Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 110 ( S2 )


__ADS_3

Sudah dua hari Ratna tinggal di rumah Rey. Pagi ini rencananya Ratna akan ke Rumah Sakit Medika untuk kembali menemui Romi dengan di temani Rey.


"Ratna mana yank? Tidak di ajak sarapan?" Tanya Rey saat semua keluarga hendak sarapan.


"Ratna sedang di taman belakang dari habis subuh,mas. Mungkin dia bosan di kamar terus. Aku panggil dulu deh." Jawab Siti yang langsung pergi ke taman belakang.


Ternyata Ratna sedang duduk melamun di pinggir kolam ikan.


"Ratna?" Panggil Siti.


Ratna menoleh. "Iya. . .?" Sahutnya pelan.


"Sarapan yuk!" Ajak Siti.


"Hmm,saya sarapannya nanti saja boleh bu? Saya belum lapar."


"Kamu kan mau ke Rumah Sakit? Makan dulu dikit tidak apa-apa. Yuk!"


"Hmm,baiklah bu."


Siti kembali masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Ratna di belakangnya.


"Ayo silahkan duduk."


"Ayo Ratna sarapan dulu." Titah oma.


"Hmm,iya terimakasih." Sahut Ratna.


Saat Ratna hendak duduk,saat itulah bibi datang membawa semangkuk besar nasi goreng,nasi putih beserta ayam goreng menu sarapan yang lainnya.


Tiba-tiba Ratna merasakan perutnya seperti di aduk-aduk. Seperti saat dia sedang mabuk naik kendaraan umum. Ratna memegangi lalu mengusap-usap perutnya.


"Ratna,kamu kenapa? Tidak suka makan nasi goreng?" Tanya oma yang memperhatikan tingkah Ratna.


"Hmm,saya suka kok." Jawabnya lalu mulai menyendok sesuap nasi goreng ke mulutnya. Tapi belum sempat dia telan,perutnya makin terasa tidak nyaman.


Ratna buru-buru berdiri dan tanpa permisi langsung meninggalkan meja makan sambil menutupi mulutnya. Ratna berlari masuk ke kamarnya.


"Ratna kenapa ya?" Tanya Siti.


"Apa ada yang salah sama sarapannya? Apa dia tidak suka? Langsung pergi begitu saja,kan tidak sopan." Gerutu oma.


"Ma. . " Opa menggelengkan kepalanya.


"Kakak sama adek tidak boleh seperti itu ya!" Tegas oma.


"Ma,sudah. Mungkin dia sedang tidak enak badan." Ucap Rey.


"Ya kan bisa pamit dulu."


"Hmm,aku lihat dulu ke kamarnya ya." Ucap Siti yang hendak berdiri.


"Habiskan dulu sarapan kamu,Siti. Ingat,kamu sedang hamil." Oma mencegah Siti yang hendak meninggalkan sarapannya.


"Hmm,iya ma." Siti kembali makan.


Setelah selesai,Siti buru-buru pergi ke kamar Ratna.


Tok tok. . .


Setelah beberapa menit. Ceklek. Pintu terbuka dari dalam.


"Ratna? Kamu sakit?" Tanya Siti khawatir.


"Saya. .. Hmm,saya mungkin masuk angin. Kepala rasanya pusing." Terang Ratna.


Siti mengusap dahi Ratna."Kita ke dokter yuk. Kamu demam juga."


Ratna menggelengkan kepalanya. "Saya mau istirahat saja." Tolak Ratna. Tiba-tiba Ratna berlarian ke kamar mandi.


"Ratna kenapa ya?" Gumam Siti sambil terus melihat ke arah kamar mandi.


"Mama. . ." Panggil Putra dari luar kamar Ratna.


Siti menoleh lalu keluar dari kamar Ratna.

__ADS_1


"Iya sayang,kenapa?"


"Adek sama kakak mau berangkat sekolah."


"Oohh iya. Ayo." Siti menyusul Putra ke ruang keluarga.


"Ratna mana yank?"


"Ratna sakit,mas. Badannya panas. Tadi barusan dia muntah-muntah." Terang Siti.


"Apa? Ratna muntah-muntah?" Oma Asti kaget.


"Iya ma. Badannya panas banget."


"Hmm,jangan-jangan Ratna. . ."


"Jangan-jangan apa,ma? Mungkin karena dia stres,banyak pikiran." Sela opa.


"Pa,lihat saja tadi saat di meja makan. Dia seperti tidak suka mencium aroma masakan sama seperti Siti saat hamil muda."


"Ma,kok mikirnya sampai ke situ sih." Protes opa.


