Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 124 ( S2 )


__ADS_3

Karena hari jumat,Rey sibuk di kantor jadi acara empat bulanan Siti di adakan pada kamis malam. Semua persiapan acara sudah rampung. Tamu undangan mulai berdatangan walau hanya mengundang sedikit saja tetangga dan sodara. Siti sedang di kamar bersama ketiga anaknya.


"Mama,jadi kapan adek bayinya lahir?" Tanya Putra.


"Tidak lama lagi,sayang. Putra mau kan punya adek bayi?"


"Mau,ma."


"Adek Cinta banyak ya ma." Celetuk Cinta.


"Heheee,iya sayang. Kamu tidak apa-apa kan punya adek banyak?" Tanya Siti yang tidak enak hati pada putrinya itu.


"Tidak apa-apa kok,ma. Cinta seneng kan jadi rame. Di rumah papa ada adek tiga,di rumah ayah ada adek dua. Jadi adeknya Cinta ada lima. Kalau kumpul semua seru deh." Jawab Cinta antusias.


Tok tok. Ada yang mengetuk pintu kamar Siti.


"Ya,masuk saja." Sahut Siti.


Ceklek. Ternyata Ratna yang mengetuk pintu.


"Kak,Ratna?" Panggil Cinta.


"Hhmm,di suruh oma Asti turun,bu. Tamu sudah banyak yang datang." Terang Ratna.


"Oohh,iya. Ayo anak-anak kita turun!" Ajak Siti pada ketiga anak-anaknya.


Mereka semua lalu turun ke bawah. Ada sekitar tiga puluh orang dewasa dan dua puluh orang anak kecil dari panti asuhan tempat oma Asti biasa menjadi donatur.


"Waahh,banyak teman adek Putri tuh." Ucap Cinta.


"Iya,ya kak." Sahut Putri dengan senyum semringah.


"Ayo Siti,kamu ikuti mama,ya!" Titah oma Asti.


Siti lalu mengikuti langkah kaki mama mertuanya. Rey sudah menunggu di ruang tamu yang sudah di sulap menjadi tempat acara empat bulanan kehamilan Siti.


Acara di mulai terlebih dahulu dengan sambutan dari tuan rumah yang diwakili oleh Rey selaku ayah dari sang calon bayi. Lalu pengajian dan pembacaan doa oleh putri dari panti asuhan.


Setelah semua acara selesai,semua tamu di persilahkan menyantap hidangan yang sudah di siapkan oleh tuan rumah. Siti dan Rey juga menyiapkan bingkisan untuk di bawa pulang para tamu dan tak lupa tambahan amplop untuk anak-anak dari panti asuhan.


Di antara tamu undangan ternyata ada Aaron juga yang memilih duduk di teras rumah. Seno dan Dinda dan juga ayah bunda Cinta.


Saat melihat Ratna,Dinda ingin mengajaknya berbicara. "Mas,itu Ratna kan? Aku ingin bicara dengannya,mas." Ucap Dinda pada Seno.


"Hhmm,iya yank. Kalau dia terlihat tidak nyaman,kamu tidak usah bahas terlalu jauh ya. Takutnya dia malu,apalagi tau kalau kamu adalah mantan dari calon suaminya." Terang Seno.


"Iya mas,aku ngerti kok. Aku ke sana dulu ya. Syafira jangan di tinggal loh,makannya nanti saja." Pamit Dinda.


"Iya istriku sayang." Sahut Seno.


Dinda mengerucutkan bibirnya kemudian berlalu dari hadapan Seno.


Dinda berjalan menghampiri Ratna yang sedang menata bingkisan.


"Ratna?" Sapa Dinda.


Ratna yang sedang fokus dengan bingkisan di depannya kaget dan langsung menoleh.


"Hmm,?"


"Aku Dinda,istrinya Seno adik dari mbak Siti. Kita sudah pernah ketemu kan?"


"Hhmm,bu Dinda? Hmm,maaf saya bingung mau panggil apa."


"Panggil Dinda saja juga boleh. Aku baru dua lima tahun ini. Kalau kamu?"


"Aku dua tiga." Jawab Ratna.


"Nah,umur kita tidak beda jauh kan. Rasanya aneh di panggil 'ibu'."


Ratna tersenyum. "Maaf."


"Tidak apa-apa,panggil saja mbak. Oh iya,aku bantu ya?" Tawar Dinda.


"Hhmm,tapi sudah selesai mbak. Tinggal di bagikan saja ke tamunya kalau sudah mau pulang." Terang Ratna.


"Ooh iya. Hhmm,Ratna maaf ya kalau aku salah bicara. Kandungan kamu sudah berapa bulan?" Tanya Dinda hati-hati.


"Hhmm,kata dokter Layli enam minggu." Jawab Ratna.

__ADS_1


"Dokter Layli itu mami aku." Terang Dinda.


"Oohh ya? Aku tidak tau. Tidak ada yang bilang."


"Tidak apa-apa kok. Kamu kalau mau kontrol sama mami saja. Mami orangnya sabar kok sama pasiennya."


"Hhmm,iya mbak Dinda."


"Hhmm,di jaga ya calon bayinya. Jangan stres dan harus banyak makan. Apa saja di makan pokoknya. Hahaa." Dinda mencoba mencairkan suasana karena Ratna terlihat kaku dan malu-malu.


"Hehhee,iya." Sahut Ratna.


"Hhmm,kamu tidak mengalami ngidam kan? Hmm,maksud aku kepingin makan sesuatu?"


Ratna menatap Dinda dengan wajah sedih lalu menundukkan kepalanya.


