Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 103


__ADS_3

Setelah puas menatap bayinya,Rey hendak keluar dari ruang NICU. Sebelumnya dia bertanya pada suster yang berjaga.


"Kondisi bayi saya bagaimana,sus?"


"Oh kalau itu,bapak silahkan bertanya langsung sama dokternya ya." Jawab suster.


"Hmm,kalau jenis kelaminnya,sus?"


"Jenis kelaminnya laki-laki,pak." Jawab suster.


"Baiklah,terimakasih sus."


Rey lalu menelpon Seno.


"Halo,Seno. Bagaimana?"


"Paman sama Radit mau datang?"


"Ok,mas tunggu di klinik ya. Kamu langsung saja ke ruang ICU,mas juga mau kesana."


"Ini mas baru dari ruang NICU,bayinya di taruh di inkubator."


"Ok."


Rey mematikan panggilan telponnya dan segera ke ruang ICU.


"Sus,saya mau lihat pasien bernama Siti." Ucap Rey pada suster jaga.


"Oh silahkan pak.Jangan lupa pakaian khusus dan maskernya ya di ruangan sebelah kiri pintu." Terang suster.


Rey memakai pakaian dan juga masker lalu masuk ke ruang ICU di mana istrinya di rawat.


"Sus,apa istri saya masih belum sadar?" Tanya Rey pada perawat yang sedang memberikan Siti makanan cair melalui sonde.


"Belum,pak. Tapi kondisinya mulai stabil. Kita masih menunggu darah satu kantong lagi pak. Bapak berdoa saja ya." Terang suster.


"Hmm,iya sus. Yang mau donor sedang dalam perjalanan."


"Iya pak. Karena golongan darah pasien memang jarang." Ucap suster yang segera berlalu dari ruangan Siti karena sudah selesai dengan tugasnya.


Rey menggenggam tangan istrinya yang dingin dan pucat. "Kamu jadi sering sakit sejak nikah sama mas,yank." Ucap Rey lirih.


"Mas tadi baru saja lihat bayi kita. Dia begitu mungil yank dan banyak selang di tubuhnya. Maafkan mas ya,semua gara-gara mas kalian yang harus susah." Rey diam sesaat.


"Sadarlah yank. Putri juga nungguin kamu di rumah."


"Pak,ada keluarga lain yang ingin menjenguk. Bapak gantian saja." Tiba-tiba suster datang.


"Oh,baiklah sus." Ucap Rey. "Mas keluar dulu yank." Rey pamit pada istrinya,mencium dahinya lalu keluar dari ruangan ICU.


Saat di depan pintu masuk ternyata ada Seno.


"Aku mau lihat mbak Siti,mas." Ucap Seno.


"Iya,kamu masuk saja,mas tunggu di luar." Rey lalu duduk di dekat pintu masuk sementara Seno masuk untuk menemui Siti.


Hhh. Rey menghela nafasnya berat lalu mengusap kasar wajahnya. Dia menatap kosong ke depan.


"Mas?"

__ADS_1


Rey menoleh kaget. "Seno?"


"Mas pulang saja dulu,mandi dan makan biar segar. Seno jagain sementara di sini. " Saran Seno.


"Kamu belum mau kerja?"


"Aku sudah bilang sama Toni,mas. Aku akan datang telat dan mas tidak bisa datang hari ini." Terang Seno.


"Hmm,mas tidak tenang kalau pergi dari sini,Seno." Tolak Rey.


"Sebentar saja tidak apa-apa,mas. Kan hanya mandi dan makan,biar mas tidak sakit juga."


"Hmm,baiklah. Mas memang ingin mandi sih. Kamu kabar-kabarin mas ya! " Ucap Rey akhirnya. Dia lalu meninggalkan Seno di ruang tunggu sendirian.


Rey berjalan menuju parkiran. Dia lalu mengemudikan mobilnya dengan cepat. Pikirannya kalut. "Hhh,semoga ini cepat berlalu." Gumamnya.


***


Setelah lebih setengah jam,Rey sampai di rumah. Mama menyambutnya dengan rentetan pertanyaan. "Rey,mama telpon kok tidak di angkat?"


"Rey sedang di jalan,ma." Jawab Rey singkat. Wajahnya terlihat kusut.


"Lalu bagaimana Siti,jadi operasi kan?"


"Jadi ma,sekarang dia masih belum sadar juga." Jawab Rey lirih.


"Hmm,bayi kalian?"


"Hhh,Dia di pindah ke ruang NICU,di rawat di inkubator,ma."


"Bagaimana keadaannya?"


Mama langsung memeluk putranya itu. "Kamu yang sabar,nak. Semoga ini cepat berlalu. Istri dan anak kamu baik-baik saja." Doa mama.


