
Aaron buru-buru turun ke bawah. Di pagar,sebuah sedan mewah memasuki halaman rumah. Aaron berdiri di depan pintu.
"Aku pikir tidak akan datang." Gumamnya.
Seorang pria berusia di atas lima puluh tahun turun di ikuti oleh wanita yang sepuluh tahun lebih muda darinya. Papi dan ibu tirinya.
"Ternyata perempuan itu juga ikut." Gumamnya lagi.
"Tuan Rafael,silahkan masuk." Ucap bibi sopan seraya membawa tas koper besar milik papi Aaron.
Aaron mencium punggung tangan papinya tapi tidak ibu tirinya.
"Mana abang kamu?" Tanya Rafael.
"Ada di kamar tamu,dekat tangga." Jawab Aaron.
"Jadi dia benar-benar kamu suruh tidur di sana?" Nada suara papinya terdengar tidak suka.
"Memangnya papi mau bawa abang naik turun tangga?" Jawab Aaron ketus.
"Kamu itu sama orangtua tidak sopan banget!" Kesal Rafael.
Aaron tidak peduli lalu kembali naik ke atas.
Rafael bersama istri barunya lalu masuk ke kamar Romi. Putra sulungnya itu sedang tertidur dengan handphone di tangannya. "Romi." Panggilnya.
Romi menggerakkan badan lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Saat pandangan matanya bertemu dengan sosok yang dulu pernah dia banggakan,Romi pun kaget dan langsung duduk.
"Papi? Sejak kapan papi di situ? Tanya Romi ketus.
"Orangtua datang,seperti ini sambutan kalian. Kalian tidak suka papi datang,hehh?"
Romi kembali merebahkan tubuhnya. "Aku masih ngantuk,pi."
"Kamu mau menikah sama siapa? Calon dokter itu?"
"Hhh,"
"Romi,papi tanya tuh di jawab!"
"Bukan!"
"Lalu sama siapa? Bukannya kamu bilang mau nikah sama pacar kamu yang calon dokter itu?"
"Tidak usah bahas yang lalu,pi. Papi istirahat sana,kan dari perjalanan jauh!" Usirnya halus.
"Ayo,pi kita ke kamar. Aku capek!" Ajak istri muda Rafael.
"Ya sudah,ayo ke kamar saja!" Sahutnya lalu melirik sekilas ke arah Romi yang memejamkan matanya.
"Kenapa juga papi mesti datang. Gara-gara Aaron nih,harusnya papi tidak perlu di kasih tau kalau datang dengan membawa wanita itu." Gerutu Romi.
***
Hari pernikahan Ratna dan Romi makin dekat. Ratna sudah menghubungi keluarganya di desa dan satu hari sebelum hari H,keluarga Ratna datang ke kota.
Karena keluarganya yang bisa datang hanya empat orang,Rey menyiapkan kamar tamu di rumahnya untuk keluarga Ratna.
Satu hari sebelum hari H,Ratna di ajak oma ke salon. Ratna terlihat lebih segar dan cantik.
Karena Ratna menikah tanpa resepsi jadi persiapan pun tidak banyak dan tamu undangannya pun hanya sedikit atas permintaan Ratna.
***
Pagi-pagi sekali Ratna sudah bersiap di kamarnya di bantu oleh dua orang MUA. Ada Cinta juga yang menemani.
Tak lama ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok. . .
Cinta dan Ratna menoleh. "Biar Cinta yang bukain,kak." Ucap Cinta yang langsung berdiri lalu berjalan ke arah pintu.
Ceklek. Cinta membuka gagang pintu.
"Sayang,kak Ratna sudah siap belum?"
"Sudah siap,ma. Sudah cantik banget kak Ratna." Terang Cinta.
__ADS_1
Siti tersenyum. "Temani kak Ratna ya!"
Cinta mengangguk. "Iya ma. Si Romi itu sudah datang ya ma?"
"Bang Romi. Aaron manggilnya bang Romi! Bukan si Romi!"
Cinta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hahaa,iya ma. Bang Romi!" Cinta tertawa lebar namun buru-buru menutupi mulutnya.
"Kamu itu. Mama keluar ya. Jangan lama-lama!"
"Siap,ma!"
Cinta berbalik menghampiri Ratna. "Kak,calon suami kakak sudah datang. Yuk kita keluar." Ajak Cinta.
"Hhmm,Cin. Kakak gugup." Ucap Ratna.
"Biasa kok mbak,calon pengantin gugup. Coba tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan pelan-pelan." Ucap salah satu MUA.
Hhhhh. . . Ratna pun menurut.
"Ayo,kak. Nanti calon suami kakak tidak sabar lihat cantiknya kakak." Goda Cinta.
Cinta lalu membuka pintu kamar Ratna. Mereka keluar dari kamar lalu di sambut oleh oma. Ratna duduk di barisan ibu-ibu. Sementara Romi dan ayah Ratna sudah siap di depan penghulu. Romi tetap menggunakan kursi rodanya.
"Bagaimana calon pengantin prianya,siap?" Tanya bapak penghulu.
Romi mengangguk pelan.
"Baiklah kita mulai saja sekarang." Titah pak penghulu.
Romi lalu menjabat tangan ayahnya Ratna.
"Ananda Romi Rafael. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Ratna Sari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas senilai dua puluh tiga gram di bayar tunai."
