Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 83 ( S2 )


__ADS_3

Cinta keluar dari kamarnya. Di dapur ada bundanya yang sedang membuat kue.


Cinta mendekat lalu memeluknya dari belakang. "Bunda?"


"Cinta? Bikin bunda kaget saja. Kamu sudah sehat?"


"Alhamdulillah,sudah mendingan kok. Bunda,jangan marah ya?"


"Hmm,marah kenapa? Masa tiba-tiba marah?"


"Hehehee. Cinta mau minta ijin."


"Ijin apa?"


"Hmm,teman Cinta mau ke sini boleh?"


"Teman yang mana?"


"Hmm,bunda. Teman Cinta yang pernah ke rumah kan cuma satu. Yang anter Cinta pulang kemarin."


"Hmm,oohh dia teman Cinta? Bunda pikir pacar?"


"Iihh,bunda. Papa melarang Cinta pacaran kok!"


"Oh ya?"


"Iya,bunda."


"Hmm."


"Boleh ya,bun?"


"Hhh,tapi sebentar saja ya?"


"Terimakasih ya bunda. Tapi belum tau kok kapan ke sininya. Dia sedang kuliah."


"Oohh dia kuliah?"


"Iya bun,baru semester awal kok. Hmm,terimakasih ya bun. Cup." Cinta mencium pipi bundanya.


"Bibir kamu masih panas,nak. Kamu masih demam."


"Sedikit kok bun."


"Sana kembali ke kamar kamu,istirahat. Nanti bunda bawain kue nya ke kamar kamu sama susu juga."


"Hmm,iya bunda. Cinta ke atas ya." Pamit Cinta dan langsung naik ke atas.


Sore hari saat Cinta sedang duduk-duduk di balkon kamarnya sambil mengunyah kue bikinan bundanya,dia melihat seseorang di depan pintu pagar sedang berbicara dengan satpam yang berjaga.


"Aaron." Gumamnya lalu menyunggingkan senyum. "Dia beneran datang."


Cinta bergegas turun ke bawah.


"Bunda,teman Cinta sudah datang ada di depan. Boleh masuk ya bun?"


"Hmm,iya nak. Tapi jangan lama-lama ya. Kamu belum benar-benar sehat."


"Terimakasih bunda." Seraya memberikan pelukan,Cinta bergegas keluar.


Aaron sudah duduk manis di teras rumah.


"Ehmm."


Aaron menoleh ke sumber suara. "Cintaku?"


"Jangan panggil gitu kalau ada orang lain nanti di pikir. ..."


"Hmm,kenapa? Di pikir apa?" Tanya Aaron.


"Hmm,tidak apa-apa. Kamu dari mana?" Tanya Cinta lalu ikut duduk di kursi yang satunya.

__ADS_1


"Aku pulang kuliah langsung ke sini."


"Hmm,kenapa tidak pulang ke rumah dulu?"


"Hati dan pikiranku mengajak kakiku melangkah ke sini sih." Jawab Aaron lalu menatap Cinta lekat-lekat membuat Cinta jadi salah tingkah. Kenapa jadi deg-degan terus ya tiap di tatap Aaron seperti itu.


"Kamu beneran sudah sehat? Sudah tidak pucat lagi."


"Hmm,iya."


"Kapan mulai sekolah lagi?"


"Cinta tidak tau. Cinta masih takut keluar rumah. Kak Ratna juga belum tau di mana sekarang." Jawab Cinta.


"Hmm,Cinta masih takut keluar rumah?"


Cinta menganggukkan kepalanya. "Iya takut. Ada kak Ratna yang jagain masih juga Cinta bisa di culik. Kalau papa atau ayah yang jagain nanti tidak bisa kerja. Cinta juga takut sama orang yang baru di kenal." Terang Cinta.


"Hmm,tapi Cinta tidak takut kan sama aku?"


"Cinta tidak tau." Cinta lalu menundukkan kepalanya.


"Loh kok tidak tau?"


Tentu saja tidak tau. Kadang ada rasa bahagia terkadang juga ada rasa takut setiap ketemu kamu. Cinta benar-benar tidak mengerti. Batin Cinta.


"Aku ingin jadi orang yang bisa selalu ada untuk kamu,bisa selalu menjaga kamu!"


"Hmm. . ."


***


Besok paginya saat Rey baru saja selesai mandi,dia mendengar handphonenya berdering hingga beberapa kali. Pak Santo. Ada apa beliau pagi-pagi telpon. Batin Rey.


