Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 151 ( S2 )


__ADS_3

Siti terus menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya hingga membuat pakaianya basah bermandikan keringat. Ingin rasanya berteriak mungkin akan bisa mengurangi rasa sakit tapi sekuat mungkin dia tahan. Dia tidak ingin suaminya bertambah cemas.


Siti memilih menggumamkan lafal-lafal doa. Genggaman tangan suaminya pun sedikit membuatnya kuat. Ternyata begini sakitnya melahirkan secara normal. Batinnya.


Satu jam berlalu,dokter Layli masuk ke ruang bersalin.


"Siti? Kamu kuat kan?" tanya dokter Layli ramah.


Siti mencoba tersenyum, "In Sya Allah,dok," sahutnya.


Dokter Layli lalu memeriksa Siti, "Sudah bukaan delapan,ya. Mungkin sebentar lagi," terangnya.


"Alhamdulillah,semoga sebentar lagi," gumam Rey.


Waktu berjalan begitu lambat. Detik demi detik di lalui dengan perasaan cemas. Rey sesekali mengusap lembut perut istrinya, "Anak pinter,jangan terlalu menyakiti mama kamu ya. Lahirlah dengan sehat. Papa menunggumu," bisik Rey dengan menempelkan wajahnya ke perut Siti.


Tepat pukul satu dini hari,Siti merasakan kontraksi makin kuat dan tanpa jeda lagi. Akhirnya setelah di periksa ternyata bukaan sudah lengkap dan beberapa saat kemudian Siti melahirkan anak ketiganya secara normal.


"Ooeeee!!" suara tangisan pertama si jabang bayi.


"Alhamdulillah! Subhanallah. " ucap syukur Rey panjatkan.


"Selamat ya Rey,Siti,bayi kalian sangat tampan." ucap dokter Layli.


"Alhamdulillah anakku laki-laki," Rey begitu terharu.


Sementara Siti menyelesaikan proses setelah melahirkan,dia juga melakukan IMD pada bayinya beberapa menit. Setelah itu bayinya di bawa oleh suster untuk di bersihkan.


Satu jam kemudian,Siti dan bayinya sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Siti mencoba memberikan ASI pada bayinya karena bayinya terus menangis.


Beruntung ASInya langsung keluar jadi bayinya bisa langsung mengonsumsi ASI. Setelah merasa kenyang,bayinya tertidur dalam pangkuan Siti.


***


Siang hari,ketiga buah hati Rey datang menjenguk mama dan adik bayinya. Kamar jadi ramai oleh celotehan Putra dan Putri yang terlihat sangat antusias dan bahagia mempunyai adik bayi.


"Ma,adik bayi namanya siapa?" tanya Putra.


"Hhmm,adek Putra tanya sama papa,ya," jawab Siti.


"Hhmm,adek saja yang kasih nama buat adek bayinya ya,ma?"


"Memangnya adek bayinya mau di kasih nama siapa?" tanya Putri.


"Alex. Adek bayi namanya Alex," jawab Putra.


"Alex? Seperti nama teman sekelasku saja," celetuk Putri.


"Biarin. Ya,ma? Nama adek bayinya 'Alex'," Putra mendekati mamanya.


"Iya,sayang. Nanti Putra bilang sama papa,ya," sahut mamanya.


"Ok,ma."


***


Ratna sedang di ruangan suaminya sendirian karena suaminya yang sedang meeting. Dia berbaring di sofa sambil memejamkan matanya. Kapalanya terasa sedikit berat. Lama-lama akhirnya Ratna tertidur.


Tak berapa lama pintu terbuka. Romi masuk dengan kursi rodanya di dorong oleh pakde sampai di dekat istrinya berbaring.

__ADS_1


"Terimakasih,pakde," ucap Romi pelan.


"Pakde tunggu di luar,ya," pamit pakde yang di berikan anggukan oleh Romi.


Romi menatap istrinya lekat-lekat dengan dahi berkerut, "Kenapa wajahnya terlihat pucat ya?" gumam Romi. Romi lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi istrinya itu, "Hhmm,panas."


Romi lalu mematikan AC agar istrinya itu tidak kedinginan lalu dia mendorong kursi rodanya ke meja kerjanya.


Romi lalu mengerjakan pekerjaan kantornya seperti biasa dengan sesekali melirik ke istrinya yang masih tertidur.


Satu jam kemudian,Ratna menggeliat lalu membuka matanya. Dahinya berkerut lalu dia memegangi kepalanya.


Menyadari istrinya sudah terbangun,Romi lalu mendorong kursi rodanya ke arah Ratna berbaring.


"Kamu kenapa? Badan kamu panas," tanya Romi khawatir.


