
Siti terbangun saat matahari hampir naik. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya. Betapa kagetnya dia saat melihat jam di dinding kamar. Pukul lima. Biasanya Siti akan bangun pukul empat lebih sedikit,saat azan subuh habis berkumandang. Dan yang lebih mengagetkan,ternyata dia sedang tidur di sofa bersama suaminya. Yah,setelah aktivitas panas semalam,dia tidak sempat pindah ke kasur karena terlalu ngantuk dan kelelahan. Mungkin pukul tiga dini hari mereka baru selesai.
Siti kesusahan untuk duduk apalagi berdiri. Terpaksa dia membangunkan suaminya yang masih terlelap.
"Mas. . " Bisik Siti. Suaminya masih diam tak bereaksi.
"Mas,bangun sudah siang ini!" Suara Siti sedikit lebih keras. Dia lalu menggoyang-goyangkan pundak suaminya.
"Mas,bangun donk! Sudah kesiangan!"
Rey baru menggerakkan tubuhnya. "Hhmm,Siti?" Rey mengernyitkan dahinya. Dia lalu bangun dan duduk di sofa. "Kok kamu tidur di sini?" Tanyanya.
"Dasar Rey!" Ucap Siti. Dia lalu bangun memakai selimut.
"Eeehh!" Protes Rey." Selimutnya!"
Siti buru-buru masuk ke kamar mandi. Rey pun segera menyusul.
"Mas? Sana ah,saya mau mandi!" Siti mendorong suaminya keluar kamar mandi.
"Mas juga mau mandi!" Rey tidak mau keluar.
"Mas ! Sudah kesiangan ini,Cinta mau sekolah!"
"Mandi tinggal mandi kok repot? Kamu mandi pakai shower,mas di bathup kan beres." Dengan cueknya Rey masuk ke dalam bathup.
Siti mendengus kesal. "Dasar Rey!"
Selesai mandi,Siti langsung sholat subuh sendirian karena suaminya belum selesai mandi.
Lalu dia ke kamar membangunkan putrinya,Cinta.
"Sayang,bangun yuk mandi dulu! Ini sudah siang sayang!"
Cinta membuka matanya. "Sudah siang ya ma?"
"Iya nak. Maaf ya mama kesiangan! Yuk Cinta cepetan mandi!" Siti lalu menuntun Cinta ke kamar mandi,bertepatan Rey baru saja keluar dari kamar mandi.
***
Rey sedang mengantarkan Cinta ke sekolah sementara Siti menyiapkan lagi apa-apa yang hendak di bawa ke desa. Mereka berencana membawa kendaraan sendiri. Dengan wajah bahagia dia menatap dua koper yang akan di bawa. Satu miliknya dan satu lagi milik suaminya.
Tok tok.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Siti berjalan ke arah pintu. Ceklek. Ternyata mama mertuanya yang datang.
"Siti,bisa mama bicara?" Tanya mama dengan wajah serius membuat jantung Siti berdebar.
Ada apa ya. Batinnya.
"Hmm,bisa kok ma!" Siti lalu mengajak mama mertuanya masuk ke kamar.
"Kalian jadi berangkat ke desa hari ini?" Tanya mama setelah mereka duduk di sofa.
__ADS_1
"Hmm,iya ma. Setelah mas pulang dari mengantar Cinta sekolah." Jawab Siti.
"Rey bilang kamu mau di desa sampai lahiran? Apa tidak kamu pikir ulang?" Tanya mama lagi.
"Saya,hmm rencana melahirkan belum tahu di mana ma. Lagipula beberapa bulan lagi adik saya lulus sekolah jadi rencana mau kuliah di sini."Jawab Siti.
"Nah,kalau adik kamu di sini untuk apa kamu melahirkan di desa? Di desa ada keluarga yang lain?"
"Tidak ada ma. Kemungkinan melahirkan di sini kok."
"Iya lebih baik di sini saja kan ada mama yang akan bantu kamu. Ada bibi juga."
"Iya ma."
"Berapa lama di desa?"
"Belum tahu ma. Mas juga belum tahu berapa lama bisa menemani saya di desa."
"Ya sudah,mama hanya ingin menanyakan itu. Melahirkan di sini lebih baik,ada keluarga dan juga fasilitas melahirkan lebih lengkap!" Terang mama.
"Iya ma."
"Oh iya satu lagi. Mama mau kasih kamu ini!" Mama menyerahkan sebuah kalung liontin yang sangat indah. Sampai Siti hanya terpaku menatap liontin itu yang masih di tangan mamanya. "Kamu tidak suka?" Tanya mama karena Siti yang diam saja.
