Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 70 ( S2 )


__ADS_3

Cinta baru tiba di sekolahnya saat gerbang sekolah hampir tutup karena Ratna telat menjemputnya. Dia berlarian masuk ke dalam kelas.


"Hhh,untung saja masih bisa masuk." Ucapnya dengan hati lega.


"Kamu tumben baru datang,Cin?" Tanya Vina teman sebangkunya.


"Iya,kak Ratna telat jemput aku."


"Hmm,mesti kak Ratna yang antar jemput kamu? Papa kamu?" Tanya Vina heran.


"Papa anter adek-adek,arahnya juga beda."


"Ooohh begitu. Kamu sudah mengerjakan tugas belum,Cin?"


"Alhamdulillah,sudah kok." Jawab Cinta. Dia jadi ingat malam itu dia mengerjakan tugas sekolah berdua Aaron. Cinta jadi senyum-senyum sendiri.


Tak terasa waktu cepat berlalu. Hari sudah menjelang siang. Sudah waktunya Cinta pulang sekolah.


"Cin,kamu beneran tidak mau ikut kita belajar bersama?" Tanya Vina.


"Maaf,Vin lain kali ya. Rumahku jauh dari sini. Aku ijin papa dulu." Tolak Cinta halus padahal dia masih takut kumpul-kumpul sama teman-temannya.


"Oke deh."Sahut Vina dengan wajah kecewa.


Cinta pun segera berlalu meninggalkan kelasnya. Sampai di luar gerbang sekolah,dia menoleh ke arah Ratna biasa memarkirkan mobil tapi ternyata mobilnya tidak ada.


"Loh,kak Ratna kemana ya?" Gumamnya,tidak biasanya begitu. Cinta lalu duduk di bangku yang ada di bawah pohon,sambil menoleh kesana kemari mencari mobilnya.


Setelah menunggu lima menit,mobil yang biasa menjemputnya tidak juga terlihat. Cinta coba menghubungi Ratna tapi handphonenya mati.


"Kak Ratna kemana?" Gumamnya yang mulai panik.


Cinta sesekali masih mencoba menghubungi Ratna tapi sampai setengah jam,handphone Ratna tidak juga aktip.


"Papa. . ." Lirihnya yang makin panik melihat sekolahnya yang mulai sepi. Dia pun mencoba menghubungi papanya tapi tidak ada jawaban.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depannya. Sebuah mobil sedan mewah. Cinta mendongakkan kepalanya.


"Cin. . ." Sapa orang di dalam mobil yang duduk di kursi tengah.


"Om Angga?" Cinta kaget.


"Kok belum pulang?"


"Hmm,kak Ratna belum jemput." Jawabnya dengan wajah sedih.


"Ayo,om antar!" Tawar Angga.


Cinta diam. Bagaimana ini? Ikut om apa tunggu kak Ratna ya? Batinnya bimbang. Dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan hampir pukul dua siang.


"Kenapa? Om tidak jahat kok!"


"Hmm,bukan begitu om. Nanti bagaimana kalau kak Ratna jemput?" Cinta beralasan. Dia juga belum sepenuhnya percaya dengan pria รฝang baru di kenalnya itu.


"Hhmm,kalau kak Ratna jemput lalu kamu tidak ada,pasti dia akan hubungi kamu kan. Memangnya kamu mau di sini sendirian? Sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sini."


Hmm,bagaimana ini? Semua pilihan sulit. Batin Cinta.


"Bagaimana Cinta?"


Hhh,Cinta menghembuskan nafas berat. "Cinta ikut om." Jawabnya penuh keraguan.


Pintu mobil kursi tengah di mana pria itu duduk telah terbuka. Setelah terdiam beberapa detik,Cinta akhirnya masuk dan duduk di sebelah pria yang dia panggil om Angga itu.


Ac mobilnya terlalu dingin membuat Cinta yang baru masuk menggigil. Dia lalu mendekap tasnya untuk mengurangi rasa dingin. Tiba-tiba Cinta merasakan jantungnya mulai berdetak kencang. Ada apa ini. Batinnya. Cinta pun duduk dengan gelisah.


"Kamu sudah makan siang belum?"


"Hmm,be belum om."


"Oh iya,kamu kan ada hutang janji sama om!"


Cinta menoleh. "Hutang janji?"


"Hutang janji menemani om makan siang."

__ADS_1


"Oohh,Cinta pikir apa." ucapnya lega.


"Hmm,sudah lupa ya."


"Cinta ingat kok,om."


"Kalau begitu bagaimana kalau hari ini kamu temani om makan siang? Om juga belum makan."


"Hmm,baiklah om." Jawab Cinta. Duuhh,semoga om Angga orang yang baik. Batin Cinta.


"Kamu mau makan apa dan mau makan di mana?"


Cinta lalu berpikir di mana tempat yang nyaman untuk dia makan siang bersama Angga. "Hmm,Cinta ingin makan di kafe De." Cinta menyebutkan nama kafe yang ada di depan kantor papanya,yang sering dia datangi.


"Hmm,di mana itu?" Tanya Angga.


"Di jalan De." Jawab Cinta.


"Hmm,masih setengah jam lebih dari sini. Apa kita tidak cari yang dekat saja dari sini?" Tawar Angga.