"Aamiin." Sahut Rey. "Rey mandi dulu ma,gerah!" Pamitnya lalu naik ke atas menuju kamarnya.


Rey mandi dengan cepat. Setelahnya dia turun untuk sarapan. Lalu dia ke ruang keluarga melihat putri kecilnya yang sedang di suapi MPASI oleh omanya.


"Sayang,kamu makan yang banyak ya!" Ucapnya sambil mengusap lembut kepala Putri yang sedang makan dengan lahab.


"Kamu mau ke klinik lagi nak?" Tanya papa.


"Iya pa. Ada paman dan Radit mau datang." Jawab Rey.


"Supri sama Radit? Untuk apa mereka datang?" Tanya mama sinis yang masih tidak suka dengan keluarga paman Supri.


"Siti kekurangan darah satu kantong,ma. Rey bingung mau cari darah lagi di mana." Terang Rey.


"Hmm,pasti nanti mereka minta uang. Menolong saudara sendiri saja minta imbalan." Ucap mama lagi


"Memang Rey yang menjanjilan uang,ma." Terang Rey lagi.


"Hmm,pantas saja mereka cepat datangnya."


"Ma,tidak boleh berpikiran negatif terus sama orang. Mungkin mereka datang ingin menjenguk Siti juga." Ucap papa.


"Ya sudah,Rey mau ke rumah sakit dulu,ma,pa. Titip Putri ya. Maaf selalu merepotkan kalian." Pamit Rey. Dia lalu mencium dahi putrinya lalu mengambil lagi mobilnya.


Rey melajukan mobilnya perlahan karena jalanan sudah mulai ramai. "Huuhh,jam segini sudah ramai saja jalanan. Bisa lama sampai klinik nih." Keluhnya.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam barulah dia sampai di klinik. Rey segera memarkirkan mobilnya dan setengah berlari menuju ruang ICU.


Dari jauh dia lihat sudah ada Radit dan Seno sedang menunggu di ruang tunggu di depan ICU.


"Mas Rey." Sapa Radit lalu menyalaminya.


"Sendirian? Kapan sampai?" Tanya Rey.


"Baru saja mas. Aku sama papa. Papa sekarang sedang di ambil darahnya." Jawab Radit.


"Hmm,terimakasih kalian mau datang." Ucap Rey.


"Mbak kamu bagaimana,Seno?" Rey beralih menatap adik iparnya.


"Mbak Siti masih seperti tadi mas." Jawab Seno lirih.


"Mas tinggal masuk dulu ya!" Pamitnya pada Seno dan Radit.


Rey lalu memakai pakaian khusus dan masker lalu masuk ke ruangan istrinya.


"Pak,darahnya sudah ada? Darah yang terakhir sudah habis." Tanya suster yang menjaga istrinya.


"Darah? Paman saya sedang di ambil darahnya,sus. Mungkin sebentar lagi." Jawab Rey.


"Oh,baiklah."


"Bagaimana istri saya,sus?"


"Masih seperti tadi pak. Dia benar-benar butuh darah lagi. Semoga nanti bisa segera sadar." Jawab suster.


Rey menunggu selama setengah jam di dalam. Lalu seorang suster memintanya keluar. "Pak,dokter Layli ingin bicara. Bapak silahkan temui beliau di ruangannya." Ucap suster.


"Oh iya,baiklah. Terimakasih." Rey segera kar dari ruangan Siti setelah terlebih dahulu mencium dahi istrinya itu.


Saat dia keluar,di ruang tunggu sudah ada paman Supri.


"Rey,bagaimana Siti?" Tanya paman.


Rey menyalami paman Supri." Siti masih seperti tadi,paman." Jawab Rey." Aku ketemu dokternya dulu." Pamit Rey kemudian dia segera berjalan menuju ruangan dokter Layli.


Tok tok. Rey mengetuk pintu ruangan dokter Layli. Seorang suster keluar.


"Pak Rey,silahkan masuk sudah di tunggu dokter." Ucap suster.


"Terimakasih." Rey lalu masuk ke ruang dokter.


"Rey,duduklah." Titah dokter Layli.


"Terimakasih,dok." Ucap Rey. Rey lalu duduk di depan dokter Layli.


"Rey,maaf ya saya baru bisa bicara sekarang tadi ada pasien gawat juga." Ucap dokter.


"Iya dokter tidak apa-apa." Jawab Rey.


"Mengenai istri dan anak kamu akan saya jelaskan kondisinya saat ini."


Rey mendengarkan dengan seksama.


NEXT

__ADS_1


2406/0030


__ADS_2