Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 20 ( S2 )


__ADS_3

Baru saja beberapa menit di ruangan papanya,Cinta sudah mau keluar lagi.


"Kamu mau kemana lagi?" Tanya Rey yang melihat putrinya membereskan tasnya dan hendak keluar dari ruangannya.


"Cinta mau ke kantin,pa. Cinta laper." Jawab Cinta.


"Makan siang sama papa saja." Ajak Rey.


Cinta menoleh. "Cinta,cinta mau makan di kantin kantor,pa." Tolak Cinta karena dia tau papanya pasti akan makan siang di kafe depan.


"Kamu mau makan apa di kantin? Papa temani."


"Hahh? Papa mau makan di kantin juga?"


"Iya ayo!" Rey sudah membereskan mejanya lalu memakai jasnya.


"Yahh,papa ikut makan di kantin." Gumam Cinta kecewa.


"Kamu ngomong apa?"


"Hmm,tidak kok pa. Papa tidak biasanya mau makan di kantin?"


"Sesekali,mau temani anak gadis papa. Nanti di godain lagi sama hidung belang." Goda Rey.


"Iihh,hidung belang apaan,pa?"


"Hehehe,papa becanda sayang. Yuk!" Rey langsung menggandeng putrinya keluar ruangannya.


Yah,tidak jadi deh makan siang sama si. . . Hmm siapa ya nama cowok itu,kok aku lupa nanya? Batin Cinta.


Tiba di luar,ternyata pamannya Seno juga baru keluar dari ruangannya.


"Tuh,om Seno mau makan siang juga." Tunjuk Rey.


Yaahh,bareng om Seno lagi. Males banget. Gerutu Cinta dalam hati.


"Mas Rey,Cinta." Sapa Seno.


"Kamu mau makan siang juga?" Tanya Rey.


"Iya,mas."


"Oh ayo,bareng saja." Ajak Rey.


"Iya mas. Mau makan di mana,nih? Kafe depan ya?"


"Terserah sih." Jawab Rey.


"Ya sudah ayo." Ajak Seno.


"Yok. . ."


"Hmm,Cinta tidak ikut ke kafe ya,pa." Ucap Cinta dengan wajah semringah.


"Loh kenapa?" Tanya Seno.


"Papa sama om saja ke kafe. Cinta mau makan di kantin. Daaahh!" Cinta langsung berlarian ke arah kantin. Tapi baru saja beberapa langkah. . .


"Ciinn!" Panggil Rey.

__ADS_1


Cinta menoleh lalu menghentikan langkah kakinya. "Hmm,iya pa?"


"Jangan lari-lari! Kita makan di kantin sama-sama!" Titah Rey. "Yuk Seno. Mas lupa kalau Cinta maunya makan di kantin saja." Ajak Rey.


"Yaaahh." Keluh Cinta dengan wajah di tekuk.


Setelah mereka berjalan beriringan. "Kamu kenapa cemberut gitu,hmm?" Tanya Rey sambil melirik putrinya.


"Hmm,tidak apa-apa kok pa." Jawab Cinta.


Sampai di kantin,Cinta menoleh ke kiri dan kanan seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.


"Cin,ayo duduk!" Titah Rey.


Cinta pun menurut. Dia duduk di sebelah papanya sementara Seno duduk di depan Cinta. Cinta jadi salah tingkah.


"Kamu mau pesan apa?"


"Cinta apa saja deh,pa."


"Hmm,apa saja? Kamu. . ."


"Hmm,baso deh." Jawab Cinta malas.


"Makan baso terus. Makan nasi ya. Ada tuh ayam bakar yang enak." Tawar Rey.


"Hmm,ya sudah terserah papa deh." Ucap Cinta tidak bersemangat. Mau makan apa juga tetap tidak bisa makan sendirian. Ada pengawal dua. Sebel aahh. Batin Cinta. Dia lalu kembali menengok ke kiri dan kanan.


Tiba-tiba matanya beradu pandang dengan mata Seno. Beberapa detik,Cinta langsung memalingkan wajahnya.


Dia mengambil handphonenya pura-pura melihat pesan yang masuk. Rey sudah memesan makanan mereka. Sepuluh menit,makanan mereka datang.


"Sayang,makan yang bener. Badan kamu makin kecil saja!" Titah Rey.


"Hmm,iya pa."Jawab Cinta masih dengan mata yang menoleh kemana-mana. Tiba-tiba dia melihat seseorang yang sedang dia cari. Seseorang yang tadi mengajaknya makan siang di kantin bersama. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya. Cinta hanya balas tersenyum lalu menatap lagi ke arah piring makannya masih sambil tersenyum-senyum sendiri.


Cinta senyum sama siapa,ya? Batin Seno curiga. Dia lalu menoleh ke arah Cinta tadi tersenyum tapi Seno hanya melihat beberapa karyawan yang sedang asik makan.


Rey dan Seno sudah menghabiskan makanannya sementara Cinta masih makan dengan malas-malasan.


"Ayo di habiskan,nak!" Titah Rey yang tidak sabar melihat cara makan putrinya.