"Iya ma." Sahut Rey.


"Hhmm,kalian ini sudah pengalaman berkali-kali masih juga tidak mengerti." Kesal oma.


"Hhmm,kalau begitu besok saja Rey antar Ratna ke Rumah Sakit." Ucap Rey.


"Iya mas. Biarkan Ratna istirahat dulu." Sahut Siti.


"Iya yank. Rey antar anak-anak ke sekolah dulu ma,pa." Pamit Rey yang segera berlalu keluar di ikuti Putra dan Putri juga Siti.


Putra dan Putri mencium punggung tangan mamamya.


"Kamu temani Ratna ya yank,kalau bisa bujuk dia untuk berobat." Pesan Rey.


"Hmm,mas. Bagaimana kalau yang di katakan mama itu benar?" Tanya Siti dengan wajah khawatir.


"Jangan berpikir macam-macam yank. Mas berangkat dulu ya." Pamit Rey lalu mencium dahi Siti sementara Siti mencium punggung tangan Rey.


***


Siang hari saat Siti ingin mengajak Ratna makan siang,gadis itu sedang menangis di kamarnya.


"Ratna?" Panggil Siti.


Setelah beberapa kali di panggil,barulah Ratna mau membuka pintu kamarnya.


"Ratna,kamu masih demam?" Tanya Siti seraya menatap Ratna lekat-lekat. Ratna tidak berani membalas tatapan mata Siti.


"Sudah mendingan,bu." Jawab Ratna.


Siti mengusap dahi Ratna. "Kamu masih demam,Ratna. Badan kamu panas banget. Kita ke dokter ya!"


Ratna menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu bu. Sebentar lagi juga turun panasnya." Tolak Ratna halus.


"Ratna,kamu tidak perlu malu sama saya. Kita ke dokter ya,tapi sekarang kita makan siang dulu."


"Saya tidak mau ke dokter,bu."


"Hhh,baiklah. Kita makan saja. Yuk!" Susah sekali membujuk Ratna. Apa aku harus suruh mas saja yang membujuknya. Batin Siti.


Ratna seperti sedang menahan agar tidak menangis.


"Hhmm,mau makan di kamar saja,ya? Baiklah,kamu istirahat lagi nanti makan siangnya saya bawa saja ke kamar ya."


"Tidak bu. Tidak usah." Tolak Ratna lagi.


"Masa kamu seharian tidak makan,Rat?"


"Saya makan bareng saja." Ucap Ratna akhirnya.


"Hmm,baiklah saya tunggu di meja makan ya." Ucap Siti kemudian segera berlalu dari hadapan Ratna.


Lima menit kemudian,Ratna sudah duduk manis di meja makan bersama yang lain.

__ADS_1


"Kak Ratna sakit ya?" Tanya Putri yang memperhatikan wajah Ratna.


Ratna menggelengkan kepalanya. "Hanya pusing sedikit kok,sayang."


Tapi saat bibi datang membawakan lauk dan sayur, tiba-tiba Ratna berdiri. "Saya,saya permisi dulu." Pamit Ratna buru-buru sambil menutupi mulutnya.


"Kak Ratna kenapa ya?" Tanya Putri heran.


"Siti,kamu lihat dulu kenapa Ratna." Titah oma Asti.


Siti menurut lalu buru-buru menyusul Ratna ke kamarnya. Kebetulan pintu kamar Ratna tidak tertutup rapat jadi Siti bisa mendengar suara dari dalam.


Ratna muntah-muntah terus setiap ada makanan di hadapannya. Jangan-jangan mama benar. Batin Siti.


Siti lalu menghubungi Rey,menceritakan perihal Ratna. Lalu dia kembali ke meja makan.


"Kok lama,ma?" Tanya Putra.


"Maaf ya sayang. Yuk kita makan."


Setelah selesai makan,Siti membuatkan roti bakar dan segelas jus jeruk untuk Ratna.


Tok tok.


Ceklek. Pintu terbuka dari dalam.


"Bu,maaf saya. . "


"Sssttt,tidak apa-apa. Ini saya buatkan roti dan jus jeruk. Kamu makan ya,jangan sampai perut kamu benar-benar kosong. Tidak baik. " Ucap Siti.


"Maaf bu,saya merepotkan saja. Terimakasih,bu." Jawab Ratna yang akhirnya mau mengambil piring dan gelas dari tangan Siti."


"Makanya kamu makan ya. Di habiskan!" Titah Siti kemudian pergi ke ruang keluarga di mana anak-anak serta omanya sedang menunggu.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


2345


.

__ADS_1


__ADS_2