
Rey keluar dari kamar mandi.
"Di bawah ada ayahnya Cinta nungguin. Mau ngajak fitnes kali biar badannya bagus,keren,banyak perempuan yang mau." Ucap Siti sinis.
Rey menoleh. "Pak Fadil?"
Siti pura-pura tidak mendengar lalu buru-buru masuk ke kamar mandi.
Rey tersenyum. "Hmm,pantes ngambek."
Rey segera memakai pakaian lalu turun ke bawah.
Hanya sepuluh menit saja Siti sudah selesai mandi. Dia keluar dari kamar mandi. "Hmm,harum banget? Pasti mas pake minyak wangi sebotol nih sampai wanginya menyengat gini." Gumamnya. Dia buru-buru berpakaian lalu turun ke bawah. "Pasti mereka sudah jalan deh!"
Siti turun ke bawah. Dari tangga dia bisa melihat suaminya dan suami Cyndia sedang ngobrol di ruang tamu sambil tertawa. " Ngobrolin apa sih sampai tertawa gitu? Jangan-jangan ngobrolin perempuan lain tuh?" Gumamnya.
"Siti?" Sapa mama dari ruang keluarga saat Siti sudah di bawah.
"Iya ma." Jawab Siti. Dia lalu menghampiri mamanya.
"Putri baru saja bangun. Mungkin dia mau ASI kamu." Terang mama.
"Iya ma." Jawab Siti. Dia kembali mendengar tawa Rey dan Fadil di ruang tamu. Ngobrolin apa sih,seru banget. Batinnya.
Tak lama Siti mendengar suara pintu di tutup dan suara deru mobil. Sedangkan suara Rey dan Fadil tidak terdengar lagi. Kok sepi,apa mereka sudah pergi? Pergi kok tidak pamit dulu. Nyebelin kamu,mas! Siti hanya bisa menggerutu dalam hati.
Dia lalu menatap Putri yang masih asik minum ASI. "Papa kamu mulai bertingkah,nak." Gumamnya sambil membelai lembut kepala Putri.
"Putri belum selesai yank? Sudah jam empat ini,kan belum di mandiin." Ucap Rey yang tiba-tiba sudah ada di samping Siti membuat Siti kaget.
"Mas?" Siti menatap suaminya dengan heran.
"Kamu kenapa,yank? Seperti sedang lihat hantu saja."
"Mas tidak pergi sama ayahnya Cinta?"
"Pergi kemana? Kamu kan ngelarang mas pergi."
"Terus tadi kok tertawa-tertawa?"
"Loh memangnya tidak boleh tertawa?"
"Hmm,bukan tidak boleh sih. Kirain tertawa karena seneng mau fitnes sama-sama."
"Hmm,jadi kamu ngambek tadi gara-gara mikir mas jadi fitnes sama pak Fadil ya?"
"Iihh siapa juga yang ngambek?"
"Lah terus tadi kok tutup pintu kamar mandi pake di banting segala?"
"Iihh siapa juga yang banting pintu kamar mandi. Mana kuatlah!"
"Hehee,kamu bisa juga bercanda,yank!" Ucap Rey. Dia lalu duduk di samping istrinya.
Siti langsung memalingkan wajahnya. "Terus kenapa kok tertawa-tawa tadi?" Siti masih penasaran. "Pake minyak wangi sebotol di abisin. Seperti mau kencan saja."
"Hahahaa. Kenapa kamu tidak nguping tadi?"
"Iiihh males banget nguping. Kurang kerjaan!"
"Kan biar tidak salah paham,terus ngambek. Mas di diemin ratusan purnama."
"Paan sih."
__ADS_1
"Eh yank,kamu sama Cyndia sepertinya cocok deh."
"Hmm,cocok apanya?"
"Yah cocok. Tadi juga pak Fadil bilang kalau dia di larang fitnes,biar saja gendut bahkan jelek juga tidak apa-apa. Hehehe,aneh kalian ini."
"Hmm. Kok aneh sih?" Tanya Siti heran.
"Ya aneh yank. Harusnya bangga donk kalau suaminya terlihat tampan dan keren."
"Iya terus pelakor pada keluar dari persembunyiannya. Mas mau di dekati sama pelakor ya?"
"Hahahaa. Pelakor. Kamu terbawa sama sinetron juga rupanya."
"Siapa juga yang terbawa sama sinetron? Memangnya pelakor cuma sembunyi di sinetron."
"Iyalah!" Jawab Rey.
"Oohh,mau nyoba ya? Kali di dekati pelakor?"
"Hehehee."
