Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 42( S2 )


__ADS_3

Dinda turun dari mobil dengan wajah penuh senyuman. Mas sudah sampai kafe belum ya? Berapa jam tidak ketemu,rasanya kangen banget. Batinnya.


Ketika dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe,matanya menangkap sosok yang di carinya sedang duduk berhadap-hadapan dengan seorang wanita yang hampir seumuran dengannya. Mereka sedang terlibat obrolan.


"Mas bilang masih cinta sama aku. Lalu dia? Mas juga cinta sama dia?"


"Mas,mas sedang mencoba mencintainya."


"Jadi mas tidak cinta sama dia? Kenapa mas tidak ceraikan saja dia lalu menikah lagi denganku?"


"Fia!"


***


Didalam mobil,Dinda merasakan dadanya sesak. Hatinya begitu hancur. Wajahnya sudah banjir air mata.


Jadi kamu masih belum bisa mencintaiku mas,bahkan kamu masih mencintainya. Kalau kamu mau ceraikan aku,aku akan terima. Batin Dinda.


Walau sudah dia usap berkali-kali,tapi air matanya terus saja mengalir. Dinda bahkan tidak tau kemana membawa mobilnya sampai satu jam kemudian,dia baru sadar kalau mobilnya melaju ke arah laut.


Dinda lalu memarkirkan mobilnya sembarangan. Dia makin terisak. Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya. Dinda kaget lalu menoleh. "Mas?" Gumamnya.


Dinda lalu menyalakan lagi mesin mobilnya. Suaminya itu langsung menghadangnya di depan mobil. Tidak kehilangan akal,Dinda menoleh ke belakang. Jalanan sepi,Dinda lalu memundurkan mobilnya lalu berbelok arah meninggalkan suaminya yang meneriakkan namanya.


"Aku tidak ingin bertemu denganmu."Gumam Dinda sambil mengusap air matanya.


Beberapa menit setelah sedikit tenang. "Aku harus kemana? Apa menginap di hotel saja? Tapi kalau mami nyariin dan tau aku dan mas Seno ada masalah bagaimana?" Gumam Dinda. Dia sungguh bingung.


Apa aku harus bersikap biasa saja? Aku tidak mau mami sedih. Aku juga tidak mau sampai mami membenci mas Seno.


Aku sayang kamu,mas. Dengan mudahnya kamu membuat aku jatuh cinta. Bahkan,aku bisa melupakan perasaanku pada mantanku karena kamu. Tapi ternyata,cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.


Dinda akhirnya melajukan mobilnya ke Rumah Sakit. Hampir satu jam,dia sampai juga. Dia lalu memarkirkan mobilnya. Sebelum turun,Dinda mengambil bedaknya lalu berkaca. "Duuh,mataku sampai bengkak begini." Keluhnya. Dinda lalu mengolesi sesuatu ke mata dan wajahnya,mengusapkan sedikit bedak.


"Kacamata dan maskerku mana ya?" Gumamnya sambil mencari-cari ke dalam tasnya. Setelah dapat,langsung dia pakai. Dengan begini tidak akan kelihatan.


Dinda lalu turun dari mobil.


"Dokter." Panggil seseorang.


Dinda menoleh. "Suster Maya,ada apa ya?"


"Dokter Dinda kan,tidak biasanya pakai kacamata sama masker di luaran."


"Hmm,ini. Tidak apa-apa kok. Jadwal operasi masih satu jam lagi kan?""


"Iya,dokter. Saya hanya mau kasih tau kalau dokter Steven mencari dokter Dinda." Terang suster Maya.


Dinda mengernyitkan dahinya. "Ada apa dokter Steven nyari saya?"


"Saya kurang tau,dok. Tadi siang cuma nanyain dokter Dinda kemana."


"Oh iya. Terimakasih,sus." Ucap Dinda.

__ADS_1


Dinda lalu melangkahkan kakinya ke ruangan OK dimana dia bertugas. Akan ada satu pasien lagi yang akan di operasi hari ini olehnya.


***


Pukul empat sore. Dinda sedang berjalan ke parkiran. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Tiba-tiba ada yang membuka pintu mobil di sebelahnya.


Dinda menoleh. "Hmm,mas?" Ucap Dinda kaget.


Dinda membuka pintu mobil hendak turun tapi di halangi oleh Seno.


"Din,tolong dengerin mas dulu!" Pinta Seno dengan wajah memohon.


Dinda diam saja dan tidak mau menatap ke arah Seno.


Seno memegang kedua tangan Dinda. " Mas mohon maafin mas." Ucapnya lagi sambil menciumi kedua tangan Dinda.


Mata Dinda mulai berkaca-kaca. Seno lalu memeluknya. "Menangislah. Menangislah sampai perasaan kamu tenang." Ucap Seno sambil mengusap lembut rambut panjang Dinda.


"Kapan mas mau menceraikan aku?" Tanya Dinda.


Seno melepaskan pelukannya. "Mas tidak akan pernah menceraikan kamu! Mas,mas sayang kamu!" Ucap Seno.


