
Matahari sudah mulai masuk ke sela-sela gorden. Ratna mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau. Setelah matanya benar-benar terbuka lebar,dia langsung kaget.
"Loh?" Dia langsung menggeser tubuhnya ke samping dan mulai mengingat-ingat kejadian semalam. Wajahnya langsung memerah.
Di tatapnya lekat-lekat sosok yang masih terlelap di sampingnya,yang saat dia baru terbangun tadi sedang dia peluk.
Sedang tidur pun,dia sangat tampan. Bagaimana mungkin aku tidak makin tergila-gila dengannya. Semoga sikapnya akan terus seperti semalam. Batin Ratna.
Dia lalu tersenyum. "Aku sangat mencintaimu,bang." gumamnya.
Ratna lalu duduk,mencari-cari pakaian yang semalam dia pakai. Kemana ya? Ahh,bang Romi asal lempar saja semalam sih.
"Ratna?" gumam Romi masih dengan mata terpejam.
Ratna lalu menoleh ke arah suaminya. "Bang?"
Romi membuka matanya. "Kamu kenapa gerak-gerak terus dari tadi? Sini,tidur lagi!" titahnya dan langsung menarik pinggang Ratna hingga istrinya itu terjatuh ke pelukannya.
"Bang,ini sudah siang." protes Ratna.
"Biar saja." ucap Romi yang kembali memejamkan matanya namun makin mengeratkan pelukannya.
"Abang kan harus kerja."
"Sesekali libur. Abang ingin berduaan dulu sama kamu hari ini."
"Hhmm,bang. Kok gitu?"
Romi lalu membuka matanya. "Abang ingin menghabiskan waktu seharian sama kamu! Kamu tidak keberatan,kan?" bisiknya seraya mengusap lembut wajah istrinya itu.
Wajah Ratna langsung memerah karena malu. Jantungnya mulai berdebar tak beraturan.
"Aku mau ke kamar mandi dulu,bang."
"Ya sudah,kita lanjut di kamar mandi ya." bisik Romi membuat Ratna merinding.
Sementara di luar kamarnya,Aaron mondar mandir. Aaron lantas mencoba mengetuk kamar abangnya itu. Tok tok. . . Tak ada sahutan.
Bang Romi kemana sih sudah jam delapan ini. Batin Aaron lalu kembali mengetuk pintu kamar abangnya itu.
"Apa masih tidur ya?" gumam Aaron lalu menempelkan telinganya ke pintu. Tiba-tiba dia langsung mengusap dadanya. "Astagfirullah. Aku kurang kerjaan banget sih pake nguping segala,huuhh." Aaron merutuki dirinya sendiri.
Aaron gegas berlalu dari sana. Dia lantas menuju ke teras di mana pakde Arman duduk menunggu abangnya.
"Abang kamu tidak kerja hari ini?" tanya pakde.
Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hhmm,mungkin abang libur hari ini,pakde."
"Libur? Kok kemarin tidak bilang,ya."
Aaron hanya mengedikkan bahunya.
"Ya sudah kalau gitu,pakde mau cuci mobil saja daripada tidak ada kerjaan." ucapnya kemudian segera berlalu dari hadapan Aaron.
Cinta apa kabar ya? Sudah hampir sebulan tidak tau kabarnya. Mau nelpon takut dia marah. Huuhh. Aaron bermonolog.
***
Setelah kemarin seharian berada di dalam kamar,pagi ini Ratna bangun lebih pagi. Walau matanya masih mengantuk,dia paksakan untuk bangun.
__ADS_1
Ratna duduk lalu menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap. Dia lalu meregangkan otot-ototnya. "Uuhh,badanku rasanya capek semua," gumamnya.
Ratna lalu hendak turun dari tempat tidur. Tapi baru saja dia sampai di sisi tempat tidur,suaminya terbangun.
"Kamu mau kemana?"
"Bang,aku mau mandi."
Romi membuka sedikit matanya. "Hhmm,sekarang sudah jam berapa?"
"Sudah jam empat,bang."
"Jam empat? Masih pagi sekali. Ayo sini,tidur lagi."
"Hhmm,sudah subuh bang. Kemarin sudah tidak sholat subuh kan."
"Hhmm,sebentar lagi ya. Sini!"
"Hhmm." Mau tak mau akhirnya Ratna menuruti apa kata Romi. Dia kembali berbaring di sebelah suaminya itu.
