Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 123 ( S2 )


__ADS_3

Saat Aaron sedang asik melihat-lihat isi handphone Romi,tiba-tiba Romi terbangun.


"Aaron?" Tanya Romi yang kaget melihat Aaron yang sedang duduk di sisi kasur sambil menatap handphonenya.


Aaron langsung menoleh. "Bang?"


"Sini handphone abang! Tidak sopan kamu ya!" Ucapnya kesal.


"Hhmm,tadi mau aku simpen eehh layarnya hidup ada foto gadis ya aku lihat." Ucap Aaron sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Hhuuhh,alasan saja kamu! Awas ya kalau kamu ulangi lagi!" Ancamnya.


"Iya bang. Maaf." Ucap Aaron dengan wajah menyesal.


"Dari mana saja kamu sudah malam begini baru pulang?"


"Aku kan kuliah,bang. Sudah lama bolos."


"Masa kuliah dari pagi sampai malam?"


"Dari siang kok. Aku juga tadi ke rumah Cintaku. Sudah lama tidak ketemu dia."


"Huuhhh,Cintaku-cintaku! Apa tidak ada gadis lain? Anak kecil di pacarin!"


"Kita tidak pacaran kok bang,belum boleh sama papanya. Tapi tidak masalah sih selama aku di bolehkan ketemu dia. Dan yang penting dia juga cinta sama aku." Terang Aaron sambil tersenyum semringah.


"Sok tau kamu."


"Tau donk,bang. Aku bisa merasakan kalau dia membalas cintaku. Hanya saja dia belum boleh pacaran."


"Huhh,mana ngerti anak kecil soal 'cinta' !"


"Ya ngerti saja lah bang. Bang,hampir saja dia tidak mau maafin aku gara-gara tau kalau abang yang sudah nyulik dia waktu itu. Dia pikir aku juga terlibat. Gara-gara abang nih,hampir saja hubunganku dengannya berantakan. Untung saja dia mau percaya lagi sama aku." Terang Aaron.


"Biar saja berantakan!" Ucap Romi masa bodoh.


"Abang jahat deh. Seneng ya kalau lihat aku sedih?"


"Kamu juga seneng kan lihat abang sedih!"


"Seneng apa maksud abang?"


"Buktinya kamu paksa abang nikahi perempuan itu. Sudah tau abang tidak suka sama dia! Memangnya kamu mau nikah sama orang yang tidak kamu cinta?"


"Kak Ratna hamil,bang! Kalau tidak hamil,aku juga tidak akan paksa abang. Salah abang juga kenapa waktu itu tidak buru-buru nikahi kak Dinda. Sekarang baru tau kan? Dan aku tidak mau jadi seperti abang. Aku akan perjuangkan Cintaku!"


"Huhhh,dia saja yang tidak setia nunggu abang pulang dari luar negri. Entah apa yang di perbuat sama suaminya itu sampai-sampai Dinda mau menikah dengan dia!"


"Memangnya abang sudah bilang kalau mau nikahi kak Dinda?"


"Ya sudah. Memang dasar dia yang tidak setia!"


"Hhhmm,tidak mungkin kak Dinda begitu bang? Abang jujur saja,pasti abang pernah sakiti dia makanya dia memilih menikah dengan orang lain!"


"Hhh,jangan sok tau kamu! Kamu kok malah lebih membela orang lain sih?" Kesal Romi.


"Sudahlah bang,kak Dinda sudah bahagia dengan suaminya. Mungkin bukan jodoh abang. Belajarlah untuk menerima kak Ratna,dia sedang mengandung keponakanku,anak abang. Semua kan juga salah abang kenapa sampai membuat kak Ratna hamil. Kak Ratna juga pasti tidak mau bang,hamil sebelum nikah!"


"Sudah! Ocehan kamu bikin abang makin pusing saja!" Gerutunya.


"Hhhh,ya sudah. Nih aku bikinkan salad. Tadi abang minta kan!" Ucap Aaron seraya mengulurkan mangkuk ke hadapan Romi.


"Sudah tidak kepingin lagi." Tolaknya.

__ADS_1


"Yah,abang. Aku sudah capek bikinnya nih!" Gerutu Aaron.


"Abang tadi minta jam berapa? Sekarang jam berapa?"


"Yah kan aku sedang di luar bang."


"Iya sibuk pacaran. Sudah mulai suka pulang malam!"


"Bang,aku ngantuk. Aku mau ke kamarku." Aaron langsung berdiri dan berlalu meninggalkan kamar Romi.


Males debat sama bang Romi. Batin Aaron.


***


Rey dan anak-anaknya baru saja berangkat. Siti kembali masuk ke rumah. Ada Ratna dan omanya anak-anak di ruang keluarga.


