
Siti bersama Rey sedang menuju sekolah Seno. Mereka berencana membeli beberapa barang untuk mengisi rumah Siti. Rey terlihat bersemangat terlebih dia sudah berbaikan dengan istrinya dan mereka sudah kembali romantis dan istriya sudah mau di ajak lagi.
"Sayang,nanti kamu pilih sendiri mana yang kamu suka ya!" Ucap Rey.
"Hmm,tapi saya kan kurang paham mana yang bagus mas! Mas saja yang pilih,pasti saya suka kok!" Ucap Siti.
"Tidak sayang! Mas mau kamu pilih sendiri yang kamu suka! Itu hadiah untuk kamu!"
"Hmm,iya deh!"
Mobil Rey telah sampai di depan sekolah Seno. Siti sudah menghubungi adiknya itu kalau mereka akan menjemputnya di sekolah untuk mengajaknya berbelanja.
Dari jauh terlihat Seno sedang berjalan keluar gerbang sekolah bersama teman-temannya.
"Itu Seno,mas!" Tunjuk Siti.
"Iya sayang! Kamu panggil dari sini saja!" Titah Rey yang segera membuka jendela mobil di samping Siti.
"Seno!" Seru Siti saat adiknya mulai mendekat ke arah mobil mereka.
Seno menoleh lalu melambaikan tangannya.
"Sudah lama mas,mbak?" Tanya Seno saat sudah di dalam mobil.
"Baru saja kok!" Jawab Siti. " Tadi mbak lihat teman perempuan kamu yang pakai jaket itu narik-narik tangan kamu kenapa,Seno?"
"Hhmm,oohh dia mau minta anter cari buku mbak!" Jawab Seno gugup.
"Yakin kamu?"
"Hmm,yakin donk mbak?" Seno berusaha meyakinkan mbaknya.
"Pacar kamu kali?" Rey ikut menimpali.
"Aahh mas bisa saja. Cuma teman kok mas!"
"Kamu jangan pacaran ya Seno!" Ucap Siti tegas.
"I iya mbak!"
"Ya biarkan sajalah,kan bisa untuk penyemangat sekolah!" Rey mendukung Seno.
"Iihh mas ini,pokoknya tidak boleh!" Ucap Siti dengan penekanan.
"Heheheee! Contoh mbak kamu Seno. Tidak pernah pacaran. Sekalinya cinta,bisa setengah mati!" Goda Rey.
"Iiihh mas ini!" Siti mencubit lengan suaminya.
"Iih kok nyubit yank?"
"Salahnya nyebelin!"
"Nyebelin tapi sayang kan?"
"Tau ahh!"
Seno senyum-senyum melihat tingkah mbak dan suaminya. Moga kalian selalu saling menyayangi dan bersama selamanya. Doa Seno dalam hati.
Mobil Rey sudah sampai di depan toko elektronik. Rey memarkirkan mobilnya di depan toko. Bertiga mereka masuk dan mulai melihat-lihat apa yang hendak mereka cari.
"Yang ini kamu suka,yank?" Tanya Rey sambil menunjuk sebuah lemari es berpintu dua.
__ADS_1
"Hmm,terlalu besar mas!" Jawab Siti.
"Tidak apa-apa yank,biar muat banyak kan!" Ucap Rey.
"Tapi mas,listrik kita tidak akan cukup!" Seno menimpali.
"Nanti kita pasang baru!" Ucap Rey masih meyakinkan.
"Hmm,Seno terserah saja kalau begitu!"
"Hmm,kamu suka kan yank? Ini yang paling bagus di sini!"
"Hmm,terlalu besar juga terlalu mewah mas. Pasti harganya mahal!" Ucap Siti.
"Tapi kamu suka kan yank? Yang ini ya?"
Siti mengangguk. Dia memang suka tapi ingin yang biasa saja. "Ya sudah mas saya nurut mas saja!" Ucap Siti akhirnya.
Rey tersenyum. "Iya kita ambil yang ini ya! Beli AC sama mesin cuci juga ya biar kamu tidak capek cuci baju!"
"Hmm,tapi mas?"
"Yank,beli ya! Kamu kan sedang hamil tidak boleh kerja yang berat-berat.
"Hmm,ya sudah terserah mas saja!" Ucap Siti.
Mereka akhirnya membeli semua yang di butuhkan di rumah Siti. Setelah membayar dan memberikan alamat rumah,mereka lalu keluar dari toko.
"Mas totalnya banyak sekali!" Ucap Siti.
