
Usia kehamilan Dinda sudah memasuki bulan ke lima. Perutnya makin membuncit membuat gerakannya makin terbatas tidak selincah dulu lagi. Dinda pun makin mudah merasa kelelahan walaupun dia tidak melakukan pekerjaan berat.
Dinda memijat-mijat kakinya yang terasa pegal karena hari ini sudah berapa kali dia bolak balik naik turun tangga.
Seno keluar dari kamar mandi,dia terlihat segar dan aroma sabun masih menyeruak di hidung.
"Suamiku harum banget." Puji Dinda sambil menatap lekat-lekat suaminya yang sedang berganti pakaian yang tadi di pilihkannya.
"Biar kamu nempel terus sama mas!" Sahut Seno sambil mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Dinda langsung bersemu merah. Memang sejak hamil,istrinya itu makin lengket saja. Jika telat pulang,maka handphone Seno berdering terus karena Dinda yang terus menerus menghubunginya.
Setelah memakai pakaian,Seno duduk di sisi tempat tidur. "Kenapa kakinya,hmm? Kamu ngapain saja seharian ini?" Tanya Seno seraya memijat kaki Dinda.
"Pegal-pegal,mas. Tadi kan bikin kue sama bibi jadi bolak balik naik turun tangga karena aku tidak sabar nunggu matengnya." Terang Dinda.
"Hhh,lain kali jangan sering-sering naik turun tangga,yank! Mas takut kamu jatuh." Titah Seno.
"Hmm,iya mas. Mas tadi kok pulangnya lama,biasanya jam empat sudah sampai rumah?"
"Tadi mas menemani mas Rey ketemuan sama orang sampai jam lima. Jadi saat pulang,itu jam-jamnya macet kan." Terang Seno sambil terus memijat kaki Dinda.
"Oh iya mas,besok aku mau USG. Mas bisa temani jam berapa?"
"Hhmm,harus pagi ya?"
"Terserah kita kok. Kan mami yang USG aku nanti. Sebisa mas saja kapan. Tadi sih mami mau ngajak bareng saja sama mami tapi aku tidak mau."
"Kenapa tidak mau?"
"Hhmm,mas. Aku maunya di temani sama mas." Jawab Dinda manja.
"Hmm,cup." Seno mencium mesra dahi Dinda." Besok sore mas usahain ya. Kalau pagi,mas tidak bisa."
"Iya mas. Aduuhh!" Dinda mengernyitkan dahinya seraya mengusap-usap perutnya.
"Kenapa,yank? Ada yang sakit?" Tanya Seno khawatir.
"Dia makin kuat nendangnya,mas."
"Hmm,kirain kenapa. Ya bagus itu artinya dia kuat dan sehat!
"Apa mungkin dia laki-laki ya mas?"
"Hmm,bisa jadi sih. Atau mungkin karena dia kangen minta di jenguk sama papanya!" Jawab Seno sambil mengedipkan sebelah matanya. Tangannya pun sudah tidak lagi memijat kaki Dinda tapi terus naik dan naik.
"Hmm,mas iihh."
"Hmm,nanti saja sebelum tidur." Bisiknya membuat Dinda tersipu.
Seno lalu ikut duduk di samping Dinda. Dinda menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya.
"Mas. . ."
"Hmm. . ."
"Aku cinta mas."
"Mas lebih mencintai kamu,yank!" Sahut Seno sambil menautkan jemari mereka berdua.
Dinda berbalik menghadap suaminya. "Terimakasih ya mas. Aku pikir,aku tidak akan bisa membuat mas mencintai aku." Ucap Dinda lirih. Ada kebahagiaan yang di rasakannya dalam hati hingga wajahnya makin berseri dan makin terlihat cantik.
Seno mengusap lembut wajah cantik Dinda. Mereka saling pandang satu sama lain. "Cinta bisa datang dengan berjalannya waktu. Mas justru bersyukur memiliki kamu sebagai istri mas! Jadilah yang terakhir untuk mas ya!" Pinta Seno dengan wajah memohon.
Dinda mengangguk. "Aku hanya ingin bersama mas selama-lamanya!" Sahut Dinda.
__ADS_1
Seno mendekatkan wajah mereka berdua sambil menatap bibir istrinya yang tanpa lipstik itu. "Cup." Dia lalu mengecupnya sekilas.
Dinda memejamkan mata dan membuka sedikit mulutnya seolah menginginkannya lagi. Seno lalu meraih tengkuk Dinda dan kembali mencium bibir istrinya lembut. Dia mengulanginya lagi dan lagi hingga dari ciuman biasa berubah menghanyutkan.
