
"Ehmm. Kita mau kemana?" Tanya Seno saat mereka sudah berjalan hampir setengah jam.
Dinda menoleh. "Hmm,terserah saja." Jawab Dinda.
"Kamu sudah makan siang belum?"
"Belum."
"Ya sudah aku antar kamu makan siang ya. Mau makan di mana?"
"Hmm,terserah saja."
Seno menoleh sesaat. Sepertinya Dinda tidak nyaman jalan denganku. Batin Seno. "Ehhm,bagaimana kalau makan di kafe depan kantor mas Rey? Di sana ada menu enak selain kopinya." Tawar Seno.
"Hmm,terserah saja." Jawab Dinda.
Dari tadi terserah terus. Hhh,gara-gara aku,Dinda harus di paksa sama maminya. Uuhhh,Seno-seno. Sesalnya dalam hati sambil meremas stir mobilnya.
Seno pun melajukan mobilnya kearah kantor Rey. Setelah sampai,Seno lansung memarkirkan mobilnya tepat di depan kafe yang mulai sepi karena jam makan siang sudah habis.
Seno ingin membukakan pintu mobil untuk Dinda tapi gadis itu sudah lebih dulu turun.
"Ehmm,yuk." Ajak Seno. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kafe. Dinda memilih duduk di dekat jendela sebelum Seno sempat menarik kursi untuknya.
"Mau pesan apa?"
"Ehmm,terserah saja." Jawab Dinda tanpa menoleh yang membuat Seno jadi kesal.
"Di sini tidak ada nama makanan 'terserah saja'. "Jawab Seno pelan agar gadis di depannya tidak tersinggung.
Dinda menoleh. "Ehmm,menu enak yang kamu bilang tadi." Ucap Dinda lirih.
"Ok. Aku pesankan." Ucap Seno yang langsung memesan makanan untuk Dinda,teh hangat dan kopi spesial untuknya.
Selama menunggu pesanan datang,mereka tidak ada yang mau memulai bicara. Dinda hanya memandang keluar jendela sementara Seno sibuk dengan handphonenya. Sepuluh menit kemudian pesanan mereka baru datang.
"Silahkan." Tawar Seno.
"Ehmm,ini. Ini cuma buat aku?"
"Iya,tadi aku sudah makan siang sama mas Rey." Jawab Seno yang masih sibuk dengan handphonenya.
"Hmm,ooh. Aku makan dulu." Ucap Dinda pelan. Dia merasa tidak enak hati makan sendirian.
Dinda makan dengan pelan sambil melamun. Seno sesekali menyesap kopinya. Tetap tak ada yang mau memulai bicara.
Dinda menaruh makanannya yang belum habis lalu segera minum tehnya.
Seno melirik ke arahnya sekilas.
"Kenapa tidak di habiskan? Tidak enak ya?" Tanya Seno.
Dinda menoleh. "Ehmm,enak kok. Aku,sudah kenyang." Jawab Dinda.
"Sekali lagi aku minta maaf. Kamu jadi dapat masalah gara-gara aku. Aku. . ."
"Sudah tidak usah di bahas. Ehmm,kamu tidak ada kerjaan jam segini? Maaf,mami maksa kamu datang di saat jam kerja."
"Kerjaanku hanya sedikit,nanti juga bisa aku kerjakan lagi."
"Ehmm,kalau. . ."
"Kalau. . ."
Mereka berbicara hampir berbarengan.
"Kamu duluan." Titah Seno.
__ADS_1
Hhh,Dinda menarik nafasnya berat. "Kalau,hmm misalnya kamu keberatan dengan permintaan mami,kamu tolak saja." Ucap Dinda lirih.
Seno menatap Dinda lekat-lekat. "Aku memang harus bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat."
"Tapi kamu tidak melakukan apa-apa. Aku sungguh-sungguh sudah menjelaskan semua sama mami tapi mami tidak mau mengerti. Dia tetap merasa kalau aku-aku. . ."
"Aku hampir melakukannya,kamu tau. Aku justru berterimakasih karena kamu sudah berusaha mencegahku."
"Iya,berarti itu semua tidak sampai terjadi. Jadi tidak ada yang perlu kamu pertanggungjawabkan! Kamu,kamu bisa tolak keinginan mami!"
"Laki-laki itu yang di pegang omongannya. Aku harus bisa membuktikan omonganku. Aku tidak akan ingkar dengan janjiku!"
"Karena terpaksa? Kamu mau hanya karena terpaksa?"
"Dinda,aku. . ."
"Kenapa kamu tidak berusaha menolak mami? Aku sudah tidak bisa membantahnya." Wajah Dinda mulai memerah,matanya pun mulai panas. Dia begitu takut membayangkan pernikahan seperti apa yang akan dia jalani.
"Dinda,kamu yang terpaksa. . ."
"Jangan memutar fakta. Aku tau kamu terpaksa!"
"Dinda,dengar. . ."
