduran sambil terus memegang handphone berharap suaminya akan menghubunginya.


Jam berlalu dengan cepat hingga makin malam suaminya belum juga pulang. Saat Siti mulai terlelap tiba-tiba pintu kamarnya ada yang membuka.


Ceklek. . .

__ADS_1


NEXT


210521/17.45


__ADS_2