
Pagi ini Dinda sangat bersemangat karena akan ikut suaminya bekerja. Dengan memakai pakaian hamil yang modis,dia menatap diri di cermin.
"Mas,bagaimana penampilanku?"
"Cantik!" Jawab Seno cepat.
"Hhh,penampilan aku bukan wajahku,mas!" Ucap Dinda dengan penekanan.
"Hmm," Seno menggelengkan kepalanya lalu berdiri di belakang istrinya sambil menatap cermin. Lalu dia melingkarkan tangannya di pinggang Dinda sambil sama-sama menatap ke arah cermin.
"Di mata mas,wajah kamu sangat cantik dan penampilan kamu begitu anggun. Sampai mas tidak rela jika ada laki-laki lain yang ikut menikmati pesona kamu,yank!" Puji Seno membuat wajah putih itu merona dengan jantung yang jadi berdetak lebih cepat.
"Mas,nanti pulangnya jangan kesorean ya?" Tanya Dinda mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa,hmm?"
"Ya kalau tidak ada yang aku kerjakan pasti bosan di sana lama-lama."
"Ada mas masih bosan?"
"Hehe,mas kan sibuk lah aku bengong sendiri nanti di sana."
"Kamu bisa bantu pekerjaan mas biar cepat selesai kok."
"Hmm,"
***
Seno dan Dinda sudah sampai di perusahaan Rey. Mereka sudah berada di ruangan Seno. Dinda berjalan ke arah jendela sambil memperhatikan gedung-gedung pencakar langit.
"Alhamdulillah perjalanan aman ya mas." Ucap Dinda.
"Iya sayang. Kamu tidak usah mikirin yang berat-berat. Istirahat saja. Kalau butuh apa-apa bilang mas ya."
Dinda mengangguk lalu berjalan ke arah sofa untuk merebahkan diri. Dia angkat kakinya untuk di luruskan. Sementara Seno mulai mengerjakan pekerjaan yang di berikan oleh Rey.
Waktu bergulir begitu cepat,tidak terasa hari sudah siang.
"Mas,laper." Keluh Dinda sambil mengusap perutnya.
Seno merapikan berkas-berkasnya lalu menyusul Dinda duduk di sofa.
"Kamu mau makan apa,hmm?" Tanya Seno sambil mengusap lembut rambut Dinda.
"Hmm,kita makan di kafe yuk mas."
Seno mengernyitkan dahinya. "Makan di kafe depan?"
"Hhh,tiba-tiba pengen makan di sana." Jawab Dinda lirih. Malu dengan keinginannya sendiri.
"Hmm,ya sudah kita sholat dulu ya!" Ajak Seno.
Setelah selesai sholat,mereka lalu keluar dari ruangan Seno. Saat hendak naik lift,mereka bertemu dengan Rey yang juga ingin makan siang.
"Mas Rey? Mau makan siang?" Tanya Seno.
"Hmm,iya. Kalian?"
"Bareng saja,mas." Ajak Seno.
"Waahh,nanti mas hanya mengganggu saja." Tolak Rey halus.
"Tidak kok mas."
"Iya mas,kita makan bareng saja biar rame." Dinda juga ikut mengajak Rey.
"Ok lah. Mau makan di mana?"
"Dinda ingin makan di kafe depan." Jawab Seno.
__ADS_1
" Oohh. Boleh. Ayo."
Mereka pun sama-sama pergi makan siang di kafe yang berada di depan perusahaan Rey.
Setelah sampai di depan kafe,Dinda menghentikan langkahnya. Sementara Rey yang berjalan di depan sudah masuk lebih dulu.
"Kenapa,yank? Tidak jadi,hmm?" Tanya Seno.
"Hmm,tidak apa-apa mas." Jawab Dinda. Seketika dia kembali teringat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Yank,kalau tidak jadi kita cari kafe lain saja."
Dinda melanjutkan langkahnya. Masuk menyusl Rey yang sedang menunggu mereka di dalam.
"Ada apa?" Tanya Rey saat Seno dan Dinda baru saja duduk.
Seno tersenyum. "Tidak apa-apa kok,mas. Kita pesan yang biasa kan?"
"Iya."
Lima menit pesanan mereka datang Dan tidak sampai setengah jam,mereka selesai makan lalu keluar dari kafe.
Tiiiiinn !!
Saat ingin menyeberang jalan,tiba-tiba ada mobil yang lewat di depan mereka dengan kecepatan tinggi sambil menghidupkan klakson berkali-kali membuat mereka kaget dan langsung berhenti.
"Mas!" Dinda langsung mencengkeram lengan suaminya kuat-kuat.
