
Rey keluar dari ruang ICU.
"Aaron,kita sekarang ke parkiran. Jenazah oma kamu sedang di bawa ke sana. Nanti mobil ambulans yang akan membawa jenazah ke rumah kamu." Terang Rey.
"Hmm... .Tapi bang Romi bagaimana? Tidak ada yang jagain di sini."
"Abang kamu sudah saya titipkan sama suster jaga. Mereka tau kalau yang jaga dua pasien hanya kamu. Atau kamu mau minta tolong seseorang?"
"Hmm,aku belum tau." Jawab Aaron lirih.
"Ya sudah,kita ke parkiran sekarang. Ayo,nak. Kita ikut mengantar jenazah sampai ke rumah Aaron." Ajak Rey ke putrinya. Cinta lalu mengangguk.
Mereka lalu pergi ke parkiran bersama. Jenazah oma Aaron sudah di masukkan ke mobil ambulans.
Rey dan Cinta buru-buru masuk ke mobil mereka agar bisa beriringan dengan mobil ambulans.
Setengah jam,mobil ambulans sudah tiba di rumah duka.
Rumah terlihat sepi. Yang ada hanya satpam dan tiga orang asisten rumah tangga saja.
Rey dan Cinta ikut masuk ke dalam rumah. Rumah yang sangat besar dan mewah itu hanya di huni oleh beberapa orang saja.
Setelah jenazah di semayamkan di rumah,Rey berniat pulang.
Tiba-tiba handphone Aaron berdering.
"Hallo papi di mana?"
"Papi sering aku hubungi tidak pernah mau jawab!"
"Apa?"
"Papi benar-benar keterlaluan!"
"Besok pagi sudah harus di makamkan,pi. Tidak bisa menunggu lagi. Kalau papi malam ini tidak pulang,terserah!"
Aaron mematikan handphonenya dengan kesal. Dia seperti ingin menangis. Rey coba mendekatinya.
"Kamu tidak punya saudara lain di sini?" Tanya Rey.
Aaron menggeleng. "Adanya di desa dan di luar kota."
"Kamu hubungi mereka sekarang. Semoga besok pagi-pagi sekali mereka bisa datang."
Aaron mengangguk.
"Saya dan Cinta pulang dulu ya? Besok pagi-pagi sekali,kita ke sini lagi. Jangan lupa kabari semua orang yang kamu kenal." Ucap Rey seraya menepuk bahu Aaron.
Aaron hanya membalas dengan tatapan sedih dan bingung. Dia belum mengerti harus melakukan apa dalam keadaan seperti ini sendirian tanpa keluarga.
"Asisten rumah tangga sama satpam kamu mana?" Tanya Rey.
"Saya asisten rumah tangga di sini,pak." Sahut ibu-ibu setengah baya.
"Oh,tolong Aaron di bantu ya bu. Dia masih belum mengerti. Oh iya,kabari tetangga sama RT dan RW juga." Titah Rey.
"Baik,pak."
Rey tersenyum lalu kembali menatap Aaron.
"Saya dan Cinta harus pulang sekarang. Kalau malam ini memang kamu butuh apa-apa,telpon saja saya. In sya Allah saya akan datang." Ucap Rey.
"Hmm,i-iya pak." Sahut Aaron pelan.
Cinta mendekatinya. "Cinta pulang dulu,ya?"
Aaron menatap Cinta lekat-lekat lalu menganggukkan kepalanya.
Rey dan Cinta buru-buru meninggalkan rumah Aaron setelah Rey berbicara sebentar dengan satpam penjaga rumah.
"Pa,kasihan Aaron." Ucap Cinta saat mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Iya nak."
Semoga Aaron bisa sabar dan kuat. Batin Rey.
Sambil menyetir,Rey menyempatkan untuk menelpon Fadil dan juga Seno untuk mengabarkan meninggalnya oma Aaron. Rey menelpon Seno terlebih dahulu.
"Hallo,Seno."
__ADS_1
"Mas cuma mau bilang kalau omanya Aaron meninggal tadi sore."
"Iya,ini mas baru saja pulang dari rumah Aaron. Tadi ikut mengantarkan ke rumahnya."
"Iya. Mungkin besok pagi-pagi sekali mas ke sana. Kamu yang handel perusahaan ya."
"Iya terimakasih."
Rey memutuskan panggilan telponnya lalu menelpon ayahnya Cinta.
"Ya hallo."
"Saya mau mengabari kalau omanya Aaron meninggal tadi sore."
"Jenazah sudah di bawa pulang ke rumah."
