Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 119 ( s2 )


__ADS_3

Siti dan Ratna hanya saling pandang. Mereka juga kaget Cinta ternyata kembali lagi.


"Sayang,kamu tidak jadi mandi?" Tanya Siti.


"Ma,jadi yang culik Cinta waktu itu Romi kakaknya Aaron? Calon suami kak Ratna? Kenapa tidak ada yang kasih tau Cinta? Kenapa di rahasiakan dari Cinta?" Todong Cinta dengan banyak pertanyaan.


"Sayang,kita mau cerita tapi. . ."


Belum selesai Siti bicara,Cinta sudah berlalu pergi begitu saja. Dia lari masuk ke kamarnya.


"Ratna,saya susul Cinta dulu. Oh iya tolong lihatin anak-anak ya." Pamit Siti.


"Oohh,iya bu."


Siti lalu menyusul Cinta ke kamarnya.


Tok tok. . .


Berkali-kali Siti mengetuk pintu kamar Cinta tapi tidak juga di bukain.


"Yank,kamu ngapain berdiri di situ?" Tanya Rey yang tiba-tiba sudah ada di dekat Siti.


"Hhmm,aku mau masuk tapi di kunci dari dalam."


"Hhmm,tidak biasanya di kunci. Coba mas yang bukain." Rey coba membuka pintu kamar Cinta,ternyata memang di kunci dari dalam.


"Di kunci dari dalam kan mas." Ucap Siti lirih.


"Kenapa ya,tidak biasanya anak itu kunci pintu kamarnya dari dalam." Tanya Rey heran.


"Hhmm,tadi Cinta denger obrolan aku sama Ratna,mas. Lalu dia langsung lari ke kamarnya" Terang Siti.


Dahi Rey berkerut. "Obrolan apa memangnya,yank?"


Hhhh,Siti menarik nafasnya berat. "Tentang Ratna yang akan menikah dengan Romi. Romi dan Aaron yang kakak adek. Juga Romi yang sudah menculiknya. Hmm,maafin aku ya mas. Aku tidak tau kalau Cinta datang lalu mendengar obrolan aku dan Ratna." Ucap Siti dengan wajah penuh penyesalan.


"Hhmm,ya sudah yank. Memang seharusnya dia tau. Mas hanya belum ada waktu yang pas untuk mengatakannya."


"Makanya dia marah,mas. Kenapa dia tidak di beritahu."


"Hhh,mas cari kunci cadangannya dulu. Kamu tunggu di sini. Sambil duduk yank,biar kamu tidak capek!"


Siti mengangguk. "Iya mas." Siti lalu duduk di sofa di dekat kamar Cinta.


Rey pergi mencari kunci cadangan kamar Cinta. Setelah ketemu,Rey lalu membuka pintu kamarnya.


Ceklek. Pintu kamar Cinta di buka oleh Rey dari luar.


"Ayo,biar mas ikut jelaskan sama Cinta. Semoga dia mau mengerti."


"Iya mas."


Siti dan Rey lalu masuk ke kamar Cinta. Ternyata putrinya itu baru selesai mandi.


"Sayang,kenapa pintunya di kunci?" Tanya Rey.


"Hhmm,Cinta mandi." Jawab Cinta datar.


"Biasanya kamar mandi saja yang di kunci."


"Hhmm,tidak apa-apa pa. Cinta kan sudah dewasa jadi kamar harus di kunci." Cinta beralasan.

__ADS_1


"Hhmm,putri papa ini sudah dewasa ya? Anak lima belas tahun itu sudah dewasa?" Goda Rey seraya mencubit hidung Cinta.


"Iiihh papa." Cinta mengusap-usap hidungnya. "Memangnya Cinta belum dewasa ya sampai semuanya masih di rahasiakan dari Cinta?" Tanyanya dengan wajah kesal.


"Hhmm,iya iya Cinta sudah dewasa tapi dewasa bukan hanya di lihat dari umurnya. Kedewasaan itu juga di lihat dari sikapnya. Kamu mengerti kan? Kalau ngambek lalu mengunci diri dalam kamar,apa itu sikap seseorang yang sudah dewasa?"


"Hhmm,siapa juga yang ngambek? Cinta tadi kan sudah bilang kalau Cinta mandi."


"Hhmm,iya deh. Mama mau bicara sama Cinta,tuh."


Cinta melirik ke arah Siti. "Ya bicara saja." Ucapnya datar.


"Hhmm,papa tinggal ya. Oh iya,papa minta maaf kalau belum sempat cerita semua hal yang terjadi belakangan ini. Itu juga yang membuat mama dan semua orang belum bisa cerita sama kamu. Itu karena papa mencari waktu yang tepat." Rey berdiri lalu mengusap-usap pucuk kepala Cinta dan segera keluar dari kamar Cinta.