"Malah ketawa. Coba saja sana. Sekalinya ketauan,tidak ada kata ampun!"
"Hahaha. Ampun dulu deh sebelum ketauan." Rey tergelak lalu meninggalkan Siti yang masih memberikan ASI untuk Putri.
"Dasar. Awas saja." Gumam Siti sambil menatap suaminya yang pergi ke dapur.
***
Setelah makan malam,mereka berkumpul di ruang keluarga. Tiba-tiba Seno datang hendak berpamitan.
"Hmm,ma,pa,mas,mbak,Seno keluar dulu ya!" Pamitnya.
Semua menoleh termasuk Siti. "Mau kemana dek?" Tanya Siti.
"Oh iya,hati-hati di jalan ya." Pesan papa.
"Teman mana,dek?" Siti menatap curiga adiknya itu.
Seno menggaruk-garuk kepalanya. "Teman kuliah,mbak."
"Hmm,perempuan apa laki-laki?"
"Yank,biarin saja mau perempuan atau laki-laki." Ucap Rey.
"Hmm,kan cuma tanya,mas."
"Hmm,Seno berangkat dulu ya. Assalammualaikum." Pamit Seno tanpa menjawab pertanyaan Siti.
"Jangan pulang malam-malam loh dek. Sampai jam sepuluh saja." Ucap Siti dengan penekanan.
"Iya mbak." Jawab Seno yang segera berlalu dari sana sebelum mbaknya banyak bertanya lagi.
"Biar saja yank,Seno bergaul. Toh dia sudah dewasa,tau mana yang benar dan mana yang salah." Ucap Rey.
Siti hanya menatap suaminya sebal.
***
Pagi ini Siti sedang bersiap-siap untuk kontrol kandungan di temani Rey. Putri tidak ikut,di rumah saja bersama mama.
Sementara mama sedang sibuk memberikan MPASI untuk Putri karena cucunya itu sudah waktunya makan.
__ADS_1
"Ma,titip Putri ya. Kita ke klinik dulu." Pamit Siti.
"Iya hati-hati ya." Pesan mama.
Siti dan Rey segera berangkat menuju klinik dokter Layli.
Setelah menunggu,Siti pun di panggil masuk.
"Apa kabar mbak Siti?" Sapa dokter Layli dengan ramah.
"Alhamdulillah baik dokter."
"Timbang dulu ya!" Titah dokter Layli.
Siti lalu naik ke timbangan. Asisten dokter Layli mencatat berat badan Siti lalu mengukur tekanan darahnya.
"Ayo berbaring dulu."
Siti lalu berbaring di kasur.
"Kita lihat ya,bayinya sehat. Sudah dua puluh lima bulan ya,masuk akhir trimester dua" Terang dokter.
"Iya dokter,sudah enam bulan." Terang Siti.
"Hmm,beratnya sudah 800gram,normalnya sekitar 660 gram." Terang dokter sambil mengernyitkan dahinya. "Berat mbak Siti juga naik lebih satu kilo dari dua minggu lalu ya."
"Hmm,jadi bagaimana dokter?" Tanya Rey.
"Di usahakan makannya di kurangi ya. Jangan terlalu sering makan yang manis-manis juga. Agar bayinya tidak besar,biar kita besarin bayinya saat sudah lahir saja."
"Hmm,iya dokter." Jawab Siti dengan santai.
"Gerakan bayinya bagaimana?" Tanya dokter sambil menulis resep.
"Dia aktip dokter,terutama malam hari." Jawan Siti.
"Ooh tidak masalah yang penting dia aktip ya. Ini saya kasih resep vitaminnya." Ucap dokter lalu memberikan kertas resep pada Rey.
"Terimakasih dokter. Kalau begitu kita permisi dulu." Pamit Rey dan Siti.
"iya silahkan."
Mereka lalu keluar dari ruangan dokter Layli. Rey mengambil obat di apotek. Setelahnya mereka pun pulang.
"Kamu dengar kan yank? Makan di kurangi terutama yang manis." Ucap Rey.
"Hmm,iya mas."
"Kita beli susu untuk kamu sama Putri ya. Diapernya juga tinggal dikit kan." Ucap Rey.
"Iya mas." Jawab Siti.
Mobil Rey melaju lalu berhenti di sebuah minimarket.
Siti lalu memilih susu untuk dirinya sendiri dan juga untuk Putri. Setelah semua kebutuhan di beli,mereka keluar dari minimarket.
"Kita langsung pulang,yank?"
"Iya pulang saja,mas."
Rey melajukan mobilnya ke arah rumah.
NEXT
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya buat othor ya. Makasih.
2006/2320