Cinta menoleh. "Ehmm,kalau papa sama om sudah selesai,tidak apa-apa kok Cinta di tinggal sendirian."


"Hmm,papa tunggu!"


"Papa. . . Cinta sudah besar. Cinta tidak akan tersesat kok. Nanti langsung balik lagi ke kantor papa deh."


"Hmm,papa mau nungguin kok!"


Sementara papa dan anak itu saling berdebat,Seno hanya memperhatikan saja tingkah keponakannya yang sekarang sudah banyak berubah.


"Papa iiihh,Cinta bukan adek Putri yang masih harus di tungguin,masih harus di kawal."


Rey menggelengkan kepalanya. "Ya sudah kalau begitu,om Seno saja yang nungguin kamu makan." Tawar Rey.


"Papaa . . !" Cinta cemberut. "Cinta sudah kenyang." Cinta pun langsung meneguk minumannya lalu berdiri meninggalkan papa dan omnya yang menatapnya dengan heran. Dia berjalan dengan sedikit menghentakkan kakinya karena kesal.


Rey dan Seno berjalan di belakang Cinta sambil sesekali mengobrol. Cinta langsung masuk ke ruangan papanya lalu duduk di sofa.

__ADS_1


Rey masuk di ikuti Seno dari belakang. Cinta menoleh ke arah mereka berdua.


Ngapain om Seno ikut ke ruangan papa. Batin Cinta. "Hmm,pa. Cinta mau mandi dulu ya." Ucap Cinta yang segera masuk ruang pribadi papanya tanpa mendengar lagi jawaban papanya.


Melihat Cinta yang seperti menghindarinya,Seno akhirnya pergi dari ruangan Rey."Mas,Seno balik ke ruangan Seno ya." Pamit Seno yang di berikan anggukan oleh Rey.


Setelah Seno keluar dari ruangan Rey,tiba-tiba handphonenya berdering. Dokter Layli.


***


Seno sudah tiba di klinik dokter Layli. Dia kini sedang duduk berhadapan dengan dokter dan juga putrinya.


"Saya tau,kamu belum sampai merusak putri saya. Tapi tetap saja,kamu sudah melecehkannya bahkan jika putri saya tidak sekuatnya melawan,mungkin saja hal itu terjadi. Dan saya tetap tidak terima apa yang telah kamu lakukan!"


Seno dan juga Dinda hanya diam. Dinda tau maminya memang berusaha menjodohkannya dengan orang lain karena Dinda mempunyai pacar yang sangat tidak di sukai oleh maminya. Selain itu,pacarnya juga sering kasar dan tak jujur padanya. Jadi Dinda akhirnya pasrah saja ketika dia di paksa menikah dengan Seno. Ya,dokter Layli memang ingin Dinda menikah dengan Seno dan secara kebetulan Seno pun sudah berpisah dari istrinya.


"Jadi,kapan kamu siap?"


Seno mendongakkan kepalanya. Siap? Siap apa maksud dokter Layli? Apa menikah. Batin Seno.


"Saya,saya menurut dokter saja." Jawab Seno.


"Hmm,tapi kamu tidak akan menyakiti hati putri saya kan?" Tanya dokter Layli sambil menatap lekat-lekat ke arah Seno.


"Hmm,in sya Allah dokter." Jawab Seno.


"Hmm,baiklah. Agar kalian bisa lebih saling mengenal dan bisa ngobrol apa saja,saya ijinkan kalian keluar berdua. Ingat Seno,jaga putri saya!" Titah dokter Layli dengan penekanan.


"Baik,dok. Saya ajak Dinda keluar." Pamit Seno yang langsung bangkit dari duduknya.


"Mi. . .?" Dinda seakan ingin menolak. Dinda memang anak yang penurut. Dia takut membantah apa yang maminya inginkan.


"Pergilah sama Seno!" Tegas maminya Dinda.


Dengan langkah gontai,Dinda pun mengikuti langkah kaki Seno. Mereka memang berjalan beriringan karena dokter Layli mengawasi mereka dari balik pintu. Tapi mereka tidak bicara satu sama lain. Sampai mereka tiba di parkiran,Seno membukakan pintu mobil untuk Dinda.


Dinda langsung masuk ke dalam mobil tanpa bicara apa-apa. Sampai Seno melajukan mobilnya pun mereka tetap diam,sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Seno pasti terpaksa menikahiku. Bagaimana mungkin aku menikah dengan pria yang tidak mencintaiku sama sekali bahkan masih mencintai mantan istrinya. Seno pasti masih sangat mencintai mantan istrinya karena mereka memang bercerai karena terpaksa. Lalu aku,bagaimana pernikahanku nanti? Ya Tuhan, kenapa mami tidak berpikir sampai ke sana? Bisakah aku bahagia menikah tanpa cinta dari suamiku?


.


.


.


.


NEXT


Hay haayyy,tungguin terus lanjutannya yaa. Ssssssttt. . . buat yang masih penasaran aja! Jangan lupa dukung terus othor dengan like,komen,gift dan juga votenya yaa. terimakasih 😍😍😍


.


.


.


.

__ADS_1


2707/1100


__ADS_2