Ratna masih memegangi kepalanya, "Hhmm,bang. Kepalaku pusing," keluhnya.


"Kita pulang saja kalau gitu,kamu istirahat di rumah,ya."


"Abang kan masih kerja."


"Kita tinggal saja tidak masalah. Abang bisa lanjutkan besok lagi."


"Tapi,bang?"


"Sssttt,jangan membantah!" Romi menempelkan ujung jari telunjuknya ke bibir.


Ratna lalu duduk seraya membetulkan pakaiannya yang terlihat berantakan. Mengambil handphone dan tas kecilnya lalu hendak mendorong kursi roda suaminya.


"Abang dorong sendiri saja,kamu kan sedang pusing," tolak Romi halus.


"Nanti abang capek kan susah dorong sendiri?"


Mereka lalu pulang ke rumah. Satu jam kemudian mereka baru sampai di rumah,Ratna buru-buru ke kamarnya lalu berbaring seraya memegangi kepalanya yang makin pusing.


"Kepalanya masih pusing,ya?" tanya Romi khawatir.


Ratna mengangguk pelan, "Iya,bang. Makin pusing malah. Sepertinya maghku juga kambuh deh," lirihnya.


"Magh juga?"


"Heemm."


"Abang panggilkan dokter kalau begitu," ucap Romi lalu mulai menghubungi dokter keluarganya.


Romi mendekati istrinya yang masih berbaring lalu mengusap lembut kepalanya, "Kamu tunggu,ya. Dokter sebentar lagi datang."


"Hemm,terimakasih bang."


Tidak sampai satu jam,dokter keluarga Romi datang. Dokter Dini,dokter wanita paruh baya yang merupakan teman dari almarhumah maminya.


"Romi,apakabar?" tanyanya ramah seraya mengulurkan tangannya.


Romi menyambut uluran tangannya, "Alhamdulillah baik,dok."


"Siapa yang sakit?"


"Istri saya,dok. Kepalanya pusing dan maghnya kambuh," terang Romi.

__ADS_1


"Hhmm,sering telat makan?"


"Sepertinya tidak,dok. Sama seperti saya makan teratur."


"Hhmm,baiklah saya periksa dulu ya."


Dokter Dini lalu memeriksa Ratna. Wajahnya tersenyum, " Mbak Ratna bulan ini sudah dapet belum?" tanyanya.


"Dapet apa,dok?" tanya Romi bingung.


"Hhmm,saya. Oh iya saya bulan ini belum dapet,dok. Tapi. . ." Ratna menggantungkan ucapannya.


"Periksa saja langsung ke dokter kandungan ya. Saya tidak bawa alat tes dan juga saya hanya dokter umum. Untuk memastikan saja," terangnya.


"Dokter kandungan? Maksud dokter,istri saya hamil?"


"Kemungkinan besar,iya. Tapi untuk pastinya tetap harus periksa ke dokter kandungan,ya."


"Alhamdulillah," Romi mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Saya kasih obat sakit kepala saja,ya. Ini aman untuk ibu hamil."


"Terimakasih,dokter," ucap Ratna.


"Baiklah,kalau begitu saya permisi dulu ya. Secepatnya periksa ke dokter kandungan agar mendapatkan vitamin juga."


"Iya dok. Terimakasih banyak," ucap Romi lalu mengantar dokter Dini sampai ke pintu kamarnya.


Romi lalu berbalik mendekati istrinya, "Sayang,akhirnya kamu hamil lagi. Terimakasih,ya," Romi mengusap lembut pucuk kepala istrinya lalu memeluknya hangat.


"Hhmm,bang. Tapi kan belum pasti. Bagaimana kalau ternyata aku tidak hamil? Abang nanti kecewa."


"Kalau tidak hamil ya kita usaha lagi," ucap Romi seraya tersenyum menggoda,membuat istrinya jadi malu.


"Ayo,kita ke dokter kandungan sekarang saja. Abang sudah tidak sabar ingin tau!" ajak Romi.


"Hhmm,sabar bang. Ke dokter kandungan mana?"


"Kamu waktu itu ke dokter kandungan mana?"


"Hhmm,aku waktu itu ke dokter Layli. Maminya mbak Dinda," jawab Ratna pelan.


"Hhmm,ke dokter lain saja tidak apa-apa kan?"


Ratna mengangguk, "Terserah abang saja,"


"Hmm,ya sudah ayo!"


Ratna dan Romi lalu pergi ke dokter kandungan di antarkan oleh pakde. Setelah browsing sana sini,mereka memutuskan ke dokter kandungan terdekat dari rumah saja.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


11


__ADS_2