
Aaron sedang mengemudikan mobilnya,di samping ada pakde Arman. Ratna dan Romi duduk di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan tak ada seorangpun yang bersuara. Ratna menyandarkan kepalanya ke mobil,matanya menatap keluar jendela sambil melamun. Tangannya sesekali mengusap-usap perutnya.
Romi memperhatikan saja tingkah Ratna dari sudut matanya tanpa mau menoleh. Pagi-pagi sudah melamun. Batin Romi.
Tak terasa mobil sudah memasuki parkiran. Aaron dan pakde Arman segera turun untuk membantu Romi. Saat Ratna hendak turun,di cegah oleh Romi.
"Kamu tidak usah turun. Langsung ikut belanja sama Aaron!" Titah Romi.
"Hhmm,iya bang." Ratna kembali duduk manis di dalam mobil.
Aaron pun kembali naik ke mobil. "Kita shoping,kak." Ucap Aaron.
"Hhmm,iya. Aaron,kakak mau tanya,tapi kamu jangan marah, ya?"
"Iya kak. Mau tanya apa?"
"Kakak lihat ada rumah kecil di halaman belakang rumah kamu tapi sepi. Itu rumah bibi ya?"
"Hhmm,itu. Itu paviliun,kak. Dulu memang untuk tempat tinggal bibi tapi sekarang untuk gudang."
"Kamu semalam kemana saat makan malam? Kakak tidak lihat kamu."
"Oohh,semalam aku bikin tugas di rumah teman,kak. Aku kan lama bolos jadi dpt tugas kalau ingin nilaiku tidak turun."
"Ooh,begitu. Kakak pikir kamu ke rumah Cinta."
"Cinta sepertinya sedang marah sama aku,kak. Tidak tau kenapa?"
"Kamu sabar ya. Usianya kan masih belia jadi masih labil. Tapi dia beruntung,ada kamu yang sangat sayang dan perhatian."
"Hhmm,kak Ratna. Aku tau bang Romi mungkin belum bisa menerima keadaan sekarang. Dia juga masih belum bisa menerima kelumpuhannya. Kakak juga harus sabar ya sama bang Romi. Kalau ada apa-apa,kak Ratna jangan malu cerita sama aku. Sebisanya aku akan bantu." Terang Aaron.
"In sya Allah kakak akan sabar. Bang Romi kan sudah jadi suami kakak."
"Iya,kak. Aku yakin,kak Ratna adalah istri yang terbaik untuk bang Romi."
"Hhmm,in sya Allah Aaron." Jawab Ratna lirih.
Tak lama kemudian mobil Aaron tiba di sebuah butik ternama. Aaron segera turun,Ratna pun langsung ikut turun sebelum Aaron membukakan pintu untuknya.
"Ayo,kak. Kita masuk." Ajak Aaron.
Ratna mengikuti langkah kaki Aaron. Aaron pun memilihkan pakaian formal untuk Ratna sekaligus pakaian yang bisa di pakai oleh ibu hamil.
"Aaron,ini kebanyakan." Ucap Ratna. Aaron membelikannya lebih satu lusin pakaian.
"Kak,untuk di rumah dan untuk menemani abang ke kantor kan beda. Bang Aaron orangnya perpeksionis. Kakak mengerti kan. Tidak masalah kakak membeli banyak pakaian,toh untuk menyenangkannya." Terang Aaron.
"Hhhmm,iya."
"Kakak coba pakaian yang untuk ke kantor,cocok apa tidak. Tuh kamar pasnya." Tunjuk Aaron ke ruangan yang ada di pojok butik. Ratna lalu masuk ke ruangan itu.
Tak lama Ratna keluar dengan memakai salah satu pakaian yang di pilihkan Aaron. "Kakak tidak percaya diri memakai ini,Aaron."
"Waahh,cocok kak! Kakak terlihat pantas kok!"
"Hhmm,masa sih?"
"Kan yang nilai itu orang lain kak. Kita ambil ya. Kakak coba yang lain lagi,kak."
"Hhmm,baiklah. Tapi kamu yakin bang Romi suka kalau kakak pakai yang ini?"
"Yakin kak. Aku kan adiknya. Aku tau selera dia." Jawab Aaron sambil tersenyum.
Kamu juga pasti tau Aaron,kalau kakak bukanlah selera bang Romi. Batin Ratna. Ratna lalu mencoba pakaian pilihan Aaron yang lain.
__ADS_1
"Nah,yang terakhir ini langsung kakak pakai saja ya,kita kan mau ke kantor bang Romi."
"Tapi kan belum di cuci?"
"Hhmm,kakak tidak nyaman ya kalau belum di cuci dulu?"
"Hhmm,ya sudah tidak apa-apa. Mau ke kantor bang Romi lagi ya?"
"Iya kak. Bang Romi yang minta kakak ke kantor."
