
Satu minggu sejak pertemuan terakhir Seno dan dokter Layli. Seno kembali datang ke klinik dokter Layli.
"Dokter,saya akan segera menikahi putri dokter!" Ucap Seno tegas.
"Hmm,kamu benar-benar tidak akan menyakiti putri saya kan?"
"Hm in sya Allah."
"Baiklah. Ini kamu baca dulu!" Titah dokter Layli sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.
Seno pun mengambil amplop coklat dari tangan dokter Layli lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Selembar kertas putih dengan tulisan beserta tanda tangan dan juga materai.
"A-apa ini,dok?" Tanya Seno sambil mengernyitkan dahinya.
"Kamu baca saja!" Titah dokter Layli lagi.
Seno membaca pelan-pelan tiap tulisan yang tertera di kertas itu.
"Ini maksudnya apa ya dok?" Seno mengerti maksud dari isi tulisan itu hanya saja Seno tidak mengerti tujuan dokter Layli.
"Kamu pasti mengerti Seno!" Ucap dokter Layli santai.
"Tapi dokter,saya tidak ingin seperti ini!"
"Seno,saya hanya jaga-jaga saja kalau kamu sampai menyakiti putri saya apalagi jika kelak kalian punya anak."
"Jadi dokter tidak percaya sama saya?"
"Hmm,saya bilang hanya jaga-jaga saja."
"Sama saja dokter tidak percaya sama saya."
"Bukan tidak percaya tapi melihat kamu yang seperti terpaksa,jadi saya harus mengambil keputusan itu."
"Saya tidak pernah berniat menikah untuk kemudian bercerai,dok!" Tegas Seno. Dia merasa tersinggung dengan isi dari setiap tulisan yang tertera di kertas itu.
"Semua yang tertera dalam kertas itu tidak akan berlaku jika kamu dan putri saya baik-baik saja!" Terang dokter Layli.
Hhhh. Seno menghela nafas berat. Kenapa harus begini? Batinnya.
"Bagaimana?" Tanya dokter Layli.
"Hhhh,baiklah." Seno menyimpan lagi kertas itu ke dalam amplop.
"Bagus kalau kamu setuju."
"Minggu depan saya akan lamar Dinda."
"Baiklah,saya akan tunggu."
Seno lalu segera meninggalkan klinik dokter Layli.
"Kalau memang Dinda adalah jodohku,semoga pernikahanku kali ini tidak akan ada masalah yang berarti. Tapi aku belum ada perasaan apa-apa pada gadis itu. Dan Dinda,sepertinya Dinda malah membenciku." Gumam Seno. Aaakkkhhh! Dia memukul-mukul stir mobilnya.
***
"Mbak,Seno mau melamar Dinda." Ucap Seno saat sedang berdua dengan Siti di teras rumah.
"Apa? Melamar Dinda? Dinda siapa?" Tanya Siti kaget.
"Dinda,putrinya dokter Layli."
"Apa? Kamu tidak salah,dek?" Tanya Siti makin kaget.
"Seno serius,mbak."
"Kamu itu,baru beberapa bulan pisah sama istri kamu,sekarang mau nikah lagi?" Siti menggelengkan kepalanya.
"Mbak,jangan ingatkan itu lagi. Mungkin Seno sama Fia jodohnya hanya sebatas itu. Toh bukan mau Seno seperti ini. Seno cuma minta restu dari mbak." Ucap Seno dengan penekanan.
"Hhmm. Dek,mbak ngerti perasaan kamu. Mbak juga bahagia jika kamu bahagia. Tapi apa kamu yakin dengan Dinda? Kamu,kamu cinta sama dia?"
__ADS_1
"Mbak,doakan saja kebahagiaan Seno. Seno masuk dulu." Seno lalu berdiri dan meninggalkan Siti yang menatapnya dengan bingung.
***
Di perusahaan keluarga Rey.
Hari sudah siang. Seno merasa perutnya lapar. Dia lalu keluar dari ruangannya hendak makan siang di kafe depan.
Dia melangkahkan kakinya sambil melamun. "Seno?" Sapa seseorang yang ternyata adalah Farid,teman sekolahnya yang juga bekerja di perusahaan Rey.
"Rid? Ada apa?" Tanya Seno.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau cari makan. Kenapa memangnya?" Jawab Seno.
"Hmm,Sandi mau menikah. Kamu sudah di undangnya?"
"Iya,ada undangan di meja kerjaku." Jawab Seno.
"Oh ya sudah. Kamu mau datang?"
"Hmm,in sya Allah."
"Kalau kamu mau datang,bareng aku ya. Aku,tidak enak datang sendirian." Ajak Farid hati-hati. Dia tau Seno sedang sendiri.
"Iya,kalau aku datang aku akan kabari kamu."
"Ok. Terimakasih ya." Farid pun berlalu dari hadapan Seno.
Seno meneruskan langkah kakinya menuju kafe depan.
