
Setelah mengantarkan Putra dan Putri ke sekolahnya. Rey segera mendatangi sekolah Cinta. Sampai di sana,Rey langsung berhadapan dengan kepala sekolahnya karena mamanya Rey menjadi salah satu donatur tetap di sana.
"Maaf pak Rey,atas ketidaknyamanan putri anda." Ucap kepala sekolah.
"Saya hanya ingin kepindahan putri saya segera di urus,pak. Agar dia tidak ketinggalan pelajaran. Sudah beberapa hari dia takut sekolah lagi."
"Baiklah,pak."
"Terimakasih."
Rey segera meninggalkan sekolah Cinta.
Di dalam mobil. Rey menghubungi Seno.
"Seno,mas terlambat sedikit. Kamu persiapkan saja materi meeting nanti. Mungkin setengah jam lebih mas baru sampai."
"Iya,terimakasih."
Setengah jam lebih,Rey baru sampai di kantornya. Dia buru-buru ke ruangan Seno untuk mengambil berkas lalu menemui rekan kerjanya di ruang meeting.
Satu jam kemudian,Rey sudah kembali ke ruangannya. Saat diia tengah sibuk membaca-baca berkas di hadapannya tiba-tiba Seno masuk.
"Mas?"
Rey menoleh. "Hmm,ya. Ada apa?"
"Mas masih sibuk ya?" Tanya Seno yang langsung duduk di hadapan Rey.
"Hanya memeriksa yang satu ini saja. Kenapa?"
"Hmm,Cinta bagaimana mas? Kenapa dia tidak mau lagi sekolah?"
Rey menoleh lalu menarik nafas berat. " Cinta. Anak itu ada yang ingin berbuat jahat. Teman sekolahnya."
"Apa,mas? Pantas dia tidak mau sekolah. Apa yang di lakukan anak itu?"
Rey lalu menceritakan apa yang Cinta ceritakan padanya hingga putrinya itu trauma kembali ke sekolah.
Seno mengepalkan tangannya. "Kurang ajar." Gumamnya.
"Apa? Ngomong apa tadi?"
"Hmm,anak itu,mas. Kurang ajar."
"Hhh,karena kesalahan mas,dia yang harus menanggungnya." Ucap Rey sedih.
"Hhh. Seno pernah ketemu Cinta di taman. Ya mirip seperti itu,dia di tinggalkan oleh teman-temannya yang lain bersama satu teman laki-lakinya. Sepertinya anak itu suka sama Cinta."
Rey langsung berdiri. " Apa? Jadi itu sudah pernah terjadi? Kenapa kamu tidak cerita sama mas?" Tanya Rey emosi.
"Hmm,maaf mas. Tidak sampai seperti itu." seno lalu menceritakan kejadian saat dia bertemu Cinta di taman sendirian.
Rahang Rey mengeras. "Mas memang harus menyewa bodyguard untuknya!"
"Iya mas,Seno setuju sebelum terjadi apa-apa. Tapi saran Seno bodyguardnya perempuan saja mas. Agar Cinta lebih nyaman juga."
"Hmm,benar kamu bilang. Laki-laki takutnya tidak bisa sepenuhnya di percaya."
"Iya,Cinta itu cantik. Pasti banyak teman sekolahnya yang suka,mas. Tapi sepertinya Cinta tidak peduli dengan mereka hingga mereka berbuat nekat."
"Hmm,itulah yang mas pikirkan. Hampir setiap hari pulang sekolah ke sini bukannya main sama teman-temannya. Tapi mas lebih suka dia ke sini daripada main sama teman-temannya."
"Iya mas,kadang kita menemukan teman yang salah."
"Hmm. Mas mau telpon teman mas dulu mungkin dia ada yang bisa jadi bodyguard untuk Cinta."
"Iya mas. Seno ke ruangan Seno dulu." Pamit Seno.
Kasihan kamu Cin,untung saja ada yang menolong. Eehh,siapa yang sudah menolongnya? Kok anak itu bisa tau dimana Cinta berada. Apa Cinta mengenalnya? Atau malah Cinta ada hubungan dengan orang yang menolongnya. Hhhh,kenapa aku malah memikirkan Cinta terus. Gumam Seno.
***
Dua hari berlalu. Cinta sudah bisa bersekolah di sekolah yang baru. Papanya sendiri yang mengantarkannya sementara bodyguardnya mengiringi dari belakang dengan mobil yang biasa di bawa sopirnya pak Dani untuk menunggui Cinta di sekolah dan mengantarkan kemana saja Cinta pergi. Gadis remaja itu terlihat gugup.