Bilang 'sayang' saja kamu ragu-ragu,mas. Apalagi bilang 'cinta'. Ternyata aku hanya berharap sendirian saja. Batin Dinda.


"Bicara,Din. Kamu mau marah-marah,mau pukul mas,silahkan. Tapi jangan diam begini." Seno memohon tapi Dinda tetap diam saja.


"Hhh,kita bicara di rumah saja ya,biar mas yang bawa mobil."


Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin sampai mami tau. Apa aku harus menyimpan ini semua sendirian. Pernikahan seperti apa yang akan aku jalani ke depan jika suamiku saja masih terus mencintai orang lain. Aku pikir mas Seno mulai mencintaiku ternyata apa yang aku pikirkan hanya khayalanku saja. Tidak adakah seseorang yang tulus padaku?


Tak terasa mereka sudah sampai di rumah. Dinda langsung turun tanpa mau menunggu Seno membukakan pintu mobil untuknya. Beruntung saat dia masuk ke dalam rumah,rumah dalam keadaan sepi,hanya ada satu asisten rumah tangga yang sedang mengepel lantai.


Dinda masuk ke dalam kamar,kemudian ke kamar mandi. Lima belas menit dia keluar lalu langsung sholat. Seno pun langsung ke kamar mandi. Sepuluh menit,dia keluar dan segera sholat.


Setelah selesai sholat dia menyusul Dinda berbaring di tempat tidur. Dia duduk di sisi kasur di samping Dinda yang sedang menatap kosong seperti sedang melamun.


Seno mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda tapi Dinda buru-buru memalingkan wajahnya. Seno memegang dagu Dinda lalu mulai menciumi wajah istrinya itu. Saat Seno mencium bibirnya,Dinda tidak bereaksi. Hmm,dia tidak membalas seperti biasa. Gumam Seno. Tiba-tiba sesuatu yang bening mengalir begitu saja di sudut mata Dinda tanpa bisa di cegah. Seno kaget lalu melepaskan ciumannya.


Mata Dinda menatap ke arah lain. Dia tetap diam,menangis tanpa suara.


Seno langsung memeluknya. "Jangan menangis lagi. Tolong maafin mas!"


Bahu Dinda mulai bergetar. Tangis yang berusaha dia tahan akhirnya pecah juga. Seno mempererat pelukannya berharap bisa sedikit menenangkan Dinda.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok tok. . .


"Non,Dinda. Di panggil ibu,makan malam."Suara dari balik pintu.


"Iya sebentar lagi." Seno yang menjawab.


"Sudah di panggil mami buat makan malam tuh. Turun yuk!" Ajak Seno. Dinda tidak bergeming.

__ADS_1


"Nanti mami nanyain. Hmm,kalau kamu mau cerita sama mami,mas tidak akan larang." Ucap Seno lirih.


Dinda berdiri lalu berjalan ke kamar mandi,mengusap wajahnya agar lebih segar. Kemudian dia memoles sedikit bedak. Setelah di rasa cukup menyamarkan mata bengkaknya,Dinda berjalan ke luar kamar.


Di ruang makan,mami dan papinya sudah menunggu. Dinda lalu duduk di ikuti oleh Seno. Dinda tetap melayani Seno seperti biasa,mengambilkan nasi beserta lauk dan sayurnya.


"Sayang,kamu sama Seno sudah satu bulan ya. Tidak terasa. Kalian harus selalu rukun ya." Ucap mami Dinda saat semua sudah selesai makan.


"Iya,kalau ada masalah langsung di selesaikan jangan sampai berlarut-larut." Papi ikut menimpali.


"Hhmm,iya pi." Jawab Dinda. Kenapa papi sama mami bilang gitu ya. Apa mereka tau kalau aku sama mas Seno sedang ada masalah. Batin Dinda.


"Papi duluan,ya." Pamit papi Dinda.


"Mami juga mau istirahat. Oh iya kalian cepat kasih mami cucu ya,biar tidak sepi terus rumah ini!" Ucap mami Dinda seraya mengusap lembut kepala Dinda.


Dinda lalu membereskan meja makan,Seno menunggunya..Setelah selesai,mereka sama-sama naik ke atas ke kamar Dinda.


Dinda langsung berbaring di kasur sambil memeluk guling. Seno ikut berbaring di sebelahnya. Dinda lalu membalik badannya membelakangi Seno.


"Dosa loh,tidur membelakangi suami." Ucap Seno sambil mengambil bantal guling dalam pelukan Dinda.


"Sini,mas peluk!" Seno memeluk Dinda dari belakang. Mulai menciumi tengkuk dan telinga Dinda membuat Dinda merinding. Seno membalik badan Dinda agar menghadap ke arahnya. Seno pun mulai menciumi seluruh wajah istrinya. Dan saat Seno mencium bibinya,Dinda tetap saja tanpa mau membalas


.


.


.


.


.


.


.


.Next...selamat membaca


.


.


.


.


.


.


0908/2100

__ADS_1


__ADS_2