"Aku mau pulang! Bisa tolong antar aku pulang?" Pinta Dinda dengan suara bergetar. Gadis itu sedang berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan laki-laki di hadapannya. Dia pun segera berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Seno buru-buru mengeluarkan dompetnya lalu meletakkan beberapa lembar uang di bawah cangkir kopinya. Dia langsung menyusul Dinda di luar.
"Dinda. . ." Seno meraih tangan Dinda agar gadis itu menghentikan langkahnya. "Tunggu,aku akan antar kamu pulang."
Dinda melepaskan pegangan tangan Seno. Seno lalu membukakan pintu mobil untuk Dinda. Seno langsung melajukan mobilnya meninggalkan kafe tanpa dia sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Di dalam mobil. "Aku antar ke klinik atau kemana?"
"Rumah."
"Hmm,rumahku di jalan Anggrek 2."
Seno lalu melajukan mobilnya ke jalan anggrek 2. Sepanjang perjalanan Dinda hanya diam,pandangannya melihat ke samping jendela. Lebih setengah jam,mereka pun sampai juga di kediaman Dinda. Rumah berpagar tinggi dengan cat putih dan halaman yang luas terlihat dari luar pagar. Hanya lebih kecil sedikit di banding rumah keluarga Rey. Tapi tetap terkesan mewah dan berkelas.
Seno berhenti di depan pagar,Dinda cepat-cepat turun sebelum Seno membukakan pintu mobil untuknya.
"Hmm,Din?" Tegur Seno.
"Aku,aku pulang dulu. Terimakasih." Sahut Dinda yang segera masuk ke dalam pagar rumahnya yang sudah di buka oleh satpam.
"Apa dia benci sama aku?" Gumam Seno.
Seno lalu pergi meninggalkan rumah Dinda. Dia melajukan mobil ke arah rumah keluarga Rey. Percuma juga kembali ke kantor,hari sudah sore. Batinnya.
Sampai di rumah keluarga Rey,ternyata suami mbaknya pun baru sampai juga di rumah. Mereka turun dari mobil berbarengan.
"Seno?" Sapa Rey.
"Ehmm,mas." Sahut Seno tidak enak hati karena tidak pamit dulu tadi saat meninggalkan kantor saat jam kerja. Ternyata Cinta pun baru turun dari mobil. Mereka beradu pandang beberapa detik,setelahnya Cinta langsung berlarian masuk ke dalam rumah.
"Cinta. . ." Teriak Rey. "Anak itu seneng banget lari-larian." Keluh Rey sambil menggelengkan kepalanya.
"Mas,maaf tadi tidak pamit lagi. Masih ada yang belum sempat aku kerjakan."
"Oohh,tidak apa-apa. Yang belum kamu kerjakan bisa kamu selesaikan besok siang." Jawab Rey.
"Hmm,iya mas." Mereka lalu masuk ke dalam rumah.
Didalam rumah anak-anak Siti sedang bermain di ruang tengah. Tidak ada Cinta di sana. Seno segera menuju kamarnya.
"Kakak Cinta kemana,dek?" Tanya Rey pada anak-anaknya.
__ADS_1
"Kakak ke kamarnya,pa. Mau mandi katanya." Jawab Putri.
"Hmm,kalau mama mana?"
"Mama juga di kamar sedang mandi,pa."
"Ooh ya sudah. Papa ke kamar dulu ya." Pamitnya pada anak-anak. Rey pun segera naik ke atas,ke kamarnya.
"Yank,segernya. Habis mandi ya?" Tanya Rey saat masuk ke dalam kamar,istrinya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya mas,tadi aku sih sudah mandi. Adek Putra tidak biasanya minta di mandiin,sambil main-main jadinya pakaianku basah semua,mandi lagi deh." Terang Siti.
"Hmm,coba tunggu mas ya."
"Mas mau mandiin adek?"
"Mau mandi sama kamu." Goda Rey.
"Iihh. Ya sudah sana mandi." Titah Siti.
"Kamu sekarang makin susah di dekati,hmm." Gemas Rey mencubit kedua pipi istrinya lalu merangkulnya.
"Aku tuh capek,mas. Tingkah anak laki-laki mas ada saja tiap hari. Kadang berantem sama kakaknya. Huuhh! Seperti punya anak kembar saja." Kesal Siti.
"Yah biarin saja mereka,yank. Memang mereka kembar beda bulan saja kan. Hehee."
"Hmm,iya mas kalau mereka berantem di biarin saja sih. Sama seperti oma dan opanya."
"Namanya juga masih anak-anak yank. Nanti kAlau mereka sudah besar,sadar sendiri. Yuk temani mas mandi."
"Iihh,masa aku mandi lagi mas? Sudah dua kali sore ini." Tolak Siti sambil melepas rangkulan suaminya.
"Cuma temani kok tidak usah ikut mandi." Paksa Rey yang langsung menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas,aku tidak mau mandi lagi!"
"Sebentar. . ."
"Mana bisa sebentar."
"Bisa. . ."
"Hhuuuhhh. . .
.
.
.
.
.
NEXT yaaa. . . .
Terimakasih sudah baca cerita othor yang recehan ini. ππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
2807/0818