
Siti baru pulang dari rumah Ratna. Sebelumnya dia mampir ke warung untuk membeli sayur dan lauk. Dia ingin makan ikan bakar.
Sampai di rumah,Siti menyimpan dulu sayur dan lauknya di tudung saji. Dia masuk ke kamar dan menguncinya. Dia duduk di sisi kasur lalu mengambil handphone dan menekan tombol panggil.
Tuuutt. Tuuttt. Berkali-kali Siti coba menelpon suaminya tapi tidak di jawab. Siti gelisah. Mas kemana ya? Apa mas marah gara-gara kemarin? Tanya Siti dalam hati.
Tuuut. Tuuuutt. Dia terus mencoba tapi tetap tidak di angkat. Perasaan Siti jadi tidak enak. Semarah itukah kamu mas? Mata Siti mulai berkaca-kaca. Pikirannya mulai kemana-mana. Bagaimana kalau mas sampai meninggalkan saya ya? Bagaimana jika mas tidak datang lagi? Bagaimana. . .?
Siti hanyut dalam pikirannya sendiri. Beberapa hari jauh dari suaminya,membuat pikirannya tidak tenang dan sering berpikir yang tidak-tidak. Saya pikir sanggup jauh dari kamu beberapa hari mas,ternyata sangat berat. "Mas. . . Saya sangat merindukan kamu!" Gumam Siti dengan bulir hangat yang mulai jatuh di pipinya.
Tok tok tok.
Tiba-tiba ada yang mengetuk kamarnya. Siti menoleh. Siapa ya? Masa Seno sudah pulang? Tanya Siti dalam hati. Siti mengusap wajahnya agar tidak terlihat habis menangis. Lalu Siti berjalan hendak membuka pintu yang masih saja di ketuk. "Siapa?" Tanyanya. Tapi tidak ada jawaban.
Tok tok
"Iihh siapa sih?" Dengan kesal Siti membuka pintu kamarnya. Ceklek. Siti terdiam,matanya membulat,mulutnya terbuka. "Mas?" Jatuh lagi bulir bening di pipinya demi melihat siapa yang datang. Sosok yang teramat di rindukannya itu kini ada di hadapannya dengan nyata.
Tanpa bicara lagi,Siti langsung menubruk tubuh itu. Memeluknya dengan erat seolah tidak ingin dia lepas lagi. Tangisnya pun pecah. Hiks hiks.
"Suami datang kok di sambut dengan tangisan?" Protes Rey.
Siti tidak peduli. Dia terus saja memeluk suaminya sambil menangis. Rey membiarkan saja apa yang di lakukan istrinya. Dia pun membalas pelukan istrinya dengan lebih erat lagi.
Dengan sebelah tangannya,Rey menutup pintu kamar. Kerinduan yang membuncah. Perasaan cinta yang begitu besar,membuat sepasang suami istri itu tidak dapat menahan diri untuk tidak mendekatkan wajah mereka.
Dahi,mata,hidung,pipi,bibir,tak luput dari sentuhan Rey bertubi-tubi di wajah cantik istrinya hingga jantung mereka bergemuruh. Rey segera membaringkan istrinya di atas kasur lalu buru-buru berjalan ke arah pintu untuk menguncinya rapat-rapat. Kemudian dia kembali mendekati istrinya yang telah menunggu. Mereka pun tenggelam dalam indahnya cinta suami istri. Berkali-kali seolah merasa dendam karena beberapa hari tidak bertemu dan melakukannya. Setelah merasa kelelahan,mereka pun menghentikan aktifitas mereka. "I love you!" Bisik Rey di telinga Siti.
***
Siti sedang mengeringkan rambutnya ketika pintu rumah ada yang mengetuk. "Mbak!" Panggil Seno dari balik pintu.
Ceklek.
"Seno,kamu sudah pulang?"
"Iya sudah pulang dari tadi tapi mbak di panggil-panggil tidak menyahut!" Wajah Seno terlihat kesal.
"Hmm,maaf ya dek!" Ucap Siti tidak enak hati. Gara-gara suaminya yang minta terus-terusan hingga berlanjut sampai ke kamar mandi sampai-sampai tidak dengar ada yang manggil.
"Kalau kamu mau makan,di tudung saji ada ikan bakar,dek!" Ucap Siti sambil membuka tirai di kamar adiknya.
"Hmm,tadi Seno baru makan baso mbak!"
"Ooh ya sudah." Siti meninggalkan kamar adiknya lalu kembali ke kamarnya dimana suaminya tengah tiduran di kasur sambil memainkan handphonenya.
"Sayang,Seno sudah pulang?" Tanya Rey.
"Sudah mas,dari tadi malah. Mungkin saat kita di kamar mandi dia ketuk-ketuk pintu." Jawab Siti dengan wajah memerah mengingat apa yang baru saja mereka lakukan di kamar mandi. Setelah beberapa lama pulang ke desa.
