Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 48 ( S2 )


__ADS_3

Sudah tiga hari Dinda demam,panasnya tak kunjung turun walaupun sudah tidak tinggi lagi.


"Mi,apa Dinda di rawat saja ya? Sudah tiga hari demamnya." Tanya Seno saat sedang sarapan. Dinda hanya mau makan dengan roti saja,perutnya belum mau makan makanan berbumbu.


"Aku tidak mau,mas. Hanya pusing dan demam biasa kok,tidak sampai 38°C juga." Tolak Dinda.


"Kadang ibu hamil muda memang begitu. Selama panasnya tidak tinggi dan masih mau makan sedikit tidak apa-apa." Terang mami Dinda.


"Tapi kan Dinda tidak mau makan nasi,mi." Ucap Seno khawatir. "Hmm,Dinda mau makan bubur ayam tapi tidak pakai ayam biar tidak mual?"


"Hhmm,bubur nasi saja?" Tanya mami.


"Hmm,iya mi. Sama telur rebus. Coba deh,moga tidak bikin mual."


"Dinda mau ya?"


"Hmm,iya deh coba dulu." Jawab Dinda sambil melirik kesal ke arah Seno yang tiap hari selalu memaksanya makan nasi.


"Ya sudah mami suruh bibi bikinnya ya."


"Iya,terimakasih mi."


"Papi tinggal ya,mau ada rapat sama atasan." Pamit papi Dinda.


"Mami juga duluan ya. Din,susunya di habiskan! Jangan lupa obat sama vitamin."


Tinggal Dinda dan Seno di meja makan. Dinda memakan rotinya dengan malas-malasan.


"Kamu tidak mau makan apa gitu,hmm?"


Dinda menggeleng.


"Makanan di Mal? Kalau mau mas anter."


Dinda langsung menoleh ke arah Seno. " Mal? Mas mau ajak aku ke mal?" Tanya Dinda antusias.


Hmm,dengar kata mal baru semangat. Batin Seno.


"Iya tapi sambil cari makan. Kalau sudah makan,baru mas mau temani keliling." Ucap Seno.


"Beneran mas mau ajak aku ke mal?"


"Iya istriku sayang!" Jawab Seno dengan penekanan.


Dinda tersenyum. " Yuk,mas. Sekarang saja!" Ajak Dinda. Dia langsung berdiri.


"Rotinya di habiskan dulu. Kemarin-kemarin masih mau makan roti banýak kok dari semalam makannya dikit banget." Keluh Seno.


"Hmm,iya aku habisin deh." Dinda cepat-cepat menghabiskan rotinya.


"Non,kapan mau di bikinkan bubur?"


"Malam saja,bi." Jawab Dinda.


"Sore sama malam ya bi." Seno ikut menjawab.


"Iihh mas,katanya mau ajak aku ke mal?"


"Ya masa sampai malam? Memangnya kamu sanggup?"


"Hmm."


Selesai sarapan,mereka kembali ke kamar. Dinda sibuk memilih pakaian yang akan di pakai ke mal.


"Kamu ngapain di depan lemari dari tadi?" Tanya Seno heran.


"Aku sedang pilih pakaian buat kita ke mal."


"Sekarang masih jam tujuh lebih loh."


"Aku pilih-pilih dulu mana yang cocok buat aku pakai,mas."


"Pakai apa juga cocok kok!"


"Hmm,mas ini."


Tiba-tiba handphone Seno berdering.


"Halloo,mbak."


"Iya,Dinda sakit sudah tiga hari jadi Seno belum bisa kerja. Mas Rey yang bilang ya?"


"Hmm,maaf mbak. Seno tidak ingin mbak khawatir."


"Sakit,hmm. Dinda hamil,mbak."


"Hmm,maksud Seno nanti saja kasih tau kan masih muda juga baru satu bulan."


"Iya mbak,maaf."


"Aamiin. Iya nanti Seno sampaikan."


"Iya mbak,terimakasih."


Seno mematikan telponnya.

__ADS_1


"Mbak Siti ya mas?"


"Iya,mbak tanya kamu sakit apa. Mas bilang saja kalau kamu hamil. Tidak apa-apa ya?"


"Hmm,tidak apa-apa kok mas."


"Mbak Siti ucapin selamat buat kamu. Moga ibu dan bayinya sehat. Aamiin."


"Aamiin." Dinda mendekati Seno. "Mas,aku pakai ini bagus tidak?" Sambil menunjukkan pakaian yang akan dia pakai.


"Bagus kok. Kamu pakai pakaian apapun cocok." Jawab Seno. "Sini mas pakaikan!"


"Iihh,aku pakai sendiri!" Tolak Dinda.


"Hmm,"


***


Pukul sepuluh pagi,Dinda dan Seno sudah sampai di mal. Dinda terlihat begitu bersemangat. Dengan menggandeng tangan suaminya mesra.