"Kurang ajar!" Rutuk Rey.
"Ayo kita segera pergi dari sini!" Ajak Rey.
Dengan lebih berhati-hati,mereka kembali ke kantor dan masuk ke ruangan masing-masing.
Seno melepas jas hitamnya lalu meletakkannya di belakang kursi. Seno lalu duduk seraya menggamit pinggang istrinya hingga terduduk di pangkuannya.
"Hmm,mas. . .?" Dinda kaget.
"Hmm,biasa juga kan kalau mas kerja dan aku di rumah."
"Iya,tapi sekarang kan kamu sedang bersama mas seharian." Ucap Seno lalu memutar tubuh Dinda agar mereka saling berhadapan.
"Kenapa kamu bisa makin cantik sejak hamil,hmm?"
Dinda tersenyum akan pujian suaminya. "Kata orang kalau wanita hamil makin cantik,artinya dia sedang mengandung bayi perempuan,mas." Terang Dinda.
Mata Seno membulat. " Oh ya?"
Dinda mengangguk.
"Bagus donk. Mas kan memang menginginkan anak pertama kita perempuan agar cantik dan menggemaskan seperti mamanya!"
"Hmm,anak pertama baiknya laki-laki,biar bisa menjaga dan melindungi adiknya,mas."
"Mas anak kedua dan mbak Siti anak pertama tapi mas selalu berusaha melindunginya. Hmm,tapi sejak mbak Siti ke kota,mas tidak bisa lagi melakukannya."
"Hmm,tapi mbak Siti sudah bahagia. Sudah mendapatkan suami yang menyayanginya."
"Alhamdulillah. Itu yang selalu mas syukuri. Dan karena mbak Siti juga hingga akhirnya mas bisa mengenal istri mas ini."
"Iya mas. Kita pertama ketemu kan di klinik mami ya. Saat mbak Siti di rawat."
"Iya,mas takkan lupa. Bagaimana seorang gadis galak membuat semua pekerjaan mas jadi berantakan."
"Iiihh." Dinda cemberut.
"Kamu tau,mas sangat kesal saat itu sama kamu! Mas sudah capek mengerjakan semua tugas kuliah mas di laptop itu,eh hilang begitu saja!"
"Hmm,jadi mas saat itu begitu membenciku ya."
__ADS_1
"Tidak sampai begitu,yank. Kamu bukanlah orang jahat yang harus mas benci."
"Jadi kalau ingat itu mas masih merasa kesal sama aku?"
"Iya. Saking kesalnya sampai mas ingin mencium kamu terus!"Jawab Seno yang langsung mendaratkan ciumannya di pipi mulus istrinya itu.
"Hmm,mas. Bikin kaget." Dinda tersipu malu.
"Tapi suka kan,hmm?"
Dinda makin tersipu. Ya,dia sangat menyukai kejutan-kejutan mesra dari suaminya itu. Hingga dia selalu merindu jika beberapa jam saja tidak bertemu.
"Hmm,mas. Aku duduk di sofa saja ya. Kalau begini terus kapan pekerjaan mas bisa selesai?"
"Sebentar lagi yank. Mas masih ingin seperti ini!" Tolak Seno yang sejurus kemudian mendaratkan bibirnya ke seluruh wajah istrinya. Dinda hanya bisa menerima perlakuan dari suaminya dengan pasrah.
Dinda melingkarkan tangannya di leher Seno hingga mereka saling berpandangan hampir tanpa jarak. Seno mulai mencium bibir Dinda lembut. Sedetik,dua detik hingga makin lama makin membuat jiwa mereka seakan melayang.
"Hmm,mas."
"Di sofa yuk!" Bisik Seno.
"Tapi,mas?" Dinda ingin menolak karena merasa tidak nyaman.
Seno ingin menggendong Dinda tapi ternyata ada yang mengetuk pintu dan seketika pintu langsung terbuka tanpa menunggu jawaban dulu.
"Oohh,hmm maaf. " Pintu kembali di tutup. Ternyata asisten Rey yang bernama Toni yang masuk tanpa menunggu lagi jawaban dari dalam.
"Hmm,mas. Malu." Dinda menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hhh,dia memang selalu seperti itu. Mengetuk pintu belum di jawab sudah langsung masuk saja." Keluh Seno.
Dinda hendak berdiri. "Aku duduk di sofa saja,mas."
"Hmm,mas selesaikan pekerjaan mas dulu ya biar kita bisa cepat pulang."
"Iya mas." Dinda lalu berjalan menuju sofa.
Menjelang sore,mereka pun pulang.
.
.
.
.
.
Next
Selamat membaca,moga suka ya! ππ
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
0101