0h iya kalau Ratna ingin sesuatu minta sama siapa,dia kan belum menikah dan Romi,lumpuh. Batin Dinda. Ya Allah,aku sudah membuat Ratna sedih. Bodohnya aku. Dinda merutuki dirinya sendiri.


"Ratna? Maafkan aku." Dinda langsung memeluk Ratna. Ratna perlahan membalas pelukan Dinda.


"Hhmm,mbak tidak salah kok. Kenapa harus minta maaf?"


"Aku sudah membuat kamu sedih. Sungguh aku tidak bermaksud,maafin aku ya Ratna." Dinda melepaskan pelukannya.


"Aku tidak apa-apa kok,mbak. Aku tidak sedih." Sahut Ratna yang memaksakan diri untuk tersenyum.


"Kamu wanita kuat dan hebat. Oh iya,mulai hari ini kita berteman,ok? Kamu mau kan menjadi temanku?"


Ratna mengangguk. "Hmm,iya mbak."


"Terimakasih ya. Kalau ada apa-apa kamu cerita saja sama aku. Misal tentang kehamilan. Kalau aku bisa jawab ya aku jawab kalau tidak bisa nanti aku tanyain ke mami."


"Hhmnm,iya mbak." Jawab Ratna lirih.


"Ratna,wajah kamu sedih terus." Dinda kembali memeluk Ratna. "Maafin aku Ratna. Semua yang kamu alami berawal dari aku. Sungguh aku tidak menyangka akan jadi seperti ini. Kalau kamu ingin cerita,ingin menangis. Aku siap mendengarkan." Dinda melepaskan pelukannya. Tanpa terasa Dinda meneteskan airmata.


"Aku tidak apa-apa,mbak. Bukan salah mbak kok. Mungkin sudah takdirku. Terimakasih atas perhatian mbak."


"Kamu benar-benar wanita kuat,Ratna." Puji Dinda.


"Mbak bisa saja. Aku hanya belajar ikhlas kok mbak. Menyesalinya juga percuma kan. Hidup harus terus berjalan."


"Alhamdulillah. Oh iya kamu sudah makan belum? Jangan telat makan loh.""


"Ibu hamil kan harus banyak makan."


"Hhmm,iya. Tapi untuk saat ini,aku belum bisa makan banyak,perutku pasti mual."


"Oh iya,kandunganmu baru enam minggu ya. Masih susah buat makan."


"Iya mbak. Bisa makan sedikit-sedikit saja sudah alhamdulillah banget."


"Ratna." Panggil oma Asti.


Ratna dan Dinda kompak menoleh.


"Iya. . ." Sahut Ratna.


"Kamu tolong bawa sini bingkisannya,ya." Titah oma.


"Baik,oma."


Ratna lalu membawa beberapa bingkisan di bantu oleh Dinda.


"Taruh di meja,ya."


"Iya,oma."


Di saat bersamaan,Aaron ikut bantu-bantu di sana. Sesekali mencuri kesempatan mendekati Cinta yang sibuk membantu menyerahkan bingkisan ke anak yatim.


Satu persatu tamu mulai meninggalkan acara. Hanya tinggal keluarga dekat saja yang belum pulang.


"Ehhmm," Aaron berdehem di sebelah Cinta yang sedang duduk di meja makan sambil memakan buah potong.


"Kamu cantik banget hari ini." Goda Aaron.


Cinta yang kaget langsung menoleh. "Iihh,kirain siapa. Ngagetin Cinta saja deh." Gerutunya.


"Aku juga mau donk di suapin buahnya." Ucap Aaron lalu ikut duduk di hadapan Cinta.

__ADS_1


"Iihh,bisa makan sendiri juga."


"Kalau di suapin kamu pasti lebih enak."


"Iiihh,ngarang."


"Beneran kok. Karena hati senang,makan pun terasa lebih enak."


"Hhhmm," Cinta mengerucutkan bibirnya.


"Jangan mancing donk!"


"Mancing apaan?" Cinta membulatkan matanya ke arah Aaron.


"Hhmm,tidak apa-apa kok. Kamu tidak makan? Hidangannya banyak banget."


"Hhmm,Cinta belum lapar! Kamu kali yang mau makan."


"Tapi makannya sama kamu. Kita belum pernah makan berdua kan?"


"Iihh,waktu itu sudah kan. Sampai kamu pulangnya malam."


Aaron tersenyum sambil terus menatap lekat-lekat mata Cinta hingga gadis itu jadi salah tingkah. "Itu kan makan bareng keluarga. Kamu juga waktu itu tidak peduli sama aku. Menoleh pun tidak mau. Betapa sedihnya hatiku saat itu." Aaron memasang wajah sedih.


"Iihh,paan sih." Cinta cemberut dengan wajah memerah.


"Yang sedang pacaran." Goda Seno yang tiba-tiba berdiri di samping Aaron.


"Siapa juga yang pacaran,om?" Protes Cinta.


"Aaron,tolong jaga keponakan saya ya! Seperti kamu menjaga saudara perempuan kamu!" Ucap Seno serius sambil menatap Aaron yang terlihat salah tingkah.


"Memangnya Aaron punya saudara perempuan ya?" Tanya Cinta.


Aaron menggelengkan kepalanya.


"Itu hanya perumpamaan saja." Terang Seno seraya mengusap pucuk kepala Cinta.


"Iihhh!" Cinta sibuk merapikan rambutnya yang jadi berantakan.


"Janji ya,Aaron. Jagain keponakan saya yang cantik ini!" Tegas Seno kemudian segera berlalu dari hadapan Cinta dan Aaron.


"Iya,pak." Jawab Aaron cepat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


2121


__ADS_2