"Hhmm . . ." Rey lalu menepuk-nepuk kasur di sebelahnya agar Siti duduk di sana. Siti pun duduk di sebelah suaminya. Mereka duduk berhadap-hadapan. Rey menatap lekat-lekat ke manik mata istrinya itu.
"Selama mas ke kota,apa yang kamu kerjakan setiap hari?"
"Hmm,seperti biasa mas. Masak,makan,tiduran,hmm. . ." Siti berpikir.
__ADS_1
"Selain itu?"
Siti menggeleng. "Tidak ada!"
"Tidak merasa bosan? Apa suka setiap hari seperti itu,hmm?"
"Bosan sih mas!"
"Apa tidak kepikiran mas?"
"Hmm,yah kepikiran." Jawab Siti lirih.
"Kepikiran sekali ya,sampai suaminya di curigain terus!" Ucap Rey dengan penekanan membuat wajah Siti langsung memerah menahan malu. Siti maju mendekatkan diri lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Hmm,maaf!" Ucapnya lirih.
"Di maafkan tapi ada hukumannya!"
Siti mendongakkan kepalanya hingga tatapan mata mereka bertemu. " Hukuman?"
"Hmm ehh!"
"Hukuman apa?"
"Kamu harus mau menuruti kata-kata mas!"
"Hmm,kan biasanya juga di turuti!" Siti kembali menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Tapi kali ini mungkin kamu akan keberatan!"
"Janji dulu!"
"Iiihh mas ini!"
"Yah janji dulu!"
"Hmm. . ."
"Kok cuma hmm?"
"Takut!"
"Takut apa?"
"Takut tidak bisa menepati janji!"
"Ya sudah!"
"Biasanya juga hukumannya itu kan?" Ucap Siti kemudian.
"Itu apa?" Rey pura-pura tidak tahu.
"Iihhh itu loh!"
"Ngomong yang jelas!"
__ADS_1
"Mas ini! Pura-pura tidak tahu lagi!"
"Hmm,ya sudah!"
"Mas,jadi apa donk?"
"Kamu pikir selama mas di kota tidak kepikiran kamu,hmm?"
"Ya kepikiran."
"Perasaan mas tidak tenang! Terus jadi sering di curigai! Sering di ambekin!"
Siti mengulum senyumnya.
"Kamu tidak kasihan sama mas ya?"
Siti menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aaww!" Jerit Siti karena Rey mencubitnya. "Kok nyubit sih mas?" Protesnya.
"Sama suami sendiri tidak ada rasa kasihan!"
"Tidak kasihan sama mas tapi sangat mencintai mas!"
"Jadi kamu mau kan turuti kata-kata mas? Kamu percaya kan sama mas,hmm?"
Siti mengangguk lalu melingkarkan tangannya di leher suaminya. Pandangan mereka bertemu. "Iya mas!"
Senyuman tersungging di bibir pasangan suami istri itu. Lalu bibir mereka bertemu,lama dan dalam.
***
Siti,Rey dan Seno sedang duduk-duduk teras rumah ketika para tukang bangunan sudah pulang semua. Tinggal sedikit lagi,rumah keluarga Siti akan selesai di perbaiki. Sudah terlihat perbedaan yang mencolok.
"Seno,mbak sama mas Rey besok pagi akan berangkat ke kota. Kamu tidak apa-apa kan di sini sendirian? Kamu yang urus apa-apa yang di butuhkan tukang?" Tanya Siti.
"Iya tidak masalah mbak! Seno setuju sama mas Rey kalau mbak Siti sebaiknya memang harus ikut kemana pun mas Rey berada! Demi kebaikan mbak juga!" Jawab Seno. Dia memang menginginkan mbaknya agar selalu dekat dengan suaminya.
"Terimakasih,Seno! Kalau ada apa-apa yang kurang,kamu langsung hubungi mas ya!"
"Iya mas. Saya titip mbak Siti ya mas! Semoga mas Rey bisa sabar menghadapi sifat dan sikap mbak Siti!"
"Kamu itu,memangnya mbak kenapa?" Protes Siti dengan wajah kesal.
Rey dan Seno hanya tersenyum.
"Mbak jadi ke rumah pak Erte? Sebaiknya sekarang saja biar sebelum maghrib bisa segera pulang! Tidak baik wanita hamil keluar malam kan!"
"Iya iya mbak tahu!" Siti masih terlihat kesal.
"Yuk,kita kesana sekarang saja!" Ajak Rey.
Siti pun mengangguk setuju. Berduaan mereka berjalan menuju rumah pak Erte. Ada hal penting yang ingin Siti bicarakan dengan anaknya pak Erte,Ratna.
NEXT
__ADS_1
080521/18.- -