
Seno sedang duduk di sofa sementara Dinda sedang membereskan pakaian kotornya saat pintu kamar mereka ada yang mengetuk.
"Siapa yang datang ya mas?" Tanya Dinda.
"Biar mas yang buka." Ucap Seno.
Ceklek.
"Hai. . . pengantin baru. Apa kabarnya?"
Seno tersenyum lalu mencium punggung tangan ibu mertuanya.
Dinda menoleh. "Mamii. . ." Dinda langsung berjalan ke arah maminya lalu memeluknya dengan manja. "Kangeen!"
"Mami juga kangen,sayang. Kamu tidak boleh manja sama mami lagi loh kan sudah punya suami. Manjanya sama suami saja."
"Iiiih mami nih."
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya mi?"
"Pernikahan kalian? Kalian bahagia kan?"
Dinda tersenyum malu. Wajahnya memerah.
Maminya Dinda mencubit gemas pipi putrinya. "Uuuh,putri mami terlihat bahagia sekali." Ucapnya sambil tersenyum. Tanpa sengaja dia melihat banyak tanda merah di sekitar leher putrinya. Hmm,sepertinya sudah. Batinnya sambil tersenyum.
"Hmm,mami. Mami tidak lupa kan bawa semua pesanan aku?"
"Tenang sayang,semua sudah mami bawa!"
"Oh iya. Kita bulan madunya kemana mi?"
"Hmm,singapura." Jawab maminya antusias.
"Singapura? Tapi aku tidak punya passport." Ucap Seno.
"Tenang saja,sudah mami siapkan semua tinggal kamu tanda tangan saja."
"Kok bisa mi?" Tanya Dinda heran.
"Kan ada kenalan mami yang ngurus. Sudah tidak usah di pikirin. Kalian nikmati saja bulan madu kalian ya. Dan pulangnya nanti jangan lupa kasih mami oleh-oleh yang spesial." Terang mami Dinda.
"Hmm,mami memangnya mau minta oleh-oleh apa?"
"Mami mau minta oleh-oleh cucu dari kamu!"
"Iihh,mami masa cucu di bilang oleh-oleh? Memangnya bisa langsung dapet." Protes Dinda.
"Makanya kalian bulan madu ke Singapura itu sekalian kamu ketemu sama om Alex. Dia dokter kandungan hebat. Banyak yang sudah berhasil program sama beliau."
"Loh,maminya Dinda kan juga dokter kandungan,ngapain sama orang lain. Dinda malu mi." Protes Dinda.
"Hmm,sayang walaupun mami dokter kandungan juga tapi beda. Mami waktu itu kan susah hamil,baru dapetnya pas usia pernikahan mami kedua. Padalah oma dan opamu ingin cepat-cepat. Jadi mami program sama dokter Alex dan alhamdulillah cocok." Terang mami lagi.
"Tapi Dinda kan baru nikah mi. Iihh mami,Dinda malu di periksa sama dokter laki."
"Tidak di periksa macam-macam kok,sayang. Percaya deh sama mami ya!"
"Hhmm. . ."
"Seno?" Panggil dokter Layli.
Seno mendekat. "Hmm,iya mi." Sahutnya."
"Jangan lupa ya,kalian nanti ke dokter Alex!"
"Iya mi." Seno tidak berani protes.
__ADS_1
"Ya sudah,aku cek dulu barang-barangku." Ucap Dinda yang langsung memeriksa isi kopernya.
"Lengkap kok nak!"
"Iya mi. Terimakasih ya mi."
"Iya sayang. Kalian sudah siap kan. Sekalian mami anter ke bandara." Ucap mami Dinda.
"Pakaian kotor kita gimana mi?"
"Biar mami bawa,nanti suruh bibi langsung cuci."
Setelah semua siap,mereka lalu meninggalkan kamar hotel menuju bandara.
Sampai di bandara,Seno langsung ke loket. Urusan di loket selesai,mereka kini sedang menunggu di ruang tunggu bandara.
"Mas belum pernah keluar negeri." Ucap Seno.
"Hhmm,masa mas?"
Seno mengangguk. "Dulu pernah mau di ajak mas Rey jalan-jalan sekeluarga tapi pas masa ujian lalu mas sedang tidak sehat. Ada saja halangan. Baru sekarang sama kamu."
"Hmm,memang harus sama aku keluar negerinya ya." Ucap Dinda lalu menyandarkan kepalanya di bahu Seno. Hmm,nyaman banget. Batinnya.
Tak lama menunggu,pesawat mereka pun terbang. Beberapa jam kemudian mereka sudah tiba di bandara Singapura. Seno segera mengambil koper mereka lalu mengajak Dinda mencari taxi. Kemudian mereka menuju hotel yang sudah di pesan mami Dinda.
***
Tiba di hotel.
"Hmm,capek juga ya mas." Ucap Dinda yang langsung meluruskan kedua kakinya di atas sofa.
"Mandi dulu yuk." Ajak Seno.
"Hmm,aku nanti." Jawab Dinda yang tau maksud suaminya.