Romi terdiam beberapa saat,matanya menatap ke arah Aaron yang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Melihat Aaron menganggukkan kepala,akhirnya Romi mau menjawab. "Saya terima nikah dan kawinnya Ratna Sari binti Waluyo dengan mas kawin tersebut,tunai!"
"Bagaimana,sah?" Tanya pak penghulu.
"Sahhh!" Jawab hampir semua orang yang hadir di sana.
"Alhamdulillah. Kalian sekarang sudah resmi menjadi suami istri." Ucap pak penghulu.
Pak penghulu lalu membacakan doa. Selesai membaca doa,Ratna mencium punggung tangan Romi tapi wajah Romi tanpa ekspresi. Datar dan dingin. Aaron terlihat kesal menatap ke arah abangnya.
Mereka lalu menandatangani surat-surat nikah.
Setelahnya,mereka menyalami orangtua Ratna dan Romi bergantian. Lalu semua tamu yang hadir.
Dari jauh,di dekat anak tangga. Cinta menatap Ratna dan suaminya tanpa berkedip. Tanpa peduli ataupun ikut menyalami pengantinnya.
"Cin? Kok malah di sini?" Tiba-tiba Dinda sudah berdiri di sampingnya.
Cinta kaget lalu menoleh. "Ehhmm,i-itu dulu mantan pacar tante? Kakaknya Aaron?"
Dinda mengangguk.
"Tapi,itu-itu om Angga,tan!"
Hhh,Dinda menarik nafasnya berat. "Tante pikir kamu sudah tau kalau Angga itu adalah Romi."
Cinta menggeleng cepat. "Cinta tidak tau!" Sambil terus menatap ke arah Ratna dan Romi.
"Hhmm,ya sudah. Sana beri ucapan selamat untuk kak Ratna. Masa malah bengong di sini?" Titah Dinda.
Cinta masih berdiri terpaku di tempatnya.
"Sama tante saja yuk. Tante juga belum ngucapin!" Ajak Dinda seraya menggandeng tangan Cinta. Cinta hanya menurut saja.
Saat sudah berdiri di depan pengantinnya,Cinta menatap ke arah Romi yang juga tengah menatapnya dan juga Dinda bergantian. Tak lama Romi langsung menunduk. Ratna memeluk Cinta yang masih belum bicara apa-apa.
"Selamat ya." Ucap Dinda seraya memeluk Ratna setelah Cinta berlalu dari sana.
"Romi,selamat." Ucap Dinda seraya mengulurkan tangannya.
"Terimakasih." Jawab Romi pelan.
"Kamu Dinda?" Tiba-tiba papi Romi sudah berdiri di samping Dinda.
__ADS_1
"Hmm,i-iya om. Apa kabar?"Tanya Dinda berbasa basi.
"Baik. Jadi kamu sudah menikah lebih dulu daripada anak saya." Ucap Rafael sinis seraya menatap tajam ke arah Dinda.
"Iya,om. Kita tidak jodoh. Permisi dulu,om. Bayi saya tidak bisa di tinggal lama." Pamit Dinda kemudian segera berlalu dari hadapan papinya Romi.
Apa Romi menikahi wanita lain gara-gara si Dinda sudah lebih dulu menikah. Dasar perempuan tidak setia. Belum satu tahun di tinggal sudah lari ke pelukan laki-laki lain. Batin papi Romi sambil terus menatap Dinda dari belakang.
Setelah menyalami satu persatu tamu yang hadir,Ratna kembali duduk.
"Kamar kamu di mana?" Tanya Romi pada Ratna.
"Ada di sana!" Tunjuk Ratna.
"Antar aku ke kamar kamu. Aku mau istirarahat. Bosan di sini!" Pinta Romi.
"Hmm,baiklah." Ratna berdiri lalu mendorong kursi roda Romi menuju kamarnya.
"Kalian mau kemana?" Tanya oma yang kebetulan berpapasan dengan Ratna."
"Hhmm,mau ke kamar. Romi mau istirahat,oma." Jawab Ratna.
"Bang Romi. Ya sudah kalian istirahatlah." Ucap oma seraya menepuk bahu Ratna. Ratna lalu tersenyum kemudian membawa Romi masuk ke kamarnya.
"Ini kamar kamu?" Tanya Romi sinis." Sempit."
"Hhmm,saya kan tamu di sini,bang." Jawab Ratna.
"Aku ingin berbaring di tempat tidur." Ucap Romi.
"Hhmm,baiklah. Aku bantu ya. . .?" Tawar Ratna.
"Memangnya kamu pikir aku bisa sendiri,heh?" Romi terlihat kesal.
"Hhmm. . ." Ratna hanya menunduk. Ratna lalu mencoba membantu Romi untuk berdiri. Dengan susah payah Romi berdiri dengan di bantu Ratna. Dia berpegangan pada bahu Ratna.
Karena Ratna tidak kuat menahan tubuh Romi yang lebih besar dan tinggi darinya,akhirnya mereka jatuh di atas tempat tidur dengan Ratna yang berada di atas Romi.
Karena kaget,mereka diam terpaku beberapa saat dengan mata saling menatap. Mereka saling merasakan hembusan nafas mereka yang beradu karena jarak mereka yang sangat dekat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya baik like,komen gift atau kalau mau juga vote. Terimakasih. πππ
.
.
.
.
.
.
.
1010
__ADS_1