
Siti sedang berada di ruang ganti,sibuk di depan lemari pakaiannya. Pakaiannya yang dulu hanya beberapa lembar saja tapi sekarang lemari besar khusus untuknya itu telah penuh dengan pakaian model terbaru dan tentu saja dengan harga yang tidak murah.
Walau lebih separuh pakaiannya bukan dia pilih sendiri tapi saat dia coba memakainya,dia jadi terlihat lebih fashionable dan merasa nyaman memakainya.
"Siti!" Teriak Rey dari kamar.
Siti pura-pura tidak mendengar.
"Siti,kamu sedang apa dari tadi betah sekali di dalam?" Tanya Rey di depan pintu menuju ruang ganti.
"Lagi pilih-pilih pakaian untuk di bawa ke desa." Jawab Siti antusias.
"Hmm,memangnya kapan mau ke desa?"
Siti menoleh ke arahnya sekilas. "Secepatnya! Kalau bisa besok." Dia kembali sibuk dengan pakaiannya.
"Hmm,kamu sudah benar-benar sehat? Sebelum ke desa,saya harus ke kantor dulu untuk menyelesaikan sedikit pekerjaan."
"Yah tidak apa-apa selesaikan dulu pekerjaan kamu. Lusa kita ke desa. Kalau kamu masih sibuk,saya ke desa sendirian bisa kok!"
"Tidak mungkin!" Bantah Rey cepat.
Siti menghentikan aktifitasnya. "Kenapa tidak mungkin?" Siti mendengus kesal.
"Tidak mungkin saya biarkan kamu bepergian sendirian! Ada-ada saja!" Rey kembali ke kamar.
Siti keluar dari ruang ganti menuju kamarnya lalu duduk di pinggir kasur "Jadi kapan bisa ke desa?" Memasang wajah sedih.
"Di desa mau berapa hari?" Rey balik bertanya.
"Berapa hari? Berapa bulan!"
Dahi Rey berkerut. "Mau berapa bulan di desa?"
"Mau lahiran di desa!" Jawab Siti asal.
"Apa?"
"Kamu antar saja terus balik lagi ke sini tidak apa-apa."
Rey tersenyum sambil menggeleng. "Senang ya berjauhan dengan mas lama-lama?"
Siti mengedikkan bahunya. "Saya sih terserah saja. Mau menemani oke,tidak ya sudah."
"Terus siapa yang urus kamu di desa?"
__ADS_1
"Kan ada adik saya Seno! Jadi tidak perlu khawatir." Siti berusaha meyakinkan.
"Saya temani kamu di desa selama kerjaan saya bisa di tinggal. Kalau tidak ya kita balik lagi ke sini." Terang Rey.
"Hmm,berapa lama?"
"Ya belum tahu." Jawab Rey cuek sambil berlalu keluar kamar.
"Rey!" Panggil Siti.
Rey berhenti di tempatnya berdiri tanpa menolah. Tak lama dia kembali berjalan keluar kamar.
Hmm,mulai deh cueknya. Bosen mungkin nungguin saya terus. Batin Siti. Ah,jangan suudzon! Suara hati Siti yang lain berbisik. Kok sekarang sering merasa melow sendiri ya. Dulu sekeras apapun dan serumit apapun hidup,masih bisa menjalaninya dengan gembira tanpa mengeluh sedikitpun.
Tapi Rey memang seperti itu kan. Kadang penuh perhatian,kadang cuek. Cinta memang menyakitkan.
Jangan terlalu dalam mencintai,melebihi cintamu pada sang pemilik kehidupan. Dan jangan terlalu bergantung pada manusia,ada sang Pencipta. Yah,lebih baik sekarang sholat dulu. Batin Siti.
Kemudian Siti beranjak ke kamar mandi,bersuci. Setelahnya dia mengambil alat sholat ke ruang ganti. Sholat di sini sajalah. Batinnya.
Ada ketenangan setiap kali dia selesai mengadu pada sang pencipta. Tak lupa dia mengaji. Yah,sejak pulang dari Rumah Sakit,dia belum menyentuh lagi Al'qurannya.
Selesai membaca beberapa surah,Siti masih belum beranjak dari tempatnya. Matanya mulai terasa berat hingga dia tertidur.
Rey masuk ke kamar mencari istrinya. Kosong. "Oh apa dia masih sibuk dengan pakaian-pakaiannya ya?" Gumam Rey. Rey masuk ke ruang ganti lalu ke kamar mandi. Tak ada siapa-siapa. Koper Siti pun masih terbuka dengan beberapa pakaian yang belum di rapikan. Kemana dia? Batin Rey.
Lalu Rey keluar kamar. Turun ke bawah,mencari Siti mungkin ada di dapur sedang makan. Istrinya itu sekarang sering makan di luar jam makan walau dengan porsi sedikit. Dan mama justru mendukungnya. Terserah dia mau makan jam berapa pun,Rey. Ucap mama saat Rey ingin protes.