"Sudah jam berapa sekarang,jangan nanti-nanti."
Seno langsung menggendong Dinda ke kamar mandi.
"Mas iihh." Protes Dinda. "Aku tidak mau di kamar mandi lama-lama sudah malem.
"Sebentar saja kok!"
"Hmm,mas. . ."
Setengah jam kemudian
"Mau makan malam di kamar apa di luar?"
"Di kamar saja deh,aku capek banget nih." Jawab Dinda tidak bersemangat. Dia langsung berbaring di tempat tidur.
Seno tersenyum. "Aku pesan sekarang ya. Kamu mau makan apa?"
"Apa saja tapi yang dari ayam,jangan daging merah." Terang Dinda.
"Oke,istriku." Jawab Seno yang membuat Dinda tersenyum malu tapi hatinya berbunga-bunga.
Setengah jam kemudian pesanan makanan mereka datang. Dinda makan dengan lahab. "Kamu laper banget ya?"
"Hehehee,dari tadi. Lemes lagi."
Hmm,lemes terus. Batin Seno. "Jadi malam ini kita di kamar saja nih tidak mau kemana-mana?"
Dinda mengangguk. "Besok saja mungkin,aku mau tidur lama-lama malam ini."
"Jangan salahkan ya kalau ada apa-apa."
Dinda menoleh. "Ada apa-apa,gimana? Memangnya di kamar ini ada apa?"
__ADS_1
Seno hanya tersenyum lalu duduk di sofa sambil memainkan handphonenya.
Hiihh,di tanyain malah senyum-senyum saja. Kesal Dinda lalu memilih duduk di tempat tidur. Dia mainin handphone,apa sedang menghubungi seseorang ya? Malam-malam begini. Apa dia sedang menghubungi,hmm. Huuhh,jangan mikir macam-macam Dinda. Batin nya.
Dinda ikut sibuk dengan handphonenya. Banyak pesan dari teman kuliahnya dan juga teman di Rumah Sakit. Ada yang mengucapkan selamat,ada yang protes tidak di undang sambil ngomel-ngomel membuat Dinda tersenyum-senyum sendiri.
Dinda lihatin handphone sambil senyum-senyum gitu,sedang menghubungi siapa? Oh iya Dinda punya pacar kan sebelum kita nikah. Siapa ya pacarnya kok mau di tinggal nikah sama Dinda. Secara Dinda cantik juga,mempunyai fisik yang bagus dan tentu saja orang tua yang sukses. Batin Seno yang terus memperhatikan tingkah istrinya itu.
Terkadang mereka beradu pandang karena memang saling ingin tau apa yang di lakukan satu sama lain.
Seno kembali melihat layar handphonenya. Dia pun sesekali tersenyum kadang tertawa membaca pesan dari teman-temannya yang mengatakan dia beruntung sudah menikah dua kali dengan dua orang gadis yang cantik-cantik sementara temannya belum pernah sama sekali.
Hmm,dia senyum-senyum sedang menghubungi siapa sih? Aku di cuekin gini,nyebelin. Coba tadi keluar saja ya daripada diem-dieman gini tapi badanku capek banget kemarin sudah jalan cari pakaian dan makan siang,terbang ke Singapura,belum lagi dia minta berapa kali. Dah lah mending aku tidur saja daripada lihatin dia terus yang tidak peka. Males banget. Gerutu Dinda dalam hati.
Dinda menyimpan handphonenya di atas nakas lalu memakai selimut karena ACnya terlalu dingin. Sebel banget sih lihat dia senyum-senyum terus sama handphonenya. Aku mau tidur saja deh. Awas kalau nanti ngajak lagi. Huhh,males. Gerutunya lalu segera berbaring di sisi tempat tidur sambil memejamkan matanya.
Yah,baru juga jam segini sudah tidur tuh si anak mami. Batin Seno.
"Sepertinya belum nyenyak,kan baru saja dia mulai tidur." Gumam Seno. Dia lalu berdiri dan berjalan ke arah tempat tidur.
Seno naik ke atas tempat tidur dan ikut berbaring lalu menarik sedikit selimut yang Dinda pakai.
Dinda kaget. "Loh kok di tarik sih?"
"Ya mau pakai selimut juga masa di pakai sendiri."
"Iihh,tidak cukup." Ucap Dinda.
"Ke sini lagi biar cukup!" Titah Seno.
"Iihh males lah. Mas saja yang ke sini lagi."Tolak Dinda.
"Beneran nih suruh ke situ?" Goda Seno.
"Hmm."
"Ya sudah jangan salahkan ya!" Seno perlahan mendekat ke arah Dinda sambil matanya terus menatap lekat-lekat ke arah Dinda. Dinda jadi salah tingkah. Begitu jarak mereka sudah dekat,Seno langsung memeluknya.
"Mas iihh. Bukannya tidur."
Seno hanya tersenyum lalu mulai menciumi semua wajah Dinda.
"Mas. . ."
"Hmm,mas. . .
.
.
.
.
NEXT
.
Terimakasih sudah membaca,maaf kl ada typo. ππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
0308/1111