Tanpa di sadari mereka sudah berbaring di tempat tidur. "Hmm,mas." Gumam Dinda.
Saat Seno ingin lebih tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk.
Tok-tok. .
"Non Dinda. . ." Panggilan dari luar kamar.
Dinda reflek melepaskan ciumannya sambil menatap Seno. "Mas?"
Hhh,Seno menghela nafasnya kasar. "Biar mas yang keluar." Ucap Seno. Dinda hanya mengangguk.
Seno turun dari tempat tidur.
Ceklek. Seno lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa bi?" Tanya Seno.
"Makan malam sudah siap,den." Ucap bibi.
Oh iya belum makan malam. Batin Seno. "Oh iya bi,sebentar lagi kita turun." Ucap Seno.
"Yank,yuk turun. Makan malam dulu!" Ajak Seno lalu kembali duduk di sisi tempat tidur.
"Hmm,pantes aku ngerasa laper. Lupa belum makan malam." Sahut Dinda.
"Nanti lanjut lagi ya." Bisik Seno membuat Dinda merinding.
Seno berdiri lalu membantu Dinda untuk ikut berdiri. "Mas?"
"Hmm,kenapa sayang?"
"Siap,bidadariku!" Sahut Seno yang langsung membopong istrinya.
Mereka lalu turun ke bawah dengan Seno membopong Dinda.
"Loh,Dinda kenapa?" Tanya mami Dinda kaget melihat Dinda di bopong oleh suaminya.
"Kaki Dinda pegal-pegal,mi." Jawab Dinda.
Seno lalu mendudukkan Dinda di kursi,dia pun ikut duduk di sebelahnya.
"Ayo makan yang banyak agar janin dan mamanya sehat!" Titah papinya Dinda.
"Iya pi." Sahut Dinda.
"Besok bagaimana jadi mau USG?" Tanya mami.
"In sya Allah sore mi. Kalau pagi Seno ada pekerjaan." Jawab Seno.
"Ok,mami tunggu kalian sore ya."
"Iya mi." Jawab Seno.
***
Sore hari saat mereka hendak ke klinik untuk USG,Seno pulang kerja lebih awal. Seno mengendarai mobilnya dengan santai menuju klinik mertuanya,dokter Layli.
"Kaki kamu sudah tidak pegal lagi kan,yank?" Tanya Seno.
"Iya mas. Sudah enak kok,tadi juga mami kasih obat cream penghilang pegal-pegal." Jawab Dinda yang duduk dengan posisi rebahan.
__ADS_1
"Habis USG,kita langsung pulang apa mau kemana dulu?"
"Pulang saja,mas." Dinda.
"Hmm,ok."
Brraakk. Tiba-tiba ada sebuah mobil menabrakkan mobilnya ke mobil Seno. Pelan.
"A apa itu mas?" Dinda kaget.
Seno menoleh ke belakang.
Brraakkk. Kembali mobil itu menabrakkan diri ke mobil Seno.
"Astagfirullah." Gumam Seno.
"Mas,gimana aku takut." Ucap Dinda panik sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa kram.
"Kamu jangan panik,yank. Coba kamu ambil bantal di kursi belakang,ada tepat di belakang kamu!" Titah Seno.
Dinda dengan susah payah mengambil bantal yang suaminya maksud. "Untuk apa,mas?"
"Taruh di perut kamu agar tidak terkena benturan!"
"Apa,benturan? Mas,aku takut." Dinda makin panik mendengar kata-kata suaminya.
"Untuk jaga-jaga,yank. Kalau orang itu tiba-tiba menabrak mobil kita lebih kuat."
"Hmm,i iya mas." Dinda lalu menempelkan bantal ke atas perutnya.
Pengemudi mobil itu memang hanya menabrak mobil mereka pelan tapi beberapa kali,itu membuat Dinda panik dan Seno berpikir jika orang itu tiba-tiba akan menabrak mereka dengan keras.
Ternyata beberapa saat kemudian,pengemudi mobil itu mengemudikan mobilnya menjauh dari mereka dengan kecepatan penuh hingga Dinda dan Seno kaget meliharnya.
"Orang itu sudah pergi. Kamu jangan khawatir lagi ya!" Hibur Seno seraya menggenggam jemari tangan kanan istrinya yang sudah berkeringat dingin.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,moga suka. Jangan lupa dukung terus karya othor ini ya. Terimakasih ππ
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
0303