Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 55 ( S2 )


__ADS_3

Keesokan paginya Dinda dan Seno baru saja selesai sarapan. Seno sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"Seno,kamu kerja hari ini?" Tanya papi Dinda.


"Iya pi,hari ini aku kerja." Jawab Seno.


"Lalu Dinda bagaimana?" Mami juga bertanya.


"Dinda ke Rumah Sakit untuk mengantarkan surat pengunduran diri saja,mi." Jawab Dinda.


"Pergi berdua?" Tanya mami lagi.


"Iya mi. Kita akan ke Rumah Sakit dulu baru ikut aku kerja." Jawab Seno.


"Jadi Dinda ikut kamu kerja?"


"Iya Dinda ikut saja. Mungkin aku akan pulang lebih awal." Jawab Seno.


"Ya sudah kalian hati-hati ya!" Pesan papi.


"Iya pi,kita akan hati-hati kok."


"Kita berangkat dulu." Pamit Dinda dan Seno.


Mereka lalu naik ke mobil. Seno melajukan mobilnya ke arah Rumah Sakit.


Setengah jam mereka baru sampai.


"Mas temani kamu masuk!" Ucap Seno saat mereka sudah tiba di parkiran Rumah Sakit.


"Hmm,ya sudah jadi tidak usah peluk cium dulu ya?" Tanya Dinda sambil tersenyum tipis.


"Ya masih donk!" Jawab Seno.


"Loh kita sama-sama pergi kok." Protes Dinda.


"Hmm,ya sudah kalau tidak mau."


Dinda menggelengkan kepalanya. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya kemudian memberikan pelukan dan ciuman untuk suaminya itu. Seno tersenyum dan juga membalasnya.


"Hmm,sudah mas. Nanti lipstikku ilang lagi." Protes Dinda lalu menjauhkan wajah mereka karena Seno menciumnya lama. Dinda lalu mengambil kaca untuk merapikan lipstiknya.


"Hmm,lebih sayang sama lipstik daripada suaminya." Ucap Seno sambil memperhatikan tingkah istrinya.


"Hehee. Nanti di kantor mas, aku kasih lebih lama." Ucap Dinda sambil mengusap wajah Seno dengan mesra.


"Hmm,janji loh ya!"


"In sya Allah."


"Hmm. . ."


"Ayo mas kita turun!' Ajak Dinda.


Seno turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untuk Dinda. Mereka sama-sama masuk ke dalam Rumah Sakit dengan Seno merangkul bahu Dinda.


"Suratnya di serahkan ke siapa?" Tanya Seno.


Ke bagian kepegawaian,mas." Jawab Dinda.


"Dimana?"


"Belok ke sana,mas." Tunjuk Dinda.


Tak lama mereka sampai di ruangan bagian kepegawaian.


Sebenernya aku masih ingin kerja di sini. Tapi demi suamiku dan juga bayiku tentunya,aku harus mengorbankan keinginanku. Semoga ini keputusan yang benar. Semoga bisa menyenangkan mas Seno. Batin Dinda.


"Masuklah,kok malah melamun? Ragu-ragu ya?" Seno menatap Dinda curiga.


"Hmm,aku. Aku tidak ragu-ragu kok mas!" Jawab Dinda.

__ADS_1


"Hmm. . ."


"Mas mau tunggu di mana? Apa mau ikut masuk?"


"Mas tunggu di sini saja." Seno lalu menatap ke sekeliling. " Tuh,mas duduk di sana." Tunjuk Seno ke sebuah kursi panjang tidak jauh dari sana.


Dinda mengangguk lalu masuk ke ruangan di depannya. Sementara Seno berjalan menuju kursi yang tadi dia bilang ke Dinda lalu duduk di sana.


Selama menunggu Dinda,Seno melihat-lihat kesibukan orang di Rumah Sakit. Masih sepagi ini,sudah mulai banyak pasien yang datang untuk berobat. Dari yang masih bayi sampai yang sudah tua.


Hmm,sehat itu memang mahal. Semoga orang-orang yang sedang sakit ini segera di berikan kesembuhan. Aamiin. Doanya dalam hati.


Tiba-tiba manik mata Seno melihat seseorang yang akhir-akhir ini membuatnya kesal. Orang itu juga masuk ke dalam ruangan di mana istrinya tadi masuk.


"Rumah Sakit ini yang terlalu kecil apa dia yang sedang beruntung bisa masuk ke ruangan dimana ada istriku? Ngapain juga dia masuk ke ruangan itu? Mau resign juga?" Gumam Seno dengan tatapan penuh curiga. Matanya terus menatap ke arah sana tanpa berpaling lagi ke arah lain.