"Biasa saja kok yank! Kita cari kasur sama sofa ya! Seno,kamu ganti kasur juga ya." Ucap Rey sambil menoleh ke arah Seno yang duduk di belakang.
"Tidak mas,Seno pakai yang lama saja masih bisa di pakai kok!" Tolak Seno.
"Terimakasih mas tapi tidak usah!" Seno tetap menolak.
"Hmm,ya sudah."
Ternyata Rey tidak hanya membelikan istrinya kasur baru,tapi juga semua perabotan rumah. Dari yang ukuran besar sampai ukuran kecil.
"Mas kok isi toko di beli semua?" Tanya Siti.
"Hehee! Sayang,kamu kan lama di desa!"
"Hmm,hanya sampai Seno lulus saja kan!"
"Yah kan hampir dua bulan!"
Hmm. . .
Sepulang dari belanja isi rumah,Rey mengajak istrinya dan Seno makan siang di luar. Tak lupa mereka mampir ke minimarket untuk membeli susu hamil dan juga untuk mengisi lemari es.
"Beli buah juga yank! Kamu juga harus banyak makan buah!" Titah Rey.
"Kenapa Seno tidak ikut turun yank?" Tanya Rey heran.
"Seno tidak suka belanja mas!" Jawab Siti.
"Oohh begitu ya!"
***
__ADS_1
"Mas. . .?" Panggil Siti dengan manja,saat mereka baru saja selesai memadu kasih di kasur yang baru. Masih memeluk suaminya sambil meneliti tiap inci wajah suaminya sampai ke pori-porinya.
"Hmm,kenapa sayang?" Rey menatap istrinya yang masih berbalut selimut berdua dengannya.
"Terimakasih ya,mas masih sabar menghadapi sikap saya yang seperti anak kecil!"
"Hmm,kamu bukan seperti anak kecil tapi seperti bayi! Lucu,gemesin dan ngangenin!" Ucap Rey membuat hati Siti berbunga-bunga.
"Mas,jangan tinggalin saya ya!" Ucap Siti lagi sambil mengeratkan pelukannya.
"Mana sanggup mas jauh dari kamu yank! Kamu sudah mencuri hati dan pikiran mas! Kamu juga jangan tinggalin mas ya! Kalau ada masalah,kamu langsung cerita sama mas! Mau marah-marah juga tidak masalah tapi jangan nyakitin diri sendiri lagi! Kamu itu hadiah terindah dan teristimewah yang Allah kasih buat mas! Kamu harus yakin itu!"
Siti mengangguk-anggukkan kepalanya dan terus mempereratkan pelukannya saking bahagianya. "Hmm,mas. . ."
"Hmm,kenapa sayang?" Rey mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra.
"Ngantuk!"
"Ngantuk? Beneran ngantuk?"
"Ehhmm!" Siti menganggukkan kepalanya.
"Tapi kamu harus tanggung jawab dulu!"
"Hmm,tanggung jawab apa?" Siti mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap wajah suaminya
"Kamu gerak-gerak terus dari tadi jadi rasain sendiri!" Ucap Rey sambil menyeringai.
"Tapi mas? Ngantuk. . .!" Siti berusaha menolak tapi sudah tidak sempat lagi. Suaminya terlalu bersemangat.
***
Lagi-lagi Siti dan suaminya bangun kesiangan bahkan adiknya Seno sudah berangkat sekolah dari tadi. Matahari sudah menyilaukan mata di balik gorden.
"Huuhh kesiangan lagi deh!" Gumam Siti lalu buru-buru turun dari kasur.
"Yank,pelan-pelan donk turunnya!" Protes Rey karena Siti turun dari kasur dengan terburu-buru.
"Sudah pukul tujuh ini mas!" Terang Siti sambil menatap jam di dinding kamar.
"Kok dingin yank?"
"Semalaman ujan ya dingin mas!" Jawab Siti.
"Hehehee,lupa kalau semalam hujan. Yank,Seno sudah berangkat sekolah ya?"
"Hmm,kenapa memang?"
"Kita belum pernah kan pagi-pagi?"
"Belum pernah apa?"
"Ayo yank!" Rey menarik tangan Siti hingga Siti terjatuh ke kasur.
"Mas ini! Orang mau bangun sudah siang ini bukan pagi lagi! Saya mau mandi!" Tolak Siti.
"Masih pagi sayang! Yuk,nanti langsung mandi!"
Siti pun tidak jadi mandi karena ulah suaminya yang selalu tidak merasa cukup untuk urusan yang satu itu.
NEXT
__ADS_1
140521/22.24