"Hmm," Cinta menunduk ragu.


"Hhhm,baiklah kalau kamu ingin makan di sana." Ucap Angga akhirnya.


Cinta langsung menatap ke arahnya. "Benarkan om?" Tanya Cinta belum yakin.


"Tentu saja. Kemana kamu mau!"


Cinta menunduk. Dia merasa sedikit lega. Setidaknya kalau ada apa-apa dekat dengan kantor papanya dan dia bisa langsung lari ke sana. "Terimakasih om."


Mobil melaju dengan kecepatan sedikit lambat. Cinta merasa perjalanan dari sekolahnya ke kafe jadi lebih lama.


Hampir satu jam,akhirnya mobil sampai juga di depan kafe. Cinta menarik nafas lega.


Dia ingin membuka pintu mobil tapi tangannya di tarik oleh Angga. "Biar pak supir saja yang buka." Ucapnya.


Mereka saling pandang hampir tanpa jarak membuat jantung Cinta serasa ingin lompat dari tempatnya. Dia merasa gugup dan juga takut,berbeda saat dia berpandangan dengan Aaron. Cinta menarik lagi tangannya yang masih dalam genggaman Angga lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.


Tak lama,supir keluar lalu membukakan pintu untuk mereka. Cinta buru-buru keluar lalu berjalan masuk ke dalam kafe di susul Angga di belakangnya. Cinta mengambil meja di dekat jendela yang menghadap ke kantor papannya.


Cinta melihat jam dinding yang ada di kafe. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore.


"Ayo,di makan." Ajak Angga.


Cinta pun makan dengan terburu-buru agar cepat selesai dan bisa menemui papanya di kantor sebelum papanya pulang.


Matanya terus menatap ke arah kantor papanya untuk melihat apa mobil papanya sudah keluar tapi sampai makanannya habis,mobil papanya tidak juga terlihat.


Mungkin papa masih sibuk kerja. Batinnya.


"Enak juga ya." Ucap Angga mencoba mencairkan suasana.


"Hmm,iya om. Cinta lumayan sering makan di sini."


"Oh ya?"


"Iya om. Kan kantor papa Cinta ada di gedung itu." Tunjuk Cinta ke sebuah gedung yang ada di depan kafe.


Angga menoleh sekilas lalu tersenyum.


"Om,terimakasih ya mau antar Cinta dan juga traktir Cinta makan siang." Ucap Cinta.


"Tidak masalah." Ucap Angga. " Mau pesan makanan penutup?"


Cinta menggelengkan kepalanya ."Terimakasih,om. Tapi Cinta sudah kenyang." Tolak Cinta halus.


"Hhh,temani om makan makanan penutup dulu ya." Pintanya.


"Hmm,baiklah om."


Tidak menunggu lama,pesanan Angga datang "Kamu tidak mau mencicipi? Ini enak." Tawar Annga.


"Tidak om,terimakasih." Tolak Cinta.


Rasanya Cinta menunggu sangat lama Angga menghabiskan makanan penutupnya. Sesekali Cinta melirik jam dinding yang ada di kafe. Hampir pukul empat sore.

__ADS_1


Cinta lalu kembali melihat ke luar jendela,ke seberang kafe di mana kantor papanya berada. Papa mana ya kok mobilnya dari tadi tidak terlihat? Apa sudah pulang tadi siang? Mobil om Seno juga tidak terlihat. Batin Dinda. Dia duduk dengan gelisah.


"Rumah Cinta di mana?" Tanya Angga membuyarkan lamunan Cinta.


"Rumah papa di daerah timur x." Jawab Cinta.


"Om antar ke sana ya?" Tawarnya.


"Hmm,Cinta mau ke kantor papa saja,om." Tolak Cinta. Cinta tidak mau berlama-lama bersama pria di depannya itu,dia merasa kurang nyaman.


"Papa kamu belum pulang?"


"Hmm,Cinta tidak tau. Cinta mau hubungi papa dulu."


Cinta lalu mengambil handphonenya di dalam tas lalu mulai menghubungi Ratna terlebih dahulu,tapi nomornya masih tidak bisa di hubungi. Kemudian Cinta menghubungi papanya. Setelah beberapa panggilan,baru ada jawaban.


"Haloo,papa di mana? Sudah pulang belum?"


"Papa sudah pulang?" Raut wajah Cinta terlihat kecewa dan sedih.


"Hmm,tidak apa-apa pa. Ya sudah. Bye." Cinta mematikan sambungan telponnya.


"Bagaimana?" Tanya Angga.


"Hhmm,papa sudah pulang." Jawab Cinta malas.


"Ya sudah om antar saja." Ucap Angga.


"Hmm,rumah Cinta jauh dari sini,om. Cinta naik taxi saja." Tolak Cinta halus.


"Naik taxi? Kamu pernah naik taxi?"


Cinta menggeleng.


"Hmm,ya sudah om antar saja ya. Ayo!" Ajak Angga sedikit memaksa.


Setelah membayar makanan mereka,Angga mengajak Cinta kembali naik ke mobilnya.


Cinta yang tidak punya pilihan lain akhirnya menurut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca semoga suka ya. Jangan lupa terus dukung othor dan tetap nantikan terus lanjutannya. Terimakasih ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


1331


__ADS_2