"Lihat Siti,bik?" Tanya Rey pada asisten rumah tangganya.
"Belum lihat lagi den sejak sarapan tadi." Jawab asisten rumah tangganya.
"Hmm,jadi dia belum makan lagi sejak habis sarapan ya?"
"Iya den."
Rey lalu mencari mamanya di ruang keluarga. Biasanya mamanya itu sedang asik nonton tv.
"Lihat Siti,ma?" Tanyanya lalu menjatuhkan diri di sofa di samping mamanya.
"Loh bukannya di kamar sama kamu?"
"Tadi Rey ke kantor sebentar di suruh papa,ma. Barusan Rey cari di kamar tidak ada."
"Mungkin di ruang ganti. Kamu bilang istrimu itu sejak pagi sibuk mengemas pakaiannya kan?" Saran mama.
__ADS_1
"Sudah Rey cari di sana juga tapi tidak ada,ma." Rey menyandarkan kepalanya di sofa. "Dia maksa besok ke desa. Kerjaan Rey harus di selesaikan dulu sebelum ke desa. Eh dia mau berangkat sendirian." Keluh Rey.
Mama menoleh. "Jangan-jangan dia pergi,Rey?"
Rey menggelengkan kepalanya. "Koper sama pakaiannya masih ada."
"Jadi kemana istri kamu itu? Dari tadi mama di sini tidak lihat dia turun kok,Rey. Coba kamu cari lagi di kamar. Kamar mandi mungkin."
"Tidak ada juga ma! Rey cari ke taman dulu." Rey lalu beranjak dari sofa,berjalan ke arah halaman belakang. Tempat Siti biasa menghabiskan waktunya selain di kamar.
Rey sudah mencari di setiap sudut taman belakang hingga balik lagi ke depan tapi istrinya itu tidak terlihat di mana pun.
"Tidak ketemu,den?" Tanya pak satpam yang berjaga di rumah Rey.
"Tidak pak. Tapi Siti tidak keluar kan?" Rey balik bertanya.
"Tidak ada yang keluar selain tuan besar dan aden. Saya jaga dari pagi,den." Terang pak satpam. Rey mengangguk lalu berlalu dari sana.
"Ketemu,Rey?" Tanya mama saat Rey lewat di dekatnya menuju tangga.
"Tidak ma."
"Hmm,kemana istri kamu itu? Kalian tidak sedang bertengkar kan? Kamu harus sabar menghadapi wanita hamil. Mama dulu bahkan mudah emosi saat hamil kamu!"
"Hmm. Siti memang sedikit berubah sejak hamil ma. Rey cari lagi di kamar." Rey pun kembali lagi ke kamarnya. "Siti,kamu sembunyi di mana? Awas kamu ya!" Gumam Rey.
Ceklek. Rey masuk ke kamar. Masih sepi seperti tadi. Kamar mandi kosong bahkan lantai kering seperti lama tidak di pakai. Balkon pun tidak ada siapa-siapa bahkan terkunci dari dalam. Rey lalu masuk ke ruang ganti. Masa Siti sembunyi di lemari sih. Batinnya sambil senyum-senyum sendiri.
Tiba-tiba manik matanya menangkap sosok berbalut mukena setengah tiduran di sajadah seperti posisi sujud. Rey melangkahkan kakinya lebar-lebar lalu menekuk kakinya agar lebih jelas melihatnya dari dekat.
Ada suara hembusan nafas halus menggelitik telinganya. "Dasar kamu,Siti!" Gumamnya sambil menggeleng. Langsung dia gendong tubuh istrinya itu lalu di baringkannya di kasur. Dia berusaha membuka mukena yang masih di kenakan oleh Siti. Siti menggeliat lalu mengerjap-ngerjapkan matanya,masih setengah sadar dia menatap sosok yang sibuk melepas mukena yang dia kenakan.
"Rey. . .?" Dahinya langsung berkerut saat tahu siapa yang sedang berusaha membuka mukenanya.
Rey menatap ke arahnya sekilas lalu tersenyum menyeringai. Ternyata bukan hanya mukena Siti yang sedang berusaha dia buka. Tapi semua yang istrinya itu kenakan.
Mata Siti membulat demi menyadari apa yang di lakukan suaminya. "Rey?" Jeritnya sambil berusaha menahan tangan Rey.
"Ssstt. Tidak boleh menolak! Dosa!"
Siti langsung terdiam jika suaminya sudah berkata seperti itu. Dan hanya menuruti saja keinginannya. Karena walau masih malu-malu,Siti pun mulai menikmati setiap kali mereka melakukannya. Suaminya itu sangat pandai membuatnya melayang. Sesuatu yang membuatnya terbuai hingga kembali percaya akan cinta suaminya. Aahh,Siti. Mudahnya kamu. . .
NEXT
240421/12.25
__ADS_1