"Siti,nanti mama mau ajak Ratna memilih kebaya pangantinnya. Kamu mau ikut?" Ajak oma.


"Jam berapa ma? Asalkan sebelum anak-anak pulang sekolah tidak masalah."


"Kita berangkat jam delapan saja,kan anak-anak sampai rumah jam sebelas."


"Oohh,tidak apa-apa ma."


"Ooh iya Siti,kamu kapan mau syukuran empat bulanan,kan beberapa hari lagi."


"Iya ma,bagaimana kalau jumat sore saja?"


"Hhmm,jumat sore juga baik. Tanya Rey dulu dia sibuk tidak jumat sore nanti. Kan dua hari lagi. Sekalian nanti mama mau ke teman mama yang bisa bantu-bantu untuk acara kamu."


"Iya,ma. Nanti aku akan kasih tau mas Rey."


Satu jam kemudian tepat jam delapan pagi,Siti dan oma menemani Ratna mencari kebaya pengantin di butik langganan oma.


"Saya mau yang sederhana saja,bu. Di sini semua terlalu mewah untuk saya pakai." Jawab Ratna merendah.


"Kamu tidak boleh berpikir seperti itu. Semua perempuan yang ingin menikah pasti ingin memakai pakaian terbagus. Ayo kamu pilih. Atau mau di pilihkan sama mbaknya nih?" Sambil menunjuk mbak-mbak yang menjaga butik.


"Mbaknya mau yang tertutup apa sedikit terbuka?"


"Hhmm,saya mau yang tertutup saja." Jawab Ratna.


"Oohh,kalau misal nanti pas acara nikahannya pakai hijab,kita ada kok. Ayo ikut saya." Ajak mbak penjaga butik yang langsung pergi ke ruangan lain. Ratna,Siti maupun oma mengikuti dari belakang.


"Nah,ini untuk pengantin yang memakai hijab. Tapi kalau tidak mau memakai hijab,kebaya ini masih cocok kok." Terangnya.


"Ini bagus loh Ratna." Ucap oma.


"Iya bagus." Siti ikut menimpali.


"Hhmm,berapa ini mbak?" Tanya Ratna ragu-ragu. Dia merasa kebaya itu justru lebih mewah daripada yang pertama tadi mereka lihat.


"Kalau kamu suka,ambil saja. Biar oma urusan bayarnya." Ucap oma.


"Tapi harganya berapa mbak?" Tanya Ratna penasaran.


Mama menggelengkan kepalanya ke arah penjaga butik. "Langsung di coba saja mbak,pas apa tidak." Titah oma Asti.


"Ayo mbak,kita coba dulu." Ajak penjaga butik.


"Ayo Ratna,kamu coba ya." Titah Siti.


Ratna akhirnya menurut. Dia lalu mengikuti langkah kaki penjaga butik. Setelah sampai di kamar pas,Ratna mencoba kebayanya.

__ADS_1


"Masya Allah,cantik sekali kebaya ini. Rasanya tidak cocok kalau aku yang mengenakannya." Gumam Ratna. Dengan hati-hati sekali Ratna mencoba kebayanya. Dia menatap pantulan bayangannya di cermin kaca.


"Kalau Cinta yang memakai kebaya ini,pasti dia akan terlihat makin cantik. Hhhmm,rasanya aku tidak percaya diri."


Akhirnya Ratna keluar dari kamar pas. Siti dan oma sudah berdiri menunggunya.


"Waahh,kamu sangat cantik mengenakan kebaya ini,Ratna." Seru oma bersemangat. "Iya kan,Siti!"


Siti mengangguk setuju. "Iya benar. Apalagi nanti jika sudah di rias pengantin ya,kamu pasti makin cantik."


"Hhmm,tapi saya tidak percaya diri memakainya.".Tolak Ratna halus.


"Kamu harus percaya diri,Ratna! Tunjukkan pada calon suami kamu,kalau kamu cantik dan layak di cintai!" Tegas oma.


"Iya Ratna. Kamu harus percaya diri!" Siti ikut menyemangati.


"Hhmm,baiklah." Ratna menurut lalu kembali masuk ke kamar pas untuk mengganti lagi dengan pakaiannya yang tadi.


"Ohh iya. Nanti Ratna mau pakai hijab tidak? Kalau pakai,kita tidak sekalian beli aksesorisnya,ma?" Tanya Siti pada oma.


"Kalau masalah aksesoris,kita minta MUAnya saja yang siapin sekalian hijab pengantinnya." Jawab mama.


Siti mengangguk.


"Ya sudah,kita bayar dulu ya." Ucap oma Asti.


Oma Asti langsung ke kasir untuk membayar kebayanya yang di pilih Ratna. Setelahnya mereka langsung pulang.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


.


.


1313

__ADS_1


__ADS_2