
Hari ini adalah hari yang sangat di nantikan oleh Siti maupun Rey. Hari kepulangan buah hati mereka setelah hampir satu bulan lamanya di rawat secara intensif dalam inkubator di ruangan NICU.
Pagi-pagi sekali setelah sarapan,mereka berangkat ke Klinik dokter Layli. Mama dan papa juga Seno tidak mau ketinggalan,mereka semua ikut termasuk si kecil yang sedang belajar berjalan siapa lagi kalau bukan Putri. Bayi yang belum genap satu tahun tapi sudah menjadi seorang kakak.
Mereka mengendarai mobil milik Siti karena hanya mobil Siti yang berukuran cukup besar dan berfasilitas lengkap.
"Putri mau jemput adik bayi ya?" Papa mengajak cucunya belajar berbicara. Putri dengan cepat tanggap langsung mengangguk dan berkata. "Ya yaa yaaa." Kata pertama yang terucap dari bibir mungilnya. Sungguh menggemaskan. Membuat Siti maupun Rey yang merasa tegang jadi rileks.
"Putri sudah jadi kakak,ya! Jadi kakak yang baik untuk adik Putra." Mama ikut mengajak cucunya bicara.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di klinik dokter Layli. Siti berjalan di depan di iringi oleh Rey sementara mama berjalan di belakangnya bersama papa yang menggendong Putri. Seno berjalan paling belakang sambil memainkan handphonenya.
Dengan perasaan yang campur aduk,Siti melangkahkan kakinya masuk ke klinik. Menyusuri koridor dan kamar inap,akhirnya mereka tiba juga di depan ruang NICU.
"Siti." Panggil dokter Layli.
Siti langsung menoleh. " Dokter." Sahut Siti.
"Wah tidak biasanya ramai-ramai ke rumah sakit. Si kakak ikut juga ya." Dokter Layli mengajak Putri berbicara. Bayi itu hanya menatap dengan tanpa ekspresi,mungkin karena belum mengenal yang mengajaknya berbicara. Dia lalu memeluk opanya.
"Rey,urus administrasinya dulu ya!" Titah dokter.
"Oh iya dokter." Sahut Rey. Dia segera ke bagian administrasi.
Siti masuk ke ruang NICU di ikuti oleh mama. Papa menunggu di ruang tunggu bersama Seno.
"Pa,sini biar Seno yang gendong Putri." Pinta Seno sambil meraih Putri ke dalam gendongannya.
"Oh iya." Papa memberikan Putri pada Seno.
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan NICU.
Didalam ruangan NICU,Siti menggendong bayinya yang sudah terbebas dari semua selang yang menempel di tubuhnya. Siti begitu terharu sampai tidak terasa meneteskan air matanya.
"Sayang,akhirnya kamu bisa pulang ke rumah,kita bisa berkumpul." Ucapnya sambil mencium lembut dahi bayinya yang masih terlihat merah itu.
"Kamu bisa gendongnya,Siti?" Tanya mama.
"In sya Allah bisa,ma." Jawab Siti.
Dokter lalu menjelaskan semua kondisi Putra. Karena terlahir prematur jadi di sarankan untuk memeriksakannya kalau bisa sebulan sekali untuk mengetahui perkembangannya.
"Organ tubuhnya bagaimana,dokter?" Tanya mama.
"Organ tubuhnya mulai terbentuk sempurna,kita tinggal memberikan dia asupan gizi yang cukup. Usahakan harus ASI ya mbak Siti!" Terang dokter dengan penekanan.
"Baik,dok." Jawab Siti.
"Alhamdulillah. Saya khawatir dengan kondisinya,dok." Ucap mama.
"Tidak perlu khawatir. Yang harus di perhatikan adalah asupannya setiap hari. Dua jam sekali harus di berikan ASi. Misal belum dua jam dia sudah menangis,coba kasih ASI lagi mungkin dia sudah lapar lagi. Bayi laki-laki kan kalau minum susu kuat." Terang dokter.
__ADS_1
"Iya dokter benar. Rey juga saat bayi minum ASInya kuat,beda sekali sama kakaknya." Mama menimpali.
"Nah,kamu sudah pengalaman kan,As." Ucap dokter Layli.
"Iya dok." Sahut mama. Mereka lalu keluar dari ruangan NICU.
"Seno. Laptop kamu sudah di beli kan?" Tanya dokter Layli saat melihat Seno yang sedang mengajak bicara keponakannya.
"Oh sudah kok,dok. Terimakasih." Jawab Seno.
"Syukurlah." Ucap dokter. "Asti selamat ya sudah nambah cucu lagi." Ucap dokter pada mama yang sedang menggendong Putra.
"Terimakasih,dokter. Dokter sendiri kapan mau nambah cucu lagi?"
"Hehee,Dinda masih sekolah. Sedangkan kakaknya belum mau nambah anak lagi,dua saja cukup kata mereka." Terang dokter Layli sambil tersenyum.