Lima menit,dia melihat Dinda keluar sendirian dari ruangan itu lalu berjalan ke arahnya. "Dimana dokter tadi?" Gumam Seno.


"Mas,lama nunggunya?" Tanya Dinda setelah sampai di dekat Seno.


"Iya,rasanya lama banget." Ucap Seno yang masih melihat ke arah ruangan itu walau Dinda sudah ada di depannya.


"Mas lihat apa sih?" Tanya Dinda mengikuti arah mata suaminya.


"Kemana teman kamu tadi?"


"Teman yang mana? Semua dokter dan suster di sini ya teman aku,mas."


"Hmm,teman kamu yang mau mengantarkan istri mas pulang. Dia tadi masuk juga kesana. Apa mau resign juga?"


Dinda memutar bola matanya jengah. "Hhh,mas. Ruangan itu dalamnya luas. Ada berapa bagian ruangan lagi. Tadi cuma berpapasan sebentar."


"Dia tau donk,kalau kamu mau resign? Sedih pasti."


"Hhh,mas. Sudah deh jangan mulai lagi." Dinda cemberut.


"Hmm,ayo pulang."


Sampai di parkiran,Seno membukakan pintu mobil untuk Dinda lalu dia pun masuk ke dalam mobil dan mulai menghidupkan mesin mobilnya. Seno melajukan mobilnya ke arah perusahaan keluarga Rey dengan kecepatan sedang.


Setengah jam lebih mereka baru sampai. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh.


"Mas,tidak apa-apa ya baru datang siang begini?" Tanya Dinda.


"Hmm,tidak apa-apa. Mas tadi sudah nelpon mas Rey,kok."


Sampai di ruangan Seno,Dinda langsung duduk di sofa.


"Mas tinggal dulu ya mau ke ruangan mas Rey." Pamit Seno.


"Iya mas."


Seno keluar dari ruangannya menuju ruangan kakak iparnya.


"Assalammualaikum."


"Wa alaikumsalam. Seno,kamu bener sudah baikan?" Tanya Rey sambil memperhatikan wajah adik iparnya itu.


"Alhamdulillah,mas. Maaf ya mas,aku sekarang sering ijin."


"Tidak apa-apa kalau memang ada halangan. Mana istri kamu?"


"Ada di ruanganku,mas.


"Jadi beneran resign?"


"Iya mas,daripada ada apa-apa. Dia juga mudah lelah sejak hamil."


"Hmm,biasa itu. Orangtuanya tidak keberatan dia resign?"


"Mereka setuju mas. Demi kebaikan dia juga. Orang itu sangat bahaya,aku takut dia mencelakai Dinda."

__ADS_1


" Alhamdulillah kalau orangtuanya mengerti."


"Ya karena mereka sudah cukup mengenal orang itu jadinya setuju."


"Hmm,semoga orang itu juga mengerti kalau Dinda sudah tidak sendiri lagi."


"Iya mas. Oh iya mas,mana berkas yang harus Seno kerjakan?"


"Oh iya sebentar." Rey lalu memilih berkas-berkas yang harus Seno kerjakan.


"Ini,banyak loh. Mas juga belum selesaikan yang lain,besok siang ada meeting. Kamu kerjakan yang dua ini dulu ya,yang lain kalau mau kamu bawa pulang tidak apa-apa. Besok mas suruh Toni ambil ke rumah kamu."


"Hmm,iya mas. Aku bawa ya."


"Iya."


" Aku ke ruangan aku lagi,mas." Pamit Seno.


Seno lalu kembali ke ruangannya dengan membawa setumpuk berkas.


"Banyak banget mas?" Tanya Dinda saat melihat suaminya masuk dengan membawa setumpuk berkas.


"Iya,ini yang kemarin juga."


"Mau di kerjain semua sekarang?"


"Hmm,cuma dua saja kok. Sisanya mas bawa pulang. Besok pagi Toni ambil di rumah."


"Siapa Toni,mas?


"Oh,dia asistennya mas Rey. Tapi lebih sering ngecek ke lapangan. Jadi sekalian besok mampir ke rumah."


"Ooh begitu."


"Iya. Mas kerjain ini dulu ya biar cepat selesai. Kamu tidak apa-apa kan duduķ sebentar di sofa? Di ruangan mas tidak ada kamar."


"Iya tidak apa-apa kok mas."


"Terimkasih ya sayang." Ucap Seno lalu mulai memeriksa berkas yang harus dia selesaikan hari itu juga.


Dinda tersenyum lalu merebahkan diri di sofa.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,moga suka. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


2121

__ADS_1


__ADS_2