"Hallo. . "


"Iya pak."


"Apa pak,sudah tertangkap tadi subuh?"


Rey lalu mematikan telponnya. "Alhamdulillah baxxngan itu sudah terangkap." Gumamnya.


Rey bergegas turun ke bawah. Keluarganya sudah menunggu di meja makan.


Siti segera menyiapkan sarapan untuk suaminya di piring. "Mas,aku hari ini boleh ke rumah mbak Cyndia? Mau lihat Cinta."


"Hmm,nanti mas antar. Tapi siang ya." Sahut Rey.


"Hmm,iya mas."


"Jangan pergi sendirian." Titah Rey.


Setelah selesai makan,Rey mengantar putra dan putrinya ke sekolah.


"Adek,nanti pulang tunggu papa jemput ya. Adek tunggu di ruang guru saja!" Titah Rey pada Putra setelah mengantarkannya sampai ke depan kelasnya.


Setelah mengantarkan Putra,Rey lalu mengantar Putri.


"Kak Putri,nanti pulang sekolah tunggu papa jemput ya. Jangan pulang sebelum papa jemput. Jangan mau dekat sama orang yang tidak di kenal. Ok?"


"Ok pa."


Satu jam kemudian,Rey sudah berada di kantor polisi. Rey segera menemui pak Santo.


"Pagi pak." Sapa Rey.


"Pak Rey. Silahkan masuk,silahkan duduk." Titah pak Santo.


"Terimakasih,pak." Rey lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan pak Santo.


"Bagaimana,pak?"

__ADS_1


Pak Santo lalu menceritakan tentang orang yang jadi tersangka kasus penculikan putrinya dan juga orang yang menabrak mobil adik iparnya.


"Jadi benar,dia adalah orang yang sama?"


"Benar pak. Tapi tim kita curiga kalau dia hanyalah orang suruhan. Kita akan terus mengintrogasi dia agar mau berkata jujur."


Rey mengernyitkan dahinya. "Hanya orang suruhan?"


"Iya pak. Karena motif dia sama sekali tidak masuk akal. Dia sama sekali tidak mengenal korbannya. Setiap di tanya,jawabannya berbelit-belit. Jadi kesimpulan kita kalau orang itu hanyalah orang suruhan saja." Terang pak Santo,polisi yang menangani kasus Cinta dan juga Seno.


"Hmm,jadi tersangka utama masih bebas."


"Benar pak. Tersangka utama tidak terlibat langsung. Dia hanya memberikan perintah. Sepertinya bukan orang biasa."


"Hmm,jadi keluarga saya belum aman ya pak."


"Benar pak. Kita janji akan segera menyelesaikan kasus ini."


"Hhh,saya sangat berharap pak.Karena putri saya terlihat trauma hingga takut keluar rumah."


"Baik pak. Secepatnya. Kalau pak Rey mau bertemu tersangka,bisa saya antar."


"Oh iya pak. Mungkin saya mengenalinya." Sahut Rey.


Rey pun menemui tersangka yang sudah di tahan dengan di antar oleh pak Santo.


Seorang laki-laki berumur kurang lebih empat puluh sampai empat puluh lima tahun sedang duduk memeluk lututnya. Saat mendengar ada yang datang,dia langsung berdiri dan menatap ke arah pak Santo dan Rey secara bergantian.


"Bagaimana pak Rey. Apa mengenalinya?" Tanya pak Santo.


Rey menggeleng. "Saya tidak mengenalinya,pak." Jawab Rey dengan tetap menatap orang itu lekat-lekat.


Hhh,Rey segera keluar dari kantor polisi. Dia melajukan mobilnya ke arah kantornya.


Rey masuk ke ruangannya lalu meletakkan jas hitamnya di sandaran kursi. Dia lalu memeriksa handphonenya ternyata ada beberapa panggilan dari asistennya,Toni. Rey pun mencoba menelpon balik Toni. Setelah beberapa panggilan,barulah Toni menjawab panggilannya.


"Hallo Ton?"


"Mas ada di kantor ini baru saja sampai,tadi dari kantor polisi."


"Oh iya bagaimana,kamu sudah dapat info tentang anak itu?"


"Apa,kok bisa?"


"Hmm,ya sudah mas tunggu kabar baik dari kamu."


Rey lalu memutuskan panggilannya. "Siapa anak itu? Kenapa sulit sekali mencari tau tentang dia." Gumam Rey.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf jika masih ada typo. Dukung terus othor ya. Terimakasih 😍😍


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


1240


__ADS_2