"Iya,kasihan Aaron. Di saat berduka,tidak ada satupun keluarga di sampingnya.
"Besok pagi saya ke sana."
"Ohh iya,saya tunggu."
"Ok,"
Rey kembali menyimpan handphonenya di dalam saku celannya.
Satu jam kemudian mereka sampai di rumah Cinta menjelang maghrib. Bundanya sudah menunggu di teras rumah.
"Assalammualaikum."
"Wa alaikumsalam."
"Bunda,kok duduk di luar?"
"Bunda nungguin kamu,nak? Kenapa baru pulang?"
"Cinta sama papa ke Rumah Sakit,bun. Omanya Aaron meninggal. Terus kita juga ikut antar jenazah oma sampai ke rumah Aaron. Kasihan Aaron,bun." Ucap Cinta dengan wajah sedih.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun. Semoga Aaron sabar,ya."
"Iya bun. Tapi di rumahnya tidak ada òrang. Hanya ada satpam dan asisten rumah tangga saja. Dia terlihat sedih dan bingung."
"Hmm,iya nak. Ayo masuk sudah hampir maghrib." Ajak Cyndia.
"Hmm,kalau telpon Aaron di jawab tidak ya?" Gumam Cinta. Beberapa saat berpikir,akhirnya Cinta memutuskan untuk menelpon Aaron.
Setelah beberapa panģgilan,barulah di jawab oleh Aaron. Cinta langsung tersenyum.
"Hallo Aaron."
"Kamu sedang apa?"
"Hmm,Aaron nangis ya?"
"Jangan nangis donk. Aaron sudah makan belum?"
"Kenapa tidak mau makan?"
"Aaron,kamu harus makan ya!"
"Iiihh,,di bilangin."
"Hmm,jangan bilang gitu. Papa kan peduli sama Aaron. Ayah juga. Besok pagi papa sama ayah mau ke rumah Aaron kok."
"Hmm,apa kamu mau Cinta ke sana juga?"
"Iiihh,kenapa sih ngomongnya gitu?"
"Cinta,hmm. Cinta peduli kok sama Aaron!"
"Hmm,cuma terimakasih saja?"
"Aaron berubah! Aaron marah ya sama Cinta? Cinta ada salah?"
"Tapi kenapa berubah?"
"Tidak sama. Aaron tidak sama lagi!"
"Sama apanya?"
__ADS_1
"Huuhh,Aaron nyebelin."
"Iiihh. Cinta. Cinta sayang kok sama Aaron."
"Aaron yang tidak sayang sama Cinta!"
"Iya,tapi sekarang sudah tidak sayang lagi kan sama Cinta."
"Iihh,awas saja kalau berani!"
"Iiihh,Aaron nyebelin!"
"Hhmm,kalau Aaron mau Cinta datang,Cinta pasti datang,kok."
"Iya."
"Hmm kenapa,ngantuk ya?"
"Ya sudah deh Aaron tidur saja."
"Hmm,iya. Nanti Cinta bilang sama papa kalau Cinta mau ijin tidak sekolah besok."
"Iya. Ya sudah,Aaron sekarang istirahat dulu ya."
"Bye."
Cinta lalu memutuskan panggilan telponnya. "Hmm,Aaron. Cinta pikir Aaron marah sama Cinta ternyata tidak. Cinta sayang sama Aaron. Sayang banget!" Ucap Cinta seraya memeluk handphonenya sambil senyum-senyum sendiri.
***
Rey sampai di rumah setelah maghrib. Dia segera sholat lalu berkumpul di ruang keluarga. Rey lalu duduk di samping istrinya.
"Papa kok pulangnya malam?" Tanya Putra.
"Iya nak,papa ada urusan tadi."
"Omanya Aaron meninggal." Bisik Rey di telinga Siti.
Siti kaget lalu menoleh. "Innalillahi wa innailaihi rojiun. Kapan,mas?"
"Tadi sore. Makanya mas baru pulang. Tadi mengurus yang di Rumah Sakit dulu lalu ikut mengantar jenazah ke rumahnya. Di rumahnya tidak ada siapa-siapa selain satpam dan asisten rumah tangga. Besok pagi,mas mau kesana lagi." Terang Rey.
"Kasihan Aaron ya mas."
Rey mengangguk." Dia seperti orang bingung."
"Iya mas. Dia kan masih muda,pasti belum banyak pengalaman,mana tidak ada keluarga yang mendampinginya."
"Iya,yank. Makanya besok pagi mas ke sana dulu baru kerja."
"Iya mas."
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
1500