Setelah sampai,hanya ada meja kosong di tempat dia dan Dinda waktu itu. Seno pun hendak duduk di sana. Karena berjalan sambil membuka-buka handphonenya,tanpa Seno sadari ternyata meja itu sudah di tempati orang lain. Seorang gadis. Dan gadis itu,Dinda.
"Hmm,Dinda?" Sapa Seno.
Dinda menoleh ke arahnya. "Se Seno?" Ucap Dinda kaget.
"I iya. Aku mau makan di sini." Jawab Dinda pelan.
"Apa kamu sendirian? Boleh aku duduk di sini?"
"Oohh,aku. Aku sendirian." Jawab Dinda gugup. Tiba-tiba jantung Dinda berdebar-debar. Kenapa dia hari ini sangat. . . Aahh,Dinda stop berpikir macam-macam. Batin Dinda.
"Heeyy melamun ya? Aku duduk di sini ya?" Tanya Seno lagi.
"I iya iya silahkan." Dinda langsung membuka buku menu tanpa menoleh lagi pada Seno.
Seno pun duduk di depan Dinda membuat Dinda makin salah tingkah. Kenapa juga aku pilih makan siang di sini. Duuhh. Batin Dinda.
Seno melirik ke arah Dinda yang sedang melihat-lihat buku menu. " Kamu pinter juga ya,bisa baca sambil terbalik gitu." Ucap Seno.
Dinda tersadar kalau buku menu yang dia baca terbalik. Wajahnya langsung merah karena malu. "Hmm,aku,aku iseng saja." Ucap Dinda menahan malu
Seno tersenyum tipis. Kamu lucu juga kalau sedang malu. Batin Seno.
"Oh iya kamu mau pesan makan apa?" Tanya Seno.
"Aku,hmm mau pesan yang waktu itu saja." Jawab Dinda.
"Apa ya yang waktu itu?" Seno pura-pura lupa.
Dinda mendongakkan kepalanya menatap Seno. Mereka saling pandang beberapa detik hingga Dinda kembali menunduk,membaca buku menu.
"Aku. . ."
"Biar aku yang pesankan." Seno lalu memesan dua menu yang sama beserta minumannya juga sama.
Mereka menunggu pesanan dalam diam. Dinda terus menatap ke arah luar jendela.
"Kamu masih magang ya?" Seno mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
"Aku? Ooh aku sudah selesai magang." Jawab Seno.
"Kapan resmi jadi ibu dokter?"
"Hmm,beberapa bulan lagi."
"Hebat ya bisa jadi dokter." Puji Seno.
"Hmm,mami yang ingin aku jadi dokter." Jawab Dinda.
Hmm,Dinda begitu penurut sama maminya. Batin Seno.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang.
"Menu yang waktu itu." Terang Seno yang di beri senyuman oleh Dinda. Mereka pun makan dalam diam hingga Seno menghabiskan makanannya lebih dulu. Setelahnya Seno menatap gadis di depannya yang masih asik makan.
Dinda mendongakkan kepalanya menyadari jika Seno sedang memperhatikannya makan. Karena salah tingkah,Dinda tidak menghabiskan makanannya dan segera menenggak minumannya.
"Kenapa tidak di habiskan? Tidak baik membuang makanan kan?" Tegur Seno.
"Hmm,i iya." Jawab Dinda gugup. Dia lalu kembali memakan makanannya. Kenapa juga harus memperhatikan aku makan sih. Batin Dinda.
Setelah selesai makan,Dinda langsung membuka tasnya untuk mengambil dompet. "Mau bayarin aku makan ya?" Tanya Seno sambil menatap lekat gadis di depannya.
Dinda menoleh. "Ehmm,i. . ."
"Simpan saja. Aku yang bayar." Ucap Seno tegas.
"Hmm,terimakasih." Ucap Dinda yang langsung menyimpan lagi dompetnya ke dalam tas.
"Kamu ke sini naik apa?"
"Aku bawa mobil." Jawab Dinda.
"Oohh baguslah jadi aku tidak perlu mengantar kamu pulang." Ucap Seno.
"Siapa juga yang mau minta antar pulang?" Ucap Dinda sewot.
Seno hanya tersenyum. Masih galak seperti dulu. Batinnya.
"Aku pulang duluan." Pamit Dinda.
"Aku juga mau balik ke kantor." Ucap Seno
Mereka lalu keluar kafe bersama. Dinda naik ke mobilnya. "Hati-hati bawa mobilnya." Seru Seno saat Dinda sudah di dalam mobil.
Setelah mobil Dinda melaju,Seno pun kembali ke kantornya. Para karyawan pun sudah mulai kembali bekerja karena jam makan siang sudah habis. Dari dalam ruangan Rey,dia mendengar suara Cinta,gadis itu berceloteh panjang lebar. Sepertinya keponakannya itu sedang bahagia.
"Hhh,Cinta. Semoga kamu selalu bahagia. Om sayang sama kamu." Gumam Seno sambil matanya menatap ke arah pintu ruangan Rey. Kemudian dia langsung masuk ke dalam ruangannya sendiri.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca yaa,moga suka. ππ
.
.
.
.
2807/1717
__ADS_1