"Kita cari makan dulu ya!" Ajak Seno.


"Tapi belum laper,mas."


"Janjinya tadi apa?"


"Hmm,iya deh."


"Mau makan di mana?"


"Hmm,mas. Aku bingung." Jawab Dinda.


"Kok bingung? Mas juga tidak tau,tidak pernah ke mal,cuma sama kamu."


"Hmm,maksudnya bingung makan apa yang tidak bau bawang,mas."


Hmm,tadi di rumah kok tidak bingung ya? Batin Seno. "Mas saja yang beli ya. Kalau kamu mau nanti mas suapin."


"Hmm,iya deh."


Sampai di foodcourt,Seno lalu memesan sejenis steak yang biasa Dinda beli. Dia coba beli steak dari ikan.


"Mas sudah pesan steak sama jus jeruk." Ucap Seno.


"Mas,aku mau cendol."


"Sebelah mana?"


"Itu dekat tenant ice cream."


Seno lalu membelikan cendol untuk Dinda. Lima menit,dia sudah kembali.


"Nih,tidak pakai es ya."


Dinda mengangguk. "Enak,mas. Mas kok tidak beli juga?"


"Mas minta saja sama kamu!"


"Iiihh,beli sendiri deh!"


"Ya sudah,kamu habiskan ya."


Tak lama,pesanan steak Seno datang. Seno menyendokkan sedikit untuk Dinda. "Coba jangan terlalu kamu cium aromanya."


Dinda mau juga membuka mulutnya. "Bagaimana,hmm?"


Dinda terlihat menutupi mulutnya sambil mengunyah pelan makanannya.


"Coba minum dulu." Seno menyodorkan gelas minuman tapi Dinda menggeleng.


"Hmm,tidak terlalu terasa bawangnya,mas." Ucap Dinda.


Seno tersenyum. "Lagi ya." Seno menyuapi Dinda lagi.


Sesendok,dua sendok sampai setengah porsi sudah Dinda habiskan. Seno kembali menyuapinya tapi Dinda menolak.


"Sudah mas." Tolak Dinda sambil menutupi mulutnya.


"Hmm,ya sudah lumayan. Mas habisin ya?"


Dinda mengangguk.


"Mas tidak pesan lagi?"


"Cukup. Mas mau makan di rumah saja. Bibi hari ini masak kesukaan mas."


"Hmm."


"Eh kamu belum tau ya. Mbak Siti saat hamil sama seperti kamu tidak bisa makan yang berbumbu,malah sampe parah dia. Tapi kalau mas Rey yang suapi,dia tidak muntah.


"Oh ya?"


"Iya. Mas pikir mbak Siti sedang manja sama mas Rey eh ternyata kamu juga. Kalau gitu,mas akan suapin kamu terus yang penting kamu mau maķan."


"Tapi ini ada rasa mual sedikit kok mas."

__ADS_1


"Tidak apa-apa asal tidak sampai muntah. Jus jeruknya di habisin,kan seger nih."


"Hhm,iya mas. Mas nanti aku mau cari tas ya"


"Tas apa?"


"Tas buat kerja."


"Hmm,iya nanti mas belikan."


"Terimakasih ya mas."


"Tapi jangan lama-lama kelilingnya ya,mas tidak mau kamu kecapean!"


"Iya mas. Aku ada toko langganan kok."


"Hmm."


Sepuluh menit,mereka meninggalkan foodcourt.


"Sebelah mana tokonya?"


"Hmm,lantai satu."


"Kamu belum capek kan?"


"Belum kok,mas."


"Bener ya? Inget yang ada di perut kamu. Masih muda banget."


"Iya suamiku!"


"Hehe,coba ulang lagi."


"Iiihh,memangnya acara sepak bola pake di ulang lagi?"


"Hmm,kamu tuh."


Lima menit,mereka sampai juga di toko tas langganan Dinda. Dinda memilih tas kecil berwarna merah.


"Bagus kan mas?"


"Iya bagus."


"Hmm,harganya tiga juta tidak apa-apa kan?"


"Iya tidak apa-apa kok. Biar mas yang bayar."


Saat Seno ingin membayar di kasir.


"Ada yang ori,mbak. Harganya cuma lima belas juta." Kata penjaga kasir.


"Ini bukan ori?" Tanya Seno kaget.


"Kw satu."


Hmm,tas juga ada tingkatannya ya. Batin Seno.


Setelah membeli tas,mereka langsung pulang.


"Mas,aku duduk di belakang ya?"


"Loh kenapa?"


"Kakiku,aku mau selonjor."


"Hmm,capek kan?"


Dinda menggeleng.


Hhh,takut di omelin jadi tidak mau ngaku capek.


.


.


.


.


.


Selamat membaca. moga suka😄😄


.


.


.


.


.


2100

__ADS_1


__ADS_2