
Tidak terasa sudah lebih satu bulan Siti tinggal di rumah bu Ranti. Dia juga ikut membantu di toko. Tapi bu Ranti tetap membayar Siti seperti karyawannya yang lain. Siti sungguh tidak menyangka kini hidupnya jadi lebih baik sejak bertemu keluarga Cinta.
"Tante Siti!" Panggil Cinta saat Siti sedang melayani pelanggan.
Siti reflek menoleh. "Cinta? Sama siapa ke sini nak?" Tanya Siti.
"Sama papa donk! Nenek mana tante?" Tanya Cinta.
"Nenek ada di gudang!" Siti menunjuk ke arah gudang di mana bu Ranti sedang mengecek persediaan barang. Lalu Rey muncul di belakang Cinta. " Pak Rey. . ." Sapa Siti yang hanya di balas anggukan oleh Rey. "Pak Rey sangat tampan." Bisik hati Siti. "Eh apa-apaan sih! Tidak boleh,tidak boleh!" Dia segera menepis pikiran nya.
Tak lama kemudian Cinta,Rey dan bu Ranti keluar dari gudang lalu berjalan menuju rumah nya. Siti kembali fokus ke pekerjaan nya.
Menjelang sore,Cinta dan Rey meninggalkan rumah bu Ranti.
***
Beberapa minggu berlalu.
"Siti,ayo kita tutup toko nya sekarang! Mumpung sedang sepi!" Titah bu Ranti saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Biasa nya toko tutup jam sembilan malam.
"Baik bu!" Jawab Siti. Dia segera membereskan pekerjaan nya dan langsung menutup toko.
"Cyndia sudah melahirkan,ibu mau ke rumah sakit!" Terang bu Ranti. "Kamu mau ikut?" Ajaknya kemudian.
"Alhamdulillah ya bu,Cinta sekarang sudah punya adik. Kalau boleh saya mau ikut bu!" Ucap Siti.
"Iya tante,Cinta sekarang sudah jadi kakak!" Seru Cinta dengan senyum semringah. Sudah beberapa hari Cinta menginap di rumah bu Ranti.
"Ayo kita langsung berangkat sekarang saja!" Ajak bu Ranti. Mereka lalu berangkat ke rumah sakit mengendarai mobil bu Ranti.
Selama lebih setengah jam,mereka pun tiba di rumah sakit.
"Ayo cepat nek!" Cinta dengan tidak sabar menarik tangan neneknya.
"Sabar sayang! Pelan-pelan saja jalan nya nanti jatuh!" Titah bu Ranti.
Mereka pun tiba di ruang rawat inap Cyndia.
"Bunda. . .!" Seru Cinta. Dia setengah berlari menuju ranjang bunda nya.
"Sayang,jangan laril-lari!" Titah Cyndia.
"Mana adik Cinta,bunda?" Cinta menoleh ke kiri kanan mencari keberadaan adiknya.
"Adik masih sama suster nak,sebentar lagi di bawa ke sini. Kamu sabar ya! Ayo duduk dulu!" Fadil mengajak Cinta duduk-duduk di ranjang yang ada di sebelah ranjang Cyndia. Karena kamar nya eksklusif jadi ukuran nya cukup luas dan memiliki dua ranjang dan satu sofa.
Tok tok. . . Ruang rawat Cyndia ada yang mengetuk. Fadil segera membukakan pintu. Ternyata suster datang membawa bayi nya.
"Ini bayi nya pak!" Ucap suster. Bu Ranti segera mengambil cucu nya dan menggendongnya. Suster pun segera keluar dari ruang rawat inap Cyndia.
"Duuuhh,tampan nya cucu nenek!" Ucap bu Ranti. Dia lalu mencium pipi bayi mungil itu.
__ADS_1
"Mana nek,Cinta mau lihat!" Seru Cinta sambil melompat ingin melihat adik nya yang ada dalam gendongan neneknya.
"Sabar sayang! Kita duduk saja yuk!" Ajak bu Ranti.
Mereka terlihat sangat bahagia melihat adiknya Cyndia.
"Adik Cinta sangat tampan ya nek!" Seru Cinta dengan senyum bahagia.
"Tampan seperti ayah kan! Ucap Fadil dengan tersenyum.
"Iya tampan seperti ayah! Kan adik Cinta laki-laki. Kalau Cinta seperti bunda,cantik!" Ucap Cinta.
Semua pun tertawa mendengar celotehan Cinta.
"Oh iya apa sudah ada nama nya nak Fadil?" Tanya bu Ranti.
"Namanya Faqih al irsyad,bu!" Jawab Fadil.
"Nama yang bagus!" Ucap bu Ranti.
"Manggil nya dede Faqih ya yah?" Tanya Cinta.
"Iya sayang! Cinta suka tidak namanya?" Jawab Fadil.
" Suka yah! Nama nya bagus!" Jawab Cinta.
"Ooeee. . ." Dede Faqih nya menangis.
Tok tok. . . Ada seseorang yang mengetuk pintu. Saat Fadil membukakan pintu,ternyata orang tua Fadil yang datang untuk menjenguk cucunya. Mereka pun ngobrol. Setelah hampir satu jam menjenguk cucu nya,orang tua Fadil pun pulang. Sementara bu Ranti dan Cinta ingin menginap di rumah sakit.