"Sayang,kamu kenapa gelisah seperti itu?" Tanya Rey.
"Pa,Cinta hanya gugup saja karena ini kan hari pertama."
"Papa temani kamu sampai masuk ke kelas."
"Iihh tidak usah pa." Tolak Cinta.
"Ya sudah,sampai ruang guru saja."
"Iya deh. Jauh ya pa,satu jam dari rumah papa."
"Lebih baik jauh,nak. Agar tidak ada yang mengenal kamu dan teman-teman kamu yang dulu tidak tau di mana kamu bersekolah. Papa minta putuskan hubungan kamu dengan semua teman sekolah kamu yang lama,laki perempuan." Terang Rey.
"Iya pa."
"Kamu punya medsos? Bikin lagi yang baru. Pakai handphone yang baru papa belikan itu. Oh iya,handphone kamu yang lama biar papa yang simpan."
Cinta menggeleng. "Hmm,biar Cinta simpan sendiri pa." Tolaknya.
"Sayang?"
"Cinta akan pakai handphone yang baru deh. Yang lama Cinta simpan di lemari ya pa."
"Hhhh,ya sudah. Jangan pernah di pakai lagi!"
"Pa,itu bodyguard Cinta nungguin sampe Cinta pulang sekolah?"
"Iya."
"Iiihh papa."
"Sayang,kalau ada apa-apa di sekolah,kamu bisa langsung hubungi dia. Dia akan antar kemanapun kamu pergi. Tidak ada bantahan!" Tegas Rey.
__ADS_1
Cinta diam saja. Papa terlalu berlebihan deh. Batinnya.
Sampai di sekolah,Rey mengantarkan Cinta ke ruang guru. Setelah berbicara sebentar,Rey pun meninggalkan Cinta karena putrinya itu tidak mau di tunggui lama-lama.
"Cinta bukan anak kecil lagi,pa." Protesnya.
Saat bel berbunyi,Cinta di antarkan oleh guru kelas menuju kelas barunya. Cinta memperkenalkan diri kemudian duduk di bangku yang di tunjuk oleh guru kelasnya.
Jam istirahat,hampir semua temannya meninggalkan kelas untuk mengisi perut,hanya tinggal beberapa yang masih tinggal di kelas. Cinta membuka tasnya. Tadi pagi bundanya membuatkan roti bakar untuknya.
"Eh,Cinta. Ikut aku ke kantin yuk!" Ajak teman sebangkunya,Vani.
"Aku sudah di bawain roti sama bundaku." Ucap Cinta.
"Oohh,ya sudah. Aku tinggal ya."
Cinta mengangguk sambil tersenyum.
Hari sudah siang,tak terasa jam pelajaran telah usai. Cinta membereskan alat tulisnya lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Cinta,rumah kamu dimana?" Tanya Vani.
"Rumahku di jalan Anggrek." Jawab Cinta.
"Daerah mana itu?"
"Daerah S Timur."
"Apa? Jauh banget rumah kamu? Kok bisa sekolah di sini?
"Hmm,papaku yang mau aku sekolah di sini." Jawab Cinta. "Yuk,aku pulang duluan." Pamit Cinta.
Cinta segera meninggalkan kelasnya.
"Hai,Cin." Sapa temannya yang lain.
"Eh,hai juga." Sahut Cinta sambil tersenyum.
Cinta buru-buru melangkahkan kakinya. Di luar gerbang,mobilnya menunggu. Ketika Cinta sudah hampir dekat,bodyguardnya turun lalu membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan,non."
Cinta tersenyum lalu masuk kedalam mobil.
"Kita pulang kemana,non?"
"Cinta mau ketemu papa." Jawab Cinta.
"Baiklah,non."
"Hmm,nama kakak siapa ya?" Tanya Cinta.
"Saya Ratna,non."
"Hmm,jangan panggil 'non' deh." Pinta Cinta.
"Cinta. Namaku 'Cinta'."
"Baiklah,Cinta."
Cinta tersenyum.
Setengah jam lebih mobil memasuki parkiran. Cinta membuka pintu mobilnya. "Non,eh Cinta. Biar saya yang bukain pintunya!"
"Oh iya,kakak tidak perlu membukakan pintu mobil untuk Cinta ya,Cinta bisa sendiri kok." Titah Cinta.
"Tapi,non. Eh Cin?"
"Tidak ada bantahan!" Ucap Cinta menirukan perkataan papanya.
Dengan hati riang dan wajah penuh senyuman,Cinta melangkahkan kakinya masuk ke perusahaan papanya. Ratna mengikuti dari belakang.
