Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 87 ( S2 )


__ADS_3

Aaron baru saja dari bagian administrasi. Dia kembali ke ruang IGD. Omanya masih di tangani oleh dokter. Selang setengah jam kemudian.


"Maaf,bapak keluarga dari pasien yang tadi baru masuk,ya?" Tanya suster yang membantunya saat datang tadi.


"Iya,suster. Bagaimana oma saya?" Tanya Aaron dengan wajah cemas.


"Oh,bapak cucunya? Administrasinya sudah kan pak?"


"Administrasinya sudah,sus."


"Baiklah,bapak tunggu sebentar ya. Mengenai oma bapak,biar dokter yang menjelaskan." Terang suster.


"Tapi oma saya baik-baik saja kan sus?"


"Iya nanti bisa di tanyakan langsung sama dokter yang menanganinya ya pak. Saya permisi dulu." Pamit suster.


Hhh "Semoga oma bisa tertolong." Gumamnya. Tiba-tiba Aaron jadi ingat abangnya. "Bagaimana abang sekarang ya? Apa dia sudah di tangkap?" Aaron mengusap wajahnya kasar seraya menundukkan kepalanya. Semua kejadian terasa begitu cepat.


Andai saja tadi aku bisa membawa oma pergi dari rumah sebelum polisi datang,oma pasti akan baik-baik saja sekarang. Semua salahku. Semua yang terjadi adalah kesalahanku. Aaron merutuki diri sendiri.


Tiba-tiba handphonenya berdering. Cinta.


Hhh,Cinta. Kenapa aku bisa begitu mencintai gadis itu? Aaron menyimpan lagi handphonenya ke dalam saku celananya. "Maafkan aku,aku belum ingin bicara denganmu." Gumam Aaron.


"Den Aaron yang sabar ya." Ucap asisten rumah tangganya.


"Iya bi. Kalau bibi mau pulang,naik taxi saja ya bi." Aaron mengambil dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang pada asisten rumah tangganya. "Ini buat bayar taxi,bi."


"Hmm,terimakasih den. Nanti kabarin bibi ya."


"Iya bi. Hati-hati di jalan."


"Keluarga pasien ibu Nia?" Tiba-tiba seorang dokter sudah berdiri di samping Aaron.


Aaron bangkit dari duduknya. "Iya dokter,saya cucunya ibu Nia." Jawab Aaron. "Bagaimana oma saya,dok?"


"Begini,kita sudah melakukan yang terbaik untuk ibu Nia. Tapi sekarang beliau masih dalam keadaan koma." Terang dokter.


"Apa,dokter? Oma saya sekarang koma?" Aaron terlihat syok. "Jadi dari saya bawa belum juga sadar ya,dok?"


"Iya,bu Nia masih belum sadar dari sejak pertama kali beliau datang. Jadi sekarang beliau akan kita pindahkan ke ruang ICU." Terang dokter lagi.


"ICU." Gumam Aaron. Kenapa harus ke ruangan itu lagi. Aku benci ruangan ICU! Batin Aaron.


"Saya permisi dulu,pak." Pamit dokter.


Hhh,Aaron menarik nafas berat. Semoga oma bisa segera sadar. Batinnya.


Aaron lalu pergi ke ruang ICU. Setelah memakai pakaian khusus,Aaron lalu masuk.


Omanya tengah terbaring dengan banyak alat bantu di tubuhnya. Dia terlihat pucat dan tak berdaya.


Aaron duduk di samping omanya lalu memegang tangan omanya yang terasa dingin.


"Oma. Oma harus kuat ya! Oma janji akan selalu menemani aku. Hanya oma yang sayang dan perhatian sama aku. Aku mohon bertahanlah demi aku,oma!" Suara Aaron bergetar menahan agar tangisnya tidak pecah di sana.


***


Sementara Cinta terlihat gelisah dari sejak Aaron meninggalkan rumahnya. Berkali-kali dia telpon dan kirim pesan tapi tidak ada satu pun yang di balas.


"Kamu kenapa? Kamu di mana?" Gumam Cinta.


"Kenapa papa sama ayah mengajak Aaron bicara bertiga? Kenapa Aaron pergi dengan wajah sedih?"


Cinta pun mencoba menghubungi papa dan ayahnya tapi sama saja tidak ada jawaban.


Perasaan Cinta menjadi tidak tenang. Dia lalu turun ke bawah dimana bunda,mama dan adek-adeknya tengah bercanda di ruang keluarga.


"Sayang,kamu kenapa gelisah begitu?" Tanya Cyndia.