"Saya pulang juga ya bu!" Ucap Siti karena sudah malam. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Iya Siti! Ibu titip toko ya,jangan lupa buka seperti biasa!" Pinta bu Ranti.
Tak lama kemudian ada lagi yang mengetuk pintu. Saat Fadil buka,ternyata Rey yang datang.
"Maaf pak Fadil,apa saya boleh menjenguk adiknya Cinta?" Tanya Rey saat Fadil sudah membukakan pintu untuk nya.
"Tentu saja boleh pak Rey! Ayo silahkan masuk!" Fadil menyambut kedatangan papa nya Cinta dengan hangat.
Rey pun masuk. " Loh Cinta sudah tidur? Saya sekalian mau menjemput Cinta. Mungkin pak Fadil repot dengan adik bayi nya." Terang Rey.
"Cinta tadi bilang besok mau libur sekolah dulu,pak Rey!" Jawab Fadil.
"Oh begitu. Maaf saya terlalu malam baru bisa ke sini!"
" Tidak apa-apa pak Rey! Mereka juga baru saja tidurnya. Tadi orang tua saya baru saja pulang."
"Oh iya. Ada bu Ranti dan mbak Siti juga di sini?" Rey lalu berjalan mendekat ke ranjang bayi.
"Iya nak Rey! Tapi ibu menginap di sini sama Cinta. Kalau mbak Siti mau pulang!
__ADS_1
"Oh iya bu. Bayi nya lucu sekali! Laki-laki apa perempuan pak Fadil?
"Laki-laki,pak Rey! Dapat nya jagoan!" Jawab Fadil sambil tertawa.
"Tampan. Seperti ayahnya!" Puji Rey. Fadil pun tersenyum.
"Hmm,saya pulang sekarang saja ya bu!" Siti tiba-tiba berdiri dari duduk nya.
"Kamu bisa kan pulang sendiri? Naik taxi saja!" Saran bu Ranti.
"Oh mbak Siti mau pulang sekarang? Biar saya saja yang antar!" Rey menawari.
"Tidak usah pak Rey! Nanti merepotkan!" Tolak Siti. Dia merasa tidak enak hati. Apalagi jalan menuju rumah mereka berlawanan arah.
"Tidak masalah mbak! Sekalian saya mau pulang juga!" Ucap Rey.
"Loh kok buru-buru pak Rey?" Tanya Fadil.
"Tidak apa-apa pak Fadil! Lagipula sudah malam! Pak Fadil pasti kelelahan ingin istirahat." Terang Rey.
"Baiklah kalau begitu!" Ucap Fadil.
"Nak Rey,terimakasih ya mau mengantarkan Siti pulang!" Ucap bu Ranti.
"Sama-sama bu. Kalau begitu saya pulang dulu!" Pamit Rey. "Ayo mbak Siti!" Ajaknya.
"Hmm,terimakasih pak Rey!" Ucap Siti malu-nalu. Rey hanya tersenyum.
Fadil lalu mengantarkan Rey dan Siti sampai depan pintu.
Siti mengikuti langkah kaki Rey dari belakang. Mereka diam tak ada yang mau memulai bicara. Bahkan saat tiba di mobil,Rey hanya membukakan pintu untuk Siti lalu dia pun naik ke mobil dan mulai melajukan mobil nya perlahan.
Siti sebenarnya ingin mengajak Rey mengobrol tapi dia takut. Dia hanya melirik Rey sesekali.
Entah mengapa tiba-tiba Siti merasakan debaran jantung nya berdetak lebih kencang. Hanya berduaan di dalam mobil,duduk bersebelahan membuat nya salah tingkah. Baru kali ini dia satu mobil dengan Rey tapi duduk di kursi depan. Biasa nya dia duduk di kursi belakang.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah bu Ranti. Siti langsung membuka pintu mobil agar Rey tidak perlu repot-repot membukakan pintu untuk nya.
"Terimakasih atas tumpangan nya,pak Rey!" Ucap Siti sebelum keluar dari mobil.
"Saya antar sampai depan rumah!" Ucap Rey datar. Dia lalu ikut turun.
Tanpa menunggu Rey,Siti langsung berjalan menuju rumah bu Ranti. Rey mengikuti dari belakang tetap dalam diam. Siti lalu membuka pintu rumah. Sebelum masuk,Siti berbalik melihat ke arah Rey.
"Terimakasih pak! Saya masuk dulu!" Pamit Siti yang hanya di balas anggukan oleh Rey. Siti lalu masuk dan mengunci pintu tapi dia tetap berada di balik pintu. Dia menajamkan pendengaran nya demi mendengar suara mobil Rey yang mulai meninggalkan rumah bu Ranti.
Ya Allah perasaan apa ini? Kenapa dada ini bergemuruh setiap kali melihat nya?
NEXT
Semoga ada yang suka ya. Silahkan tinggalkan jejaknya jika suka kisah mbak Siti ☺
__ADS_1
270321/19.10