"Abang masih kangen," ucap Romi pelan namun dengan penekanan.
"Hhmm." Ratna kembali merasakan irama jantungnya yang tak beraturan. Dia pun dapat merasakan debaran jantung suaminya.
"Kok hanya,hhmm? Kamu tidak kangen sama abang?"
"Ya kangen,bang. Setiap hari." lirih Ratna.
***
Tepat pukul delapan,Ratna dan Romi keluar dari kamar mereka. Ratna lalu mendorong kursi roda Romi ke teras.
"Pakde,ayo berangkat sekarang," titah Romi.
"Iya,ayo," sahut pakde.
"Loh,abang dan kak Ratna kan belum sarapan? Apa sudah kenyang?" goda Aaron lagi.
Romi melirik ke arah adiknya itu, "Bawel,kamu. Nanti jam sembilan kamu susul abang ke kantor!" titahnya.
"Hehee,dah bang Romi,kak Ratna," Aaron melambaikan tangannya lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Romi masuk ke dalam mobil di bantu oleh pakde. Mobil melaju meninggalkan rumah besar Romi.
"Kita langsung ke kantor,Rom?" tanya pakde.
"Kita mampir ke tempat makan dulu,pakde. Kita sarapan di sana."
"Tapi pakde sudah sarapan. Kalian saja yang makan di kafe," tolak pakde halus.
"Baiklah kalau begitu." sahut Romi.
Sepanjang jalan Romi dan Ratna tidak saling bicara namun Romi selalu menggenggam erat tangan istrinya itu dan sesekali menoleh,menatap istrinya itu mesra.
Hati Ratna merasa berbunga-bunga walau kadang masih terbersit rasa tidak percaya akan perubahan di diri suaminya itu.
Tak berapa lama,mereka sampai di sebuah restoran kecil yang menyediakan menu sarapan.
Pakde membantu Romi duduk di kursi rodanya,lalu Ratna mendorong kursi roda Romi masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Romi seraya menoleh ke arah istrinya.
"Hhmm,aku sama seperti abang saja." jawab Ratna.
"Abang ingin makan bubur ayam,di sini enak," terang Romi.
"Aku juga suka bubur ayam,bang." sahut Ratna dengan tersenyum manis.
"Ya sudah kita pesan bubur ayam,ya." ucap Romi lantas menulis menu pesanan mereka lalu memberikannya pada pelayan.
Lima menit pesanan mereka datang. Mereka mulai makan. Romi sesekali menyuapi istrinya itu hingga mereka saling suap-suapan. Ratna tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Senyuman selalu terpancar di raut wajahnya yang sebelumnya hampir tidak pernah tersenyum. Selalu wajah sedih yang dia tunjukkan.
Setelah mereka selesai dengan sarapannya,mereka langsung menuju kantor Romi.
Ternyata di kantor sudah menunggu pengacara keluarga mereka.
"Maaf sudah membuat pak Rudi menunggu," ucap Romi.
"Saya juga baru lima menit yang lalu sampai,pak Romi," sahut pengacara Rudi, "Oh,iya saudara bapak,belum datang?"
"Oohh,Aaron. Sebentar lagi mungkin dia datang," jawab Romi.
Setelah menunggu sepuluh menit,Aaron pun datang.
"Nah,itu dia datang," ucap Romi.
"Ok,karena semua sudah hadir,maka kita mulai saja,ya."
"Ada apa ini bang?" tanya Aaron penasaran.
"Begini, pak Rudi. Saya akan membagi saham saya pada adik dan istri saya," terang Romi.
"Apa bang?" tanya Aaron kaget sementara Ratna hanya menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
"Maksud pak Romi bagaimana,ya?" tanya pengacara Rudi yang masih kurang paham.
"Saya kan memiliki saham sebesar tiga puluh lima persen di perusahaan ini. Dan saya ingin membaginya untuk adik dan istri saya," terang Romi lagi.
"Tapi,bang?"
"Maaf pak Romi,sebenarnya saudara Aaron juga. . .
"Ada apa pengacara Rudi ada di sini?" tiba-tiba om Adit muncul di depan pintu memotong ucapan pengacara Rudi.
Semua mata tertuju ke arah om Adit yang baru saja masuk ke ruangan Romi.
Sial,kenapa om Adit bisa kesini. Gerutu Romi dalam hati.
.
.
.
.
.
19
__ADS_1