"Ya sudah tidak apa-apa." Jawab Ratna. Daripada memakai pakaian yang tadi,memang kurang pantas di pakai ke kantor bang Romi. Nanti dia malu gara-gara aku. Batin Ratna.
Setelah selesai memilih pakaian,Aaron langsung membayarnya di kasir. Ratna juga membeli dua buah tas tangan.
Mereka kembali ke mobil dengan Aaron yang membawa semua belanjaan Ratna.
"Kak,kita sekarang ke salon dulu ya."
"Salon? Buat apa? Kakak sehari sebelum nikah sudah ke salon kok. Di ajak oma."
"Kita ke salon lagi. Kakak mau kan membuat bang Romi senang? Mumpung jam kuliahku masih kosong,kak."
"Hhmm,iya." Jawab Ratna. Entah dengan ke salon dan memakai pakaian baru bisa menyenangkan bang Romi. Aku tidak yakin. Batin Ratna.
Setengah jam kemudian,mereka tiba di salon. Aaron menunggu di ruang tunggu sementara Ratna langsung di tangani oleh pegawai salonnya.
Tidak sampai satu jam,Ratna sudah selesai semua. Dari perawatan rambut sampai make up.
Aaron lalu membayar semuanya.
"Kita sekarang ke kantor bang Romi."
"Kakak tidak terlihat berlebihan nih. Seperti make up artis saja." Ucap Ratna tidak percaya diri.
"Kakak cantik kok. Sama seperti saat kakak nikahan kemarin." Puji Aaron.
Sama seperti saat nikahan kemarin? Kemarin saja bang Romi biasa saja melihatku. Aku tampil seperti apapun akan tetap terlihat biasa saja di mata bang Romi. Batin Ratna.
"Ayo,kak. Pakaian kakak yang lain biar di mobil saja. Oh iya,kakak pakai tas yang baru kita beli tadi,ya!"
"Hhmm,iya." Ratna lalu membawa tas yang tadi baru dia beli. Terlihat serasi dengan pakaian yang di kenakan oleh Ratna.
Ratna lalu mengikuti langkah kaki Aaron. Semua mata karyawan yang berpapasan dengan mereka menatap heran ke arah Aaron dan Ratna.
"Hhmm,kakak tidak percaya diri." Ucap Ratna pelan.
"Anggap saja seperti di kantor papanya Cinta. Kak Ratna kan percaya diri di sana. Tidak usah di balas tatapan semua orang."
"Hhmm,iya."
Ting. Kini mereka naik ke lift khusus. Beberapa saat kemudian,mereka tiba di lantai sebelas di mana kantor Romi berada.
Ting. Aaron dan Ratna keluar dari lift. Ratna mengikuti langkah kaki Aaron dengan ragu-ragu.
Tok tok. Aaron mengetuk pintu. Tak lama pintu terbuka. Pakde Arman yang membukakan pintu.
"Pakde?"
"Aaron?"
"Bang Romi ada kan,pakde?"
"Oohh,ada. Baru sepuluh menit yang lalu selesai meeting." Terang pakde.
Aaron lalu masuk ke ruangan Romi di ikuti Ratna dari belakang. Romi sedang duduk sambil memeriksa berkas di atas meja kerjanya.
"Bang." Sapa Aaron.
__ADS_1
"Aaron?" Sahut Romi. Pandangan Romi langsung tertuju pada Ratna yang berdiri di samping Aaron sambil menundukkan kepalanya.
"Duduk saja di sofa." Titah Romi.
"Ayo kak Ratna,kita duduk di sofa saja." Ajak Aaron.
Ratna menurut lalu mengikuti Aaron duduk di sofa.
"Bang,nanti pulang jam berapa? Aku jemput atau bagaimana?"
"Hhmm,kamu selesai kuliah jam berapa memangnya?"
"Hanya kuliah dua jam kok,bang."
"Ya sudah kamu bawa saja. Nanti kamu jemput abang."
"Hhmm,aku di antar pakde saja deh bang. Takutnya abang ingin pulang,aku masih kuliah."
"Hhh,terserah kamu saja!"
"Kalau gitu,aku pergi sekarang saja bang."
"Hhmm." Sahut Romi.
Aaron menoleh ke arah Ratna. "Kak Ratna,aku tinggal dulu ya. Kalau bang Romi jahat,bilang sama aku!" Ucapnya seraya melirik ke arah Romi. Romi hanya membalas dengan tatapan membunuh ke arah Aaron.
Aaron menghampiri Romi lalu berbisik. "Kak Ratna baru dari salon. Sana di ajak mesra-mesraan dulu." Goda Aaron sambil tertawa lalu segera berlari karena tangan Romi hendak memukulnya.
"Dasar adek sialan!" Gerutunya.
Romi lalu menoleh ke arah Ratna di saat Ratna sedang menatapnya. Ratna buru-buru menundukkan kepalanya. Dia sangat takut saat bersitatap dengan suaminya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya baik like,komen gift atau kalau mau juga vote. Terimakasih. πππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
1717