
Dinda keluar dari kamar mandi. Di lihatnya di kamar,Seno tidak ada. Hmm,Seno kemana ya?" Batinnya.
Dinda lalu sholat subuh. Kemudian dia berniat keluar balkon. "Hmm,mau lihat keluar ahh!" Gumamnya.
Ceklek. Pintu menuju balkon tidak terkunci. Dia pun keluar. "Kamu? Di sini." Tanya Dinda kaget.
"Kamu nyariin?" Seno balik bertanya.
"Hmm,aku. . ."
"Masuk saja di luar masih dingin!" Titah Seno.
"Aku bosan di dalam." Jawab Dinda. Padahal dia memang merasa gugup jika berduaan dengan Seno dalam kamar.
"Bosan? Kan baru semalam,langsung tidur juga." Ucap Seno.
Tapi karena udara yang memang masih dingin dan banyak angin akhirnya Dinda masuk.
Seno ikut masuk lalu menyalakan tv dan duduk di sofa. Sementara Dinda duduk di sisi kasur. "Handphone tidak di masukin ke koper sama mami. Gimana cara menghubungi mami? Bosen juga di sini." Gumam Dinda lalu dia melirik ke arah Seno yang sedang asik nonton tv.
Seno yang menyadari Dinda tengah melihat ke arahnya langsung menoleh. Aku harus bersikap bagaimana? Dari semalam dia seperti tidak nyaman di dekatku apalagi hanya berduaan begini. Batin Seno. Hhh,Seno menarik nafasnya berat. Kalau aku dekati lalu dia menolak bagaimana? Dia tidak seperti Fia yang hangat dan sudah pasti mencintaiku,dia tidak akan menolakku. Hmm,Fia,apa kabar kamu? Maafkan aku. Semoga saja kamu bisa cepat melupakan aku. Batin Seno.
Seno berdiri hendak ke kamar mandi tapi pandangannya ke arah Dinda. Dinda yang melihat Seno langsung beringsut duduk ke ujung tempat tidur.
Hhh,tuh kan belum apa-apa dia sudah menghindar. Batin Seno. Dia lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Hmm,kiraian mau ke sini ternyata ke kamar mandi. Batin Dinda. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Apa begini ya kalau suami tidak mencintai kita. Batinnya lagi.
Dinda lalu berbaring tidur menyamping,menyelimuti tubuhnya dari kaki sampai leher. Pikirannya kemana-mana. Seno sedikitpun tidak tertarik sama aku. Apa sikap manisnya saat lamaran hanya pura-pura karena sedang ada keluarga? Ataukah dia masih mencintai mantan istrinya? Ah iya pasti,mereka kan belum lama berpisah pasti masih ada rasa. Bagaimana kalau Seno tidak bisa melupakan mantan istrinya? Bagaimana nasib pernikahanku?
Mata Dinda mulai berkaca-kaca. Tanpa dia sadari,bahunya sedikit bergetar karena menahan tangis.
Ceklek,terdengar pintu kamar mandi terbuka.
Hmm,kenapa dia begitu? Apa dia takut aku akan. . . Hhmm,Begini ya kalau menikah tanpa Cinta. Hhh. Seno menarik nafasnya kasar. Dia lalu duduk kembali di sofa.
Dua jam mereka tidak berubah posisi hingga ada yang mengetuk pintu kamar mereka.
Tok tok. . .
Seno membukakan pintu.
"Pesanannya mas." Seorang waiter datang mengantarkan pesanan Seno.
Seno lalu mengambil dompetnya dan membayar pesanannya beserta sedikit tip pada waiter.
Setelah waiternya keluar. Seno lalu mendekati Dinda. "Hmm,Din. Sarapan dulu yuk." Ajak Seno.
Ternyata Dinda tertidur.
Hmm,kok jam segini dia tidur sih. Batin Seno.
"Din?" Panggil Seno lagi.
Karena Dinda tidak juga merespon,Seno akhirnya mengusap bahunya. "Din,sarapan dulu."
Dinda kaget dan langsung duduk sambil menatap Seno. Mereka berpandangan beberapa detik sampai Dinda memalingkan wajahnya.
"Din,kamu? Kamu habis nangis?" Tanya Seno sambil menatap lekat-lekat wajah Dinda. Mata Dinda terlibat bengkak karena habis menangis.
"Hmm,aku? Tidak kok. Siapa juga yang nangis?" Ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Hmm,kamu habis nangis Din!" Ucap Seno dengan penekanan.
"Iihh,sok tau!" Ucap Dinda bohong.
__ADS_1
Seno lalu duduk di sisi kasur di samping Dinda. "Kamu sedih nikah sama aku?" Tanya Seno pelan.
"Iihh ngomong apaan sih?" Ucap Dinda tanpa mau menoleh ke arah Seno.
"Kalau kamu tidak mau menikah denganku,kenapa kamu tidak menolakku?"
"Duuh,kamu ngomong apa lagi nih?"
"Harusnya kamu tidak mau di paksa mami kamu menikah denganku."