"Apa ayah bilang mau kemana,bun?" Cinta balik bertanya.

__ADS_1


"Ayah tidak bilang,nak. Kan pergi sama papa kamu."


"Hmm,"


"Coba kamu telpon ayah atau papa kamu?"


"Cinta sudah coba beberapa kali telpon papa sama ayah tapi tidak ada jawaban,bun."


"Sudah,kamu tunggu saja. Mungkin mereka ada urusan penting."


Cinta keluar dari rumah. Dia duduk di teras sambil terus menatap ke arah pintu pagar.


***


"Bagaimana? Mobilnya tidak kelihatan lagi." Ucap Fadil sambil terus melihat ke jalanan.


"Iya,mobilnya tidak terlihat lagi saat lampu merah tadi. Hhhh!" Keluh Rey.


"Semoga polisi bisa menangkapnya."


"Iya. Dia tidak akan bisa lari jauh-jauh."


"Lalu bagaimana ini?"


"Kita tunggu saja kabar dari pak Santo."


"Hmm,"


"Aah iya,saya coba telpon pak Santo saja." Ucap Rey. Dia lalu mencoba menghubungi nomor handphone pak Santo. Tapi setelah beberapa panggilan tetap tidak ada jawaban.


"Bagaimana,pak Rey?"


"Tidak di jawab. Mungkin masih mengejar si Romi itu." Jawab Rey.


Tiba-tiba handphone Rey berdering. Pak Santo.


"Hallo pak Santo?"


"Oh masih mengejarnya?"


"Oh dia melarikan diri keluar kota?"


"Tapi di rumahnya tadi tidak ada orang kan,pak?"


"Apa? Ya Allah."


"Terimakasih infonya pak,saya tunggu kabar selanjutnya."


"Iya terimakasih,pak." Rey memutuskan panggilan telponnya.


"Ada apa,pak Rey?"Tanya Fadil penasaran.


Hhh,Rey menghela nafas berat. "Tadi saat polisi datang,ada orang lain di rumah itu. Seorang wanita tua dan laki-laki muda. Mungkin itu Aaron dan omanya."


"Apa?"


"Kita kerumah Aaron sekarang,pak. Semoga Aaron dan omanya baik-baik saja."


"Ohh,iya."


Rey pun melajukan mobilnya ke arah rumah Aaron. Satu jam lebih mereka baru sampai. Rumah itu terlihat sepi. Ada seorang satpam yang berjaga.


Rey dan Fadil turun dari mobil lalu menghampiri satpam.


"Selamat siang,pak?" Sapa Rey.


"Oh,selamat siang pak. Ada apa ya?" Tanya pak satpam.


"Apa yang punya rumah ada?" Tanya Rey.


"Hmm,bapak cari siapa ya?" Tanya pak satpam seperti hendak menutupi sesuatu.

__ADS_1


"Hmm,mas Aaron ada?"


"Oohh,den Aaron. Den Aaron sedang mengantar omanya ke Rumah Sakit."


"Apa,Rumah Sakit?" Rey dan Fadil saling pandang.


"Iya,pak."


"Omanya sakit?" Tanya Rey khawatir.


"Oma,jantungnya kambuh."


Deg. Rey dan Fadil makin kaget.


"Di bawa ke Rumah Sakit mana pak?"


"Wah,saya kurang tau. Saya tidak ikut mengantar. Saya tanyakan sama istri saya dulu ya pak. Istri saya yang ikut mengantarkan oma ke Rumah Sakit." Terang pak satpam.


Beliau lalu masuk ke dalam rumah.


"Semoga omanya tidak kenapa-kenapa." Ucap Rey.


"Aamiin." Sahut Fadil.


Tak berapa lama,pak satpam kembali bersama seorang wanita paruh baya.


"Pak,ini istri saya. Dia yang ikut mengantar oma ke Rumah Sakit." Terang pak satpam.


"Ada perlu apa ya pak?" Tanya istrinya pak satpam.


"Maaf bu saya mau tanya. Omanya Aaron di bawa ke Rumah Sakit mana ya?" Tanya Rey.


"Ooh,oma di bawa ke Rumah Sakit Medika."


"Kalau boleh tau,bagaimana kondisi omanya Aaron?" Tanya Rey penasaran.


"Oma tidak sadar. Sampai di rumah sakit juga belum sadar."


Rey dan Fadil saling pandang. Ada sesal dan sedih di raut wajah mereka berdua.


"Semoga omanya Aaron tidak kenapa-kenapa." Gumam Rey.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


2200

__ADS_1


__ADS_2