"Dani sama Dinda jaraknya jauh ya,dok?"
"Iya,hampir sepuluh tahun. Saya kan memang susah hamilnya jadi ya gitu,jauh."
"Tidak apa-apa yang penting di kasih,lengkap lagi sepasang." Ucap mama.
"Iya kamu benar."
"Oh iya nanti kita mau adakan syukuran. Datang ya dok!"
"In sya Allah As. Oh iya saya duluan ya." Pamit dokter Layli.
Mereka semua lalu bersalaman dengan dokter Layli sebelum pulang. Rey sudah selesai dengan urusan administrasinya.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran,Putri selalu berceloteh riang bersama pamannya. Sampai-sampai Seno tidak terlaku fokus ke jalan dan ketinggalan jauh dari keluarga.
"Loh,yang lain kemana?" Dia menoleh ke kiri dan kanan tapi tak terlihat lagi keluarganya.
"Yah,kita ketinggalan sama adik Putra nih kak." Ucapnya pada Putri yang hanya tertawa-tawa.
Dia lalu buru-buru menyusul ke parkiran. Sampai di parkiran,ternyata semua keluarga sudah menunggu dengan cemas.
"Dek,kamu kemana saja sih?" Gerutu Siti.
Seno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehee,maaf mbak. Tadi asik ajak Putri main jadi lambat jalanku." Terang Seno.
"Kamu itu bikin orang cemas saja."
"Sudah yank. Yuk kita pulang." Ajak Rey.
Rey lalu naik ke kursi kemudi,papa duduk di sebelahnya. "Kita langsung pulang kan?"
"Iya pulang nak,masa Putra mau di ajak jalan." Sahut mama.
Rey lalu melajukan mobilnya ke arah rumah. Jalanan mulai ramai karena sudah menunjukkan pukul sepuluh. Jam-jam ramainya para pengguna jalan.
__ADS_1
Sampai di rumah,mama langsung membawa Putra ke kamar Rey. Menidurkan bayi mungil itu di kasur.
"Langsung kamu kasih ASI ya,Siti!" Titah mama.
"Iya ma." Sahut Siti.
Siti lalu memberikan ASI untuk bayinya. Bayinya itu terlihat kesusahan melekatkan mulutnya ke PD mamanya. Mulutnya juga belum terlatih bagaimana caranya. Siti terus berusaha agar bayinya bisa mendapatkan ASI tapi karena tidak juga berhasil,bayinya langsung menangis lirih. Tangisannya terdengar sangat pelan berbeda dengan kakaknya yang kalau menangis sangat kencang.
Ceklek. Ada yang membuka pintu kamar.
"Yank." Panggil Rey yang muncul dari balik pintu.
"Hmm,mas sini deh." Pinta Siti.
Rey lalu mendekatinya. "Kenapa yank?"
"Lihat deh,Putra tidak bisa minum ASIku. Dari tadi sudah aku coba tapi dia tetap tidak bisa,jadinya nangis gini. Tangisannya juga pelan sekali ya mas." Keluh Siti.
"Hmm,mas tanya mama dulu ya." Rey segera keluar dari kamar.
"Nak,kamu kenapa? Cup cup." Siti lalu menimang-nimang bayinya agar tidak menangis lagi.
Tak berapa lama,mama dan Rey masuk ke kamar.
"Siti,Putra kenapa?" Tanya mama yang mendekatinya.
"Putra kesulitan melekatkan mulutnya ma. Jadi dari tadi dia tidak bisa minum ASI." Terang Siti.
"Hmm,kasihan kamu sayang." Mama mengusap lembut kepala cucunya itu. "Mama tanya dokter Layli dulu ya. Rey,pinjam handphone kamu." Pinta mama.
Rey lalu memberikan handphonenya ke mama. Mama langsung menghubungi dokter Layli. Setelah bercakap-cakap beberapa menit,mama memutuskan panggilan telponnya.
"Siti,ASI kamu di pompa saja. Kita coba pakai sendok atau pipet." Titah mama.
"Hmm,jadi Putra tidak bisa minum ASIku langsung ya ma?" Siti terlihat sedih.
"Untuk saat ini saja. Dia menangis karena kelaparan. Nanti kalau dia sudah kenyang,baru kamu latih terus." Terang mama.
"Hmm,baiklah ma." Siti pun menurut.
"Rey,kamu gendong dulu Putra biar Siti memompa ASInya. Mama masih harus menyuapi Putri." Titah mama.
"Iya ma." Rey lalu mengambil alih menggendong bayinya.
"Terimakasih ma,maaf merepotkan." Ucap Siti.
"Iya. Mama turun dulu." Pamit mama.
Siti lalu mulai memompa ASInya sementara Rey menggendong Putra sambil menimang-nimangnya agar lebih tenang.
NEXT
__ADS_1
0107/1535