"Hmm,ini,ini untuk saya ma?" Siti menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Iya untuk kamu!"
"Tapi ma. Ini,ini sangat indah dan,juga mahal. Saya tidak pantas ma." Ucap Siti gugup.
"Terimakasih ma. Mas Rey juga awalnya tidak bahagia menikahi saya."
Dahi mama berkerut. "Apa Rey tidak mencintaimu?" Mama kaget.
"Iya ma. Mungkin setelah kehamilan saya,baru mas Rey mulai mencintai saya. Itu pun mas Rey tidak pernah mengatakannya. Saya sebenarnya juga tidak yakin apa mas Rey sudah mencintai saya apa belum saat ini." Ucap Siti lirih. Terasa sakit mengatakan hal itu. Tapi setidaknya suaminya kini telah berubah tidak dingin lagi seperti awal pernikahan mereka.
"Jadi kenapa Rey menikahimu?"
Siti tersenyum. "Cinta ma! Maksud saya karena putri kita,Cinta yang menginginkan saya menjadi mamanya!" Terang Siti.
"Oh jadi Cinta yang mau kamu jadi mamanya?"
"Iya ma. Mama jangan salahkan Cinta ya. Mungkin Cinta menyukai saya jadi ingin saya jadi mamanya." Siti diam sesaat.
"Hmm,tidak apa-apa Siti! Cinta memang tidak salah memilih kamu untuk jadi mamanya." Mama mengulurkan lagi liontin pada Siti. "Ayo kamu ambil!"
Dengan ragu,Siti menerima liontin pemberian mamanya. Dalam hati dia sangat bersyukur,sangat bahagia dengan kehidupannya saat ini. "Terimakasih ma."
"Kamu harus yakin kalau Rey mencintai kamu! Kamu jangan berpikir yang negatif."
"Iya ma." Siti mengangguk.
"Ya sudah,mama keluar dulu. Kamu jaga calon cucu mama ya!" Mama berlalu keluar kamar.
__ADS_1
Siti tersenyum menatap mama mertuanya dari belakang. Alhamdulillah,mama sudah mau menerima saya jadi menantunya. Batin Siti.
Tak lama setelah mama mertuanya keluar dari kamar,Rey masuk. "Sayang? Tadi mama baru dari sini ya?" Tanya Rey.
"Iya mas. Mama memberikan liontin ini untuk saya! Indah sekali ya mas?"
"Kamu suka?"
"Suka sekali mas! Seperti mimpi saja!" Ucap Siit sambil tersenyum.
"Sini mas yang pakaikan!"
"Jangan mas! Di simpan saja,takut hilang!" Tolak Siti.
"Loh,mama kasih untuk kamu pakai bukan di simpan!"
"Tapi mas? Kalau hilang bagaimana? Simpan saja deh!"
"Siti!" Rey menatap istrinya tajam.
"Ihh mas ini!" Siti cemberut.
"Sayang! Makanya nurut donk. Mas bilang pakai ya pakai!"
"Nanti kalau hilang bagaimana? Kita kan mau ke desa. Mama bisa kecewa!"
"Tidak akan hilang! Kamu jaga baik-baik! Ayo sini biar mas yang pakaikan!"
Mau tidak mau Siti akhirnya mau di pakaikan oleh Rey liontin pemberian mama mertuanya.
"Tadi ngobrol apa saja sama mama,hmm?" Tanya Rey sambil memasang liontin ke leher istrinya.
"Hmm,itu ngobrolin kalung ini." Jawab Siti gugup.
"Mau belajar bohong ya?"
Rey membalik tubuh istrinya agar mereka saling berhadapan. "Tatap mata mas! Apa yang kamu temukan,hmm?"
Siti malah tersenyum. " Ya ada bola mata mas!" Jawab Siti.
"Aaww,sakit Rey!" Rey mencubit hidung Siti.
"Makanya jangan becanda,di tanyain serius kok!"
"Hmm,saya tuh tidak bisa baca makna dari tatapan orang,mas! Mas tanya yang aneh-aneh saja!"
"Uuhh dasar,Siti!" Rey kembali mencubit hidung Siti. " Jangan lagi berpikir yang berat,mengerti? Kamu harus selalu bahagia!"
"Iya mas. Tapi kalau mas buat saya sedih ya mana bisa merasa selalu bahagia?" Siti protes.
"Mas akan berusaha membahagiakan kamu,istriku!" Rey pun memeluk Siti dengan mesra.
NEXT
__ADS_1
290421/19.00