Dinda menatap mata Seno. "Kamu yang terpaksa menikah denganku!" Tegas Dinda. "Aku tau kamu tidak mencintaiku. Aku juga tau kamu masih mencintai mantan istri kamu."
"Dinda? Kamu yang terpaksa menikah denganku. Dari semalam kamu selalu menghindariku."
"Siapa yang menghindari kamu?" Mata Dinda mulai berkaca-kaca.
"Kenapa semalam kamu tidur di sofa? Kenapa tadi kamu selimuti semua tubuh kamu? Kamu takut kan aku sentuh?" Terang Seno.
"Apa? Aku?" Dinda bingung harus menjawab apa. Semalam dia memang tidur di sofa tapi itu karena dia tidak mau mengganggu tidur Seno yang terlihat sangat kelelahan habis resepsi pernikahan mereka.
"Aku tidak akan menyentuhmu!" Tegas Seno. Dia lalu berdiri dan berlalu keluar balkon. Dinda hanya menatap Seno nanar. Tanpa terasa air matanya jatuh.
"Aku tau,kamu tidak akan mau menyentuhku." Gumam Dinda. Dia lalu memeluk lututnya sendiri. Dia terisak. Kenapa nasibku begini? Dinda tidak menyadari isakannya terdengar oleh Seno.
Seno kembali masuk ke dalam kamar. Dia duduk di sisi tempat tidur di samping Dinda.
"Seharusnya waktu itu kamu menolak,Din. Sekarang kamu menyesal kan?" Ucap Seno pelan.
Dinda menghapus air matanya. "Kenapa bukan kamu yang menolak?"
"Dinda. . ."
"Aku tidak apa-apa kok kalau kamu tidak mau menyen. . ." Dinda menggantung ucapannya.
"Kamuu! Tadi kamu bilang sendiri!" Teriak Dinda.
"Hmm,itu karena kamu yang tidak mau aku sentuh."
"Kapan aku bilang? Kapan?" Dinda makin sesenggukan.
"Kenapa semalam tidur di sofa,hmm?" Tanya Seno.
"Karena aku tidak mau ganggu tidur kamu."
"Tadi kenapa pakai selimut dari kaki sampai kepala?"
"Hmm,aku. . ." Dia lalu menunduk.
Seno menghapus air mata Dinda. "Jadi sebenernya mau apa tidak,hmm?"
Wajah Dinda langsung memerah. Seno tersenyum. Aku akan belajar mencintaimu,Din. Batin Seno.
Seno lalu menyentuh dagu Dinda hingga mata mereka saling bertatapan. Seno mendekatkan wajah mereka. Jantung Dinda berdegup kencang. Karena malu,dia lalu memejamkan matanya. Dan. . . Seno mencium bibir Dinda lembut. Sedetik dua detik hingga Dinda mendorong Seno.
"Ehhmm hhh,susah bernafas." Ucap Dinda dengan suara bergetar. Dia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan.
"Ambil nafas dulu." Titah Seno sambil tersenyum.
Dinda tidak berani menatap Seno karena wajahnya makin merah menahan malu.
Seno kembali mencium Dinda. Kali ini lebih lama hingga tanpa sadar,mereka sudah berbaring di tempat tidur.
Dan. . . setelah sepuluh menit. "Hmm,sakit." Ucap Dinda lirih sambil meremas sprey. Wajahnya terlihat menahan sakit.
"Hmm,maaf."
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian. "Terimakasih ya." Bisik Seno lembut di telinga Dinda. Dinda tidak berani menatap ke arah Seno karena malu. Dia malah bersembunyi di balik dada Seno.
Seno memeluknya. Semoga kamu yang terakhir untukku,Din. Aku janji akan belajar mencintai kamu dengan segenap hatiku. Semoga kamu juga akan belajar mencintaiku. Batin Seno.
Ya Allah,aku sudah memberikannya. Kenapa rasanya bahagia banget. Apa dia juga bahagia? Hmm,semoga saja. Dia begitu lembut tadi,seperti mimpi saja. Batin Dinda sambil tersenyum di balik dada Seno.
Tiba-tiba. Kriiuuukkk!!
"Kamu laper ya,hmm?" Tanya Seno lembut.
Dinda mengangguk.
"Sarapannya pasti sudah dingin tuh di meja."
Dinda mendongakkan kepalanya. "Sarapan? Kapan di anterinnya?"
"Tadi waktu aku banguni kamu mau ajak sarapan,baru saja di anterin. Eh taunya habis nangis."
"Hmm."
"Mau makan apa mau gini terus,hmm?"
Dinda menggerakkan badannya. "Hmm,aku. .."
"Kenapa gerak-gerak?"
"Hmm,mau bangun."
"Nanti dulu."
"Hmm,kenapa?"
"Sekali lagi."
"Hahh? Aapa?"
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Jangan lupa dukung terus othor ya. ππ
Selamat membaca ππ
.
.
.
.
.0108/2020
__ADS_1