Hmm,Aarom mana ya? Batin Cinta.
"Cin?" Tiba-tiba ada yang menyapanya.
Cinta menoleh lalu menghentikan langkahnya. "Aaron." Gumamnya sambil tersenyum. Aaron sedang membersihkan kaca.
"Kamu makin cantik." Puji Aaron membuat Cinta tersenyum malu.
"Aku ke papa dulu." Pamitnya masih sambil tersenyum.
"Hati-hati." Ucap Aaron.
Cinta hanya tersenyum dan melanjutkan lagi langkahnya menuju ruangan papanya.
Saat dia sudah ada di depan pintu,ternyata ada omnya,Seno. Cinta lalu menghentikan langkahnya. Hmm,om Seno. Batinnya.
"Cinta." Sapa Seno.
Rey pun menoleh. "Sayang? Kok malah berdiri di situ? Ayo masuk!"
"Hmm,iya pa."
Cinta masuk lalu berjalan ke arah sofa. Duduk lalu mengambil handphonenya dari dalam tas.
"Cin?" Sapa Seno yang tiba-tiba ikut duduk di sofa.
Cinta menoleh. "Om?" Cinta kaget. Dia kembali memainkan hanphone barunya.
"Wah,handphone baru nih?" Tanya Seno.
"Hmm,iya."
"Om saja naksir handphone itu. Tapi sayang duitnya buat beli beras saja." Gurau Seno.
"Hmm,ini di beliin papa."
__ADS_1
"Ohh. Bagaimana sekolahmu yang baru?"
Kok om Seno tau aku pindah sekolah? Papa nih. Batinnya. "Hmm,Baik kok."
"Sudah punya teman baru?"
"Hmm,iya sudah."
"Semoga tempat sekolahnya cocok ya buat Cinta."
"Hmm,iya."
Om kangen kamu Cin. Kangen manjanya kamu. Kamu tidak pernah main lagi ke ruangan om. Malah makin jauh. Batin Seno sambil terus memandang Cinta.
Cinta yang merasa sedang di perhatikan jadi salah tingkah.
Cinta berdiri lalu menghampiri papanya
"Pa,sibuk ya? Cinta laper nih. Temani Cinta makan yuk."
"Sayang,maaf papa tidak bisa. Papa juga belum lama makan tadi."
"Hmm,papa."
"Om yang temani,yuk." Tawar Seno.
"Iya sana sama om Seno saja." Titah Rey.
"Hmm,Cinta maunya sama papa." Cinta beralasan.
"Sayang. . ."
"Cinta makan sendiri saja." Ucap Cinta kesal. Dia lalu berjalan keluar. Rey hanya menggelengkan kepalanya.
"Biar Seno susul ya mas?"
"Tidak perlu,ada si Ratna."
"Ratna? Siapa mas?"
"Oohh,mas belum cerita ya. Mulai hari ini Cinta akan di temani kemana pun oleh Ratna."
"Bodyguardnya Cinta?"
"Iya. Setelah kita diskusi,memang lebih baik dan juga lebih aman kalau boduguardnya wanita. Dia sudah berpengalaman kok." Terang Rey.
"Hmm,iya mas. Lebih baik begitu." Ucap Seno.
Sementara itu,Cinta dengan wajah kesal melangkahkan kakinya ke arah kantin,tetap Rarna mengikutinya dari belakang.
Cinta duduk di tempat biasa karena sepi,jam makan siang sudah habis.
Saat Cinta ingin memesan makanan,ternyata sudah habis semua. "Iiihh,kok sudah habis semua sih!" Kesalnya.
Ratna mendekat. "Saya antar cari makan,non?"
Cinta menoleh. " Cinta bukan non!" Tegasnya.
"Hmm,baiklah Cinta. Mau saya antar cari makan?"
"Hmm,oh iya kamu laper juga kan kak? Kenapa tidak bilang? Duuhh,Cinta jadi egois banget." Sesalnya.
"Saya belum lapar kok,Cin."
"Sekarang jam dua masa belum lapar? Aku saja sudah laper banget ini." Ucap Cinta.
Cinta lalu berdiri dari duduknya. " Yuk kita cari makan sama-sama." Ajak Cinta.
Mereka lalu berjalan ke arah parkiran. Saat di jalan,Cinta kembali bertemu Aaron.
"Cin,pulang ya?"
"Hmm,i iya."
"Hati-hati." Ucap Aaron sambil tersenyum.
Cinta membalasnya dengan senyuman yang paling manis.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
selamat membaca. maaf kalau ada typo ๐
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
0808/2020