Siti duduk lebih mendekati putrinya itu. Lalu mulai menceritakan semua kejadian yang belakangan ini menguras otak papanya dan semua orang.


"Jadi kak Ratna sudah hamil anaknya si Romi itu? Hhmm,maksud Cinta kakaknya Aaron." Cinta terlihat kaget dan sedih.


"Iya sayang,makanya mereka harus menikah. Bukan karena kak Ratna menginginkannya tapi semua demi bayi yang ada dalam perutnya kak Ratna."


"Kasihan banget kak Ratna,ma. Memangnya ada ya ma obat seperti itu?"


"Mama juga baru tau sayang."


"Hhmm,Cinta jadi takut ma."


Siti lalu memeluk Cinta dengan penuh kasih sayang. "Makanya papa sampai mencari orang untuk mengawal kamu setiap hari,nak." Terang Siti seraya mengusap-usap pucuk kepala Cinta.


Cinta lalu melepaskan pelukannya. "Ma,jangan-jangan Cinta juga hamil maa. . ." Cinta menatap Siti dengan wajah cemas.


"Loh,kenapa Cinta hamil?"


"Cinta kan juga di culik dan sempat tidak sadar ma. Jangan-jangan Cinta juga. . ." Cinta tiba-tiba menangis histeris. "Ma,Cinta tidak mau hamil ma. . . hiks hiks!"


"Kenapa tidak mungkin,ma? Cinta mau ke oma Layli deh. Cinta mau tau Cinta hamil apa tidak!" Cinta langsung berdiri dan berlalu keluar dari kamar dengan masih terisak. Meninggalkan Siti yang bingung bercampur kaget. Siti lalu buru-buru menyusul Cinta.


Ternyata Cinta pergi ke kamar papanya tanpa mengetuk lagi langsung membuka pintu kamar papanya.


Ceklek.


"Papa?" Cinta menutupi mulutnya dengan tangan lalu membalik badannya.


"Sayang,kamu?" Rey kaget karena baru saja keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk.


"Maaf pa." Serunya seraya mengusap pipinya yang basah.


Siti menghampiri Cinta dan Rey. Siti senyum-senyum saja melihat tingkah mereka.


"Lain kali ketuk dulu,kalau papa tidak memakai handuk sama sekali bagaimana?"


Cinta tersenyum tipis. "Maaf,tapi kan sekarang pakai handuk." Ucapnya membela diri.


"Hhmm," Rey segera memakai pakaiannya. "Ada apa?" Tanyanya seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Cinta hamil,pa!" Seru Cinta.


Rey kaget lalu menjatuhkan handuknya. "Apaa?" Teriak Rey.


Siti menatap Rey seraya menggelengkan kepala membuat dahi Rey berkerut tidak mengerti.


Cinta membalik badannya menghadap papa dan mamanya. "Anter Cinta ke klinik oma Layli,pa. Cinta mau periksa!" Paksanya.

__ADS_1


"Kamu? Kamu hamil sama siapa?" Rey ikut heboh seperti putrinya. Siti menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cinta tidak tau,pa."


"Tidak tau bagaimana?" Suara Rey mulai tinggi. Dadanya naik turun.


Siti mendekati suaminya. "Cinta berpikir kalau dia di perkoxx saat di culik,mas. Sama seperti Ratna yang tidak sadar." Ucap Siti setengah berbisik.


Rey mulai sedikit tenang.


"Ayo pa,antar Cinta ke klinik oma sekarang juga!" Cinta terus memaksa.


Hhhh,Rey menarik nafasnya berat. "Sayang,kamu?"


"Papa! Ya sudah kalau tidak ada yang mau antar. Cinta pergi sendiri saja." Cinta membalik badannya hendak keluar dari kamar papanya.


"Iya sayang,papa sama mama akan anter kamu." Ucap Siti cepat sebelum Cinta keluar dari kamar.


"Yank?" Rey menatap bingung ke arah Siti.


"Kita antar saja,mas. Biar Cinta tenang." Ucap Siti.


"Iya-iya papa sama mama anter. Tapi kita telpon dulu oma Layli ada tidak di kliniknya,nak. Sekarang kan sudah sore."


"Ya sudah papa telpon saja sekarang." Wajah Cinta kembali sedih membayangkan kalau dia hamil.


"Iya,papa telpon dulu."


Rey segera mengambil handphonennya lalu menelpon seseorang.


Siti mendekati Cinta. "Mama mau suruh adek-adek mandi dulu ya. Nanti mama ikut anter Cinta ke klinik oma Layli."


"Iya,ma."


.


.


.


.


.


.


.NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


1441


__ADS_2